
"Siapa yang menampar pipimu?" tanya Harry dengan nada selembut mungkin.
"Riana," jawab Sisy pelan.
"Riana? Kenapa kamu bisa bertengkar dengannya?" tanyanya lagi.
"Aku melihat Riana dan teman-temannya sedang merundung Luna jadi aku menolongnya tapi ya aku kena tampar," jawab Sisy.
Harry mengernyitkan dahinya. "Luna Lovegood? Kenapa dia ada di sekitar asrama Gryffindor?"
Sisy mengangkat kedua bahunya. "Entahlah tapi aku rasa dia ditarik oleh empat gadis itu ke sini."
"Lain kali kalau ingin menolong seseorang ingat dengan keamanan dirimu sendiri," peringat Harry.
"Maaf..." lirih Sisy.
"Sudahlah. Untungnya kamu tidak terluka parah," ujar Harry.
Sisy mengangguk.
"Oh iya aku masih penasaran alasan kamu ingin berpartisipasi dalam turnamen sihir Triwizard. Bisakah kamu memberitahuku?" tanya Harry.
"Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat Charles dan Shopia bangga," jawab Sisy. Tentu saja dia berbohong. Alasan sebenarnya bukanlah itu tapi dia tak memberitahunya karena masih berpikir tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir kalau tau yang sebenarnya.
"Begitu. Nah sudah selesai. Lukanya jangan sampai kena air ya!" peringat Harry.
"Iya. Terima kasih, Harry," ucap Sisy.
Harry mengelus kepala Sisy. "Sama-sama. Untuk Hermione dan Ron jangan terlalu dipikirkan. Aku akan mencoba berbicara pada mereka pelan-pelan."
Sisy pun memeluk Harry. "Terima kasih, Harry. Aku sangat menyayangimu. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu."
Tanpa mengetahui maksud ucapan Sisy, Harry membalas pelukannya dan menjawab perkataannya, "Iya Sisy. Aku juga menyayangimu."
Keesokan harinya. Hermione dan Ron benar-benar tidak berbicara pada Sisy. Bahkan saat di kamar, Hermione juga tidak berbicara apapun padanya. Di kelas pun Sisy terpaksa memisahkan diri dari teman-temannya. Harry sudah mengajaknya untuk tetap bersama tapi Sisy merasa tidak enak dengan Hermione dan Ron, jadinya dia memilih untuk duduk bersama Neville.
Selesai kelas, Sisy langsung pergi ke danau. Dia duduk di pinggir danau sambil membaca buku hariannya. Suasana hatinya sedang sangat buruk sekarang. Dia memilih membaca cerita-cerita di buku hariannya itu dengan seksama dan di halaman terakhir, dia melihat lekat-lekat foto dirinya dengan Ron saat kecil. Sisy sadar kalau dirinya tak seperti dulu. Tidak pernah menceritakan apapun lagi pada sahabat-sahabatnya itu tapi Sisy tidak ingin membuat mereka dalam bahaya kalau tau yang sebenarnya.
Beberapa hari lalu, Sisy mendapatkan penglihatan lagi. Dia melihat kalau Cedric akan mati di turnamen sihir Triwizard itu dan Harry yang sangat terpukul karena kejadian itu. Banyak yang menyalahkan Harry karena kematian Cedric padahal Cedric mati karena pangeran kegelapan. Orang tua Cedric juga ikut menyalahkan Harry atas kematian putranya itu. Hermione dan Ron membantu menjelaskan pada mereka semua tapi mereka malah mengira kalau Hermione dan Ron terlibat dalam kematian Cedric. Alhasil keluarga Weasley dan Granger terus diteror.
Sisy memeluk buku hariannya itu dan menangis. "Aku pasti akan melindungi kalian semua."
"Kenapa kamu menangis lagi?" tanya seseorang.
Tanpa menoleh ke sumber suara, Sisy sudah tau siapa orang itu. Dia pun mengusirnya. "Pergilah Malfoy!"
Draco mengernyitkan dahinya. "Malfoy? Apakah kamu sudah lupa dengan namaku?"
"Aku mengucapkan namamu dengan benar," jawab Sisy.
"Namaku Draco. Malfoy adalah nama keluargaku," balas Draco.
"Terserah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," tutur Sisy.
Draco duduk di sebelah Sisy. "Ada apa? Bertengkar dengan teman-temanmu?"
Sisy hanya diam.
"Kamu tidak duduk bersama nona Granger tadi dan kalian tidak terlihat berbicara satu sama lain. Kalian juga langsung berpisah setelah keluar kelas," sambungnya.
"Draco, apakah kamu punya sesuatu yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain?" tanya Sisy tiba-tiba.
Draco mengangguk. "Tentu saja aku punya. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya bertanya saja," jawabnya.
Draco melihat ke arah buku yang sedang dipegang Sisy. "Omong-omong apa yang sedang kamu pegang itu?"
"Buku harianku. Saat perasaanku sedang buruk. Aku selalu membaca buku ini dan melihat foto-foto di halaman terakhirnya," jelas Sisy.
Sisy menunjukkan halaman terakhir dari buku itu. "Lihat. Ini adalah foto-foto yang memiliki banyak kenangan."
"Sekarang pun aku masih menggemaskan!" hardiknya.
Draco memandangi wajah Sisy cukup lama dan dia berkata, "Aku tidak berpikir seperti itu."
"Menyebalkan!" amuk Sisy.
Walaupun Sisy marah-marah tapi dia tetap melanjutkan kegiatannya yang sedang menunjukkan foto-foto itu pada Draco. "Ini adalah foto aku dan Ron saat pertama kali kami bertemu. Dulu Ron sangat berisik. Ya sekarang dia juga masih berisik. Ron adalah teman pertamaku saat aku pindah ke sini."
"Dimana kamu tinggal sebelumnya?" tanya Draco.
"Di desa muggle," jawab Sisy.
Draco memicingkan mata. "Kenapa kalian tinggal di sana?"
"Orang tuaku bertugas di sana untuk menjaga muggle dan mudblood," jelas Sisy.
Dahinya mengkerut saat mendengar penjelasan Sisy. "Di desa muggle juga ada mudblood?"
Sisy mengangguk. "Iya. Kebanyakan mudblood melindungi diri mereka di desa muggle karena penyihir sulit untuk datang ke sana kecuali mereka ada urusan di desa itu."
"Aku baru tau," gumamnya.
"Ayahmu benar-benar menjagamu dari dunia muggle dan mudblood ya," celetuk Sisy.
"Iya, begitulah. Ayah benar-benar tidak menyukai mudblood. Baginya mudblood itu aib bagi para penyihir," jawab Draco.
"Karena dia adalah hasil pernikahan antara penyihir dan muggle?" tebak Sisy.
Draco mengangguk.
"Bagaimana menurutmu? Apakah kamu juga menganggap kalau mudblood itu adalah aib?" tanya Sisy meminta pendapat Draco.
Draco mengangkat kedua bahunya. "Entahlah."
"Katakan saja. Aku yakin kamu memiliki pendapatmu sendiri mengenai mudblood," tegas Sisy.
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu. Untuk apa melahirkan seorang mudblood kalau bisa melahirkan pureblood," jawab Draco.
"Draco, cinta datang secara tiba-tiba, kita tidak bisa mengatur dengan siapa kita akan jatuh cinta. Aku juga tidak mengerti apa itu cinta tapi melihat Charles dan Shopia membuatku mengerti kalau cinta adalah perasaan ingin terus bersama dengannya. Seakan-akan kita tidak bisa hidup dengan benar kalau tidak bersamanya," jelas Sisy.
"Entahlah Daisy. Aku masih tidak mengerti apa itu cinta," tutur Draco.
"Kamu akan mengerti kalau merasakannya sendiri. Merasakan perasaan dimana kamu ingin terus bersama gadis itu. Perasaan dimana kamu bisa melawan semuanya demi bisa bersama gadis yang kamu cintai," kata Sisy.
"Apakah aku akan merasakan itu?" tanya Draco.
"Pasti. Aku yakin kita semua akan merasakan itu!" tegasnya.
"Aku tidak yakin. Aku saja tidak tau apa itu cinta dari keluargaku," sambung Draco.
Mereka terdiam sejenak.
"Jadi kenapa kamu bertengkar dengan temanmu itu?" tanya Draco mengubah topik.
"Ada kesalahpahaman antara kami. Untunglah Harry masih mau mendengarkanku," jawab Sisy.
"Sepertinya kau sangat dekat dengan Potter," celetuk Draco.
Sisy mengangguk. "Tentu saja. Harry adalah teman keduaku setelah Ron dan Hermione adalah yang ketiga."
"Bagaimana denganku?" tanyanya.
"Entahlah, aku tidak ingat karena semenjak masuk Hogwarts temanku menjadi banyak," jawab Sisy.
Terlihat dengan jelas kalau perasaan Draco menjadi buruk setelah mendengar jawaban Sisy. Melihat raut wajah kesal Draco, Sisy malah tertawa melihatnya. "Hahaha kamu lucu saat sedang marah." Dia mengacak-acak rambut Draco dan itu membuatnya bertambah kesal.
"Sudahlah. Aku ingin kembali ke kamar. Aku lelah." Sisy berdiri dan membersihkan roknya.
Mereka berdua akhirnya pergi dari sana.