
"Hiks...hiks"
"Udah dong Syil"ucap Tika yang masih saja menenangkan tangisan Syila yang sedari tadi tak ada henti-hentinya.
"Lo gak usah masukin ke hati omongannya si Sera ya. Dia cuma kebawa emosi doang"lanjutnya sembari mengelus-elus pundak Syila.
"Gu-gue nganggep kali-an sahabat k-kok"ucapnya sesegukan.
"Iya iya...gue percaya kalo lo nganggep kita berdua sebagai sahabat. Sera ngomong begitu karena lo yang terlalu tertutup sama kita berdua,jadi kita gak tau apa masalah yang lo alami,dan gak bisa gantian ngebantu elo"
"Setiap kita berdua punya masalah lo selalu ngebantu kita,ngebantu nyelesaiin masalah kita. Dan sekarang lo nangis-nangis gini pasti punya masalahkan? Dan kita gak tau apa masalah lo. Itu yang ngebuat kita merasa gak guna sebagai sahabat. Gak bisa gantian ngebantu masalah lo. Jadi itu yang bikin Sera beranggapan kalau lo itu gak nganggep dia sahabat lu"ucap Tika menasehati. Syila menatap Tika dengan tatapan horor. Ia menurunkan tangan tika yang ada di bahunya dan bergeser menjauh. Dahi Tika mengerut heran.
"Lo siapa?"tanya Syila dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
"Hah? Gue? Gue ya Tika lah bedon!"
"Tika yang gue kenal gak pernah kayak gini"
"Maksudnya?"tanya Tika dengan raut wajah yang terheran-heran.
"Jangankan nasehatin yang baik-baik,pake baju aja sering kebalik" ucap Syila yang kelewat santai.
Tika terdiam.
Tunggu-tunggu.
Kayaknya ada yang salah disini.
Apa hubungannya nasehatin yang baik-baik,sama pake baju kebalik?!!
Oke,mungkin saat ini Tika sedang tidak fokus dengan susunan kalimat Syila. Yang ia perhatikan hanya, kalimat tersebut mengandung unsur menyindir dirinya yang kadang-tidak. Maksudnya,bisa dibilang sering memakai baju secara terbalik.
Tika menatap Syila dengan raut datar,sedatar-datarnya. Lalu berucap.
"Udah pernah ngerasaiin kepala di sleding belom?"Syila yang mendengar hal tersebut hanya menyengir tak berdosa,lalu mengangkat tangan kanannya dengan dua jari-telunjuk dan tengah-yang membentuk huruf 'V'.
"Peace"
***
Jika kalian bertanya sedang apa sekarang Devan. Jawabannya adalah....
Dikantin bersama Syifa.
Sungguh kurang ajar bener kan si Devan ini?! Udah nangisin anak orang,bukannya ditenangin malah nyari yang lain.
Ingin rasanya sekali ku hujat. Tapi untung masih inget kalau dia juga aku yang bikin. Dan juga alurnya aku yang buat. Padahal aku bisa aja langsung buat Devan mati apa gimana gitu. Tapi kan gaje banget kalo Devan mati sekarang--dikantin,karena keselek laler gitu pas lagi makan bareng Syifa. Atau kerasukan setan imut yang membuatnya bertingkah manis.
Tidak-tidak,bisa histeris nanti satu sekolah tau kalau Devan menjadi manis gara-gara kerasukan setan imut. Nanti para siswi sekolah bukannya buat belajar,malah cuma buat liat mukanya Devan.
Tapi gak jadi manis aja udah banyak yang punya niat kayak gitu,gimana nanti kalo jadi manis beneran.
Tapi...ada satu pertanyaan yang mengganjal di otak saya sejak tadi.
Yaitu...
Atau jangan-jangan setan imut itu tuyul?
Tapi tuyul mana ada imut-imutnya walaupun masih kecil. Suka nyolong duit orang lagi. Seimut-imutnya makhluk,kalo suka nyolongin,bakal tetep dibilang amit-amit.
Oke,kembali ke topik utama.
Syila yang juteknya minta ampun sudah coba cari-cari topik pembicaraan. Tapi ujung-ujungnya juga cuma bakal di kacangin sama Devan,karena walaupun saat ini raganya disini--kantin. Tetapi jiwa nya entah keluyuran kemana.
"Dev? Devan?!"panggil Syifa yang mencoba menyadarkan Devan yang lagi-lagi melamun.
"Eh" Devan seperti orang linglung. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Lalu baru memandang orang yang tepat berada di hadapannya.
"Syifa?"panggil Devan.
"Iya"
"Kok gue disini?"tanyanya.
Syifa mengrenyit heran,bukankah tadi Devan duluan yang duduk disini,lalu ia ikut menyusul dan duduk di hadapannya.
"Lo mikirin apa sih Dev? Ngelamun mulu dari tadi"tanya Syifa yang sudah penasaran sejak tadi.
"Nggak ada"jawabnya yang sudah kembali menjadi Devan yang dingin. Dan itu membuat Syifa menghela nafas kasar.
"Uhm,gue duluan ya"lanjutnya berpamit pada Syifa,yang dibalas anggukan.
Devan berjalan tak tentu arah. Dan kebetulan ia melewati tangga yang memang jarang digunakan oleh para siswa-siswi karena sekarang disekolahnya sudah menggunakan lift.
Ia melihat dua orang gadis yang salah satunya terlihat menelungkupkan kepalanya di tekukkan kedua lututnya.
Itu Syila kan? Tanyanya dalam hati. Otaknya menyuruhnya agar tetap disana dan memperhatikan dari jauh saja,tapi karena hati Devan yang lebih kuasa atas kendali dirinya menyuruhnya menghampiri kedua gadis tersebut,membuatnya betul-betul menghampiri keduanya-tidak,lebih tepatnya menghampiri gadis yang ia kira Syila.
"Syila? "panggilnya yang membuat kedua gadis tersebut menoleh kearahnya. Ia melihat gadis yang ia panggil Syila tadi membuang pandangannya. Dan Tika menatap mereka secara bergantian.
"Ahh....gue tau nih. Tenyata yang buat lo nangis-nangis bombay gini tuh si Devan?"tanya Tika yang sudah bisa menyimpulkan situasinya.
"Apaan sih?! Udah ah Tik,kita pergi aja dari sini! Nanti kita kerumah Sera deh,dan disitu gue bakal ceritain semuanya ke kalian"ucap Syila lalu segera menarik tangan Tika agar mengikutinya beranjak dari sana.
"Pelan-pelan aja napa Syil. Tangan gue mau putus nih lo tarik-tarik"gerutu Tika yang tentunya tak Syila gubris.
Dan Devan yang masih berdiri ditempatnya hanya bisa memandang sendu kearah mereka berdua yang perlahan ditelan oleh cahaya.
Devan menunduk,ia hanya ingin tau apa semua maksud perkataan Syila di rooftop tadi.
Namun pupus sudah,karena jangankan membalas sapaannya,menatap matanya saja Syila rasanya enggan.
Devan menghela nafasnya kasar. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah kejelasan ucapan Syila tadi. Dan sesering apapun ia memutar otak agar bisa mengerti,tapi tetap saja zonk.
Satu-satunya cara agar ia tak mati penasaran adalah mendengar semua penjelasan dari Syila atas semua ucapannya tadi.
~XXX~