Different

Different
Gosip



Pansy mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Berani-beraninya dia mempermalukan aku!"


"Nona Garcia tidak mempermalukanmu, Pansy. Kamu yang mempermalukan diri sendiri dengan mengumpulkan semua orang," balas Draco.


Kedua teman Draco, Crabbe dan Goyle tertawa.


"Jangan tertawa kalian berdua!" bentak Pansy.


"Aku duluan," ucap Draco yang hendak pergi.


"Makananmu belum habis, Draco," ujar Astoria sambil menahan lengan Draco.


"Aku sudah kenyang," jawab Draco yang kemudian pergi.


Pansy semakin kesal karena Draco menyalahkan dirinya.


Sejak hari itu, Sisy menjalani hari-hari seperti biasa. Mengikuti kelas, makan di kantin bersama teman-temannya, belajar, dan membantu Newt merawat hewan-hewan magisnya. Ya, Sisy selalu membantu Newt merawat hewan-hewan magisnya karena pria itu cukup kerepotan merawat mereka semua. Hubungan Sisy dengan Newt juga menjadi lebih baik tapi bukan berarti Newt akan memberikan nilai tinggi secara cuma-cuma padanya hanya karena membantu merawat semua hewan magis miliknya. Sisy juga membantunya dengan sukarela, tidak meminta imbalan apapun karena dia hanya benar-benar ingin membantu dan memang menyukai hewan magis.


3 bulan kemudian. Hogwarts kedatangan murid dari sekolah lain. Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan antar sekolah dengan turnamen sihir Triwizard. Kali ini Hogwarts menjadi tuan rumahnya. Itulah mengapa murid dari sekolah lain datang ke Hogwarts.


Mereka semua berkumpul di aula Hogwarts.


"Baiklah semuanya, 2 minggu lagi kita akan mengadakan turnamen sihir Triwizard yang selalu dilakukan tiap tahunnya. Pertandingan ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar sekolah. Siapapun yang ingin berpartisipasi, bisa memasukkan namanya ke dalam piala besar ini. Pengumuman akan dilakukan seminggu sebelum pertandingan dimulai," ucap profesor Dumbledore menjelaskan.


"Saya harap selama murid sekolah lain ada di sini, kalian semua bisa berteman baik dengan mereka dan tidak melakukan keributan apapun," lanjut profesor Dumbledore.


Profesor Dumbledore pun pergi.


"Pasti Potter akan memasukkan namanya ke dalam piala besar itu. Dia itu senang melakukan hal-hal yang bisa membuatnya jadi pusat perhatian seperti ini," ucap Draco.


"Bisakah sehari saja kau tidak mencari masalah, Malfoy?" ucap Hermione.


"Diamlah mudblood, aku tidak berbicara denganmu!" cela Draco.


"Jangan memanggil Hermione seperti itu, Malfoy!" bentak Sisy.


"Kenapa? Dia adalah mudblood jadi tidak masalah bagiku untuk memanggilnya seperti itu," ujar Draco santai.


"Benar," timpal kedua temannya.


"Kalau begitu kamu juga tidak masalah kalau aku panggil dengan tuan drama?" tanya Sisy.


Draco mengernyitkan dahi. "Tuan drama?"


"Iya. Kamu sangat dramatis saat buckbeak melukaimu," jawab Sisy.


"Dia mematahkan tulang tanganku!" kesal Draco.


"Tulangmu hanya retak, Malfoy. Lihat? Kamu bahkan melebih-lebihkannya," ledek Sisy.


Draco sangat kesal mendengarnya tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah. "Kalau kamu memanggilku seperti itu maka aku akan memanggilmu nona hantu."


Kali ini gantian Sisy yang mengernyitkan dahi. "Nona hantu?"


Draco langsung menutup mulutnya.


"Apa maksudmu?" tanya Sisy penasaran.


"Lupakan." Draco pergi, diikuti oleh kedua temannya.


"Dasar aneh," cibir Sisy.


Setelah itu mereka menjalankan aktivitas masing-masing.


Malam ini Sisy datang lagi ke danau dan duduk di pinggir danau. Sisy ditemani anak kucingnya itu. "Putih, kira-kira aku bisa melakukan apa dengan kemampuan ini? Pertama kali aku menggunakannya malah untuk hal yang jahat."


Anak kucing itu merespon dengan mengeong.


"Aku menggunakan kemampuan melihat masa laluku untuk mengetahui hal yang terjadi dengan Ginny dan menghukum anak-anak itu. Harusnya aku tidak menyalahgunakannya tapi aku juga tidak tau cara mengendalikan kemampuan itu, putih," sambung Sisy.


"Aku rindu ayah dan ibu. Aku juga rindu Charles dan Shopia," gumamnya. Sisy meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Setiap dia ke danau, pasti selalu meneteskan air mata dan berakhir menangis.


Tiba-tiba seseorang datang dan langsung duduk di samping Sisy. "Inilah alasan panggilan yang cocok untukmu adalah nona hantu."


Sisy menoleh ke arah sumber suara. "Malfoy?"


"Kenapa kamu selalu ke sini malam-malam dan menangis? Kamu sudah seperti hantu penunggu danau saja." Sisy tidak membalas ucapan Draco dan hanya menangis.


"Hei kamu kenapa?" tanya Draco sedikit khawatir.


Sisy menggeleng.


"Daripada kamu terus memendamnya lebih baik ceritakan ke orang lain. Itu akan membuat perasaanmu jauh lebih baik. Seperti yang kau lakukan saat itu. Yah walaupun pembicaraan kita tidak berakhir dengan baik," ucap Draco.


"Pembicaraan apa?" tanya Sisy tak mengingatnya.


Draco mengelap air mata Sisy dan menjawab, "Pembicaraan tentang ayahku."


Sisy pun mengingatnya. "Syukurlah kalau perasaanmu membaik setelah itu. Aku kira kamu tambah kesal setelah berbicara denganku."


Draco menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku merasa lebih baik setelahnya. Jadi kamu bisa menceritakan hal yang mengganggumu itu padaku."


Sisy diam.


"Baiklah. Kalau kamu tidak ingin menceritakannya padaku, kamu bisa menceritakannya pada mud—"


Mendengar Draco yang sepertinya akan memanggil Hermione dengan sebutan menyebalkan itu, Sisy langsung memotong ucapannya. "Jangan memanggil Hermione seperti itu!"


"Iya iya. Kamu bisa menceritakannya pada nona Granger atau teman masa kecilmu itu, tuan Weasley," ucap Draco sambil memanggil Hermione dan Ron dengan benar.


Sisy menggeleng. "Aku tidak bisa menceritakannya pada mereka."


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku tidak ingin membuat mereka khawatir," jawab Sisy.


"Kalau begitu ceritakan saja padaku. Anggap saja ini balas budi aku untuk yang waktu itu," ujar Draco berusaha membujuk Sisy agar mau bercerita padanya.


"Aku hanya merasa lelah," tutur Sisy.


"Apa yang membuatmu lelah?" tanya Draco.


"Banyak. Aku harus mempertahankan nilai agar tidak mengecewakan Charles dan Shopia, aku harus menjaga teman-temanku, aku harus tahan dengan semua gosip jelek yang akhir-akhir ini tertuju padaku, dan banyak hal yang harus aku pikirkan," jawabnya panjang.


Draco mengernyitkan dahinya. "Gosip? Gosip apa?"


"Aku tidak tau lebih jelasnya hanya saja aku pernah mendengar sekilas kalau mereka membicarakan tentang gadis bermasalah, gadis sok polos, gadis penjilat, dan lainnya," jawab Sisy.


Mendengar itu, entah mengapa membuat hati Draco sakit. Dia juga merasa marah. Padahal Sisy bukanlah siapa-siapa untuknya tapi mendengar kata-kata kasar yang ditujukan kepada gadis itu membuatnya sangat marah.


Sisy kembali menangis. "Aku lelah, Malfoy. Semuanya berubah saat aku mengetahuinya."


"Mengetahui apa?" tanya Draco.


Sisy tidak menjawabnya dan hanya menangis. Draco memutuskan untuk tidak bertanya lagi dan memeluk Sisy. "Aku akan mencari tau siapa yang menyebarkan gosip tidak benar itu."


Sisy menggeleng. "Tidak perlu mencari tau karena nona Parkison yang melakukannya."


"Bagaimana kamu tau kalau Pansy yang melakukannya?" tanyanya.


"Karena aku tau." Setelah itu Sisy tertidur di pelukan Draco.


Jawaban Sisy membuat Draco bingung. Draco memang mencurigai kalau Pansy yang melakukannya tapi dia tidak menyangka kalau Sisy akan mengatakannya dengan tegas kalau Pansy yang melakukannya. Draco menatap wajah Sisy yang telah tertidur. Matanya bengkak dan hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis. Draco mengelus wajah gadis itu penuh sayang. "Perasaan apa ini? Kenapa setiap melihatmu menangis membuat hatiku sakit?"


Draco menggendong Sisy dan membawanya ke rumah sakit Hogwarts. Dia tidak bisa mengantarkannya ke asrama Gryffindor karena akan merepotkan kalau mereka berdua ketahuan. Draco meletakkan Sisy di tempat tidur yang ada di rumah sakit Hogwarts. Sebelum pergi, Draco mengecup kening Sisy singkat.


"Good night." Draco pun pergi.