
Syila POV
Pagi ini ku lalui seperti hari-hari biasanya. Rumah sepi dan terasa kosong. Padahal dirumah ini terdapat 3 pembantu,1 tukang kebun dan 1 supir. Tidak lupa juga dengan keluargaku yang berjumlah 5 orang termasuk aku.
Sesampainya aku di ruang makan,aku mencoba menyapa adik laki-laki ku dan adik kembar ku yang hanya berbeda beberapa menit.
"Pagi Azril!"sapaku ceria.
"....." tak ada jawaban seperti biasanya. Aku tersenyum kecut,beralih menoleh ke saudara kembar ku.
"Pagi Syil,tuh muka ditekuk aja. Masih semester baru loh ini"Seperti biasanya,gurauanku hanya dianggap angin lalu bagi nya.
Sakit? Tentu.
Namun apakah aku harus memaksa mereka membuka suara? Atau menjahilinya agar mereka kesal?
Sudah. Semua sudah ku lakukan hanya untuk membuatnya berbicara kepadaku. Dan aku malah hanya mendapat amarah dari papa ku.
"Ma,pa,aku pamit berangkat dulu ya"pamit ku dan menyalimi keduanya.Mama ku tersenyum tipis,sedangkan papa? Menerima uluran ku saja tidak.
Tenang...itu sudah biasa.
"Assalamualaikum!"salam ku dan aku sudah tak mendengar lagi mereka menjawab atau tidak,karena aku sudah di depan pintu utama yang jaraknya cukup jauh dari ruang makan.
"Woy brother!!"sapaku sambil menepuk jok motornya.
"Cepet naik"ucapnya datar. Aku terkekeh,lagi lagi sifatnya masih saja kaku. Segera saja aku menaiki motor besarnya lalu menerima helm yang ia sodorkan dan memakainya.
"Dah!"ucap ku dari belakang sedikit berteriak.Ia menjalankan dengan awal perlahan lalu semakin lama kecepatannya menjadi normal.
Setibanya disekolah aku dan dia langsung ditatap dengan tatapan berbeda-beda dari para siswa-siswi. Sebenarnya ini bukan sekali dua kali aku berangkat bareng dia,tetapi tetap saja selalu ditatap dengan tatapan seperti itu. Padahal mereka sudah sering melihatnya,tapi mengapa mereka masih tetap saja menatapku dan dia dengan tatapan seperti itu? Entahlah,aku tak mau memusingkan hal-hal kecil seperti ini. Karena masalah besar saja sudah menumpuk di kepalaku. Gitu kok mau nambah-nambah masalah lagi.
"Van,gue duluan ya"ucapku kepadanya lalu melangkah menuju kelas ku. Tiba tiba ada tangan besar yang menggenggam pergelangan tangan ku.Aku menoleh kebelakang menatap genggaman tersebut,baru menatap orang yang menggenggamku.
Aku mengrenyit,"Kenapa Van? Mau bareng juga?"tanyaku dan diangguki olehnya. Aku tersenyum dengan mata menyipit jahil.
"Huh...bilang aja mau gandengan kan?" Aku terkekeh saat dia menoyor kepalaku gemas
"Brisik" Aku mengulum senyum. Aku punya satu rahasia,gak ada satu pun temen-temen ku yang tau akan hal ini.Ku kasih tau ya...kalau aku itu....
Menyukainya.
Sakit. karena dia itu gak peka-peka. Gak usah kasihan padaku. Toh itu kenyataannya. Tapi...ini lah konsekuensi kalau cinta di pendam. Sakit gak sakit harus tahan. Apalagi kalau adik kembar ku suka juga dengannya. Aku harus bisa mengontrol ekspresi dan rasa,agar dia tak semakin membenciku.
"Gue langsung mau ke kantin dulu deh Van"ucapku yang tanpa sadar tangannya masih menggenggam tanganku,malah sudah saling bertautan.
Aku menoleh kesamping, menatapnya. Lalu menatap genggaman tangannya."Lo gak ada niatan buat ngelepas genggaman tangan lo ini Van?"tanyaku sambil tersenyum jahil. Padahal didalam hati aku sudah kegirangan hingga jantungku meloncat-loncat.
Dia langsung melepaskan genggamannya. Sedikit kecewa...tapi salah ku sendiri yang memberi tau nya kalau tangannya masih menggenggam tanganku. Mungkin seperti ini lebih baik,ketimbang jantungku nanti malah jadi lompat jauh. Dan juga Supaya bisa terlepas dari godaan-godaan teman teman ku yang super duper alay.
"Sekalian"ucapnya singkat. Aku mengrenyit,sepertinya aku akan cepat tua karena sering mengerutkan kening. Tapi...oh aku tau!! Maksudnya pasti sekalian ikut ke kantin bukan?
"Ke kantin?"tanyaku memastikan dan ia mengangguk.Kita berdua berjalan menuju kantin,bersama-sama.
Kantin saat ini cukup ramai. Karena sekarang hari senin,dan pada datang pagi. Jadi pasti banyak yang belum sarapan dirumah dan memilih sarapan disekolah. Aku mengedarkan pandangan dan terhenti di titik ujung pojok kantin. Disana teman-teman ku ternyata juga sedang berkumpul di meja yang terlihat lebih lebar ketimbang meja lainnya. Tentu saja itu ulah salah satu teman ku yang orang tuanya pemilik sekolah Swasta bergengsi ini. Dengan semangat aku menghampiri mereka. Tak lupa juga dengan dia yang mengikuti ku dari belakang.(Iya lah ngikutin dari belakang,masa dari depan. Kalo dari depan itu mah namanya memimpin)
"Selow aja mamen...gak usah teriak-teriak.Masih pagi juga"ucap sahabat perempuan ku yang bernama Tika. Tika itu orangnya imut dan ceria. Sering dipanggil 'Bocil' karena memang tubuhnya yang paling kecil diantara kita. Kira-kira tingginya sekitar 155 cm dan berat hanya 40 kg.
"Pagi bocil!! Makin pendek aja lu" sapaku ceria sambil menepuk-nepuk kepalanya. Ia segera menepis kasar tanganku,sambil mendelik kesal. Dan hanya ku balas cengiran. Aku duduk disamping kiri Tika lalu disusul dia yang duduk disamping kiri ku juga.
Aku memesan nasi goreng dan susu coklat hangat. Setelah menunggu beberapa menit pesanan ku pun datang.
"Bocil!! Mau sarapan gak? Atau mau minum susu?"Tawarku dan dia menggeleng.
"Eh,tapi jangan susu coklat"ucapku melarang dengan ekspresi di buat-buat.
"Lah,mang nya napa?"tanyanya.
"Susu putih aja,biar lo makin tinggi"ucapku santai dan membuat semua yang ada di meja ini tergelak. Kecuali dia dan Tika.
"Asyialan lu! Lu itu yang makin gendut! Dateng-dateng langsung makan"balasnnya tak mau kalah. Aku? Gendut? Jangan salah...body ku ini langsing dan juga proposional. Model saja iri sama tubuhku. Mau aku makan sebakul juga gak bakal gendut. Entah lah...tapi aku merasa bersyukur mengenai hal itu,aku jadi punya kelebihan yang tidak semua wanita bisa miliki.
Sekelebat ide jahil terlintas di kepala cantik ku. Aku mengubah ekspresi wajahku menjadi sendu,tentu saja itu hanya akting.Dan aku rasa,itu juga salah satu bakat ku yang juga patut aku banggakan.
"Gitu ya...jadi gue makin gendut"ucapku sendu dengan kepala yang ku tundukkan.
"Padahal gue laper,gue belom sarapan tadi pagi. Semalem juga belom makan" ucapku dengan ekspresi se sendu-sendunya.
"Gue gak mau gendut"ucapku lirih."Gue gak mau makan,takut gendut"ucapku parau. Setelah mengucapkan hal tersebut aku menjauhkan nasi goreng tersebut dariku,juga segelas susu tadi. Aku patut diacungi jempol karena aku merasa akting ku ini sangat-sangat natural.
Aku tersenyum miring dibalik tundukan kepalaku. Karena aku sempat melirik kesamping kearah Tika yang terlihat merasa bersalah.
"Mak-maksud gue bukan gitu Syila...gu-gue-"
Aku memotong ucapan Tika,"Dan kalo gue jadi gendut..."ucapku yang sengaja ku gantungkan.
Aku mendongakkan kepala ku,sorot mataku ku buat sesendu mungkin. Semua yang ada di meja ini menatap ku dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada yang menatap ikut sendu,ada juga yang mengrenyit karena melihat tubuh ku ini yang tidak terlihat gendut sama sekali,ada juga yang menatapku dengan tatapan datar. Kalian bertanya siapa yang menatapku datar? Siapa lagi kalau bukan manusia es disampingku ini.
"Dan...kalo gue jadi gendut..."ucapku mengulang. Semua orang dimeja terlihat menanti kan ucapan ku.
"Gak ada lagi cowok yang mau sama gue" ucapku dengan muka polos minta ditabok. Bibir ku berkedut,lalu aku tertawa terbahak-bahak.
Mereka baru sadar kalau mereka sudah ku kerjai. Satu satu dari mereka menjitak kepala ku karrna kesal. Namun bukannya kesakitan,aku malah justru semakin terbahak.
"Emang dasar kau Asyialan!!!" umpat mereka semua kecuali cowok es yang disampingku ini. Saat aku menoleh kearahnya,ia malah menatapku semakin datar. Dan aku hanya menyengir polos seperti orang tak ada dosa.
"Asem!! Lu ngerjain gue ya?!"umpat Tika.
"Namanya juga Asyialan ya tetep sialan!"ucap Agil dengan muka minta digaruk.
"Kalian gak usah takut mengumpat sialan ke Syila,karena memang Asyialan itu adalah nama belakangnya"ucap Sera,yang membuatku kembali tertawa. Dia adalah sahabat perempuan ku yang gak segan segan mengeluarkan kata-kata pedas.
"Gue makan dulu ya...laper"ucapku tak lupa dengan cengiran bodoh.
"BODO!!!"ucap mereka bersamaan dan membuat ku tertawa lagi.Memang hanya sekolah lah yang membuatku melepas tawa dari siksaan-siksaan batin dirumah.
~XXX~