
Sejak kejadian itu kehidupan sekolah Sisy benar-benar berubah. Tidak seperti dulu yang setiap harinya menyenangkan. Rasanya dia ingin cepat lulus dan kembali ke rumahnya.
"Sisy," panggil seseorang.
Sisy menoleh ke suara itu. "Ada apa Ginny? Apakah ada seseorang yang mengganggumu lagi?"
Ginny menggelengkan kepalanya. " idak ada. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani menggangguku."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Sisy.
"Aku benar-benar berterima kasih padamu. Maka dari itu kamu juga katakanlah padaku kalau ada yang mengganggumu," kata Ginny tiba-tiba.
"Tidak ada yang menggangguku, Ginny. Lagi pula siapa yang berani melakukannya?" tutur Sisy.
"Kamu pasti bertengkar dengan Ron ya? Apa yang Ron perbuat padamu kali ini? Katakan padaku, Sisy. Aku akan memarahinya," kata Ginny.
Sisy menggeleng. "Tidak Ginny."
"Lalu kenapa aku tidak pernah melihatmu mengobrol dengan Ron? Bahkan dengan Harry dan Hermione juga tidak," tanyanya.
"Aku sedang malas berbicara saja," jawab Sisy singkat.
"Bohong," ucap Ginny tak percaya.
Sisy mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kamu tak percaya padaku? Aku benar-benar sedang malas bicara. Apakah kamu pernah melihat aku berbicara dengan yang lain?"
Ginny menggeleng.
"Lihat? Aku tidak berbohong," sambungnya.
"Ta—"
"Sudahlah, tidak perlu memikirkan aku. Omong-omong bagaimana belajarmu?" tanya Sisy mengalihkan pembicaraan.
"Baik. Aku mengikuti kelas dengan sangat baik dan nilai-nilaiku bagus semua," jawab Ginny.
Sisy mengelus rambut Ginny. "Good job. Kamu bisa lulus dengan baik kalau terus seperti itu."
Gadis itu mengangguk senang. "Aku akan cepat lulus dan segera mendapatkan pekerjaan."
"Tentu saja. Ginny-ku yang manis ini pasti bisa melakukannya," ujar Sisy.
Ginny terus bercerita tentang rencananya di masa depan dan Sisy dengan setia mendengarkan ceritanya.
"Ah iya aku melupakan sesuatu," ucap Ginny.
"Apa itu?" tanya Sisy.
"Ada tugas yang harus aku kerjakan," jawabnya.
"Kalau begitu kembalilah ke kamarmu dan kerjakan tugas itu," perintah Sisy.
Ginny mengangguk. "Aku kembali ke kamar ya. Kamu juga cepatlah kembali ke kamar."
"Iya," jawab Sisy.
Ginny pun pergi dan Sisy masih duduk diam di sana.
Matanya tak sengaja menangkap Newt yang sedang berjalan dengan terburu-buru. Sisy pun memanggilnya, "Tuan Scamander."
Yang dipanggil berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya. "Ada apa, nona Garcia?"
"Anda mau kemana? Kenapa kelihatannya sangat buru-buru begitu?" tanya Sisy penasaran.
"Saya mau pergi ke rumah Jacob karena Joan sedang sakit dan sakitnya tak kunjung sembuh," jelas Newt.
Sisy mengernyitkan dahinya. "Joan? Siapa itu?"
"Anak laki-laki Jacob dan Queenie," jawabnya.
"Nyonya Kowalski sudah melahirkan?! Aku tak tau kalau hari itu akan datang secepat ini," gumam Sisy.
"Anda sudah tau sebelumnya?" tanya Newt.
"Iya, lewat penglihatan saya," jawab Sisy.
"Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Newt.
"Saya ikut," pinta Sisy.
"Apakah anda tidak ada kelas setelah ini?" tanya Newt.
"Iya. Saya sudah tak ada kelas lagi," jawabnya.
Newt mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Anda boleh ikut."
Sisy dan Newt segera pergi ke kediaman Kowalski.
Sesampainya di sana mereka berdua langsung dipersilakan masuk dan melihat keadaan Joan. Sisy sangat terkejut saat melihat seorang anak kecil yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya dan sang ibu yang sedang menangis karena keadaan anaknya.
"Sejak kapan Joan sakit?" tanya Newt.
"Sudah dari beberapa hari yang lalu. Kami sudah membawanya ke rumah sakit tapi tak ada perubahan apapun padanya," jawab Jacob.
"Newt, tolonglah Joan. Dia masih sangat kecil tapi sudah menderita seperti ini," kata Queenie memohon.
"Aku akan mencoba mengobatinya dengan ramuan yang aku punya," ujar Newt.
"Tunggu, tuan Scamander. Anda tidak bisa memberikan ramuan pada anak kecil itu sembarangan." Sisy mendekati anak kecil itu dan memeriksa keadaannya.
"Nyonya Kowalski, apakah anak anda pernah memakan makanan dari orang lain?" tanya Sisy.
"Saya tidak tau tapi saya sering mengingatkannya untuk tidak memakan apapun yang diberikan oleh orang lain," jawab Queenie.
"Sepertinya anak anda tidak menurutinya. Dia terkena kutukan yang saya yakin sumbernya adalah makanan," balas Sisy.
"Apakah anda bisa menghilangkan kutukan itu nona Garcia? Saya akan membayar berapapun asalkan putra saya bisa sembuh," ucap Jacob.
"Saya akan mencobanya, tuan Kowalski." Sisy menggenggam tangan anak kecil itu dan seperti kejadian Hermione, cahaya terang keluar dari tangannya.
Kejadian itu berlangsung selama beberapa menit. Saat cahaya itu menghilang, Joan membuka matanya dan memanggil ibunya. "Ibu."
Queenie langsung mengusap kepala anaknya. "Ibu di sini, sayang."
Sisy melepaskan genggamannya dan membiarkan Queenie lebih dekat dengan putranya.
Jacob juga mendekati istri dan putranya itu. "Syukurlah kamu sudah sadar, Joan."
"Maaf..." lirih anak kecil itu.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Jacob.
"Joan telah menjadi anak nakal. Joan memakan biskuit yang diberikan oleh seseorang tanpa izin ayah dan ibu," akunya.
Mendengar itu mata Queenie terbuka lebar. Joan merasa ketakutan saat melihat ekspresi ibunya dan dia pun memeluk ayahnya.
"Kenapa kamu melakukan itu, sayang? Bukankah ibumu sudah memperingatkanmu untuk tidak makan apapun yang diberikan oleh orang lain?" tanya Jacob berusaha menggunakan nada yang lembut.
"Maaf ayah, Joan bersalah," ucapnya merasa bersalah.
"Tidak ada lain kali, Joan!" tegur Queenie.
Anak kecil itu mengangguk.
"Terima kasih telah menyembuhkan putra saya, nona Garcia," kata Queenie sambil membungkukkan tubuhnya ke arah Sisy.
"Joan, ucapkan terima kasih pada nona Garcia. Berkat nona Garcia, kamu bisa sembuh dari sakitmu," perintah Jacob.
Anak kecil itu mendekati Sisy dan membungkukkan tubuhnya seperti yang Queenie lakukan tadi. "Terima kasih, nona Garcia. Joan berhutang budi pada nona Garcia."
Sisy tertawa kecil mendengar ucapannya. "Sama-sama, anak manis. Lain kali jangan menerima makanan dari sembarang orang oke?"
Joan pun mengangguk.
"Nona Garcia, istirahat dulu di sini sebentar. Saya akan membuatkan makan malam," tutur Queenie.
"Tidak perlu repot-repot, nyonya Kowalski. Saya dan tuan Scamander sudah mau pulang," tolak Sisy.
"Untuk apa buru-buru pulang? Tinggallah di sini sebentar lagi," kata Jacob.
Sisy melirik ke arah Newt dan pria itu mengangguk.
"Baiklah, kami akan tinggal sebentar lagi," jawab Sisy.
"Nona Garcia, ayo bermain dengan Joan," ajak Joan.
"Joan, jangan membuat nona Garcia merasa tak nyaman!" peringat Jacob.
Sisy tersenyum. "Saya baik-baik saja, tuan Kowalski. Ayo bermain denganku, Joan."
Anak kecil itu mengangguk senang. Dia menggandeng tangan Sisy dan mengajaknya ke teras rumah untuk bermain.
Saat sedang asik bermain, seseorang tiba-tiba saja datang dan menerobos masuk.
"Bagaimana keadaan Joan?!" tanyanya dengan nafas terengah-engah.
"Tina?"
Tina mengalihkan pandangannya pada saudarinya. "Queenie? Joan dimana?"
Melihat bibinya datang, Joan langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. "Bibi Tina."
"Joan?!" Wanita itu sangat terkejut melihat keponakannya yang sudah baik-baik saja.
"Nona Garcia yang menyembuhkan Joan," ucap Jacob.
Tina menatap Sisy dan membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih karena telah menyematkan keponakan saya, nona Garcia."
"Tidak masalah, nona Tina." Hari ini Sisy benar-benar mendapatkan banyak ucapan terima kasih.
"Joan makan makanan dari sembarang orang dan ternyata makanan itu berbahaya," adu Queenie.
Tina menatap tajam ke arah Joan. "Kamu bertingkah nakal lagi ya."
"Maaf, bibi Tina. Joan janji tidak akan mengulanginya lagi," sesal Joan.
Tina mengusap kepala Joan pelan. "Jangan lakukan itu lagi."
"Duduklah Tina. Aku sedang menyiapkan makan malam," kata Queenie.
"Tidak perlu menyiapkan untukku. Aku harus segera kembali ke Kongres Ajaib Amerika Serikat," tolak Tina.
"Makanlah dulu sebentar. Aku memasak banyak," pinta Queenie.
Tina tak membantah lagi dan duduk di samping Newt. Joan juga kembali duduk di samping Sisy dan lanjut bermain.
"Lama tidak berjumpa, nona Garcia," sapa Tina.
"Iya. Bagaimana kabar anda, nona Tina?" tanya Sisy.
"Saya baik. Bagaimana dengan anda?" jawab Tina dan diakhiri dengan pertanyaan lagi.
"Saya juga baik," jawab Sisy.
Tina memicingkan matanya. "Benarkah? Tetapi saya tak melihat kalau anda baik-baik saja, nona Garcia."
"Saya sungguh baik-baik saja, nona Tina," balas Sisy.
"Ada apa sayang? Bertengkar dengan teman-temanmu?" tanya Queenie yang tiba-tiba datang.
"Nyonya Kowalski," tegur Sisy.
Queenie menutup mulutnya. "Upss maaf. Tanpa sengaja aku membaca pikiranmu lagi."
"Anda bertengkar dengan Harry, Hermione, dan Ron?" tanya Newt.
Sisy mengangguk.
"Ada apa?" tanyanya lagi.
"Sebenarnya kami tidak bertengkar, lebih tepatnya hanya berbeda pendapat saja," jawab Sisy.
"Berbeda pendapat itu adalah hal yang wajar, nona Garcia," celetuk Jacob.
"Saya tau, tuan Kowalski tapi kali ini beda," balas Sisy.
"Apa yang beda?" tanya Jacob.
Sisy nampak ragu menceritakannya pada mereka.
"Nona Garcia punya pacar?" celetuk Joan.
Semua orang memandang ke arah Joan. Mereka terkejut dengan yang diucapkan oleh anak kecil itu.
"Sepertinya Joan juga bisa membaca pikiran dan hati seseorang," ucap Queenie.
"Siapa pacar anda?" tanya Newt penasaran.
Tina memukul lengan Newt. "Itu privasinya, Newt. Jangan bertanya."
"Siapa itu Draco Malfoy?" tanya Queenie.
Sisy mengacak rambutnya frustasi. "Ah benar-benar. Bisakah kalian berhenti membaca pikiranku?!"
"Anda berpacaran dengan Draco?" tanya Newt lagi.
Sisy benar-benar merasa seperti di sidang oleh kakaknya saat ini. Akhirnya gadis itu menceritakan semuanya dari awal pada mereka.
"Saya mengerti kenapa teman-teman anda bersikap seperti itu," ucap Jacob.
"Saya yang menjalaninya dan mereka tak ada hak untuk melarangnya," sanggah Sisy.
"Mereka seperti itu karena peduli pada anda, nona Garcia," timpal Tina.
"Saya tau tapi itu terlalu berlebihan," ujar Sisy.
"Kenapa anda bisa berpacaran dengan Draco?" tanya Newt.
Sisy bingung harus menjawab apa. Tidak mudah untuknya menjawab pertanyaan yang satu ini.
"Joan lapar, ibu," celetuk Joan.
Queenie mengelus kepala putranya. "Ah kamu sudah lapar ya? Maafkan ibu, sayang. Ayo kita makan."
"Kita lanjutkan ini nanti. Sekarang lebih baik kita makan dulu selagi makanannya masih hangat," ucap Jacob.
Sisy menghela nafasnya lega. Dia beruntung bisa lari dari pertanyaan itu berkat Joan. Mereka pun makan malam bersama sambil membicarakan hal yang ringan.