
Seketika ada cahaya yang sangat menyilaukan mata. Sisy kembali ke dunia nyata dan Fred telah sadarkan diri.
"FRED?!" pekik mereka semua.
George langsung memeluk saudara kembarnya itu. "Dasar lemah."
Ron juga memeluk kakak laki-lakinya. "Dasar bodoh."
"Hei tidak bisakah kalian mengucapkan kata-kata yang lebih baik? Aku baru saja kembali dari kematian dan kalian tidak ada menunjukkan rasa senang," sindir Fred.
"Memang kenyataan kalau kamu bodoh itu karena menantang mereka," balas Ron.
"Omong-omong bagaimana aku bisa selamat?" tanya Fred penasaran.
Seketika semuanya teringat oleh seseorang yang telah berjasa itu. Mereka langsung mencari keberadaan Sisy.
Harry yang melihat keberadaan gadis itu segera menghampirinya yang ternyata berada jauh dari mereka.
Ada alasan mengapa Sisy memisahkan diri karena tiba-tiba dirinya muntah darah yang cukup banyak. Dia takut mengganggu yang lain jadi memutuskan untuk memisahkan diri sejenak.
Harry baru saja datang terkejut saat melihat darah yang sangat banyak di lantai itu. "Kamu muntah darah?!"
"Jangan berlebihan, Harry. Aku hanya terlalu memaksakan diri," jawab Sisy.
Sisy kembali ke mereka dan memeluk Fred. "Jangan lakukan hal bodoh lagi."
Pria itu terkekeh. "Hari ini aku benar-benar dimaki-maki oleh kalian."
"Sisy berusaha mati-matian untuk menyelamatkanmu, Fred," ungkap George.
Mata Fred membelalak saat mendengarnya. "Kenapa kamu melakukan itu?!"
"Aku tidak mungkin membiarkanmu mati, Fred! Maka dari itu jangan bertindak gegabah lagi lain kali!" omel Sisy.
"Omong-omong bagaimana bisa Sisy menyembuhkan Fred sedangkan aku saja tidak bisa menyembuhkannya?" celetuk George.
"Karena sihirku besar, George," jawab Sisy.
"Sisy, setiap perbuatanmu pasti ada konsekuensinya. Apa konsekuensi dari menyembuhkan Fred?" tanya Harry.
Gadis itu diam tak menjawabnya.
"Jawab aku, Sisy!" bentak Harry.
Dibentak seperti itu oleh Harry membuat Sisy sangat terkejut. Pasalnya dia tak pernah sekalipun dibentak oleh laki-laki yang sangat lembut itu.
"Untuk apa sampai membentak Sisy seperti itu, Harry?!" tanya Ron kesal.
"Sisy, wajahmu pucat sekali," celetuk Hermione.
Sisy langsung memegang wajahnya. "Aku hanya sedikit lelah saja."
"Kamu tidak bisa ikut bertarung melawan pangeran kegelapan," putus Harry.
"Aku bisa, Harry!" tegas Sisy.
"Tunggu, kalian mau ikut bertarung melawan pangeran kegelapan?!" tanya Fred.
"Iya. Kamu dan George tidak perlu ikut bertarung lagi," jawab Sisy.
"Oho tidak bisa adik kecil. Kalian tidak boleh ikut dalam pertarungan ini ka—"
Sisy menunjukkan tanda keanggotaan orde phoenix di lengannya. "Aku bisa, Fred."
George menepuk dahinya. "Ah iya, aku lupa kalau kamu telah resmi menjadi anggota orde phoenix."
"Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh ayah dan ibu saat itu sampai mengizinkanmu untuk bergabung dalam anggota orde phoenix," gerutu Fred.
"Jangan salahkan paman Arthur dan bibi Molly. Aku yang memaksanya untuk mengizinkannya," jelas Sisy.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar.
"Orang gila itu benar-benar ingin menghancurkan Hogwarts," kesal George.
"Kita harus mengamankan orang-orang yang ada di Hogwarts," ucap Sisy.
"Mereka semua sudah diamankan," sahut Fred.
"Kalau begitu kita tinggal fokus melawan pangeran kegelapan," tutur Harry.
"Kita harus membuat rencana," timpal Hermione.
Penglihatan Sisy muncul lagi tapi kali ini ada efek samping dari penglihatannya itu. Darah mengucur cukup deras dari hidungnya.
"Sisy?!" Mereka semua sangat khawatir saat melihat darah segar keluar dari hidung gadis itu.
"Aku baik-baik saja." Sisy segera mengelap darah yang mengucur di hidungnya.
"Kenapa kamu bisa mimisan?!" tanya Ron.
"Sepertinya ini efek samping dari penglihatan yang aku dapatkan, Ron," jawab Sisy.
"Efek samping?! Sebelumnya tidak ada efek samping seperti ini," ujar Hermione.
"Mungkinkah...ini salah satu konsekuensi dari perbuatanmu tadi?" tanya Harry.
Sisy menggelengkan kepalanya. "Tidak Harry. Mungkin aku terlalu lelah saat ini."
Tentu saja itu bohong. Yang dikatakan Harry memang benar, ini adalah konsekuensi yang Sisy dapatkan dari melawan takdir tadi. Namun tak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya pada mereka.
"Kalau begitu kamu harus beristirahat, Sisy. Bergabunglah dengan yang lain di tempat aman itu," tutur Hermione.
"Tidak Hermione. Aku harus ikut dalam pertarungan ini," tolak Sisy.
"Aku akan istirahat setelah ini selesai. Aku janji," ucap Sisy.
Hermione merasa aneh dengan ucapan temannya itu. Entah mengapa ucapannya itu seperti ada maksud lain tapi dia mencoba berpikir positif.
"Harry, aku tidak tau apakah ini akan berubah lagi di masa depan nantinya, tapi kamu harus berpura-pura telah mati di depan pangeran kegelapan," perintah Sisy.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Harry.
"Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak dari ini. Aku takut masa depan akan berubah lagi," jawab Sisy.
Harry mengangguk. Yang diucapkan Sisy benar. Mereka tak bisa membiarkan masa depan berubah lagi.
"Masa depan? Kenapa kalian membicarakan masa depan?" tanya George dan Fred bersamaan.
"Sisy bisa melihat masa lalu dan masa depan," jawab Ron.
Mata George dan Fred terbuka lebar. Mereka sangat terkejut mendengar pernyataan itu.
"Tetapi Sisy tak bisa memberitahukannya karena masa depan bisa berubah," timpal Hermione.
"Bukankah hal itu menyiksanya? Sisy jadi harus menanggung semuanya sendiri," ucap George.
Sisy hanya tersenyum. "Sudah. Ayo kita pergi dari sini."
"Kalian berdua, ikut yang lain ke tempat yang aman," sambung Sisy.
"Kita juga anggota orde phoenix, adik kecil. Jangan mencoba menyuruh kami untuk berdiam diri di tempat yang aman," balas George.
Gadis itu menghela nafasnya. "Baiklah tapi jangan lakukan hal bodoh lagi!"
Mereka semua bergegas pergi dari sana.
"Ayo kita berpencar," usul Hermione.
Sisy mengangguk. "Kalian harus berhati-hati."
"Kamu juga," ucap Ron.
"Harry, ingatlah perkataanku tadi. Kalau kamu sempat bertarung dengan pangeran kegelapan, berpura-puralah mati," peringat Sisy.
"Iya. Aku akan melakukan hal yang kamu katakan," jawab Harry.
"Aku harap kamu tidak mati betulan," sambungnya.
"George dan Fred, tolong jangan lakukan hal yang gegabah lagi!" peringat Sisy pada si kembar Weasley untuk kesekian kalinya.
Mereka berdua yang sudah jengah dengan peringatan itu hanya membalasnya dengan malas. "Iya adik kecil."
Semua pun mulai berpencar.
Sisy sendiri pergi mencari Newt. Dia membutuhkan hewan magis milik Newt. Tetapi di saat dia sedang mencari keberadaan profesornya itu, penglihatannya muncul lagi dan darah segar keluar lagi dari hidungnya.
Kenapa penglihatan ini jadi semakin sering muncul? Tanyanya dalam hati.
Karena penglihatan itu, Sisy harus mengubah perjalanannya. Dia menuju ke ruangan profesor Dumbledore sekarang.
Sesampainya di ruangan profesor Dumbledore, Sisy langsung masuk.
"Hentikan, profesor Snape!" perintah Sisy.
"Nona Garcia? Kenapa anda bisa ada di sini?" tanyanya terkejut.
"Profesor Snape, yang anda lakukan sekarang salah. Membunuh profesor Dumbledore tidak akan mengubah apapun," ucap Sisy.
"Apa yang anda tau tentang itu, anak kecil? Jangan sok mengaturku!" ujar profesor Snape.
Saat Sisy sedang membujuk profesor Snape, terdengar seseorang yang meneriakkan nama Harry.
"Pergilah dari sini nona Garcia dan tolong lindungi Potter," pinta profesor Snape.
"Tidak," tolak Sisy.
Profesor Snape menatap tak percaya ke arah Sisy.
"Anda yang harus melindunginya sendiri, profesor Snape," sambung Sisy.
"Aku tidak mungkin bisa melakukannya," tolaknya.
"Kenapa tidak bisa? Sekarang anda ikut saya dan kita lindungi Harry bersama-sama," ujar Sisy.
Tetapi profesor Snape masih berdiam diri di sana.
"Profesor Snape, saya tau selama ini anda selalu menjaga Harry. Sikap anda mungkin tidak menunjukkan seperti itu tapi semuanya tetap terlihat oleh mata saya," tutur Sisy.
"Aku tidak bisa melindunginya. Dia terlalu kuat," jawab profesor Snape.
"Itulah fungsi anggota orde phoenix ada. Kita akan melawan pangeran kegelapan dan membuat dunia menjadi lebih indah." Susu menatap mata profesornya dalam. "Jangan terus melakukan hal yang sia-sia, profesor."
"Tetapi kalau aku tidak membunuh Dumbledore, Malfoy akan dalam masalah," tutur profesor Snape.
"Saya tau perjanjian anda dengan ibunya Draco karena itu saya berjanji akan membantu anda melindungi Draco," jawab Sisy.
"Nona Garcia, anda tidak bisa membuat janji dengan begitu mudahnya," ucap profesor Dumbledore.
"Tidak apa-apa, profesor Dumbledore. Saya yakin bisa menepati semuanya." Sisy menggenggam tangan profesor Snape dan membawanya pergi dari ruangan profesor Dumbledore.
"Kemana anda akan membawa saya?" tanya profesor Snape.
"Kita harus ke tempat Harry sekarang," jawab Sisy.