Different

Different
Masa depan berubah



"Apa yang kamu lakukan, Sisy?!" ucap Ron marah.


"Apa?" tanya Sisy yang tidak mengerti.


"Kenapa kamu menerobos masuk ke lingkaran sihir itu?" tanya Ron.


"Untuk menolong Harry dan yang lainnya," jawab Sisy santai.


"Dan kamu terjebak di sana?!" tanya Harry.


"Karena aku diserang saat ingin keluar, Harry," jawab Sisy.


"Kamu tau tidak aku sangat panik saat lingkaran sihirnya menghilang!" ucap Harry.


"Sudahlah yang penting aku kembali dengan selamat," balas Sisy.


"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana?" tanya Draco.


Tiba-tiba seseorang datang dan memberitahu kalau Harry dan Sisy dipanggil ke ruangan kepala sekolah.


"Kenapa hanya Harry dan Sisy yang dipanggil?" tanya Hermione.


"Entahlah. Kalau begitu aku dan Harry harus segera ke ruangan kepala sekolah," ucap Sisy.


Sisy dibantu Harry untuk bangun dari tempat tidur.


"Aku akan memapahmu seperti yang Hermione lakukan tadi," kata Harry yang siap membantu Sisy.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja sekarang," tolak Sisy.


Sisy dan Harry pergi ke ruangan kepala sekolah.


"Silakan duduk," ucap profesor Dumbledore.


Sisy dan Harry duduk di kursi yang ada di dalam ruangan kepala sekolah.


"Saya ingin mendengarkan cerita lengkapnya dari kalian berdua," ucap profesor Dumbledore.


Sisy dan Harry mulai menceritakannya tapi lebih banyak Sisy yang berbicara karena Sisy yang lebih tau semuanya.


"Jadi masa depan yang nona Garcia beritahu ke Harry tiba-tiba saja berubah?" tanya profesor Dumbledore terkejut.


"Iya profesor," jawab Sisy.


"Sepertinya tidak ada yang boleh tau tentang masa depan itu selain anda," ujar profesor Dumbledore.


"Bukankah itu sangat berbahaya untuk Sisy, profesor?" tanya Harry.


"Benar. Kami jadi tidak bisa berbuat banyak karena hanya nona Garcia yang mengetahui masa depan," jawab profesor Dumbledore.


"Kita harus melakukan sesuatu, profesor," kata Harry.


Tok...tok...tok


"Masuk," ucap profesor Dumbledore.


"Tuan Scamander?" ucap Sisy terkejut.


"Ada apa, Newt?" tanya profesor Dumbledore.


"Saya perlu berbicara dengan nona Garcia," jawab Newt.


Sisy menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"


"Nona Garcia masih berbicara denganku. Lagi pula kamu bisa mengatakannya di sini. Harry sudah tau tentang nona Garcia," ujar profesor Dumbledore.


"Nona Garcia, bagaimana anda bisa mengendalikan semua hewan magis yang ada di koper saya?" tanya Newt ke Sisy.


"Saya juga tidak tau. Saya hanya mengeluarkannya dan memberinya perintah. Saya kira mereka semua memang mudah menuruti perintah," jawab Sisy.


"Tidak. Semua hewan magis itu punya karakteristiknya masing-masing dan tidak mudah untuk mengendalikan mereka," ucap Newt.


"Apa mungkin itu karena saya sering mengunjungi mereka?" tanya Sisy.


"Itu saja tidak cukup, nona Garcia," jawab Newt.


"Jadi bagaimana bisa Sisy mengendalikan mereka semua dengan sekali coba?" tanya Harry.


"Sepertinya ini berhubungan dengan sihir nona Garcia yang sangat besar itu," jawab Newt.


"Apa hubungannya sihir yang besar dengan mengendalikan hewan magis?" tanya Sisy tak mengerti.


"Ada dua cara untuk mengendalikan hewan magis. Pertama dengan perasaan dan kedua dengan kekuatan. Namun seseorang dengan perasaan yang kotor juga tidak bisa mengendalikan hewan magis dengan mudah," jelas Newt.


"Sisy memiliki hati yang bersih dan kekuatan sihir yang besar," celetuk Harry.


"Iya, nona Garcia memiliki keduanya. Mungkin karena itulah nona Garcia bisa mengendalikan semua hewan magis itu dengan mudah," timpal Newt.


"Tuan Scamander, aku ingin bertanya. Zouwu telah terkena sihir berkali-kali tapi tidak ada satupun luka di tubuhnya. Apakah itu juga karena sihirku?" tanya Sisy.


"Benar. Saya pernah mengatakannya di kelas kalau hewan magis itu tergantung dengan penggunanya. Kalau penggunanya kuat maka hewan magis itu juga semakin kuat," jawab Newt.


"Bagaimana dengan swooping evil? Dia juga dikendalikan olehku tapi dia mati," tanyanya lagi.


"Mungkin saat itu anda sudah melemah jadi swooping evil bisa mati dengan mudah tapi tetap saja semakin kuat anda juga bukan berarti mereka tidak bisa mati," jawab Newt.


Newt mengelus kepala Sisy. "Tidak apa-apa. Setidaknya hewan itu telah berjasa."


"Nona Garcia," panggil profesor Dumbledore.


Sisy menoleh ke arah profesor Dumbledore.


"Saya akan memberikan pelajaran tambahan untuk anda," sambungnya.


"Pelajaran apa?" tanya Sisy.


"Pengendalian emosi. Kekuatan anda bergantung dengan emosi anda. Anda ingat kalau di hari kedua turnamen sihir Triwizard, anda menyerang Newt untuk merebut kopernya?" ucap profesor Dumbledore.


Sisy mengangguk.


"Saat itu Newt sampai tidak sadarkan diri karena diserang oleh anda," ujarnya.


Sisy terkejut mendengarnya. "Apa?! Saya hanya menggunakan sihir kecil."


Profesor Dumbledore mengangguk paham. "Tanpa anda ketahui kalau sihir yang anda keluarkan itu sangat besar sampai membuat Newt tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama."


"Maaf, tuan Scamander." Lagi-lagi Sisy merasa bersalah dengan Newt.


"Tidak apa-apa," jawab Newt.


"Jadi Sisy membutuhkan pengendalian emosi untuk menjaga kekuatannya itu?" tanya Harry.


"Benar, Harry. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk nona Garcia," jawab profesor Dumbledore.


Harry masih bersikeras untuk mencari cara lain. "Tidak ada cara lain untuk mencegahnya melakukan semuanya sendiri?"


"Maaf..." lirih profesor Dumbledore.


Sisy tau kalau Harry sangat mengkhawatirkannya. Dia pun menggenggam tangan Harry dan menatap matanya. "Aku akan baik-baik saja, Harry."


"Tetapi kamu harus menanggung semuanya sendiri," ujarnya dengan tatapan sendu.


"Aku punya kalian untuk membantuku, kan? Aku hanya tidak bisa mengatakan apa yang akan terjadi," balas Sisy.


"Apakah saat itu kamu akan meminta tolong pada kami?" tanya Harry.


"Tentu saja. Kamu benar, aku tidak bisa menyelesaikan ini semua sendirian," jawab Sisy.


"Berjanjilah untuk meminta tolong pada kami, Sisy," tutur Harry.


Sisy mengangguk. "Tentu, Harry. Aku janji."


Profesor Dumbledore ikut berkata, "Nona Garcia, para anggota orde phoenix juga akan membantu anda."


"Terima kasih, profesor."


"Saya dan hewan-hewan magis saya juga akan membantu anda," timpal Newt.


"Terima kasih, tuan Scamander."


"Syukurlah kamu sadar kalau pangeran kegelapan bukanlah lawan yang mudah." Harry merasa lega karena akhirnya Sisy menyadari hal itu.


"Iya, Harry. Aku baru menyadari itu saat melawannya langsung," ucap Sisy.


"Anda melawan pangeran kegelapan sendirian secara langsung?" tanya Newt


"Iya. Untunglah saat itu sihir saya lebih dominan darinya," jawab Sisy.


"Apa yang membuat anda bisa melawannya? Bukankah Harry dan yang lainnya sudah keluar saat itu? Seharusnya sihir anda tidak sebesar itu sampai bisa mendominasi sihir milik pangeran kegelapan," tanya profesor Dumbledore.


"Saya tidak tau apakah ini penyebab atau bukan tapi saya mendengar kalau pangeran kegelapan akan membunuh semua muggle dan mudblood hingga hanya pureblood yang tersisa. Dan dia juga akan membunuh Harry karena Harry akan menyebabkan kejatuhan bagi dirinya. Saat itu saya merasa sangat marah dan saya menyerangnya," jawab Sisy menjelaskan.


Harry yang mendengar cerita Sisy pun terkejut. "Kamu mengalahkannya?!"


Sisy menggeleng cepat. "Tidak. Pangeran kegelapan melarikan diri. Setelah itu barulah aku bisa keluar dari sana dengan membuat lingkaran sihir lagi dengan sisa sihirku."


"Bagaimana kamu masih bisa bertahan setelah melawan pangeran kegelapan?!" tanya Harry.


"Itu karena sihir nona Garcia sangat besar," jawab profesor Dumbledore.


"Profesor..." Sisy menghentikan perkataannya karena dia ragu.


"Ada apa nona Garcia? Katakan saja." Profesor Dumbledore berusaha untuk membujuk Sisy mengatakan hal yang ingin dia katakan.


"Setelah pangeran kegelapan melarikan diri, ada perasaan yang bergejolak dari dalam tubuh saya. Saya hampir hilang kendali kalau saja saya tidak mendengar suara Harry dan yang lain," jelas Sisy.


"Suaraku sampai ke sana?" tanya Harry.


"Iya, Harry. Suaramu dan yang lainnya berhasil menyadarkanku," jawab Sisy.


Profesor Dumbledore terdiam sejenak. "Nona Garcia, saya akan langsung melatih anda setelah anda pulih. Apakah anda siap?"


"Iya. Saya siap, profesor!" tegas Sisy.


"Baiklah. Silakan kalian kembali ke asrama masing-masing!" perintah profesor Dumbledore.


"Kami pamit pergi." Sisy dan Harry keluar dari ruangan kepala sekolah.