Different

Different
Keluarga Kowalski



"Apakah kamu ada waktu setelah ini?" tanya Draco.


Bukannya menjawab, Sisy malah balik bertanya, "Kenapa?"


"Jawab saja," ucap Draco.


"Ada," jawab Sisy.


Draco menggenggam tangan Sisy dan membawanya ke danau.


"Kenapa kamu membawaku ke sini, Draco?" tanya Sisy.


"Sudah lama sekali ya kita tidak ke sini," ucap Draco tanpa berniat menjawab pertanyaan Sisy.


"Maaf," sesal Sisy.


Draco mengernyitkan dahinya. "Kenapa kamu minta maaf? Aku tidak ingin mendengar permintaan maaf itu."


Sisy diam.


"Bagaimana kelas tambahanmu?" tanya Draco mengalihkan topik.


"Berjalan dengan baik," jawab Sisy.


"Aku senang mendengarnya. Jadi kamu benar-benar akan tetap di sini selama liburan?" tanyanya lagi.


Sisy mengangguk. "Maaf, Draco."


"It's okay. Kita masih punya banyak waktu. Jaga kesehatanmu selama di sini. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," ucap Draco.


"Iya," jawabnya.


Draco memeluk Sisy. "I will miss you, darling."


"Me too," balas Sisy.


Mereka berpelukan cukup lama karena setelah ini mereka tidak akan bertemu untuk waktu yang lama.


Setelah semua telah pulang ke rumah masing-masing. Sisy melanjutkan pembelajarannya dengan profesor Dumbledore.


"Anda benar-benar tidak ingin pulang ke rumah, nona Garcia?" tanya profesor Dumbledore khawatir.


"Iya, profesor. Lebih baik saya di sini dan tetap melanjutkan pelatihan ini," jawab Sisy.


"Anda bisa beristirahat sejenak, nona Garcia. Lagi pula emosi anda sudah jauh lebih stabil dari sebelumnya."


Sisy menggeleng. "Tidak. Saya masih kurang dan harus berusaha lebih keras lagi."


"Baiklah. Saya akan mencoba yang terbaik agar anda bisa menyelesaikan ini secepatnya," ucap profesor Dumbledore.


"Terima kasih, profesor," balas Sisy.


Satu bulan kemudian...


Sisy terus berusaha keras supaya bisa mengendalikan emosinya tapi entah mengapa setiap harinya, pengendalian emosi Sisy semakin buruk.


"Kenapa selama satu bulan ini saya malah menurun?!" tanya Sisy kesal.


Profesor Dumbledore mengelus kepala Sisy. "Sabar, nona Garcia."


"Saya tidak bisa sabar, profesor. Sudah satu bulan tapi bukannya meningkat, kemampuan pengendalian emosi saya malah semakin menurun," ucap Sisy.


Sisy mengusap wajahnya kasar. Dia sangat frustasi. "Kalau terus seperti ini maka usaha kita sia-sia, profesor."


Profesor Dumbledore duduk di sebelah Sisy. "Tidak ada usaha yang sia-sia, nona Garcia."


"Saya harus bagaimana profesor? Saya harus cepat-cepat bisa mengendalikan emosi ini," tanya Sisy.


"Kenapa anda sangat terburu-buru? Kita masih punya banyak waktu," kata profesor Dumbledore.


"Tidak, profesor. Pangeran kegelapan dan pengikutnya itu akan menyerang kita cepat atau lambat," balas Sisy.


"Apakah anda mendapatkan penglihatan?" tanyanya.


Sisy menggeleng. "Tidak."


"Itu artinya sekarang masih aman-aman saja," putus profesor Dumbledore.


"Ta—"


"Cukup. Kita sudahi pembelajaran hari ini. Istirahatlah lebih awal nona Garcia." Profesor Dumbledore pun pergi meninggalkan Sisy yang masih kesal.


Sisy memukul dinding yang ada di dekatnya. "Kenapa aku tidak ada peningkatan sama sekali?!"


Sisy terus memukul dinding itu sampai emosinya mereda. Setelah itu dia kembali ke asrama. Di perjalanan menuju asrama, Sisy melihat burung hantu milik Harry. Dia menghampiri burung hantu itu. "Hedwig?"


Burung hantu itu menunjukkan kakinya. Ternyata Harry mengirimkannya surat dengan bantuan Hedwig. Sisy mengambil surat itu dari kaki Hedwig. Surat itu dibuka dan dibaca.


Dear Sisy,


Apa kabarmu, Sy? Aku harap kamu selalu baik-baik saja. Kamu tenang saja, aku baik-baik saja di sini walaupun keluarga Dursley selalu membuatku kesulitan. Tidak banyak yang ingin aku katakan padamu. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kami semua ada di sini. Jangan merasa sendirian. Jangan terlalu keras pada dirimu. Pulanglah jika kau lelah Sisy. Keluargamu selalu menunggumu di rumah.


Salam hangat, Harry


Sisy menangis saat membaca surat itu. "Aku memang lelah, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus keras pada diriku sendiri, Harry."


Sisy terus menangis sambil memeluk surat itu. Perasaannya lumayan lega setelah menangis. Sisy mengelus kepala Hedwig. "Terima kasih telah mengirimkan surat ini tepat waktu, Hedwig. Sekarang kamu boleh kembali ke pemilikmu."


Hedwig pun pergi.


Sisy masih berdiam diri di sana sambil memandangi langit.


"Nona Garcia?"


Sisy terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. "Tuan Scamander? Astaga anda membuat saya terkejut."


Newt menghampiri Sisy dan bertanya, "Apa yang anda lakukan di sini? Bukankah sekarang masih jam latihan?"


"Harusnya begitu tapi profesor Dumbledore menghentikannya lebih awal," jawabnya.


"Kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Newt lagi.


Newt diam sejenak dan kemudian berbicara, "Anda bisa menceritakannya pada saya. Siapa tau itu bisa membuat perasaan anda lebih baik."


Sisy menatap Newt. Lalu dia menatap ke arah langit lagi. "Pengendalian emosi saya menurun. Saya tidak tau penyebabnya apa tapi semakin hari, sulit untuk saya menahan emosi saya."


"Istirahatlah nona Garcia. Jangan terlalu keras pada diri anda sendiri," nasehat Newt.


Mendengar itu, Sisy menghela nafasnya. "Kenapa semua orang selalu berkata seperti itu?"


"Karena anda membutuhkan istirahat," jawab Newt.


"Saya tidak bisa istirahat. Saya harus berusaha untuk menjadi lebih kuat karena semuanya bergantung pada saya," jelas Sisy.


"Masa depan semua orang memang bergantung pada anda tapi bukan berarti anda tidak boleh istirahat," tutur Newt.


"Bagaimana kalau saya sedang beristirahat lalu pangeran kegelapan dan pengikutnya tiba-tiba saja menyerang?" tanya Sisy.


"Masih ada kami, para anggota orde phoenix," jawab Newt singkat.


"Tapi tu—"


"Nona Garcia, saya tau hanya anda yang bisa melihat masa depan dan memiliki sihir yang besar tapi bukan berarti kami semua tidak bisa membantu anda. Atau jangan-jangan anda tidak per—"


"Bukan begitu, tuan Scamander. Saya percaya pada kalian, pada para anggota orde phoenix."


"Lalu apa masalahnya?" tanya Newt.


"Saya hanya...ingin menyelesaikan semuanya sendiri tanpa mengorbankan orang lain," jawab Sisy pelan.


Newt mengernyitkan dahinya. "Apa maksudnya mengorbankan orang lain?"


"Melawan pangeran kegelapan tidaklah mudah. Ada kemungkinan kalau seseorang bisa mati saat melawannya dan saya tidak ingin hal itu terjadi," jelas Sisy.


"Ya, saya tau ta—"


"Sudahlah tuan Scamander. Kalau anda ke sini hanya untuk mengatakan hal tidak penting lebih baik anda pergi. Saya harus memenangkan pikiran saya dan mencari cara agar saya bisa mengendalikan emosi saya dengan baik," potongnya.


Newt nampak berpikir. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. "Saya tau."


Sisy menatap heran ke arah Newt. "Apa?"


"Anda hanya perlu berjalan-jalan sebentar," jawab Newt.


"Tuan Scamander, bu—"


"Sudahlah, ikuti saja saya." Newt menarik tangan Sisy dan membawanya pergi. Sisy yang ditarik oleh Newt hanya diam saja. Dia ingin protes tapi...dia juga ingin tau apa yang akan dilakukan oleh tuan Scamander.


Mereka berdua sampai di sebuah rumah yang Sisy tidak tau rumah siapa ini.


"Rumah siapa ini?" tanya Sisy.


"Ini rumah teman baik saya," jawab Newt.


Newt mengetuk pintunya dan seorang pria dengan tubuh gemuk dan berkumis pun keluar. Orang itu nampak senang melihat kedatangan Newt dan memeluknya. "Newt, teman baikku."


Newt membalas pelukan pria itu. "Bagaimana kabarmu, Jacob?"


"Aku baik. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik."


Mereka melepaskan pelukannya.


"Ada apa kamu tiba-tiba datang kemari? Maksudnya aku tidak masalah kamu datang kemari hanya saja ini terlalu tiba-tiba. Aku tidak menyiapkan apa-apa."


Tiba-tiba seorang wanita keluar. "Siapa yang datang, sayang?"


"Ah ini, Newt datang," jawab Jacob.


Wanita itu memeluk Newt. "Halo Newt."


"Halo Queenie," balas Newt.


"Apa kabarmu?" tanyanya.


"Aku baik, Queenie." jawab Newt.


"Jadi, ada urusan apa Newt datang ke sini?" tanya wanita itu lagi.


"Maaf telah mengganggu waktu kalian," ucap Newt.


"Tidak, Newt. Santai saja," balas Jacob.


"Siapa gadis manis yang datang bersamamu ini, Newt?" tanya wanita itu saat melihat Sisy.


"Ah iya, perkenalkan dia adalah Daisy Garcia. Anak muridku di Hogwarts," jawab Newt.


Sisy mengulurkan tangannya. "Saya Daisy Garcia."


Wanita itu menerima uluran tangan Sisy. "Halo nona Garcia. Saya Queenie Kowalski dan pria ini adalah suamiku, Jacob Kowalski."


"Halo tuan Kowalski," sapa Sisy pada Jacob.


Setelah itu Queenie memeluk Sisy dan mengelus rambut panjangnya. "Kamu manis sekali nona Garcia."


Queenie melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Sisy gemas.


"Karena dia sedang tidak pulang ke rumahnya jadi aku membawanya ke sini," sambung Newt.


"Kenapa nona Garcia tidak pulang ke rumahnya?" tanya Jacob.


"Dia ada kelas tambahan," jawab Newt.


Jacob mengangguk paham. "Begitu."


"Ayo kita masuk. Aku baru saja memanggang kue," ajak Queenie.


Mereka semua pun masuk. Dengan ragu, Sisy juga ikut masuk.