Different

Different
Menang



Akhirnya setelah 1 jam bergulat dengan alat masak itu, makanan mereka pun jadi. Mereka mencicipi makanan yang telah dibuat bersama-sama itu.


"Enak!" seru Luna.


"Iya. Wah sepertinya kita sangat berbakat dalam memasak hehe," timpal Hermione.


Astoria mengambil sendok dan mencicipi makanannya tapi tiba-tiba saja dia memuntahkan makanan itu. "Makanan apa ini?! Baru kali ini aku memakan makanan tidak enak seperti ini."


"Kalau tidak enak ya tidak usah dimakan!" kesal Hermione.


"Lebih baik aku ke tenda Draco saja. Dia pandai memasak jadi makanannya sudah pasti enak," ujar Astoria.


"Draco bisa masak?" gumam Sisy.


Astoria terkekeh mendengar ucapan Sisy. "Kamu tidak mengetahuinya, nona Garcia? Menyedihkan sekali. Dari kecil Draco itu sangat suka memasak jadi makanan yang dia buat selalu enak."


Astoria pun pergi ke tenda milik Draco.


"Ya pergi saja sana untuk apa memujinya seperti itu?!" kesal Hermione.


"Nona Greengrass nampaknya dekat dengan Malfoy," celetuk Luna.


"Astoria dan Draco memang teman dari kecil jadi wajar saja jika mereka sangat dekat," timpal Pansy.


"Kenapa mereka tidak pacaran saja? Kepribadian mereka sangat mirip," sahut Hermione.


Mendengar perkataan Hermione membuat perasaan Sisy menjadi buruk tapi dia berusaha tidak menunjukkannya.


"Sudah. Ayo kita tata makanannya di piring," ucap Sisy mengalihkan pembicaraan.


"Benar juga. Sebentar lagi penilaian akan dimulai," kata Luna.


Mereka menata makanannya ke piring dan menghiasnya.


Waktu penilaian pun tiba. Semuanya berdiri di depan tenda masing-masing dan menyajikan makanannya di atas meja.


"Lumayan juga kalian menata makanannya tapi masih lebih bagus milik Draco," ucap Astoria sambil melirik makanan milik mereka.


"Cukup Astoria!" tegur Pansy.


"Kamu sudah berani melawanku rupanya," desis Astoria.


"Bukan begitu. Hanya saja tidak baik kamu membandingkan makanan milik kita dengan makanan milik Draco," tutur Pansy


"Kenyataannya memang seperti itu," balas Astoria.


Penilaian pun dimulai. Para profesor berkeliling ke semua tenda dan mulai menilainya.


45 menit waktu telah dihabiskan oleh para profesor untuk menilai hasil kerja murid-murid.


"Saya sudah melihat-lihat hasil kerja sama kalian. Hampir semuanya bekerja sama dengan baik. Bagus, anak-anak," puji profesor McGonagall.


"Saya setuju dengan profesor McGonagall. Kalian melakukannya dengan sangat baik. Makanan yang kalian buat juga lezat. Saya tidak tau kalau murid Hogwarts berbakat dalam bidang memasak," timpal Hagrid


"Sekarang saya akan mengumumkan kelompok mana yang menjadi pemenangnya. Walaupun hampir semuanya bagus tapi tentu saja ada satu kelompok yang benar-benar sempurna. Kelompok itu adalah...kelompok nona Garcia," ucap madam Hooch.


Sisy dan yang lainnya terkejut. Mereka sangat senang karena memenangkan pertandingan ini. Para profesor dan murid-murid bertepuk tangan.


"Tenda yang mereka dirikan sangat rapi dan saya lihat tenda milik kelompok nona Garcia yang tercepat dibangunnya. Makanan yang mereka buat juga lezat dan cantik. Untuk kelompok nona Garcia, silakan maju ke depan untuk menerima hadiah," sambung madam Hooch.


Sisy dan yang lain maju dan menerima hadiahnya. Selesai serah terima hadiah, mereka semua mulai menikmati makanan masing-masing.


"Wah ayam panggang," ucap Luna dengan mata berbinar-binar.


"Tidak disangka kalau kelompok kita akan menang," kata Sisy.


"Iya. Ron pasti sangat kesal karena kita yang menang," timpal Hermione.


Sisy terkekeh mendengar ucapan Hermione. Dia bisa membayangkan wajah Ron yang kesal pada mereka.


Acara makan-makan selesai tepat sebelum hari mulai gelap. Jadi mereka semua bisa merapikannya dulu.


"Karena hari sudah mulai gelap jadi silakan kalian beristirahat. Ingat, jangan ada yang coba-coba berkeliaran!" peringat profesor McGonagall.


"Baik profesor," jawab mereka serempak.


Para murid kembali ke tenda masing-masing dan mulai beristirahat.


Saat sedang berusaha tidur, Sisy mendengar ada suara. Dia pun membuka matanya dan melihat kalau Astoria hendak pergi keluar. Karena khawatir, Sisy mengikutinya diam-diam.


Ternyata Astoria menghampiri Draco yang sedang duduk sendirian. Gadis itu mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pohon.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Draco.


"Kenapa kamu memberikan ini?" tanya Draco lagi.


"Aku memberikan ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu menolongku tadi," jawab Astoria.


"Aku tidak menolong apa-apa. Sisy yang menolongmu," ujar Draco.


"Nona Garcia sudah memiliki selimutnya sendiri," balas Astoria.


"Aku tidak mau selimut itu. Kamu kembalilah ke tenda," usir Draco.


Astoria memaksa Draco agar menerimanya. "Aku tau kamu tidak akan bisa tidur di alam bebas seperti ini karena gangguan serangga menyebalkan seperti nyamuk. Pokoknya terimalah selimut ini, aku akan kembali ke tenda."


Astoria pun pergi. Setelah Astoria pergi, Draco melempar selimut itu ke sembarang arah.


Melihat Astoria yang benar-benar sudah pergi, Sisy pun menghampiri Draco.


"Untuk apa kamu kembali lagi?" tanya Draco tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Sisy.


Mendengar suara kekasihnya, Draco mengalihkan pandangannya. "Daisy?"


Gadis itu duduk di sebelah kekasihnya dan menyelimutinya dengan selimut miliknya. Draco hendak melepaskan selimut itu tapi Sisy langsung menahannya. "Pakai saja. Aku dengar kamu tidak bisa tidur kalau banyak nyamuk."


Draco terkejut mendengar perkataannya.


Sisy terkekeh melihat reaksi kekasihnya itu. "Aku tidak sengaja mendengar ucapan nona Greengrass tadi."


"Aku ti—"


"Aku tau, Draco. Aku tidak marah jadi pakai saja selimut milikku," potong Sisy.


"Tidak. Aku tidak mau nyamuk-nyamuk itu menggigit kulitmu," tolaknya.


"Kalau begitu aku akan memakai selimut milik nona Greengrass," ucap sisy sambil berjalan menghampiri selimut milik Astoria yang dilempar oleh Draco tadi.


Tetapi Draco menahan lengannya. "Jangan. Itu sudah kotor."


"Jadi kamu akan membiarkanku digigit oleh nyamuk?" tanya Sisy.


Draco menarik Sisy ke pelukannya dan menyelimutinya. "Kita berbagi selimut saja."


"Bagaimana aku bisa tidur kalau seperti ini?" tanya Sisy.


"Kenapa kamu tidak bisa tidur? Pejamkan matamu dan tidurlah," ucap Draco.


"Jangan berpura-pura tidak tau!" Sisy terus meronta-ronta dan mencoba melepaskan diri dari Draco.


"Kenapa kamu terus berusaha melepaskan diri dariku?" tanya Draco heran.


"Aku takut ketahuan para profesor," jawab Sisy.


"Tidak akan. Mereka sudah tidur," balasnya.


"Tetap sa—"


"Aku akan membangunkanmu dan kita kembali ke tenda masing-masing sebelum matahari terbit. Bagaimana?" usulnya.


Sisy nampak berpikir. "Baiklah. Janji ya?"


Laki-laki itu mengangguk. "Iya sayang."


"Jangan memanggilku, sayang," sahut Sisy.


Dahi Draco mengkerut. "Kenapa? Bukankah wajar jika aku memanggilmu dengan sebutan sayang?"


"Aku malu," cicit Sisy.


Draco tertawa melihat wajah kekasihnya yang sudah sangat merah. "Untuk apa malu?"


"Aku tidak terbiasa tau," jelas Sisy.


"Kalau begitu aku harus sering-sering memanggilmu seperti itu agar kamu terbiasa," putus Draco.


Sisy tak tau harus merespon seperti apa, jadi dia menyembunyikan wajahnya di dada Draco.


"Kenapa kamu menyembunyikan wajahmu?" tanya Draco.


"Diamlah! Aku mengantuk!" kesal Sisy.


Draco terkekeh melihatnya. Dia mengeratkan pelukannya dan tertidur dengan posisi memeluk Sisy.