Different

Different
A day with Draco



Draco mengelus kepala Sisy. "Jangan berpikiran negatif. Ayah dan ibu memang selalu mendapatkan panggilan dadakan seperti ini."


"Mereka bukannya sedang menghindari aku, kan?" tanya Sisy gelisah.


"Tentu tidak, sayang. Ayah dan ibu sangat menyukaimu. Bahkan aku juga bisa melihat ekspresi kecewa dari wajah mereka karena harus pergi," jawab Draco.


Sisy memiringkan kepalanya. "Ekspresi kecewa?"


"Iya. Terlihat sangat jelas kalau mereka kecewa karena tak bisa mengobrol lebih lama denganmu," jelas Draco.


"Jangan berbohong, Draco. Ekspresi wajah tuan dan nyonya Malfoy biasa saja. Jangan berbohong hanya untuk menghibur diriku," sahut Sisy.


"Aku anaknya jadi tau ekspresi wajah mereka," balas Draco.


Sisy masih tak percaya dengan ucapan kekasihnya itu.


"Sudahlah, lebih baik kita ke kamarku saja," ajaknya.


Mata Sisy membelalak. "Untuk apa kita ke kamarmu?!"


Draco mengernyitkan dahinya. "Untuk apa? Tentu saja untuk bermain."


"Kita bisa bermain di sini jadi untuk apa harus di kamarmu?" tanya Sisy lagi.


"Bukankah itu hal biasa jika bermain di kamar?" tanya Draco.


Dengan gugup Sisy menjawab, "I-iya sih."


Seketika Draco mulai mengerti. Kekasihnya itu pasti berpikir yang lain. Dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya itu dan bertanya, "Kamu memikirkan hal lain, kan?"


Rona merah muncul di pipi Sisy. "Tidak! Aku tidak memikirkan hal aneh kok."


"Aku tidak bilang seperti itu loh," sahut Draco.


Wajah Sisy semakin merah dibuatnya. "Sudahlah. Ayo kita ke kamarmu."


Draco terkekeh. Dia menggenggam tangan kekasihnya itu dan membawanya ke kamar.


Sebelum menuju ke kamar, Sisy melihat foto keluarga yang terpajang di ruang tamu itu.


"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Draco.


"Foto keluarga ini sangat indah," puji Sisy.


Draco mengernyitkan dahinya. "Indah? Bukankah semua foto keluarga memang seperti ini?"


"Aku tidak tau. Orang tuaku tidak ada sejak aku kecil jadi aku belum sempat melakukan foto keluarga," jawab Sisy.


Draco pun baru teringat tentang hal itu.


Bodoh. Kenapa kamu malah mengatakan hal itu. Batin Draco.


Laki-laki itu sangat terkejut ketika melihat Sisy meneteskan air mata.


"Ja-jangan menangis," ucap Draco panik.


"Aku merindukan orang tuaku," kata Sisy sambil mengusap air matanya.


Draco memeluk kekasihnya itu dan mengelus rambutnya. Dia benar-benar tak tau harus berkata apa untuk menenangkan gadisnya itu.


"Maaf karena merusak suasana," ucap Sisy sambil melepaskan pelukannya.


"No problem, darling," jawab Draco.


Sisy terdiam.


"Kamu bisa menganggap ayah dan ibuku sebagai orang tuamu juga," sambung Draco.


Sisy menggeleng. "Itu kedua orang tuamu, Draco."


Draco menatapnya tajam. "Ayo kita menikah. Dengan begitu, orang tuaku juga orang tuamu."


Sisy terkekeh. "Sudah kubilang carilah uang dengan kerja kerasmu sendiri baru melamarku."


Sisy mengangguk.


Kemudian mereka berdua pergi ke kamar Draco dan bermain di sana.


Tak terasa sudah waktunya untuk makan malam. Perut Sisy mulai berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya Draco.


Sisy mengangguk.


Draco melirik ke arah jam dinding. "Astaga ternyata sudah waktunya untuk makan malam. Maaf sayang, aku tidak melihat jam dan membiarkanmu kelaparan."


Sisy tertawa melihat respon heboh Draco. "Hahaha santai saja, Draco."


"Ayo kita ke bawah. Aku akan membuatkan makanan untukmu." Sisy dan Draco pergi ke lantai bawah.


Draco mulai memakai apronnya dan menyiapkan bahan-bahan. "Apa yang kamu inginkan untuk makan malam?"


"Apa saja. Aku tidak pilih-pilih makanan," jawab Sisy.


Draco mengangguk. Dia mulai memasak dan Sisy dengan setia memperhatikannya.


15 menit lamanya laki-laki itu berkutat dengan alat masak. Akhirnya selama 15 menit itu makanannya pun siap.


Dia segera menghidangkan makanan itu di hadapan kekasihnya. "Cobalah. Aku membuatkan spaghetti carbonara untukmu."


Sisy mulai mencicipi makanan itu.


"Bagaimana?" tanya Draco sambil memperhatikan ekspresi wajah gadisnya itu.


"Enak!" jawab Sisy.


Draco menghela nafas lega.


"Ternyata ucapan nona Greengrass benar," sambung Sisy.


Draco mengernyitkan dahinya. "Ucapan Astoria?"


"Waktu camping, nona Greengrass berkata kalau kamu sangat pandai masak," jelas Sisy.


"Jangan salah paham. Sejak dulu Astoria memang suka menyelinap ke rumahku dan melihat kegiatanku," ujar Draco.


"Aku tidak salah paham," jawab Sisy.


"Habiskanlah makanannya. Kalau mau nambah bilang saja. Aku membuat banyak untukmu," tutur Draco.


Sisy mengangguk. Mereka berdua pun menikmati makan malam bersama.


Setelah selesai makan malam, Draco memutuskan untuk mengantar kekasihnya pulang.


Baginya tidak baik jika seorang gadis berduaan di rumah seorang laki-laki yang sedang sendirian. Lagi pula Draco juga takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Terima kasih untuk hari ini, Draco," ujar Sisy.


"Aku yang berterima kasih karena kamu telah berkunjung ke rumahku dan bertemu dengan kedua orang tuaku," balas Draco.


"Kamu hati-hati pulangnya ya," kata Sisy.


Draco mengangguk. Sebelum pergi, laki-laki itu mencium bibir kekasihnya. "Good night, baby."


Dia pun pulang dengan melakukan apparate.


Sisy menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh laki-laki kesayangannya. Sudut bibirnya melengkung ke atas. Dia benar-benar bahagia hari ini. Saking bahagianya, Sisy sampai merasa takut kalau ada hal buruk yang akan terjadi.


Tidak akan ada hal buruk yang terjadi setelah ini. Batin Sisy menyakinkan diri.


Dia pun masuk ke kamar dan membersihkan diri. Sisy selalu berusaha berpikir kalau tak akan ada hal buruk yang terjadi.


Namun kenyataannya salah. Sejak hari itu entah mengapa tidak ada percakapan lagi antara mereka berdua. Sisy selalu mengirimkan surat untuk Draco tapi laki-laki itu tak pernah membalasnya. Dia mencoba untuk berpikir positif dan menghiraukannya.