
Tiba-tiba Draco menarik tengkuk Sisy dan mencium bibirnya lagi. Gadis itu memukul dada kekasihnya agar melepaskan ciumannya tapi dihiraukan olehnya. Akhirnya Sisy menggigit bibir Draco dan ciuman itu pun terlepas.
"Kenapa kamu menggigit bibirku?" tanya Draco sambil menyentuh ujung bibirnya.
"Kita di sekolah, Draco! Bagaimana kalau ada yang melihatnya?" kesal Sisy.
"Tidak akan. Jarang ada yang ke danau ini dan kamera pengawas tak ada di sini," jawabnya.
"Ah sudahlah. Kamu menyebalkan!" hardiknya.
"Enak, kan?" tanyanya.
Sisy memandang bingung ke arah Draco. "Apanya?"
"My lips," jawabnya.
"Tutup mulutmu!" teriak Sisy.
Draco memeluk Sisy dan berkata, "Ayo kita kencan saat liburan nanti."
Dahi Sisy mengkerut. "Tiba-tiba?"
"Ini tidak tiba-tiba. Kamu ingat? Liburan kemarin kita tidak bisa kencan karena kamu harus mengikuti kelas tambahan," ucap Draco.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Sisy.
"Terserah kamu. Aku akan menurutinya," jawabnya singkat.
"Baiklah tapi aku harus izin pada Charles dan Shopia. Aku akan mengirimkan surat padamu," kata Sisy.
Draco mengangguk dan kembali bertanya, "Mau melanjutkannya?"
"Melanjutkan apa?" tanya Sisy bingung.
"Yang tadi," jawab Draco.
"Tidak!" Sisy bangkit dari duduknya dan berlari menjauhi Draco.
Libur pun tiba. Akhirnya semua murid bisa kembali ke rumah mereka masing-masing kecuali anak-anak yang nilainya tidak lulus. Mereka harus menetap di sekolah dan mengikuti kelas tambahan.
"Ah kenapa nilaiku tidak lulus sih. Aku ingin pulang," keluh Ron.
"Makanya kalau aku dan Sisy ajak belajar tuh ikut. Jangan hanya main saja kerjaannya!" omel Hermione.
"Belajar itu membosankan apalagi kalau belajarnya dengan kalian," balas Ron.
"Kenapa memangnya dengan kami?" tanya Sisy.
"Tambah membosankan," jawab Ron.
Sisy memukul kepala Ron.
"Aduh, sakit tau!" rintih Ron sambil memegang kepalanya.
Sisy menghiraukannya. Dia beralih ke Harry dan memberikan catatan padanya. "Harry, aku sudah menuliskan beberapa hal tentang hewan magis. Catatan ini akan berguna karena isinya akurat."
Dengan senang hati Harry menerimanya. "Terima kasih, Sisy."
"Hei mana catatan untukku?" tanya Ron.
"Tidak ada. Aku hanya membuat catatannya untuk Harry," jawab Sisy.
"Pilih kasih!" kesal Ron.
"Kalian jaga kesehatan ya. Kita akan bertemu lagi di semester depan," ujar Hermione.
Harry mengangguk. "Iya. Jangan lupa kirimkan kami surat."
"Aku tidak butuh surat dari mereka," celetuk Ron.
Harry memukul kepala Ron.
Lagi-lagi Ron memegang kepalanya dan marah. "Kenapa kamu dan Sisy sangat suka memukul kepalaku sih?! Bagaimana kalau aku jadi bodoh nantinya?"
"Makanya jaga bicaramu," balas Harry.
"Biarkan saja Harry. Nanti juga dia yang akan merindukan kami," kata Sisy.
"Aku merindukan kalian?! Hahaha tidak mungkin," remeh Ron.
"Kita lihat saja nanti," tantang Sisy.
Beberapa hari kemudian...
"Aku merindukan Sisy dan Hermione," rengek Ron.
"Siapa yang kemarin bilang tidak mungkin merindukan mereka?" tanya Harry meledek.
Ron menggelengkan kepalanya cepat. "Aku salah. Aku sangat merindukan mereka. Aku tidak kuat lagi menjalani kelas tambahan ini, Harry."
"Kita tidak bisa berhenti, Ron," ucap Harry.
"Kenapa?" tanya Ron.
"Kalau kita tidak memenuhi nilai di semester ini maka kita harus mengulang kelas dan berakhir lulus terlambat. Apakah kamu mau jadi seangkatan dengan adikmu?" jawab Harry.
"Tidak!" teriak Ron.
"Maka dari itu lakukan kelas tambahan ini dengan serius agar kita tidak mengulang kelas nantinya," kata Harry sambil melanjutkan bacaannya.
Ron merebahkan dirinya di atas tempat tidur. "Tetapi ini benar-benar sulit, Harry."
Seketika Ron bangkit dari tempat tidurnya dan menatap Harry tajam. "Kenapa aku tidak dikasih juga?!"
"Aku tidak tau," jawab Harry.
"Dasar pilih kasih!" kesal Ron.
Harry hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di tempat lain saat ini Sisy sedang membantu Shopia menyiapkan makan malam. Padahal Shopia sudah melarangnya dan memintanya untuk istirahat saja tapi gadis itu tetap memaksa untuk membantunya.
"Aku akan potong sayurannya," ucap Sisy sambil mengambil pisau. Dia mulai memotong sayurannya dan tak sengaja jari telunjuknya tergores pisau.
Sisy pun merintih dan segera menghisap jari yang tergores itu. Shopia yang melihatnya langsung menghampiri Sisy dan memintanya untuk mencuci jari yang tergores pisau.
"Sudah kubilang istirahat saja," omel Shopia.
"Aku ingin membantumu, Shopia. Lagi pula aku jarang ada di rumah jadi waktu aku ada di rumah aku ingin membantumu," jawab Sisy.
"Karena kamu jarang di rumah harusnya istirahat saja saat di rumah," sambung Shopia.
Sisy menghela nafasnya. "Sudahlah Shopia. Jangan memarahiku terus."
"Aku bukan marah, hanya saja aku khawatir kamu akan terluka saat membantuku," balas Shopia.
"Ada apa dengan Sisy?" tanya Charles yang tiba-tiba saja datang.
"Jarinya tergores pisau saat memotong sayuran," jawab Shopia.
"Memotong sayuran? Kamu membantu Shopia memasak?" tanyanya lagi.
Mendengar pertanyaan Charles membuat Sisy kesal. "Iya, kenapa?!"
"Tidak pernah kamu berinisiatif untuk membantu Shopia," balas Charles.
Sisy ingin marah tapi yang dikatakan Charles ada benarnya. Dia memang sedikit malas dulu jadi jarang membantu Shopia melakukan pekerjaan rumah.
"Sisy bukan tidak pernah berinisiatif membantuku hanya saja aku yang selalu melarangnya untuk membantuku," bela Shopia.
"Harusnya kamu tak perlu melarangnya untuk membantu. Dia juga tinggal di sini jadi sudah sewajarnya dia membantu pekerjaan rumah," tutur Charles.
"Sudahlah Charles. Lagi pula dulu dia masih sangat kecil, aku tak tega memintanya untuk membantuku," sambung Shopia.
"Kalau begitu biarkan dia yang melakukan pekerjaan rumah selama di sini," putus Charles.
"Jangan. Jarang dia ada di rumah jadi aku ingin membiarkannya istirahat selama di rumah," tolak Shopia.
Charles menggelengkan kepalanya. "Kamu ini benar-benar sangat memanjakan Sisy."
Sisy menjulurkan lidah pada kakak laki-lakinya itu guna meledeknya.
Selesai mencuci jari yang tergores, Shopia pun mengobatinya dan selesai dengan cepat. "Sudah, kamu duduk diam saja. Jangan membantu apa-apa lagi."
"Ta—"
"Menurut saja," potong Shopia.
Akhirnya Sisy menyerah. "Baiklah."
Aduh gimana caranya aku izin bermain pekan nanti. Batin Sisy.
"Ada apa?" tanya Charles.
Sisy memandang Charles dengan tatapan bertanya.
"Sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan," sambung Charles.
"Kamu bisa membaca pikiran ya?" tanya Sisy terkejut.
"Tidak. Mana ada aku kemampuan sehebat itu. Jadi benar ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" ucap Charles.
Sisy tak menjawabnya dan hanya memainkan jari-jari tangannya.
"Katakan saja. Aku akan mendengarkannya," sambungnya.
Sisy menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu dia pun mulai berbicara, "Aku ingin bermain bermain de—"
"Tidak boleh!" potong Charles.
"Aku bahkan belum selesai berbicara, Charles," kata Sisy sedikit kesal.
"Mau bermain dengan siapa kamu?! Ron dan Harry sedang mengikuti kelas tambahan," kata Charles dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kamu kira temanku hanya mereka berdua?!" tanya Sisy tak terima.
"Aku hanya akan menyetujuinya jika ada mereka," jawab Charles.
"Dengarkan aku dulu sampai selesai," kata Sisy.
"Tidak!" tolak Charles.
"Kau bilang akan mendengarkan aku," kata Sisy lagi.
Shopia mengelus punggung suaminya itu. "Sayang, dengarkan dulu ucapan Sisy sampai selesai."
Charles menggelengkan kepalanya. "Untuk yang satu ini tidak. Aku tau kamu bukan mau bermain tapi berkencan. Aku tidak akan menyetujuinya. Kamu masih kecil untuk berpacaran."
"Kamu menyebalkan, Charles!" Sisy pun masuk ke kamarnya dan membanting pintunya.