Different

Different
Draco menangis?



Hari demi hari terus berlalu dan Sisy benar-benar tidak berbicara pada Draco. Laki-laki itu pun tak terlihat ada niatan berbicara padanya. Bahkan saat tak sengaja berpapasan di lorong juga tak ada sapaan yang keluar dari salah satu mulut mereka.


Gadis itu sangat sedih karena kekasihnya seperti tidak peduli lagi padanya. Biarpun begitu, Sisy selalu memperhatikan Draco dari jauh. Memang menyakitkan, apalagi dilihat-lihat kekasihnya itu semakin dekat dengan Astoria setiap harinya. Tetapi dia tetap melakukannya untuk memastikan kekasihnya baik-baik saja.


Saat ini Sisy sedang duduk di taman sendirian. Dia masih memikirkan Draco yang sering terlihat bersama Astoria akhir-akhir ini.


"Hei, kenapa kamu sendirian di sini?" tanya seseorang.


"Pergilah Harry. Aku sedang ingin sendirian," ucap Sisy tanpa mengalihkan pandangannya.


Harry tak pergi dan duduk di samping temannya itu. "Kenapa? Akhir-akhir ini aku melihat kamu tak bersemangat."


"Aku merindukan Hermione," jawab Sisy.


"Aku juga merindukannya," sahut Harry.


"Kapan Hermione akan kembali?" tanya Sisy.


Harry mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Dia bilang masih ada urusan yang harus diselesaikan."


Sisy menghela nafasnya. "Katanya dia hanya pergi sebentar tapi ini sudah hampir satu bulan, Harry."


"Aku juga tidak tau Sisy." Mereka berdua diam dengan pikiran masing-masing.


"Sisy," panggil Harry.


"Apa?" tanya Sisy.


"Aku yakin alasan kamu tak bersemangat akhir-akhir ini bukan hanya karena merindukan Hermione," tebak Harry.


Sisy diam.


"Pasti ada hubungannya dengan Malfoy, kan?" sambung Harry.


Mendengar nama yang sedang tak ingin di dengarnya, Sisy pun menjadi kesal. "Kenapa juga dengannya? Jangan membawa orang yang tak bersangkutan, Harry."


"Kamu tidak bisa bohong padaku, Sisy," ujar Harry.


"Aku tidak bo—"


"Aku tau kamu dan Malfoy berpacaran," potong Harry.


Sisy langsung menatap Harry.


"Semuanya terlihat jelas di wajahmu, Sisy," sambung Harry.


"Tidak. Kamunya saja yang terlalu peka. Buktinya Hermione dan Ron tidak menyadarinya," sanggah Sisy.


"Aku yakin mereka juga menyadarinya karena alasan aku menyadarinya adalah mereka berdua. Pernah suatu hari mereka tiba-tiba membicarakan sikapmu dan Malfoy. Saat itulah aku baru menyadari kalau kalian memiliki hubungan lebih dari teman," balas Harry.


Sisy mengangguk. "Kamu benar, Harry. Aku dan Draco berpacaran."


"Sudah berapa lama?" tanya Harry.


"Entahlah. Aku tidak ingat dan aku juga tidak ingin mengingatnya," jawab Sisy.


"Kamu bertengkar dengannya?" tanyanya lagi.


Sisy mengangguk. "Iya."


Harry memicingkan matanya. "Apakah ini karena ucapan Ron saat itu?"


Sisy menggeleng. "Tidak. Ada hal lain yang membuat kami bertengkar."


Harry tak bicara lagi dan memeluk Sisy. Dia mengelus rambut panjang temannya itu dan menenangkannya.


Mendapatkan pelukan seperti ini membuat Sisy merasa lemah tapi dia memang membutuhkannya saat ini.


Beberapa bulan kemudian...


Sisy dan Draco masih tak saling berbicara. Mereka berdua benar-benar seperti orang asing sekarang. Sejujurnya Sisy sangat sedih tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


Gadis itu sedang berjalan menuju taman dan tiba-tiba seseorang memanggil namanya. "Sisy."


"Hermione?!" Melihat teman yang sangat dirindukannya itu, Sisy langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.


"Astaga aku sangat merindukanmu." Hermione membalas pelukan Sisy tak kalah erat.


"Aku juga. Kenapa kamu lama sekali perginya?!" tanya Sisy kesal.


"Maaf. Ada urusan mendesak yang harus aku urus," jawab Hermione merasa bersalah.


Mereka berdua melepaskan pelukannya. Hermione meneliti seluruh tubuh Sisy dan merasa ada yang berbeda dengan temannya itu. "Omong-omong kenapa kamu semakin kurus dan apa ini?! Matamu seperti orang habis menangis saja."


Sisy langsung menyentuh bawah matanya. "Huh? Tidak. Hanya perasaanmu saja. Beratku masih sama dan mataku seperti ini karena tidur larut malam."


"Bohong," ucap Ron yang tiba-tiba saja datang.


Hermione menoleh ke arah Ron.


"Akhir-akhir ini Sisy memang suka menangis. Dia tak memberitahuku penyebabnya," adu Ron.


Hermione menatap Sisy tajam. "Sisy?!"


"Apa sih, Ron! Aku benar-benar tak menangis," kata Sisy sambil memukul bahu Ron.


"Kau mau berbohong padaku? Ginny juga pernah melihatmu menangis sendirian di taman," sambung Ron.


Sisy menatap Harry meminta bantuan.


"Teman-teman, mungkin saja Sisy terlalu lelah maka dari itu dia menangis," bela Harry.


"Lelah apa? Tidak ada masalah apapun yang terjadi dengan Hogwarts belakangan ini," celetuk Ron.


"Memang kau kira masalahnya hanya tentang Hogwarts?" tanya Harry ketus.


"Baiklah. Coba jelaskan masalah apa yang sedang kamu hadapi sampai menangis setiap hari!" perintah Ron.


"Sudah kubilang kalau aku tidak menangis setiap hari, Ron," jawab Sisy.


Ron mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah? Lalu haruskah aku memanggil semua orang yang sering melihatmu menangis di taman sendirian?"


Harry menatap Sisy dengan tatapan meminta maaf. Gadis itu tersenyum membalas tatapan Harry seolah mengatakan tidak apa-apa.


"Yang dikatakan Harry memang benar. Aku hanya sedang lelah saja," ucap Sisy.


"Lelah kenapa?" tanya Ron.


"Lelah karena kelakuanmu, Ron." Sisy pun lari meninggalkan mereka semua.


Untuk saat ini dia bisa menghindari pertanyaan dari teman-temannya. Sisy terus berjalan sampai akhirnya langkahnya terhenti karena melihat seseorang yang sedang menangis. Gadis itu mencoba mendekatinya dan betapa terkejutnya dia saat melihat kalau ternyata kekasihnya yang sedang menangis. Sisy menghampirinya dan berlutut di hadapan Draco. Dia mengusap air mata laki-laki itu dengan lembut. "What's wrong?"


Draco menatap Sisy dan bertanya, "Sisy? Is that you?"


"Ya. It's me, Daisy," jawab Sisy.


"I'm sorry..." lirih Draco.


Sisy terdiam dan terus mendengarkan ucapan Draco.


"I'm sorry for making you sad. I know you've been crying all this time alone," sambung Draco.


"Kamu memperhatikanku?!" tanya Sisy terkejut.


Draco mengangguk. "Always, darling."


"Kenapa kamu tidak berbicara padaku?" tanya Sisy.


"Aku...merasa tak pantas untuk berbicara denganmu," jawab Draco.


Sisy mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"


"Karena aku membuatmu sangat kecewa," jawab Draco.


"Bukankah kamu hanya perlu meminta maaf padaku?" tanyanya lagi.


"Apakah kata maaf cukup untuk menebus kesalahanku? Aku rasa tidak," ucap Draco.


"Kamu bahkan belum mencobanya," balas Sisy.


Draco menggeleng. "Aku tidak bisa meminta maaf padamu karena aku akan selalu mengecewakanmu."


Sisy tak mengerti dengan ucapan kekasihnya itu. Dia ingin bertanya tapi tiba-tiba saja Draco mencium bibirnya.


"Sorry Sisy. I always love you," bisik Draco di telinganya.


Setelahnya laki-laki itu tertidur.


Sisy terdiam karena hal tadi. Dia memandang wajah Draco yang sedang tertidur dan mengelusnya. "What's wrong with you, Draco?"


Sisy mengecup kepala Draco sayang dan membawanya ke rumah sakit karena dia tak bisa membawa Draco ke asrama Slytherin.