Different

Different
Labirin



Mereka mulai berkumpul dengan teman kelompok masing-masing.


"Sisy," panggil Harry.


Sisy menghampiri Harry dan yang lainnya.


"Lama sekali!" omel Astoria.


"Maaf, tadi aku kesulitan mencari kalian," sesal Sisy.


"Yakin? Bukankah kamu tadi asik berbicara dengan temanmu itu?" tanya Astoria dengan nada tak bersahabat.


"Aku hanya berbicara sebentar dengan mereka," jawab Sisy.


Tiba-tiba Hermione menghampiri mereka dan berbicara pada Harry. "Tolong jaga Sisy, Harry."


Harry merasa bingung tapi dia tetap menjawabnya, "Iya."


Hermione pun kembali ke kelompoknya.


"Apa-apaan dia? Seperti orang tua saja," cemooh Astoria.


"Sepertinya nona Greengrass iri karena tidak mempunyai teman yang begitu perhatian," ledek Sisy.


Harry dan Cho Chang tertawa singkat. Saat Astoria ingin membalas ucapannya lagi, terdengar suara pengumuman yang mengatakan kalau para peserta harus bersiap-siap karena pertandingan akan dimulai.


"Dalam hitungan ketiga silakan kalian langsung masuk ke hutan dan temukan jalan keluarnya bersama-sama. Kalian paham?" ucap madam Hooch.


"Paham, madam Hooch," jawab mereka bersamaan.


"Jangan sampai terpisah dari teman kelompok masing-masing!" peringat profesor McGonagall.


Madam Hooch mulai menghitung dan pada hitungan ketiga para peserta langsung berlari masuk ke hutan. Semua kelompok berpencar dan masuk dari arah yang berbeda-beda.


Saat hendak masuk ke labirin, tiba-tiba saja Harry berhenti. Sisy yang menyadari Harry tak di sampingnya pun menoleh ke belakang dan menghampiri Harry yang sedang terdiam.


"Ada apa, Harry? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Sisy khawatir.


Yang lain ikut menghampiri Sisy dan Harry.


"Kenapa dengan Potter?" tanya Draco.


Cho Chang juga ikut bertanya, "Kamu kenapa?"


"A-aku takut," jawab Harry.


"Takut?! Yang benar saja, kamu adalah laki-laki. Masa bermain labirin di malam hari saja takut," cela Astoria.


"Bukan begitu. Hanya saja bermain labirin mengingatkanku dengan waktu itu," sanggah Harry.


Sisy yang mengerti pun memegang tangan Harry. "Tidak apa-apa, Harry. Kejadian itu sudah lama. Labirin ini dijaga ketat oleh para profesor."


"Yang dikatakan nona Garcia benar. Kejadian itu tidak akan terulang lagi," timpal Cho.


"Kamu bisa menggenggam tanganku selama kita bermain labirin ini. Dengan begitu kamu tidak akan khawatir lagi, kan?" usul Sisy.


Harry menyetujui usulan Sisy dan menggenggam tangannya. Saat melihat itu, ada perasaan cemburu dalam diri Draco tapi dia tidak mengatakan apapun karena mengerti dengan ketakutan yang dialami Harry. Mereka mulai masuk ke labirin dan mencari jalan keluarnya.


Beberapa jam kemudian.


"Sulit sekali menemukan jalan keluarnya," celetuk Cho.


"Labirin ini terlihat sama semua jadi sulit untuk memikirkan cara menemukan jalan keluarnya," ucap Astoria.


"Tentu saja semua terlihat sama. Namanya juga labirin," jawab Sisy.


Sebenarnya bisa saja Sisy menggunakan sihirnya untuk menemukan jalan keluarnya. Walaupun tanpa tongkat sihir, gadis itu bisa menggunakan sihirnya dengan mudah tapi dia tidak bisa melakukan itu karena mereka semua bisa tau rahasia yang selama ini dia jaga. Akhirnya dengan terpaksa mereka melanjutkan perjalanan tanpa rencana apapun. Sampai malam sudah mulai bertambah dingin tapi belum ada satu petunjuk pun yang mereka dapatkan untuk menemukan jalan keluarnya.


"Sudah berapa lama kita berjalan?" tanya Astoria.


"Sepertinya sudah sekitar 3 jam," jawab Cho.


"3 jam?! Bisakah kita istirahat sebentar? Aku sangat lelah," keluhnya.


Yang lain menyetujuinya dan beristirahat.


"Kira-kira sudah ada yang berhasil menemukan jalan keluarnya atau belum?" tanya Cho.


"Sepertinya belum ada yang berhasil menemukan jalan keluarnya. Kalau sudah ada yang berhasil pasti terdengar suara lonceng seperti yang dikatakan oleh madam Hooch," jawab Harry.


Sisy mulai merasakan hal aneh. Malam semakin larut dan belum ada kelompok yang berhasil keluar dari labirin ini tapi tidak ada satupun profesor yang mencoba mencari mereka. Sisy mencoba berpikir positif tapi tidak bisa karena baginya hal ini sangatlah aneh tapi tetap saja tidak mungkin terjadi sesuatu pada para profesor karena mereka sangat kuat.


"Tidak terjadi apapun dengan para profesor, kan?" gumam Sisy.


"Kenapa kamu mengkhawatirkan para profesor? Harusnya kita yang dikhawatirkan karena tidak bisa keluar dari labirin ini," ucap Astoria yang mendengar gumaman Sisy.


"Ada apa, Sisy?" tanya Harry.


"Tidak ada apa-apa. Pikiranku kemana-mana karena lelah," jawab Sisy memijat pelipisnya.


Angin mulai berhembus sangat kencang.


"Sepertinya kita harus melanjutkan perjalanan sebelum malam semakin dingin," kata Cho sambil menggosok kedua tangannya.


"Tidak Cho. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan tanpa rencana apapun kali ini," balas Harry.


"Yang dikatakan Harry benar. Kalau kita melanjutkan perjalanan tanpa rencana, itu hanya akan menghabiskan energi kita secara sia-sia," timpal Sisy.


"Bagaimana denganmu?" tanya Cho.


"Aku tidak kedinginan. Kamu pakailah." Harry memakaikan jubahnya pada Cho.


Sisy melihat Harry dengan tatapan bangga karena temannya itu peka terhadap Cho.


"Berapa lama lagi kita harus berdiam di sini? Aku sudah mulai kedinginan," ujar Astoria.


Sisy memberikan jubahnya pada Astoria. "Pakai ini nona Greengrass."


"Tidak perlu," tolak Astoria.


Sisy menghela nafasnya. Sudah seperti ini tapi Astoria masih tidak menerima kebaikannya. Akhirnya Sisy memakai kembali jubahnya.


"Kenapa profesor tidak memperbolehkan kita membawa tongkat sihir sih?!" kesal Astoria.


Sungguh, menurut Sisy saat ini Astoria sangat berisik. Dia terus mengeluh dan marah-marah.


"Pertandingan bisa selesai dengan cepat kalau kita mempunyai tongkat sihir," jawab Draco.


"Tetapi kalau sudah seperti ini kita juga yang kesulitan," sambung Astoria.


"Para profesor pasti akan mencari kita," tegas Sisy. Walaupun dia berkata seperti itu tapi dirinya sendiri juga ragu.


Draco bisa lihat kalau tubuh Sisy sedikit gemetar. Jadi Draco melepaskan jubahnya dan memakaikannya ke tubuh kekasihnya itu.


Sisy terkejut dan menoleh ke arah Draco.


"Pakai jubahku," ujar Draco.


"Tidak perlu. Aku punya jubah sendiri," tolaknya.


"Jangan keras kepala. Tubuhmu sudah menggigil," tutur Draco.


"Draco, aku juga kedinginan," timpal Astoria.


"Kau sudah punya jubah sendiri, Astoria," jawab Draco.


"Nona Garcia juga sudah memiliki jubahnya sendiri tapi kamu masih memberikan jubahmu padanya," sambung Astoria.


"Aku hanya menjaga kekasihku agar tetap hangat," balas Draco.


Perkataan Draco membuat Harry dan Cho terkejut. Tentu saja Astoria tidak terkejut karena dia sudah mengetahuinya tapi dia tak menyangka kalau Draco akan membeberkannya saat ini.


Sisy memukul paha Draco. "Kenapa kamu mengatakan itu?!"


Draco berpura-pura terkejut dan menepuk dahinya sendiri. "Aku lupa."


Sisy yang mengetahui kalau kekasihnya hanya berpura-pura pun memutar bola matanya malas.


Harry sangat terkejut saat mendengar perkataan Draco. Dia ingin bertanya tapi sebuah suara menghentikannya.


Sisy, Harry, Draco, Cho, dan Astoria langsung bangkit dari duduknya.


"Suara teriakan siapa itu?!" tanya Astoria takut.


Sisy mendapatkan penglihatannya. Para profesor tidak ada di tempat awal. Sisy membuka matanya lebar-lebar.


"Harry, para profesor tidak ada di tempat awal," ucap Sisy pada Harry.


"Apa?! Bagaimana bisa?" tanya Harry terkejut.


"Aku tidak tau tapi tempat itu kosong. Tak ada siapapun," jawab Sisy.


"Bagaimana nona Garcia bisa tau?" tanya Cho yang dari tadi mendengarkan percakapan Sisy dan Harry.


Sisy lupa kalau di sini ada orang lain dan dia malah mengatakannya dengan kencang. Cho, Astoria, dan Draco memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya. Sisy sangat bingung harus menjawab apa tapi ada seseorang yang berlari.


Harry langsung menahannya dan bertanya, "Ada apa?"


"Ada penyerangan," jawabnya.


"Penyerangan?! Bagaimana bisa? Semua tongkat sihir ada di tangan para profesor sekarang," ucap Draco.


"Aku juga tidak tau. Yang pasti ada sihir yang terus melayang ke arah semua orang." Setelah dia mengatakan itu, ada sihir yang melayang ke arah mereka. Beruntung mereka semua bisa menghindarinya.


"Kita harus lari dan segera menemukan jalan keluarnya," sambung anak itu yang kemudian lanjut berlari ke sembarang arah.


Astoria langsung memeluk Draco dan menyembunyikan wajahnya di dada Draco. Sisy yang dari tadi risih dengan sikap Astoria pun menariknya menjauh dari kekasihnya. "Tidak ada yang berubah dengan memeluknya, nona Greengrass!"


Draco tersenyum melihat Sisy yang dengan berani menjauhkan Astoria dari dirinya.


"Kita harus mencari yang lain," ucap Harry.


"Iya," balas Cho.


Harry menggenggam tangan Sisy dan berlari. Yang lain juga mengikuti Harry dari belakang.


"Sisy tolong gunakan sihirmu untuk menemukan mereka semua," kata Harry dengan suara pelan agar yang lain tak mendengarnya.


Sisy pun mengangguk. Dia mengeluarkan sihir dari tangannya dan sebuah cahaya pun terlihat. Cahaya itu hanya bisa dilihat oleh Sisy seorang jadi tak akan ada yang menyadarinya.


"Ikuti aku," ucap Sisy pada Harry.


Sisy menuntun mereka semua ke tempat teman-temannya berada.