
Para murid mulai bermain dengan nifflernya masing-masing.
"Halo Nini," sapa Sisy.
"Nini?" tanya Draco bingung.
"Nama niffler kita, Nini. Bagus, kan?" balas Sisy.
"Apakah tidak ada yang lebih keren lagi?" tanya Draco tak suka.
"Tidak. Pokoknya nama niffler kita adalah Nini!" paksa Sisy.
"Baiklah. Nama niffler kita adalah Nini." Mengucapkan kata " kita " membuat perut Draco geli. Padahal hanya kata " kita " tapi entah kenapa kata itu menjadi sangat spesial baginya saat ini.
"Nini tinggal dengan siapa?" tanya Draco.
"Denganku saja. Aku akan menjaganya dengan baik," jawab Sisy.
"Kamu yakin?" tanya Draco lagi memastikan.
"Iya," jawab Sisy.
"Lalu bagaimana dengan anak kucingmu?" tanyanya.
"Putih? Ah tidak usah pikirkan dia. Putih menyukai hewan-hewan yang memiliki warna bulu persis sepertinya. Waktu itu saja dia membawa seekor ferret berwarna putih. Aku masih penasaran ferret itu milik siapa," jelas Sisy.
Draco hanya diam. Sisy tidak tau kalau ferret itu adalah Draco sendiri. Biarkan hanya Draco yang mengetahuinya.
"Kalau begitu aku kembali ke asrama ya. Aku ingin cepat-cepat memperkenalkan putih dengan Nini," pamit Sisy.
Draco menahan tangan Sisy. "Tetaplah di sini sebentar. Aku...masih ingin bermain dengan Nini."
"Begitu? Baiklah. Bagaimana kalau kita ke danau?" ajak Sisy.
Draco mengangguk. Sisy dan Draco pergi ke danau dan duduk di pinggir danau. Sisy terus mengelus niffler itu dan menciumnya.
"Bisakah kamu berhenti mencium hewan itu?" kesal Draco.
"Kenapa? Nini sangat menggemaskan, aku tidak bisa berhenti menciumnya," jawab Sisy yang masih terus mencium niffler itu.
Draco merebut niffler itu dari Sisy. Entahlah, Draco kesal melihat Sisy yang hanya fokus pada niffler itu.
"Malfoy! Aku masih ingin menciumnya!" pekik Sisy.
"Tidak." Draco menjauhkan niffler itu dari jangkauan Sisy.
"Kalau kamu ingin mencium ya gantian. Aku belum puas tau," ucap Sisy kesal sambil berusaha merebut nifflernya.
"Aku tidak ingin menciumnya," sanggah Draco.
Sisy mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?"
"A-aku hanya ingin mengelusnya," bohong Draco.
"Kamu bisa mengelusnya saat Nini berada di tanganku. Untuk apa merebutnya segala?" tanya Sisy kesal.
"Aku ayahnya jadi biarkan aku memegangnya juga," jawab Draco asal.
"Ayah?" beo Sisy. Dia terkejut saat Draco memanggil dirinya sebagai ayah niffler mereka.
Sisy tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Hahaha ayah. Jadi kamu adalah ayahnya Nini?"
"Jangan tertawa!" perintah Draco.
Sisy tidak mendengarkannya dan terus tertawa. Baginya sangat lucu saat membayangkan wajah Draco yang menyeramkan menjadi ayah dari hewan imut itu.
Sialan, aku salah bicara. Batin Draco.
"Baiklah, ayah. Jika kamu ingin memegangnya maka aku akan mengizinkannya," ledek Sisy.
Habis sudah. Mau ditaruh mana wajah tampan Draco. Namun sebuah ide pun terlintas di pikiran Draco. "Aku ayahnya dan kamu ibunya."
"Apa?!" tanya Sisy terkejut.
"Tuan Scamander meminta kita untuk merawat niffler ini berdua jadi kalau aku adalah ayahnya maka kamu ibunya," jawab Draco santai.
"Menambah satu lagi tidak akan berpengaruh apapun," kata Draco.
Sisy menggeleng. "Tidak tidak."
"Kamu tidak mau mengakui nini sebagai anakmu?" tanya Draco sambil menunjukkan niffler itu dan sialnya niffler itu juga seperti memasang wajah memelas.
Akhirnya Sisy kalah dengan wajah imut niffler itu. "Uh baiklah. Aku akan menjadi ibunya Nini."
Draco bersorak senang. Bagi Sisy tingkah laki-laki itu sekarang sangatlah kekanakan dan konyol tapi Sisy senang melihatnya. Mereka terus berbicara dengan niffler itu layaknya seorang ayah dan ibu yang berbicara dengan anaknya. Setelah puas, Sisy dan Draco kembali ke asrama masing-masing. Sisy meletakkan nini di tempat tidurnya dan dia pun tidur bersama nifflernya itu.
Keesokan harinya. Sebelum masuk kelas, Sisy menyempatkan ke aula untuk memasukkan namanya ke piala besar. Dia berharap kalau namanya akan terpanggil saat pengumuman nanti. Setelah memasukkan namanya, Sisy segera masuk ke kelas.
"Wah wah lihatlah siapa yang datang," ucap Pansy.
"Nona Garcia?" balas Merlin.
"Benar. Nona Garcia sang calon peserta turnamen sihir Triwizard," sambung Pansy dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semuanya mendengar.
"Nona Garcia memasukkan namanya ke piala besar yang ada di aula?!" tanya Astoria terkejut.
Iya. Aku melihatnya sendiri. Sebelum datang ke kelas, nona Garcia memasukkan namanya ke piala besar itu dan berdoa di sana. Sepertinya nona Garcia sangat menginginkan untuk berpartisipasi dalam turnamen ini," jawab Pansy.
"Tidak ada larangan untuk aku ikut," balas Sisy.
Pansy mengangguk. "Memang tidak ada larangannya tapi aneh saja kalau nona Garcia ingin ikut di saat tidak ada satupun murid perempuan yang ingin ikut. Bukankah jelas sekali tujuanmu itu nona Garcia?"
"Aku ikut turnamen itu murni hanya ingin ikut berpartisipasi. Kalian tidak ada yang mau ikut ya itu urusan kalian," balas Sisy santai.
"Memang apa tujuan nona Garcia yang kamu tau, Pansy?" tanya Astoria.
"Tentu saja karena nona Garcia ingin menjadi pusat perhatian. Orang-orang akan menganggap kalau nona Garcia berbeda dari perempuan lain," jawab Pansy.
"Astaga bukankah itu perbuatan yang tidak pantas untuk seorang perempuan," ucap Astoria tak percaya.
"Benar tapi itu tidak berlaku bagi nona Garcia," timpal Pansy.
Untuk kali ini Sisy mencoba untuk bersabar.
"No—"
"Diamlah Pansy. Profesor Snape telah datang," potong Draco.
Kelas hari ini adalah kelas pertahanan terhadap sihir hitam bersama profesor Snape. Kelas yang sangat tidak disukai oleh murid Gryffindor tapi sangat disukai oleh murid Slytherin. Seperti biasa kelas bersama profesor Snape selalu tidak berjalan menyenangkan bagi murid Gryffindor. Belum lagi Sisy melakukan kesalahan sampai profesor Snape memberikan tugas padanya dan harus dikumpulkan malam ini.
"Sebenarnya profesor Snape punya dendam apa sih padaku?!" kesal Sisy.
"Sabar, Sisy," ucap Harry.
"Tidak bisa! Pansy juga berisik tadi tapi kenapa hanya aku yang dimarahi dan diberi tugas?! Harus dikumpulkan malam ini lagi, menyebalkan!" Sisy terus mengoceh kesal.
"Hahaha deritamu itu. Siapa suruh ketauan sama profesor Snape," ledek Ron.
"Kamu menyebalkan, Ron!" geram Sisy. Ron terus meledek Sisy.
"Jangan dengarkan Ron, Sisy. Bagaimana kalau aku bantu menyelesaikan tugas itu?" tanya Hermione.
"Kamu memang yang terbaik Hermione tapi aku akan menyelesaikannya sendiri dan melemparkannya ke wajah profesor Snape," jawab Sisy.
"Kamu berani melakukan itu?" tanya Ron.
Sisy menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menjawab, "Tidak sih."
"Dasar. Beraninya di belakang," ujar Ron.
"Kamu juga beraninya di belakang," balas Sisy.
"Sudah sudah. Jangan bertengkar." Harry mencoba memisahkan Sisy dan Ron.
"Aku mau pergi. Malas berurusan dengan si rambut merah menyebalkan ini." Sisy pergi dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan.
"Hei Ginny juga berambut merah, begitu juga dengan George dan Fred!" teriak Ron.
Sisy yang mendengarnya pun menjawab, "Yang menyebalkan hanya kamu, Ron!" Akhirnya Sisy benar-benar menghilang dari pandangan mereka.