
"Kamu sih meledek Sisy terus!" omel Hermione.
"Aku hanya bercanda," balas Ron santai.
"Sudahlah, biarkan dia sendirian. Minta maaflah pada Sisy nanti, Ron!" perintah Harry.
Ron hanya berdehem.
"Oh iya bagaimana perkembangan niffler milik kalian?" tanya Harry mengalihkan topik.
"Ah iya aku ingin menceritakan itu tadi. Nona Parkison sangat menyebalkan! Dia tidak merawat nifflernya dengan baik. Aku tidak tau bagaimana cara nona Parkison merawatnya tapi saat aku melihat keadaan niffler milik kelompok kami, niffler itu sangat kurus dan lemah. Sepertinya aku harus meminta tolong pada Sisy untuk melihatnya dengan kemampuannya itu," jawab Hermione panjang lebar.
"Kamu tidak bisa meminta Sisy menggunakan kemampuan itu seenaknya. Kemampuan itu pasti memiliki efek samping untuk Sisy," larang Harry.
"Iya juga tapi apa efek sampingnya?" tanya Hermione sambil berpikir.
"Aku juga tidak tau," jawab Harry.
"Omong-omong Sisy belum pernah menceritakan lebih jelas tentang kemampuannya itu dan bagaimana Sisy tau hal itu," sahut Ron.
"Iya. Setelah kejadian kita semua masuk ruang kepala sekolah, Sisy sedikit berubah. Dia tidak banyak menceritakan tentang dirinya dan lebih sering memendamnya sendirian," timpal Hermione.
Harry menyetujui perkataan Hermione dan Ron. "Iya. Aku harap Sisy menjadi terbuka lagi pada kita. Semoga dia tidak mencoba menyelesaikannya seorang diri."
"Oh iya teman-teman, aku penasaran kenapa Sisy ingin berpartisipasi dalam turnamen sihir Triwizard nanti," sambung Ron.
"Aku juga penasaran tapi seperti yang kubilang tadi, Sisy menjadi lebih tertutup sama kita. Kalau Sisy tidak ingin menceritakannya, kita juga tidak bisa memaksanya," balas Hermione.
"Tidak. Kita harus memaksanya. Entah mengapa aku merasakan hal yang tidak enak," ucap Ron.
"Sisy akan marah kalau kita memaksanya mengatakan hal yang tidak ingin dia katakan," timpal Harry khawatir.
"Kalian tenang saja. Aku ada ide supaya Sisy mau menceritakannya," balas Ron.
"Apa itu?" tanya Harry dan Hermione penasaran.
"Kalian lihat saja nanti. Sekarang kita ke kantin, aku sangat lapar," ujarnya.
"Ah dia mulai lagi. Kenapa kamu selalu merasa lapar sih? Tadi pagi kamu sarapan sangat banyak, Ron dan sekarang sudah lapar lagi?!" tanya Hermione kesal.
"Merasa lapar itu adalah hal yang wajar, Hermione," jawab Ron.
"Rasa laparmu itu tidak wajar. Huh sudahlah, ayo kita ke kantin." Mereka bertiga pergi ke kantin.
Saat ini Sisy sedang duduk di pinggir danau. Hanya itu yang selalu dia lakukan semenjak Newt melarangnya untuk membantunya lagi. Newt merasa bersalah karena Sisy sakit kemarin. Newt mengira kalau Sisy kelelahan karena setelah belajar, dia harus membantunya mengurus hewan magis itu. Padahal Sisy sudah berulang kali menjelaskan kalau dia sakit karena tidak sengaja tidur di luar tapi hal itu tidak membuat Newt percaya. Alhasil setiap Sisy merasa bosan atau sedang senggang, dia selalu pergi ke danau. Untuk sekarang dia tidak hanya diam sambil melamun ke arah danau. Saat ini Sisy sedang merasa pusing dengan tugas yang diberikan oleh profesor Snape. Dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu karena tidak pernah mendengarkan profesor Snape saat menjelaskan.
"Semua soal ini sangat sulit! Sepertinya profesor Snape benar-benar punya dendam pribadi denganku," gerutu Sisy.
"Semua itu pernah dijelaskan oleh profesor Snape di kelas," ucap seseorang.
"Malfoy?!" ucap Sisy terkejut.
Draco duduk di sebelah Sisy dan melihat soal-soal itu.
"Kamu tidak tau mantra kutukan tak termaafkan?!" tanya Draco terkejut.
Sisy menggeleng.
Draco memijat pelipisnya. "Kalau profesor sedang menjelaskan didengerin. Jangan melamun apalagi menggerutu."
"Siapa juga yang melamun? Aku selalu memperhatikan saat profesor Snape sedang menjelaskan," sanggah Sisy.
"Lalu kenapa soal mudah seperti ini saja kamu tidak bisa?" tanya Draco.
Sisy mengelaknya. "Bukan tidak bisa tapi belum aku jawab."
"Kalau begitu jawab sekarang! Aku mau tau," perintah Draco.
"Kamu sudah tau jawabannya untuk apa mau tau?" tanya Sisy.
"Aku hanya ingin memastikan kalau jawabanmu itu benar," jawabnya.
Sisy memicingkan matanya. "Kamu meragukanku?!"
"Iya," jawab Draco singkat.
Sisy ingin menantangnya tapi memang benar kalau Sisy tidak tau jawaban dari pertanyaan itu.
"Kenapa tidak dijawab pertanyaannya?" tanya Draco.
"Aku tidak tau," cicit Sisy.
Draco menyeringai dan sengaja bertanya, "Apa? Aku tidak bisa mendengarmu."
"Aku bilang kalau aku tidak tau!" teriak Sisy.
Draco menutup telinganya. "Tidak perlu teriak-teriak seperti itu."
"Kamu pasti sengaja!" kesal Sisy.
"Sengaja apa? Sudahlah. Kamu mau dibantu tidak?" Draco menawarkan bantuan pada Sisy.
"Tidak. Aku bisa mengerjakannya sendiri," tolak Sisy.
"Yakin?" tanyanya memastikan.
"Kalau begitu aku pergi." Draco pun bangkit dari duduknya dan pergi.
Melihat Draco pergi, membuatnya gelisah. Sampai kapanpun Sisy tidak akan bisa menyelesaikan ini karena dia tidak tau jawabannya. Mencari Hermione dan meminta bantuannya pun hanya akan membuang-buang waktu karena waktu pengumpulannya sebentar lagi. Sisy merasa menyesal karena menolak tawaran Hermione dari awal. Baiklah untuk kali ini dia akan menurunkan harga dirinya demi menyelesaikan tugas dari profesor Snape. Lebih baik Sisy menurunkan harga dirinya kepada Draco dibandingkan profesor menyebalkan itu. Akhirnya Sisy memanggil Draco. "Malfoy."
Namun Draco terus berjalan. Sisy mencoba memanggilnya lagi. "Malfoy."
Draco masih terus berjalan.
"Malfoy, aku tau kamu mendengarku!" teriak Sisy dengan kesal.
Kali ini Draco berhenti dan berbalik badan. "Kamu memanggilku?"
"Tentu saja! Siapa lagi yang namanya Malfoy di sini," jawab Sisy.
"Ah maaf. Aku kira kamu memanggil ayahku. Soalnya kau terus memanggil Malfoy," ujar Draco.
"Ya karena namamu Malfoy," balas Sisy.
"Ayahku juga Malfoy, ibuku juga," jawabnya.
Sisy memutar bola matanya jengah. "Lalu aku harus memanggilmu apa?"
"Draco," jawab Draco.
Sisy terkejut mendengar. "Apa?!"
"Panggil aku, Draco," ucap Draco mengulanginya.
"Yang benar saja. Aku tidak mau," tolak Sisy.
"Kenapa? Itu memang namaku," jawabnya.
"Ta—"
"Kalau kamu tidak ingin memanggilku seperti itu maka aku akan pergi," potong Draco.
"Baiklah," tutur Sisy.
"Baiklah apa?" tanyanya.
"Iya Draco," ucap Sisy dengan terpaksa memanggil namanya.
Draco tersenyum penuh kemenangan. Dia pun menghampiri Sisy dan duduk di sebelahnya. "Sini bukunya."
Dengan senang hati, Sisy memberikan bukunya. Saat melihat tugasnya, Draco merasa heran.
"Ada apa? Kamu tidak bisa menjawabnya juga?" tanya Sisy saat melihat raut wajah Draco.
"Aku tidak menyangka kalau profesor Snape akan memberikan soal semudah ini," jawab Draco.
Sisy membuka matanya lebar-lebar. "Mudah?!"
Draco mengangguk. "Iya. Soal-soal ini sangat mudah, memang kamunya saja yang tidak pernah memperhatikan."
Sisy menundukkan kepalanya. Dia tau kalau dirinya salah karena tak pernah memperhatikan saat profesor Snape sedang menjelaskan.
"Aku akan mengajarimu," putus Draco.
Mata Sisy membelalak. "Apa?! Aku minta tolong untuk dibantu mengerjakan ini bukan minta diajarin."
"Sambil mengerjakan ini sekalian belajar. Sebentar lagi ada ujian dan kamu tidak paham sama sekali tentang ilmu pertahanan sihir hitam," ucapnya.
Sisy tidak bisa menyanggahnya lagi karena yang diucapkan Draco benar. Sebentar lagi ujian dan dia tidak tau apapun tentang pelajaran profesor Snape. Akhirnya Sisy mengangguk. "Baiklah, tolong ajari aku."
Draco mulai menjelaskannya pada Sisy. Sambil dijelaskan, Sisy juga mengerjakan tugas-tugasnya. Terkadang kegiatan belajar mereka itu diselingi dengan candaan. Entah Draco yang jahil atau Sisy yang jahil. Tanpa sadar mereka belajar sampai matahari hampir terbenam.
"Karena tugasnya sudah selesai, cepat kumpulkan ke profesor Snape!" perintah Draco.
"Tunggu, ayo kita lihat sunset sebentar," ajak Sisy.
Draco mengangkat sebelah alisnya. "Bagaimana dengan tugasmu?"
"Masih ada satu jam lagi sebelum batas pengumpulan," jawab Sisy.
Draco mengangguk. Mereka pun duduk di pinggir danau sambil melihat sunset.
"Cantik ya," ucap Sisy sambil melihat sunsetnya.
"Iya, cantik," balas Draco sambil memandangi wajah Sisy.
Sisy terus memandangi sunset itu, sedangkan Draco terfokus pada wajah cantik Sisy. Sampai akhirnya matahari benar-benar tenggelam, barulah Sisy pergi ke ruangan profesor Snape dan mengumpulkan tugasnya. Setelah itu Sisy dan Draco kembali ke asrama masing-masing.
Di perjalanan menuju asrama, Draco bertanya, "Kenapa kamu tertarik untuk ikut turnamen sihir Triwizard?"
Sisy mengernyitkan dahinya. "Memang salah kalau aku tertarik untuk ikut? Apakah kamu juga berpikiran sama seperti nona Parkison?"
Draco menggeleng cepat. "Bukan begitu. Aku hanya penasaran saja."
"Seperti yang kubilang kalau aku sekedar tertarik," jawab Sisy.
Draco mengangguk. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke asrama masing-masing.