Different

Different
Mencari Horcrux



"Bagaimana? Apakah kalian menemukan sesuatu?" tanya profesor Snape.


Sisy mengangguk. "Kami tau dimana horcrux itu berada. Liontin Slytherin berada di profesor Umbridge, Piala Hufflepuff berada di Bank Gringotts, Mahkota Ravenclaw ada di ruang kebutuhan, Nagini adalah seekor ular yang menjadi pengikut pangeran kegelapan."


"Bagaimana dengan cincin Marvolo Gaunt?" tanya profesor McGonagall.


"Kami tidak mendapatkan informasi apapun tentang itu," jawab Newt.


"Mendapatkan 4 horcrux itu saja akan sangat sulit," ucap Hermione.


Harry mengangguk membenarkan perkataannya. "Benar. Kita cukup fokus pada 4 horcrux itu dulu."


"Baiklah. Kapan kita akan mulai mencarinya?" tanya Ron.


"Besok," jawab Sisy.


Hermione terkejut mendengar jawaban Sisy. "Besok?!"


"Apakah kamu tidak berniat untuk pulang dulu Sisy? Charles dan Shopia akan khawatir kalau kamu tidak pulang ke rumah sama sekali," tanya Ron.


"Aku berniat pulang sekarang dan akan datang lagi besok pagi," jawab Sisy.


"Setidaknya habiskan waktu dengan keluarga anda sebentar. Kita tidak tau kapan pencarian ini selesai," ucap profesor Dumbledore.


"Baiklah, lusa kita berangkat," putus Sisy.


Mereka menggelengkan kepala dengan sifat Sisy yang terburu-buru itu tapi mereka paham mengapa Sisy bersikap seperti itu.


"Kalau begitu saya pulang dulu," kata Sisy bersiap pergi.


"Habiskan waktumu dengan Charles baik-baik. Jangan ribut saat pulang!" peringat Ron.


"Kalau dia tak mencari masalah denganku maka aku juga tak akan mencari masalah dengannya." balasnya.


Sisy pun melakukan apparate agar cepat sampai ke rumahnya.


Saat sampai di rumahnya, dia mengetuk pintu dan ternyata Charles yang membukanya kali ini. "Sisy?!"


"Aku pulang," ujar Sisy.


Charles meminta Sisy untuk masuk dan bertemu dengan Shopia.


"Shopia, cepatlah turun!" perintah Charles.


Shopia pun menghampiri suaminya. "Ada apa, sayang?"


"Hai Shopia," sapa Sisy.


"Sisy?!" Shopia berlari ke arah Sisy dan memeluknya. "Syukurlah perasaanku tak benar."


"Ada apa?" tanya Sisy.


"Shopia bilang dia perasaannya tak enak dan setelah itu dia selalu mengkhawatirkanmu," jawab Charles.


"Astaga Shopia, itu hanyalah perasaan. Kamu jangan banyak pikiran dulu!" peringat Sisy.


Charles mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa ucapanmu seperti orang yang tau kalau Shopia sedang hamil?"


Tanpa sadar mereka malah saling membocorkan kebodohan satu sama lain.


"Shopia hamil?!" tanya Sisy berpura-pura tak tau.


"Iya. Shopia hamil dan kami mengetahuinya 2 bulan yang lalu," jawab Charles.


Mata Sisy berbinar. "Wah berarti usia kandungannya sudah 2 bulan?!"


Charles mengangguk. "Lebih tepatnya 2 bulan 1 minggu."


"Kamu akan menjadi seorang aunty," ucap Shopia sambil mengelus pipi Sisy.


Sisy mengangguk. Tanpa sadar air matanya turun begitu saja. Charles dan Shopia terkejut melihat adik perempuannya itu menangis.


"Kenapa kamu menangis?! Apakah ada yang jahat padamu selama di sana?" tanya Charles khawatir.


Sisy menggeleng. "Tidak. Aku hanya terlalu senang saja."


"Aku juga merasakan hal yang sama saat mengetahui Shopia hamil," balas Charles.


Shopia mengelus kepala Sisy. "Kalian berdua ini sama-sama suka menangis."


Semakin lama, tangisan Sisy malah semakin kencang. Dia sampai sesenggukan karena menangis.


"Kenapa kamu masih menangis? Tangisanmu seperti seseorang yang ingin pergi jauh saja bukan seperti orang yang menangis karena senang," kata Charles merasa heran.


Sisy hanya diam sambil terus menangis.


Charles menatap tajam ke arah Sisy. "Yang aku ucapkan tidak benar, kan? Kamu tidak akan pergi kemana-mana karena kamu sudah lulus. Iya, kan?"


"Maaf..." lirih Sisy.


"Kenapa kamu minta maaf? Tidak ada hal yang membuatmu ha—"


"Aku harus pergi lusa," potong Sisy.


"Pergi kemana?!" tanya Shopia terkejut.


"Ada hal yang harus aku cari bersama teman-temanku," jawab Sisy.


Sisy memotong ucapan Charles lagi. "Aku tidak pergi untuk mencari pekerjaan. Aku pergi mencari horcrux."


"Horcrux? Apa itu?" tanya Shopia.


"Itu adalah benda yang menyimpan jiwa pangeran kegelapan," jawab Sisy.


"Untuk apa kamu melakukan hal berbahaya yang berhubungan dengan pangeran kegelapan?! Semua itu tugas anggota orde phoenix, kita hanya perlu duduk diam," tutur Charles.


Sisy tak menjawab.


"Sisy, jangan bilang kamu adalah salah satu anggota orde phoenix?" tanya Charles sambil memandang Sisy.


Sisy mengangguk lemah.


"Tidak mungkin," ucap Shopia sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku mengundurkan diri dari sana karena itu berbahaya tapi kamu malah masuk ke sana?! Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Sisy?!" bentak Charles.


"Charles, aku punya kemampuan," ucap Sisy.


"Kemampuan apa, Sisy?!" tanya Charles geram.


"I can see the future and I have a different magic from the others," jawab Sisy.


Charles terdiam. Dia bertanya-tanya bagaimana adik perempuannya ini tau. Pasalnya yang mengetahui hal itu hanyalah kedua orang tuanya dan dirinya. Jadi dia kira adiknya ini tak akan pernah mengetahuinya.


"Aku tau sendiri, Charles," sambung Sisy yang sepertinya tau apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya.


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?" tanyanya.


"Sejak semester 3," jawab Sisy.


Charles terkejut karena Sisy sudah mengetahuinya sangat lama. "Sudah selama itu kamu mengetahuinya tapi kamu tak mengatakan apapun padaku?!"


"Karena kamu akan melarangku pergi," ucap Sisy.


"Tentu saja. Aku tau kamu akan bersikap seperti sekarang kalau mengetahui kemampuan itu," jawab Charles.


"Tetapi kemampuan ini ada memang untuk itu, Charles," balas Sisy.


"Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan? Kemampuan? Kemampuan apa?" tanya Shopia tak mengerti.


"Shopia, aku memiliki kemampuan yang tak dimiliki oleh siapapun," jawab Sisy menjelaskannya.


"Untuk apa kemampuan itu, Sisy?" tanyanya.


"Untuk mengalahkan pangeran kegelapan dan menghancurkannya," jawab Sisy.


Shopia menggeleng. "Itu tidak mungkin. Sekuat apapun itu, kamu tidak mungkin bisa mengalahkan pangeran kegelapan, Sisy."


Sisy menggenggam tangan Shopia. "Aku tidak hanya kuat, Shopia. Kamu juga tau kalau aku itu pintar. Dengan kedua itu aku yakin bisa mengalahkannya dan membuat dunia ini menjadi damai. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi seseorang yang tak boleh disebut namanya, dan tidak ada lagi seseorang yang harus ditakuti."


"Bagaimana kalau kamu tidak berhasil?" tanya Shopia ragu.


"Aku pasti berhasil. Percayalah padaku. Aku pasti mengalahkannya dan menciptakan dunia yang damai untuk keponakanku nanti!" tegas Sisy.


Mata Shopia masih menunjukkan keraguan.


"Shopia, aku tidak pernah mengingkari janji. Terakhir kali aku berjanji untuk pulang saat liburan sekolah dan aku benar-benar pulang, kan?" tanya Sisy.


Shopia mengangguk. "Iya. Tetapi kamu harus berhasil dan pulang dengan keadaan baik-baik saja, Sisy."


"Pasti Shopia," balas Sisy.


Sisy memeluk Shopia dan mengelus punggungnya. Saat Sisy melepaskan pelukan itu, dia memandang ke arah kakak laki-lakinya.


Charles langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Jangan membujukku karena aku tak akan berubah pikiran."


Sisy mendekati kakaknya itu dan menggenggam tangannya. "Charles, ayah dan ibu yang memintaku untuk tidak menyerah begitu saja."


"Ayah dan ibu tidak mungkin mengatakan itu padamu," sanggah Charles.


Sisy menunjukkan sebuah video melalui sihirnya. Charles terkejut karena adiknya bisa melakukan hal seperti itu.


"Lihat? Mereka berdua yang memintaku untuk memperjuangkan dunia yang damai dan bebas dari kegelapan," ucap Sisy.


"Itu pasti rekayasa," tutur Charles.


"Kamu yang paling tau tentang kemampuanku, Charles," balas Sisy.


Charles pun terdiam.


"Aku tidak boleh egois, Charles. Aku harus melakukannya walaupun aku sendiri juga takut," kata Sisy sambil menatap sendu ke arah kakaknya.


"Tidak usah dilakukan kalau takut. Aku akan melindungimu dan juga Shopia," jawab Charles.


Sisy menggeleng. "Tidak. Melindungi semuanya adalah tugasku sebagai pemilik kemampuan ini."


Charles menghela nafasnya. "Kembalilah dengan selamat Sisy. Tidak masalah walaupun kamu tak berhasil mengalahkannya."


Sisy mengangguk. "Aku pasti berhasil mengalahkannya. Terima kasih, Charles."


Charles segera memeluk adik satu-satunya itu.


Setelahnya mereka menghabiskan waktu bersama-sama dengan damai. Tidak ada kejahilan yang dilakukan Charles kali ini.