
Tiba-tiba seseorang menarik rambut Hermione dan mengarahkan tongkat sihirnya. "Kenapa kalian bisa keluar dari sana?!"
"Jadi bibi yang membakar Manor Malfoy?!" tanya Draco dengan nada tinggi.
"Iya. Aku yang membakarnya agar mereka semua mati di dalam sana," jawab Bellatrix.
"Aku juga hampir mati di dalam sana, bibi!" bentak Draco.
Bellatrix terkejut mendengar ucapan keponakannya itu. "Maaf sayang. Aku tidak tau kalau kamu ada di dalam."
"Lepaskan aku!" teriak Hermione. Dia berusaha melepaskan diri dari wanita gila itu.
Tetapi usahanya malah membuat wanita itu semakin menarik rambutnya.
"Kamu tidak berhak untuk berbicara, mudblood!" bentak Bellatrix.
Sisy mencoba mendekatinya tapi wanita itu berkata, "Jangan ada yang berani mendekat atau aku akan langsung membunuh gadis mudblood ini."
Seketika Sisy mengentikan langkahnya. Dia tidak bisa gegabah karena wanita itu cukup gila.
Bellatrix menjatuhkan Hermione dan menuliskan sesuatu di lengannya. Hal yang dilakukan olehnya berhasil membuat Hermione menjerit kesakitan akibat.
"Lepaskan dia!" teriak Sisy.
"Tenanglah. Aku hanya ingin membuat maha karya di tubuh gadis mudblood ini," jawab Bellatrix yang masih fokus mengukir sesuatu di tangan Hermione.
Sisy yang tak kuat lagi mendengar teriakan temannya itu langsung mengeluarkan tongkat sihir dan merapalkan mantra. "Expelliarmus."
Beruntung kekuatan sihirnya cukup besar hingga Bellatrix terlempar jauh.
Sisy, Harry, dan Ron segera menghampiri Hermione.
"Aku takut..." lirih Hermione.
"Aku di sini, Hermione," ucap Ron sambil memeluknya.
Ketika Bellatrix hendak menyerang mereka, tiba-tiba terdengar suara yang sangat berisik.
"Tuan sudah sampai di sana." Bellatrix menatap ke arah Draco. "Kita harus ke Hogwarts sekarang."
Draco dan Blaise pun pergi bersama Bellatrix.
Tak lama dari kepergian mereka, tiba-tiba Sisy mendapatkan penglihatannya. Voldemort dan para pengikutnya ada di Hogwarts sekarang. Tapi apa ini? Kenapa Sisy mendengar suara tangisan yang sangat menyakitkan? Tangisan itu terdengar seperti tangisan karena kehilangan.
Sisy mencoba memfokuskannya lagi dan...Fred mati?! Suara tangisan itu berasal dari George, saudara kembar Fred.
Matanya langsung terbuka lebar, lagi lagi emosinya bergejolak.
"Hei tenanglah. Ada apa? Apa yang kamu lihat?" tanya Harry.
"Ki-kita harus kembali ke Hogwarts sekarang , ucap Sisy tanpa menjawab pertanyaan dari Harry.
"Ada apa, Sisy?" tanya Ron.
"Pangeran kegelapan dan para pengikutnya ada di Hogwarts sekarang," jawab Sisy dengan suara bergetar.
Sisy hanya bisa memberitahu mereka tentang kedatangan Voldemort ke Hogwarts, dia tak memberitahu teman-temannya tentang kematian Fred.
"Jadi itu penyebabnya Bellatrix dan Draco pergi tiba-tiba tadi," gumam Harry.
"Kalau begitu kita harus pergi sekarang," kata Hermione berusaha bangun.
"Kamu tidak bisa ikut bertarung, Hermione. Dirimu masih lemah," tutur Harry.
"Benar. Kamu tetaplah di sini," timpal Ron.
"Aku bisa!" tegas Hermione.
"Kalau begitu aku akan segera membuat lingkaran sihirnya." Sisy membuat lingkaran sihir dengan tangan yang gemetar.
Harry yang melihat tangan kecil itu bergetar, langsung menggenggamnya. "Tenanglah. Kita akan hadapi pangeran kegelapan dan para pengikutnya bersama-sama."
Kamu tak tau penyebab sebenarnya aku merasa ketakutan, Harry. Batin Sisy seraya menatap temannya itu.
Sisy menarik nafasnya dan berusaha untuk tenang. Dia mencoba membuat lingkaran sihir itu lagi.
Saat lingkaran sihir itu telah sempurna, barulah mereka masuk ke lingkaran sihir itu dan sampai di Hogwarts.
Sisy langsung berlari ke arah lorong dan mencari keberadaan George dan Fred. Harry, Hermione, dan Ron hanya mengikutinya dari belakang.
Tapi ternyata penglihatan itu benar. Dari jauh dia dapat mendengar tangisan mengerikan yang sama persis didengarnya saat mendapatkan penglihatan.
Fred telah mati. Orang yang sudah dia anggap sebagai kakak laki-lakinya telah pergi dari dunia ini.
Langkahnya mulai melambat saat melihat sosok George yang sedang menangis di samping tubuh Fred sambil menggenggam tangan saudara kembarnya itu.
Sisy bisa melihat dengan jelas tubuh pucat Fred saat dirinya telah dekat. "Ini pasti mimpi..."
George menoleh ke arah Sisy dan memeluknya. "Fred telah pergi."
"Tidak. Fred hanya pingsan," sanggahnya.
"Fred telah meninggalkan kita." George terus mengulangi kata-kata itu.
Sisy yang mulai muak mendengar hal itu sontak membentak pria di hadapannya. "Tidak George! Fred masih hidup!" Air matanya berangsur-angsur jatuh. Wajahnya sudah penuh dibasahi oleh air mata.
Sisy terus berteriak di pelukan George. "FRED MASIH HIDUP!"
Harry, Ron, dan Hermione baru saja tiba karena tadi sempat kehilangan jejak Sisy. Mereka sangat terkejut melihat pemandangan di hadapannya.
"Ini bohong, kan?" tanya Harry pelan.
Hermione hanya menutup mulutnya tak percaya.
Ron tak percaya ketika melihat kakak laki-lakinya yang jahil itu sudah terbaring kaku di lantai. Kakinya mulai bergetar. Dia tak sanggup lagi dia melanjutkan langkahnya untuk mendekat ke mereka.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" tanya Ron memberanikan diri.
"Salah satu anggota death eater mengatakan pada kami kalau kalian telah mati di tangan mereka. Fred yang sangat emosi langsung menyerang mereka tapi mereka menggunakan sihir peledak dan...Fred mati karenanya," jelas George.
"Bodoh!" hina Ron.
"Ada aku, mereka tidak mungkin mati. Kenapa kamu sangat bodoh Fred!" bentak Sisy.
"Tenang Sisy. Fred sudah pergi. Aku sudah berusaha mengobatinya dengan sihir penyembuhan tapi tak bisa," kata George yang masih memeluk Sisy.
Mendengar itu, sontak Sisy mengangkat kepalanya. "Sihir penyembuhan! Bagaimana aku bisa lupa dengan itu!" Dia melepaskan pelukan George dan mendekati Fred.
Sebelum menggunakan sihirnya, Sisy memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba untuk tenang terlebih dahulu agar sihir yang dikeluarkan bisa maksimal.
Setelah dirasa mulai tenang, Sisy mulai menggunakan sihir penyembuhan pada Fred.
"Sayang," panggil seseorang.
Sisy membuka matanya dan melihat sosok ayah dan ibunya sedang menatap khawatir ke arahnya.
"Kamu tidak boleh melakukan ini, sayang," larang ibu Sisy.
"Tidak boleh? Artinya Sisy bisa melakukannya? Sisy bisa menyembuhkan Fred?" tanya Sisy.
"Akan ada konsekuensi dari perbuatanmu ini, nak," peringat ayah Sisy.
"Sisy tidak peduli, ayah. Selama Fred bisa sembuh maka Sisy akan menerima semua konsekuensinya," jawab Sisy.
"Kamu bukan menyembuhkannya tapi melawan takdir," tutur ayah Sisy.
Sisy mengernyitkan keningnya. "Melawan takdir?"
"Jiwa Fred sudah pergi dari tubuhnya. Dengan kamu melakukan ini maka kamu melawan takdir," jelas ayah Sisy.
"Tetapi Sisy mampu melakukannya, kan? " tanya Sisy.
"Ta—"
"Jawab saja pertanyaan Sisy, ayah," desaknya.
Sisy bisa melihat ayahnya menganggukkan kepalanya.
"Itu cukup. Sisy akan tetap melakukannya," putus Sisy.
"Kamu akan kehilangan banyak energi," ucap ibu Sisy.
Sisy sempat terdiam sejenak sampai akhirnya dia mengatakan, "Tidak apa-apa."
"Kamu masih harus melawan pangeran kegelapan dan para pengikutnya, kan?" tanya ayah Sisy.
"Banyak yang membantu Sisy di sana. Sisy tidak sendirian." Dia menggenggam tangan kedua orang tuanya. "Ayah dan ibu tenang saja, Sisy akan berjuang untuk membuat dunia ini terbebas dari kegelapan."