
Jika kalian menebak mereka bertiga--Syila,Tika dan Sera--berada di rumah Sera.
Jawabannya salah.
Nyatanya Sera yang rumahnya ingin didatangi oleh Syila dan Tika,malah justru mendatangi rumah Tika duluan. Sera fikir disana hanya ada Tika dan keluarganya saja. Ternyata tidak. Syila sudah mampir duluan kerumah Tika,agar berangkat bersama-sama kerumah Sera.
Dan disini lah mereka bertiga,dikamar Tika yang didominasi berwarna merah maroon.
Sungguh aneh bukan? Biasanya kamar seorang gadis itu berwarna biru,pink atau warna yang imut-imut lainnya. Tapi Tika berbeda, gadis imut ini lebih menyukai warna gelap,ketimbang warna warna cerah lainnya.
"Jadi...lo ngapain kesini Ser?"tanya Tika yang memulai percakapan terlebih dahulu.
Sera terdiam dahulu,sangat terlihat kalau dia sedang berfikir.
"Emang salah mau main ke rumah sahabat sendiri? "Tanyanya dengan menekan dua kata terakhir. Syila menunduk dalam.
"Sera..."
"Apa?"
Tika menghela nafasnya kasar. Disini ia dalam keadaan netral,tak memihak Sera ataupun Syila. Disini ia akan berperan sebagai penengah.
"Ser...gue gak pernah mikir lo bukan sahabat gue"ucap Syila lirih dengan kepala yang masih ia tundukkan.
"....."tak ada jawaban dari Sera. Tika yang merasa suasana menjadi canggung pun memilih membuka suara.
"Ser,disini kita semua sahabat. Lo harus ngerti kalau Syila itu pasti juga punya privasi. Gak mungkin kan semua hal yang Syila alami harus di laporin semua ke elo?"
"Ya gak gitu juga,seenggak nya-"
"Apa? Lo pasti juga punya privasi kan? Gue tau kalo lo itu sebenernya suka sama Agil. Cuma lo yang gak pingin orang tau perasaan lo,yang menurut lo sendiri gak wajar kan?" mata Sera membola, ia menatap Tika yang dengan santainya membocorkan rahasinya yang ia simpan sendiri.
"Dari mana lo ta-"
"Gue tau"potong Tika cepat"Seperti kata lo tadi di sekolah. Kita sahabat. Kita pasti udah ngertiin satu sama lain"lanjut Tika dengan tatapan datar. Lalu ia berbalik menoleh kearah Syila.
"Dan lo Syila"Syila yang dipanggil namanya pun mendongak.
"Lo harus bisa percaya sama kita berdua. Mungkin gue bisa ngerti kalau lo gak nyaman pas kita tau masalah lo. Tapi lo hatus janji satu hal"
"Apa?"tanya Syila lirih.
Tika membuang nafasnya kasar.
"Lo harus mulai bisa percaya sama kita berdua. Kalo punya masalah jangan dipendem sendiri. Nanti jatohnya lo sendiri uang sakit. Kalo lo ceritain sedikit beban lo ke kita,mungkin sedikit dari beban di pundak lo bisa terangkat. Oke?"
Syila mengangguk,"Oke"
Tika terkekeh,"Anjay...kata-kata gue bijak banget ya?"
Syila memincingkan matanya,"Gue udah curiga,kalo dari awal lo itu..."
Tika yang terlihat serius mendengarkannya,penasaran dengan kalimat selanjutnya.
"Lo itu....Kerasukan setan bijak"
Pletakk
"****"umpat Tika setelah menjitak kepala Syila kerena geram. Geram karena sudah mendengarkannya serius-serius malah ujung-ujungnya bercanda.
"Gue serius"
"Serah!!"
***
Drttt drttt
Syila mengambil handphone nya yang berada di atas nakas. Saat ini ia sedang menonton drama korea yang direkomendasikan oleh Tika olehnya. Tetapi ia pause terlebih dahulu dan memilih menjawab telepon yang ada di hpnya.
Tanpa melihat penelepon,Syila langsung mengangkat teleponnya.
"Halo?"sapa Syila duluan.
"...."tak ada jawaban dari sana. Syila mengrenyit heran dan ingin mematikan sambungan telpon nya. Namun saat suara tersebut,terdengar Syila mengurungkan niatnya.
"Hah?"Rasa-rasanya Syila kenal dengan suara ini. Dan telat,ia baru melihat siapa peneleponnya.
Devan bego😒
Is call
Mati rutuknya dalam hati. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan perasaan campur aduk. Mengapa ia tadi tidak melihat nama penelepon nya dulu tadi? Kalo tau begini mendingan ia reject.
"Gue tau lo mau matiin nih sambungan. Tapi please,lo turun,gue dibawah"ucap Devan lagi yang membuat Syila bimbang. Tau aja nih si bambang,kalo Syila mau matiin nih sambungan. Syila semakin bingung,ia menggigiti bibir bawahnya sambil berfikir.
"Jangan gigitin bibir"
Lah? Dari mana Devan tau kalau dia sedang menggigiti bibirnya? Emang dasar cenayang si Devan ini.
"Gak usah kebanyakan mikir. Pilih lo kebawah atau gue masuk?"
"Eh jangan! Iya iya,ini gue kebawah. Tapi awas! Jangan masuk"ucap Syila memperingati.
"Hm"
Tuutt tuutt...
Syila segera bergegas keluar rumah dengan pakaian tidurnya. Ia hanya membawa hpnya dan memakai sendal rumahnya untuk keluar menghampiri Devan.
"Devan?! Lo ngapain malem-malem gini kerumah gue sih?!"tanya Syila buru-buru,bahkan masih menutup pintu gerbang dulu dia.
"Kalo lo bisa gue temuin disekolah tadi,juga gue gak bakal kesini sekarang"jawab Devan santai. Syila terlihat gelisah,ia sebentar-sebentar menoleh kanan-kiri dan belakang.
"Ya besok kan bisa"
"Gak bisa,harus selesai sekarang"
Syila menghela nafas kasar. Ia sangat paham dengan sifat Devan yang keras kepala ini.
"Yaudah,sekarang lo mau ngomong apa?"tanya Syila yang memilih mengalah.
"Gue mau lo jelasin masalah li sama gue. Yang ngebuat lo ngehindarin gue dari tadi" ucap Devan jelas,yang membuat Syila menggigiti bibir bawahnya.
"Dibilangin jangan kebiasaan gigitin bibir bawah"ucap Devan sambil melepas gigitan Syila pada bibirnya sendiri.
"Gak ada,gue gak pernah ngehindarin lo"jawab Syila.
"Gak mungkin. Kalo lo kayak gini pasti lo ada apa ap-"
"Gak usah sok jadi cowok yang paling ngertiin gue gini deh Van! Muak gue lama-lama" Setelah mengucapkan hal tersebut,Syila membuang pandangannya kearah lain.
"Apa yang bikin lo muak sama gue? Biar gue rubah perilaku gue yang bikin lo muak" Syila menatap Devan nyalang.
"Mau tau apa yang bikin gue muak sama tingkah lo?!" Devan tak menjawab,ia memilih menunggu kelimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Syila.
"Banyak!! Oke,mau gue sebutin satu satu?!" Devan masih diam.
"Pertama,gue muak sama tingkah lo yang seakan-akan paling ngerti apa mau gue,padahal nggak sama sekali!!"
"Kedua,gue muak sama tingkah lo yang sok peduli sama gue,seakan-akan gue cewek satu-satunya yang lo perlakuin kayak gitu. Tapi nyatanya nggak!! Gak cuma gue yang lo perlakuin kayak begitu"
"Ketiga,gue muak sama lo yang selalu bilang kalo lo satu-satunya cowok yang paham sama perasaan gue paham sama isi hati dan otak gue,tapi nyatanya nggak!! Lo sama sekali gak ngerti apa mau gue,apa yang gue rasain dan apa yang gue pikirin. GUE MUAK VAN!! MUAK SAMA TINGKAH LO SELAMA INI!!!"
"Pergi aja lo sana! Mulai sekarang anggep aja kita gak pernah kenal,anggep aja gue seperti cewek yang hanya pernah lewat di hidup lo!"
Nafas Syila tersengal-sengal,ia meluapkan semua unek-uneknya yang sedari dulu mengganjal di hatinya.
Devan maju selangkah,ia merengkuh tubuh Syila yang masih dengan nafas tersengal-sengal.
"Pergi aja lo sana...hiks"
"Benci banget gue sama lo"Syila memberontak,ia memukul-mukul dada bidang Devan. Namun rasanya percuma,tenaganya juga sudah habis karena membentak-bentak Devan tadi. Tangisnya pun pecah,dengan posisi masih berada di dekapan Devan.
Devan membiarkan Syila meluapkan semua emosinya yang sepertinya sudah menumpuk di pundaknya. Biarlah ia yang menjadi pelampiasannya kali ini.
~XXX~