Different

Different
Bab 12



Syila bergelung dibawah selimut. Hatinya dilema. Ia bingung ingin memutuskan tetap menjauh atau bersikap biasa saja seolah-olah ini semua tidak pernah terjadi.


Ia jadi teringat ucapan Devan tadi.


Flashback


"Benci banget gue sama lo"


Devan terdiam. Dekapannya semakin erat. Ia membiarkan air mata Syila membasahi hodie yang ia kenakan.


"Iya,gue tau" Devan menguraikan dekapannya lalu menangkup wajah sembab Syila.


"Tapi...lo harus tau satu hal"


Dengan ragu,Syila bertanya.


"A-apa?"tanyanya dengan suara parau.


Devan tersenyum,tersenyum menenangkan. Ya,seorang Devan tidak akan sungkan-sungkan tersenyum jika orang itu adalah orang terdekatnya.


"Gue akan selalu ngelindungin lo,dimana pun dan kapan pun lo berada. Meski elo sebenci apapun ke gue"


"Ngg-"ucapan Syila terhenti setelah Devan meletakkan jari telunjuknya di bibir Syila.


"Itu hak gue. Lo gak bisa larang-larang"


Kembali ke dunia nyata.


"Kan jadi bingung!!!"teriak Syila dalam kamar. Kalian tidak usah khawatir,kamar Syila itu kedap suara bukan? Jadi tidak mungkin satu rumah ini mendengarnya.


Syila bangun dari gelungannya dalam selimut. Ia terduduk sila diatas kasur,sambil menunjuk-nunjuk jari tangannya secara bergantian. Ia mencoba memilih menggunakan cara itu.


"Menjauh,nggak,menjauh,nggak,menjauh,enggak,menjauh,enggak,menjauh,eng...gak..."Syila terdiam sebentar.


"Harusnya menjauh dong! Itu cara biar gue bisa move on"


Ia kembali memilih pilihan tadi menggunakan cara tersebut berkali-kali,dan hasilnya tetap sama,yaitu 'Enggak'.


"Argghh!! Kok 'Enggak' mulu sih dari tadi?! Seharusnya 'Menjauh' kampret!"teriaknya frustasi.


Bentar-bentar,kayaknya ada yang salah disini. Kalau tau harus menjauh,kenapa harus memilih? Dengan cara konyol begini pula. Kan hasilnya bakalan itu-itu aja.


Lha wong jarinya cuma sepuluh,dan dia memulainya dari kata menjauh. Ya udah pasti jawabannya 'Enggak'.


Ternyata...'Cinta' itu memang membuat seseorang tak bisa berfikir jernih.


"Coba gue mulai dari 'Enggak' dulu"gumamnya. Jarinya kembali bergerak gerak.


"Enggak,menjauh,enggak,menjauh,enggak,menjauh,enggak,menjuh,enggak,men...jauh..."ia tercenung.


"Tapi...gue gak bisa jauh-jauh dari Devan..."


Mari bersama-sama kita hujat Syila.


***


Syila datang ke sekolah dengan wajah tertekuk. Ia masih memikirkan hal semalan.


Brakk


Bantingnya pada pintu kelas yang tertutup.


"****! Santai aja napa Syil buka pintunya. Lo udah pernah ngerusakin tuh pintu 2 kali bedon!!! Mau yang ketiga kalinya lu?!"omelan Tika hanya ia anggap angin lalu saja. Syila berjalan gontai kearah bangkunya.


"Syil?"panggil Sera yang tidak disahuti oleh Syila.


"Asyila Ellendrina Nuest!"panggil Tika sedikit kencang,tetapi masih tudak digubris oleh Syila.


"Yeuhh...ni anak dipanggilin bukannya nyaut malah tidur"Tika mendengus kesal di akhir kalimatnya.


"Udah biarin aja sih Tik. Kalo gak mau,nih brownies kita aja yang abisin"ucap Sera dengan sengaja menekan kata brownies. Seketika saat itu juga Syila bangun dari duduknya dan berbalik kearah meja Sera yang terdapat satu kotak brownies ber topping keju dan coklat.


"Mau!!!"pekiknya kencang yang membuat Sera dan Tika refleks menutup kedua telinganya.


"Gak usah teriak-teriak juga kali Syil! Kayak gak pernah makan brownies aja sih"cibir Tika yang tentu saja tak Syila gubris. Ia sibuk memakan brownies kesukaan nya dengan lahap.


"Inhi ewnhak bhanget shumphah"ucap Syila dengan mulut penuh.


"Telen dulu baru ngomong Syil"peringat Sera yang tak diindahkan oleh Syila. Ia masih sibuk memasukkan browniesnya banyak-banyak pada mulutnya. Hingga tak menyadari ada seseorang yang menghampiri mereka,tidak,lebih tepatnya menghampiri Syila.


"Pelan-pelan aja...nanti keselek"ucap seseorang dari belakang Syila yang membuat Syila betul-betul tersedak.


"Uhuk-huk!! Uhuk...uhuk"Syila terbatuk-batuk sembari menepuk nepuk dadanya,bertujuan agar batuknya mereda. Sera dengan sigap mengangsurkan botol air mineral kepada Syila,yang baru ia buka.


Syila meminumnya dengan rakus. Dan seseorang tadi membantu Syila dengan menepuk-nepuk punggung pelan Syila agar sedikit mereda.


"Makanya!! Kalo dibilangin orang itu didengerin!"omel Tika lagi. Sampai Syila heran mengapa Tika ini sedari tadi sensitif sekali dengannya.


Syila mendelik kesal kepada seseorang yang tadi membuatnya tersedak.


"Apa?"tanya orang tersebut dengab wajah datarnya.


"Lo kalo dateng tuh jangan suka ngagetin orang sih! Nanti kalo gue mati keselek gimana?!"


"Tenang aja.Gue gak bakal biarin lo kenapa-napa"jawab orang tersebut dengan nada santai. Tapi itu membuat Syila sedikit tersipu malu.


"Ekhem! Seret juga tenggorokan gue Ser"ucap Tika yang sengaja menggoda Syila dan Devan,lalu mengambil brownies dan memakannya.


"Dasar anaknya om Tio. Kalo seret itu minum,bukannya malah makan brownies!"ucap Sera sinis yang tentunya tak digubris oleh Tika,dia tetap asik memakan browniesnya sambil memonyong-monyongkan bibirnya,meledek Sera.


"Iyuhhh...jijik lo,najis!"maki Sera sambil bergeser menjauh dari Tika yang masih asik mengunyah brownies nya dengan gaya slow motion.


"Devan,lo ngapain kesini?"tanya Syila yang sudah bisa mengontrol ekspresinya. Yang ditanya malah mengangkat sebelah alisnya.


"Ngapain? Bukannya udah kebiasaan gue setiap hari,buat kesini dulu sebelum gue masuk kelas gue sendiri?"Jawab orang tersebut dengan tatapan tajamnya yang ternyata adalah Devan. Syila hanya menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


"Lo tadi kenapa gak mau gue jemput?"tanya Devan.


"Uhmm...itu...gue...maksudnya elo,mulai sekarang gak usah jemput-jemput gue lagi ya"pinta Syila gugup.


"Kenapa?"


"Karena...gue lagi pingin ngelancarin nyetir mobil"ucap Syila asal.


Mata Devan memincing,ia masih belum sepenuhnya percaya dengan alasan Syila yang menurutnya 'aneh'.


"Bukannya lo udah lancar dari kelas 10 ya?"tanya Devan menyelidik. Syila kelabakan,ia bingung harus memberi alasan apa lagi.


"Y-ya pokoknya setiap hari gue mau bawa mobil sendiri!"jawab Syila tanpa mau menatap Devan. Kebalikannya Syila,Devan justru menatap Syila lamat-lamat. Lalu menghela nafas kasar.


"Oke"


~XXX~