
Di perjalanan kembali ke asrama, Sisy melihat Draco yang sedang bersama ayahnya. Suasananya sama seperti saat di rumah sakit. Akhirnya dia memutuskan untuk mendekat dan mendengarkan percakapan mereka. Sisy tau kalau yang dia lakukan ini sangat tidak sopan tapi entah mengapa dia merasa harus melakukan ini.
"Kenapa kamu tidak menjadi peserta turnamen sihir Triwizard? Lagi-lagi kamu kalah dengan Potter!" ucap Lucius marah.
"Maaf, ayah," balas Draco.
"Berapa kali lagi kamu terus kalah dengan Potter dan mudblood itu?!" tanyanya dengan nada tinggi.
Draco hanya diam.
"Dasar tidak berguna! Kamu tidak pernah melakukan hal yang bisa membuatku bangga!" hina Lucius pada putranya.
Lucius terus mengoceh dan Draco hanya diam mendengarkan. Sisy bisa melihat kalau laki-laki itu sudah mulai muak dengan ocehan ayahnya. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri di depan Draco.
"Selamat siang, tuan Malfoy. Sebelumnya maafkan saya karena tidak sopan telah memotong pembicaraan anda dengan Draco tapi Draco memiliki janji penting dengan saya. Kalau anda berkenan tolong biarkan Draco pergi dengan saya sekarang," ucap Sisy.
"Selamat siang, nona Garcia. Silakan kalau anda ingin membawa Draco. Urusan saya dengannya juga sudah selesai," jawab Lucius sambil tersenyum.
"Terima kasih, tuan Malfoy. Kalau begitu saya dan Draco pamit pergi dulu." Sisy hendak pergi membawa Draco tapi Lucius menahannya.
"Apakah ada yang ingin anda katakan, tuan Malfoy?" tanya Sisy.
"Saya dengar anda sempat tidak sadarkan diri," kata Lucius.
Sisy mengangguk. "Benar tapi sekarang saya sudah baik-baik saja. Terima kasih atas perhatiannya."
"Syukurlah kalau begitu," ujarnya.
"Apa ada hal lain lagi, tuan Malfoy?" tanya Sisy lagi.
Lucius menggeleng. "Tidak ada."
"Baiklah. Saya dan Draco permisi," pamitnya.
Sisy menggenggam tangan Draco dan membawanya pergi. Yang dibawa hanya diam saja dan mengikuti dengan tenang.
Dia membawa Draco ke danau, tempat biasa mereka bersantai. Di sana, Sisy melepaskan genggaman tangannya dan berbalik untuk memeluk Draco. "It's okay, Draco. You always try to do your best."
Draco diam tak membalas pelukannya tapi Sisy bisa merasakan tubuh Draco yang bergetar.
"I'm here," ucap Sisy lagi sambil mengelus punggung lebar Draco.
"Kenapa dia tak pernah melihatku?" tanya Draco yang akhirnya membuka suara.
"Tuan Malfoy hanya belum menyadari kemampuanmu, Draco. Suatu saat tuan Malfoy akan menyadarinya. Aku yakin," jawab Sisy.
"Aku lelah. Aku lelah harus menjadi apa yang ayah inginkan. Aku ingin menjadi diriku sendiri," adunya.
"Kamu bisa melakukan itu di depanku. Aku akan selalu menerimamu," jawab Sisy.
Mata Draco membulat sempurna. "Are you sure?"
Sisy mengangguk. "Kalau tuan Malfoy selalu menuntutmu untuk menjadi sempurna maka kamu bisa melakukan sebaliknya di depanku. Kalau kamu lelah dan ingin cerita, datanglah padaku. Aku akan selalu mendengarkanmu."
Draco pun membalas pelukan Sisy dan menangis. Gadis itu mengelus rambut pirang Draco dan membiarkannya menangis.
Setelah beberapa menit, tangisan Draco pun berhenti.
"Merasa lebih baik?" tanya Sisy.
Draco mengangguk.
"Kamu bisa menangis lebih lama. Aku akan menemanimu di sini," sambungnya.
"Tidak," tolak Draco.
Hening. Tidak ada percakapan di antara keduanya.
"Jadi kamu sudah berbaikan dengan teman-temanmu?" tanya Draco memulai percakapan.
"Iya," jawab Sisy singkat.
"Itu artinya kamu tidak akan ke danau ini lagi?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan Draco, membuat Sisy mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Kalau kamu tidak ke danau ini lagi maka akan sulit untukku mengobrol denganmu," jawab Draco.
"Aku akan tetap ke danau untuk menenangkan pikiran dan hati," balas Sisy.
"Apakah aku masih boleh ke sini?" tanya Draco lagi.
Dengan cepat, Sisy mengangguk. "Tentu saja. Ini adalah tempat umum jadi datanglah kapanpun kamu mau."
"Aku hanya ingin ke sini kalau ada kamu," ucap Draco.
Sisy cukup terkejut dengan ucapan Draco.
Dia mencoba bertanya agar tidak salah paham. "Kenapa kamu ke sini hanya kalau ada aku?"
"Karena percuma untuk aku ke sini kalau kamu tidak ada," jawab Draco.
"Aku tidak suka hanya duduk diam memandangi danau. Aku lebih suka berbicara denganmu di sini dan bercerita banyak hal," jawabnya.
"Kalau kamu tidak ingin ke sini karena tidak ada teman bicara maka kamu bisa mengajak teman-temanmu," usul Sisy.
Draco menggeleng. "Tidak. Aku tidak ingin mencemari tempat ini dengan mengajak mereka."
"Mencemari?" Sungguh Sisy tidak mengerti dengan arah ucapan Draco.
"Tempat ini spesial bagiku. Di sinilah aku bisa bercerita dengan nyaman pertama kalinya dan orang yang membuatku nyaman adalah kamu. Kamu dan danau ini spesial bagiku. Aku hanya ingin kamu dan aku yang tau tempat ini. Aku ingin menjaga semua itu dengan tidak mengajak siapapun ke sini," jelas Draco.
Sekali lagi, izinkan Sisy bertanya untuk memastikan sesuatu. "Kenapa kamu merasa nyaman denganku, Draco?"
"Haruskah aku menjawab itu?" tanyanya.
Sisy mengangguk. "Iya."
"Karena aku menyukaimu," jawab Draco.
Mendengar pengakuan itu, jantung Sisy berdetak kencang. Rasanya seperti jantungnya akan meledak sebentar lagi. "Ka-kamu menyukaiku?"
"Iya. Kamu adalah gadis pertama yang membuatku merasa nyaman. Bersamamu, aku bisa menjadi diriku sendiri," jelas Draco.
"Kenapa kamu menyukaiku dan sejak kapan?" tanya Sisy.
"Tidak ada alasan untukku tidak menyukaimu dan aku sudah lama menyukaimu tapi aku baru menyadari itu saat kamu tidak sadarkan diri di turnamen hari kedua," jawab Draco.
Sisy merasa wajahnya memanas dan jantungnya juga masih berdetak kencang.
Draco menggenggam tangan Sisy dan menatap matanya. "Daisy...I know this is too sudden but do you wanna be my girlfriend?"
Belum juga jantungnya berdetak normal, Draco sudah menyerangnya lagi dengan ajakannya itu.
"Daisy?"
"Ya?"
"Apa jawabanmu?"
Bagi Sisy, Draco memang tampan dan pintar. Walaupun kadang dia suka bersikap menyebalkan. Kalau boleh jujur, Sisy juga sudah lama menyukai Draco. Dia ingin sekali menerimanya tapi dia mengingat perkataan Ron tentang dirinya yang bersama perundung teman-temannya. Sisy melepaskan tangannya dari genggaman Draco. "I can't."
"Why?" tanya Draco dengan tatapan kecewa.
"Teman-temanku tidak akan suka kalau aku berhubungan denganmu," jawab Sisy.
Draco mengerti. Wajar jika teman-teman Sisy tidak menyukainya karena dia selalu menghina mereka. "Aku tau kalau teman-temanmu tidak suka denganku tapi bukan berarti itu bisa dijadikan alasanmu untuk menolakku, kan? Yang menjalani hubungan ini adalah kamu. Kalau kamu juga nyaman denganku maka itu tidak masalah."
"Tetap saja. Aku tidak ingin mereka kecewa ka—"
"Kalau tau kamu berhubungan dengan orang yang menghina mereka?" potong Draco.
Sisy mengangguk.
Draco memegang wajah Sisy dan membuatnya melihat ke arahnya. "Aku tau kalau aku telah menyakiti teman-temanmu. Aku minta maaf untuk itu. Namun izinkan aku untuk memperlihatkan padamu kalau aku bisa berubah. Bukankah akhir-akhir ini aku tidak menghina mereka lagi? Aku juga memanggil mereka dengan benar."
Iya. Sisy menyadari kalau Draco telah berubah. Dia sudah jarang menghina teman-temannya dan bahkan Draco tidak pernah memanggil Hermione dengan sebutan mudblood lagi.
"Daisy? Kumohon untuk mempertimbangkan ini," pinta Draco.
"Aku mau," jawab Sisy.
Draco terkejut dengan perkataannya. "Ya?"
"I said, I want to be your girlfriend," ulangnya.
Draco terdiam.
Sisy bingung melihat Draco yang diam setelah mendengar jawabannya. "Draco? Kenapa kamu diam?"
Draco langsung memeluk erat Sisy. "Thank you."
"Bukankah harusnya kamu mengatakan hal lain?"
Draco tersenyum. "I love you, Daisy."
"I love you too, Draco."
"Kenapa kamu memutuskan untuk menerimaku? Aku kira kamu akan mempertimbangkannya terlebih dahulu."
Sisy mengernyitkan dahinya. "Jadi kamu tidak suka kalau aku langsung menjawabnya?"
Draco menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. "Bukan begitu. Aku hanya penasaran saja. Sudahlah tidak perlu dijawab, yang penting kamu menerimaku hehe."
Sisy merasa gemas dengan kekasihnya itu. Dia mencubit pipi Draco. "Kamu benar. Yang menjalaninya adalah aku. Aku nyaman bersamamu, itulah mengapa aku menerimamu."
"Terima kasih, Daisy. Aku akan melakukan yang terbaik agar teman-temanmu bisa menerimaku."
"Iya. Aku juga akan berusaha agar mereka bisa menerimamu."
Draco memeluk kekasihnya dan mencium pucuk kepalanya sayang.