Different

Different
Bertengkar



Sesampainya di kamar mandi wanita, mereka mulai membersihkan kamar mandi itu.


"Wah ada siapa ini?" tanya Myrtle.


"Belum apa-apa hantu kacamata itu sudah mengganggu," gerutu Riana.


"Hei aku punya nama!" kesal Myrtle.


"Aku peringatkan untuk tidak mengganggu!" perintah Riana.


"Siapa kamu berani memberikan perintah padaku?" tanya Myrtle kesal.


Setelah mengatakan itu, Myrtle membuka keran wastafel sehingga airnya mengenai Riana dan teman-temannya. Mereka berempat pun basah kuyup.


"Hahaha rasakan itu," ujar Myrtle sambil tertawa.


Keempat gadis itu kesal dan membanting alat kebersihan yang mereka pegang. Setelah itu mereka pergi.


"Kamu membuatku basah kuyup dan membersihkan ini semua sendirian, Myrtle," ujar Sisy.


"Memangnya kenapa kalian membersihkan kamar mandi wanita ini?" tanya Myrtle penasaran.


"Kami dihukum. Keempat gadis itu merundung seseorang. Aku membelanya tapi kami berakhir bertengkar dan ketahuan oleh profesor McGonagall. Alhasil kami dihukum untuk membersihkan kamar mandi wanita ini tapi kamu membuat mereka pergi," jelas Sisy.


"Habis gadis itu menyebalkan! Aku jadi tak tahan untuk menjahilinya," balas Myrtle.


"Huh ini akan memakan waktu yang sangat lama," keluh Sisy.


"Biarkan aku membantumu," ujarnya.


"Kamu adalah hantu. Mana bisa membantu aku membersihkan ini semua," kata Sisy.


Sisy lanjut membersihkan kamar mandi wanita itu. Tiba-tiba seseorang datang ke kamar mandi wanita.


"Maaf, kamar mandi ini sedang dibersihkan jadi tidak bisa dipakai untuk sementara. Silakan gunakan kamar mandi yang lain," ucap Sisy tanpa melihat orang yang datang itu.


"Astaga nona Garcia, kenapa anda basah kuyup seperti itu?!" tanyanya terkejut.


Sisy menoleh ke orang itu. "Nona Lovegood? Apa yang anda lakukan di sini?"


"Aku ingin membantu membersihkan kamar mandi ini tapi aku rasa sebaiknya kita kembali ke asrama dulu. Nona Garcia perlu ganti baju supaya tidak sakit," jawab Luna.


"Aku baik-baik saja dan ini adalah hukumanku jadi nona Lovegood tidak perlu membantuku," tolak Sisy.


"Tetapi nona Garcia dihukum karena aku. Aku tidak bisa membela nona Garcia di depan profesor McGonagall tadi jadi biarkan aku membantu sebagai permintaan maaf."


"Ti—"


Luna mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Sisy. Walaupun tidak kering sepenuhnya tapi setidaknya tidak terlalu basah seperti tadi. Setelah itu Luna mengambil peralatan kebersihan dan mulai membantu Sisy membersihkan kamar mandi. Sisy hanya bisa pasrah dan tidak melarang gadis itu lagi.


"Namaku Luna Lovegood. Nona Garcia bisa memanggilku Luna," ucapnya.


"Halo Luna. Aku Daisy Garcia, kamu bisa memanggilku Daisy," balas Sisy.


"Aku kira namamu adalah Sisy karena aku sering mendengar mereka memanggilmu seperti itu," celetuk Luna.


"Sisy adalah nama panggilanku. Kalau Luna ingin memanggilku seperti itu juga tidak apa-apa," jawab Sisy.


"Baiklah, Sisy," balas Luna.


Mereka pun membersihkan kamar mandi itu sambil mengobrol dan bercanda. Tanpa terasa akhirnya kamar mandi itu bersih juga.


"Terima kasih atas bantuanmu, Luna. Aku jadi bisa menyelesaikan ini dengan cepat," ujar Sisy.


Luna menggeleng. "Ini bukan apa-apa. Justru aku yang berterima kasih karena kamu sudah menolongku tadi."


Sisy tersenyum. "Lebih baik kita kembali ke asrama sekarang."


Luna mengangguk. Mereka pun berjalan bersama untuk kembali ke asrama masing-masing.


"Oh iya Sisy, menurut kamu apakah aku aneh?" tanya Luna tiba-tiba.


"Tidak," jawab Sisy cepat.


"Benarkah?" tanyanya lagi.


Sisy mengangguk. "Iya. Aku bahkan bingung kenapa mereka semua memanggilmu nona aneh padahal menurutku, kamu itu cantik dan tidak ada anehnya sama sekali."


"Kamu hanya belum melihat sisi lain dariku," ucap Luna dengan suara yang pelan.


Walaupun Luna berbicara dengan suara yang sangat pelan, tapi Sisy bisa mendengarnya. "Begitukah? Bagaimana kalau kita berteman? Aku akan bisa melihat sisimu yang lain kalau kita berteman."


"Iya. Sekarang aku dan Sisy berteman," jawab Luna.


Mereka pun saling tersenyum ke arah satu sama lain.


Tiba-tiba Luna melihat sesuatu di pipi Sisy. "Astaga aku baru sadar kalau pipimu terluka."


Sisy langsung memegang pipinya. "Ah ini bukan apa-apa. Tidak perlu berlebihan seperti itu."


"Pasti karena ditampar oleh nona Riana ya?" tanya Luna khawatir.


"Hahaha iya, tamparannya cukup kuat dan cincin yang digunakan oleh nona Riana melukai pipiku tapi aku tidak apa-apa. Tidak sakit juga," jawab Sisy.


"Ayo kita ke madam Pomfrey. Luka di pipimu harus diobati," ajak Luna.


Sisy segera menggeleng. "Tidak perlu. Aku akan mengobatinya sendiri di kamar nanti. Lebih baik kita kembali ke asrama secepatnya. Aku sudah mulai kedinginan."


Luna baru ingat kalau pakaian Sisy basah tadi. "Ah iya ayo."


Mereka berdua cepat-cepat kembali ke asrama.


"Setelah masuk, segera ganti baju dan obati lukamu itu ya!" perintah Luna.


"Iya, Luna," jawab Sisy.


"Sekali lagi terima kasih karena telah menolongku, Sisy" ucapnya.


"Sama-sama. Sudah jangan mengatakan terima kasih lagi," balas Sisy.


Luna hanya terkekeh. Mereka pun berpisah dan masuk ke asrama masing-masing.


Hermione langsung menghampiri Sisy dan melihat wajahnya. "Astaga siapa yang melukai pipimu ini?"


"Itu...putih tidak sengaja mencakar pipiku hingga terluka seperti ini," bohong Sisy.


"Kamu kira aku bodoh dan akan percaya dengan alasan tidak masuk akal itu?" tanya Hermione dengan tatapan dingin.


Sisy menggeleng. Alasan yang dia berikan memanglah tidak masuk akal. Karena lukanya sama sekali tidak terlihat seperti bekas cakaran.


"Siapa yang menampar pipimu sampai luka seperti ini?" tanya Hermione lagi.


Sisy diam tak berani menjawab.


"Jawab aku, Sisy!" bentak Hermione.


"Masalahnya sudah selesai jadi tidak perlu dibahas lagi." Sisy masih enggan menjawabnya.


"Aku akan memberitahu ini pada Harry dan Ron." Hermione segera berdiri dan hendak pergi.


Dengan cepat Sisy menahan lengan Hermione. "Jangan! Jangan beritahu mereka, Hermione."


Hermione mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Mereka adalah sahabatmu. Mereka harus tau kondisimu ini."


"Aku hanya luka sedikit, Hermione. Mereka akan khawatir berlebihan apalagi Ron," jawab Sisy.


Hermione menatap diam ke arah Sisy.


"Aku baik-baik saja, Hermione," sambungnya.


"Kamu berubah," kata Hermione.


Sisy memandang Hermione dengan tatapan tak mengerti.


"Semenjak kamu ditahan oleh profesor Dumbledore saat itu. Kamu menjadi berubah, kamu tidak seperti Sisy yang dulu," sambung Hermione.


"Apa maksudmu, Hermione? Aku tidak mengerti," tanya Sisy.


"Kamu selalu memendam semuanya sendiri sekarang. Aku tau kalau itu adalah hak kamu untuk tidak menceritakannya pada kami tapi rasanya aneh. Kamu yang dulunya sering menceritakan banyak hal bahkan sampai hal yang tidak penting sekalipun secara tiba-tiba menjadi pendiam dan tertutup sama kami," jelas Hermione.


"Aku tau mungkin kamu berpikir tidak ingin membuat kami khawatir tapi Sisy, dengan kamu tidak menceritakannya seperti ini justru membuat kami khawatir. Setiap harinya aku, Harry, dan Ron selalu menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi padamu saat itu," lanjutnya.


Sisy masih setia mendengarkannya.


"Ron sangat mengkhawatirkanmu karena kamu benar-benar berubah. Awalnya aku dan Harry berusaha untuk menenangkan Ron dengan berkata kalau kamu akan menceritakannya nanti tapi sekarang kami juga berpikir hal yang sama dengan Ron. Apakah ini karena Malfoy?" tanya Hermione.


Mendengar nama Draco, Sisy mengernyitkan dahinya. "Kenapa jadi Draco?"


Hermione terkejut saat mendengar Sisy memanggil laki-laki Slytherin itu dengan nama depannya. "Draco?! Hahaha ternyata hubungan kalian sudah sampai ditahap memanggil nama depan satu sama lain. Semuanya telah terjawab sekarang."


Hermione pun pergi dan Sisy mengejarnya.


"Hermione, berhenti!" teriak Sisy.


Harry dan Ron yang kebetulan baru keluar dari kamar terkejut melihat Hermione yang sedang menangis.


"Kenapa Hermione menangis?" tanya Harry.


Melihat Sisy yang berlari mengejar Hermione, Harry dan Ron mengikutinya.


Sisy terus berusaha mengejar Hermione dan saat sudah dekat, dia langsung memegang tangannya. "Dengarkan penjelasan aku dulu, Hermione."


Hermione menghentikan langkah kakinya.


"Kumohon dengarkan dulu. Kamu salah paham, Hermione," ucap Sisy yang masih berusaha untuk membujuk Hermione.


Harry dan Ron menghampiri mereka berdua.


"Ada apa ini?" tanya Harry


"Iya. Kenapa kalian seperti sedang bertengkar?" timpal Ron.


"Hermione, aku sungguh tidak tau kenapa kamu membawa-bawa nama Draco dalam masalah ini ta—"


"Draco? Kamu memanggil Malfoy dengan nama depannya?!" tanya Ron terkejut.


"Sebenarnya sudah sejauh mana hubunganmu dengan Malfoy, Sisy?" tanya Harry yang juga terkejut.


"Aku dan Draco tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya berteman," jawab Sisy.


"Kamu berteman dengan Malfoy?!" tanya Ron lagi tidak kalah terkejut.


"Ron, jangan berlebihan seperti itu," balas Sisy.


"Sisy, kamu tau kalau Malfoy selalu menghina kami tapi kamu masih berteman dengannya?!" ucap Ron marah.


"Tunggu Ron, biarkan aku menjelaskan sesuatu dulu." Sisy mencoba menjelaskannya pada mereka.


"Sekarang aku benar-benar bisa bilang kalau kamu telah berubah, Sy. Kamu berteman dengan seseorang yang telah menghina sahabatmu ini," ucap Ron kecewa.


"Ron tu—"


"Sisy yang dulu tidak akan mau berteman dengan seseorang yang membuat orang disayanginya sakit hati," potong Ron.


Setelah itu Ron pergi dan Hermione juga melepaskan genggaman tangan Sisy lalu pergi menyusul Ron. Tersisa Harry yang masih setia berdiri di samping Sisy. Gadis itu pun menangis melihat sahabatnya pergi. Harry merasa sakit melihat Sisy yang menangis seperti ini.


Harry memeluknya dan mengelus rambut panjangnya itu. "It's okay. I'm here."


"Mereka tidak mau mendengarkan penjelasanku dulu, Harry," kata Sisy sambil menangis di pelukan Harry.


"Mereka hanya terlalu terkejut. Setelah mereka lebih baik kita bicarakan lagi oke?" ucap Harry.


Sisy merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Harry. "Terima kasih karena masih di sisiku, Harry."


"Always," jawabnya.


Harry mencium pucuk kepala Sisy. "Kita obati lukamu ya?"


Sisy mengangguk. Harry membawa Sisy ke asrama dan mengobati pipinya.