Different

Different
Bab 2



Author POV


Saat sedang asyik asyiknya berimajinasi(atau lebih gampangnya ngehalu). Tiba-tiba meja Syila digebrak oleh seorang gadis yang datang dengan ketiga temannya,ia terlonjak kaget.


Brakk


"AS!!-tagfirullahal'azim"ia hampir mengumpat jika ia tidak ingat ada banyak orang sekarang di kelasnya.


"Woyyy cabe!!" Syila mendongak.


Kok gue malah ngerespon sih dipanggil cabe rutuk Syila dalam hati.


"Coba cabe coba cabe... Elu tuh yang cabe plus ***** plus murahan!!"balas Sera yang tak terima Syila dipanggil cabe. Seseorang yang di katai Sera pun melirik Sera tajam. Tapi namanya juga Sera,ya membalasnya dengan pelototan.


"Gak usah ikut campur lo! Dasar cewek kasar"ucap temannya gadis tadi. Tentu saja tak didengarkan oleh Sera.


Kadang Syila iri dengan telinga Sera,karena telinga Sera hanya mendengarkan hal-hal yang ingin ia dengar.


Gadis tadi bernama Maura, kembali menghadapkan wajahnya ke Syila."Woy,gak usah sok cantik lu! Sok-sok an deket-deket sama Devan. Lo tuh gak lebih dari sekedar anak trouble maker yang gak punya otak,gak kayak kembaran lo yang bisa ngebanggain sekolah. Lu tuh gak punya kerjaan selain ngerusuh dimana mana!! Gak ada yang bisa dibangga-banggain dari elo!! Orang tua lu pasti malu punya anak kayak elu!!"teriaknya tepat didepan wajah Syila. Syila memundurkan wajahnya,menahan nafasnya sambil merapatkan kedua matanya.


"Ngapain lo merem-merem sambil nahan nafas,hah?!"tanya Maura tadi dengan nada yang masih tinggi.


Syila membuka sebelah matanya perlahan lalu mendorong wajah gadis tadi,"Gak usah deket-deket. Nafas lo bau"ucapnya santai yang membuat seluruh siswa-siswi yang berada dikelas tertawa. Terutama Tika,dia tertawa terbahak bahak hingga memukul-mukul meja.


Emosi maura semakin meningkat hingga di ubun-ubun,siap ia ledakkan.


"Asem lu Syil,gue kira lu takut karena di gertak sama nih bulu hidung"ejek Tika sambil menoyor kepala Syila, Syila hanya terkekeh geli.


"Sama bulu hidung kok takut. Gue cukur tuh alis nya juga langsung histeris"


Maura,gadis yang dibicarakan sedari tadi mukanya merah padam menahan amarah. Ia menjambak rambut Syila lantaran emosinya sudah tidak bisa ia kontrol.


"Eh eh eh....mainnya jambak-jambakan dia. Gue bilangin bu Beka loh. Hayooo...mau bersihin toilet satu sekolah?"ancam Tika sambil menakut nakuti. Ia melirik Syila yang terlihat mengkode,dengan mengedip-ngedipkan sebelah matanya. Tika yang mengerti kode tersebut langsung balik mengkode,tanda ia mengerti.


"Bodo!! Panggil aja sono!! Dasar pengaduan''ucap Maura menantang.


"Oh...berani ya? Oke"Tika segera berlari keluar,namun karena saking terburu burunya ia menabrak dada bidang seseorang.


Bruk


"Wadaawww! Siapa sih?! Udah tau gue lagi-"ucapan Tika terhenti setelah mendongak melihat siapa yang ia tabrak.


"Aahhh Devan!! Bagus lo disini,gak perlu susah susah nyari lagi deh"pekik Tika girang. Memang sebenarnya ia tak mau melaporkan kepada Bu Beka tetapi ke Devan. Dan kebetulan Devannya sudah datang sendiri.


"Ayo ikut gue"Tika menggeret tangan Devan menuju kelasnya,Devan diam saja,lalu Agil,Tara dan Rendy yang tadi dibelakang Devan pun mengikuti Devan dan Tika. Disana terlihat semua orang sedang mengerubungi Syila dan Maura.


Wadaww,sadis bener si Devan ini kalau menyangkut hal Syila batin Tika sambil meringis.


"Lepas"satu kata dari Devan yang mampu membuat Maura segera melepas jambakan di rambut Syila.


"Aduu-duhhh akhh,sak-kit Dev...to-tol-long lep-pasin"Devan segera melepaskannya juga. Ia menghampiri Syila lalu mengelus-elus rambut Syila yang berantakan karena dijambak. Lalu meniup-niupnya juga,dengan dalih supaya perih di kulit kepala Syila sedikit membaik


"Aahhh...dedek meleleh bang"


"Pingin juga dong digituin"


"Nge-fly deh nge-fly"


"Anjayy...menang banyak si Syialan ini"


Kira kira seperti itu ledekkan-ledekkan dari teman teman Syila. Yang membuat Syila terkekeh.


"Udah mendingan kok Van" Syila menurunkan tangan Devan dari kepalanya.


Jantung gue!!! Pekik Syila dalam hati. Sebenarnya ia sangat kegirangan,tapi ia harus bisa menjaga jantungnya agar tidak meloncat keluar dari tempatnya.


"Pergi"ucap Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari Syila.


"Gue yang lu suruh pergi Van?"tanya Syila polos. Karena Devan berbicara dengan menatapnya.


"Bukan"Devan melirik Maura yang yang sedang kesakitan sambil memegangi kepalanya.


Agil,yang paham langsung mengangkat suara,"Lu mending pergi sekarang deh Ra. Dari pada tuh muka di cakar sama Sera" Sera yang mendengar namanya dibawa-bawa Agil pun menggeplak kepala Agil.


"Aduhh beb,kok malah mukul kepala aku sih" Agil pura-pura mengaduh,karena geplak an Sera dikepalanya tidak terlalu kencang.


"Bodo!! Musnah aja lu kutu"ucap Sera sarkas.Agil mengerucutkan bibirnya.


"Najis lu nyet"umpat Tara lalu ikut menggeplak kepala Agil.


"Sakit begoo! Elu mah gak kira-kira kalo mukul. Sakit pala dedek bang..."satu per satu geplak an mendarat di kepala Agil lagi.


"Udah ah,kok malah jadi pukul-pukulan gini"lerai Syila.


"Iya Syil,bilangin ke temen-temen lu tuh. Suruh jangan pada sadis-sadis"adu Agil kepada Syila,dan Devan hanya memutar bola matanya jengah. Karena setiap Agil di bully,Agil selalu mengadu kepada Syifa. Berharap Syila bisa menolongnya.


"Tapi silahkan lanjutkan lagi. Karena gue lagi pingin liat aksi pembullyan"ucap Syila dengan senyum manisnya.


~XXX~