
Sisy langsung berlari ke rumahnya dan menerobos masuk. Dari depan rumah, dia bisa mendengar teriakan Shopia. Dengan cepat Sisy masuk ke kamar Shopia dan memeluknya. "Aku di sini, Shopia."
Shopia langsung memeluk Sisy dengan erat. "Syukurlah kamu baik-baik saja, Sisy."
"Sudah kubilang kalau aku akan baik-baik saja," jawabnya.
"Jangan lakukan itu lagi," tutur Shopia.
"Apa maksudmu?" tanya Sisy tak mengerti.
"Pergi jauh hanya untuk mencari obat untukku," jawab Shopia.
Sisy mengalihkan pembicaraan. "Aku bersyukur kamu sudah membaik, Shopia."
"Urusan apa yang kamu lakukan sampai tidak bisa kembali bersama tuan Scamander?" tanya Charles.
"Aku membantu seseorang dulu tadi," jawab Sisy.
"Kamu membuatku dan Shopia khawatir," tegur Charles.
"Maaf," sesal Sisy.
"Sudahlah. Yang penting kamu baik-baik saja," kata Charles sambil mengelus kepala adik perempuannya itu.
Sisy mengangguk. "Bagaimana perasaanmu, Shopia? Apakah masih ada yang sakit?"
"Aku sudah baik-baik saja sekarang," jawab Shopia.
"Istirahatlah lagi. Kondisimu belum pulih sepenuhnya," kata Sisy.
Shopia mengangguk patuh.
"Sekarang dimana tuan Scamander?" tanya Charles karena tidak melihat keberadaan Newt.
"Dia sedang pergi sebentar," jawab Sisy.
"Kapan kamu kembali ke sekolah?" tanya Shopia.
"Aku akan kembali setelah tuan Scamander datang," jawab Sisy.
"Tinggallah di sini sebentar lagi," pinta Shopia.
Sisy menggeleng. "Aku tidak bisa, Shopia."
"Aku mohon. Hanya 3 hari saja." Shopia masih berusaha untuk membujuk Sisy.
Charles mengelus kepala istrinya. "Sisy harus kembali ke sekolah, sayang. Dia sudah izin terlalu lama."
Mendengar itu, Shopia merasa tidak enak pada Sisy. "Maafkan aku."
"It's okay. Aku melakukan itu atas keinginanku sendiri, Shopia."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Sepertinya itu tuan Scamander." Sisy berjalan ke arah pintu dan membukanya. Benar saja, yang mengetuk pintu adalah Newt.
"Waktunya kita kembali nona Garcia," ucap Newt.
Sisy mengangguk.
"Sisy." Shopia memanggilnya dengan suara pelan.
Sisy menghampiri Shopia dan bertanya, "Kenapa kamu turun dari tempat tidur, Shopia?"
"Shopia terus memaksaku untuk membawanya ke depan," jelas Charles.
Sisy berlutut di hadapan Shopia dan menggenggam tangannya. "Aku harus segera kembali ke sekolah sekarang, Shopia. Aku janji liburan selanjutnya akan pulang."
"Tapi...."
"Percayalah padaku, Shopia. Aku tidak akan mengingkari janji."
Dengan berat hati, Shopia mengangguk. Sisy pun memeluk Shopia.
"Terima kasih, tuan Scamander. Tolong jaga adik saya selama di sekolah," ucap Charles pada Newt.
"Tentu," jawab Newt.
Setelah memeluk Shopia, Sisy beralih memeluk Charles.
"Jaga kesehatanmu," ujar Charles.
"Iya. Kalau begitu aku pamit pergi ya," ucap Sisy melepaskan pelukannya.
Charles mengacak rambut adiknya itu. "Belajarlah dengan benar, gadis kecil."
"Jangan mengacak rambutku!" kesal Sisy.
Charles tertawa melihat adiknya yang terlihat kesal itu.
"Kamu akan pulang saat liburan selanjutnya, kan?" tanya Shopia memastikan.
"Iya Shopia," jawab Sisy.
"Baiklah. Jaga kesehatanmu, Sisy," ucap Shopia.
Sisy mengangguk.
Sisy dan Newt mulai ber-disapparate dan sampailah mereka di Hogwarts.
"Akhirnya aku kembali lagi ke sekolah," ucap Sisy.
"Anda harus bekerja keras setelah ini, nona Garcia. Banyak pelajaran yang tertinggal dan anda harus memenuhi nilai-nilai yang kosong," peringat Newt.
"Ah iya ya. Sepertinya saya tidak akan bisa istirahat," keluh Sisy.
"Ayo kita masuk," ajak Newt.
"Ayo. Saya sudah sangat lelah dan ingin segera tidur," jawab Sisy.
"Huh? Memangnya apalagi yang harus saya lakukan?" tanya Sisy.
"Kita harus ke ruangan profesor Dumbledore terlebih dahulu," jawab Newt.
Dahi Sisy mengkerut. "Untuk apa?"
"Untuk melaporkannya," jawabnya.
"Tidak bisakah anda pergi sendiri?" tanya Sisy lagi.
"Tidak. Kita pergi berdua jadi melaporkannya juga harus berdua," tegas Newt.
"Anda sangat merepotkan, tuan Scamander," keluh Sisy.
Newt menatap tajam ke arahnya. "Apa?"
Gadis itu segera menggelengkan kepala. "Tidak ada apa-apa. Ayo kita cepat ke ruangan profesor Dumbledore. Saya ingin cepat-cepat istirahat."
Sisy dan Newt segera ke ruangan profesor Dumbledore. Mereka mengetuk pintunya dan masuk setelah mendapatkan izin.
"Maaf mengganggu waktu anda, profesor Dumbledore," ucap Newt sopan.
"Tidak apa-apa. Jadi bagaimana perjalanan kalian berdua?" tanya profesor Dumbledore.
"Melelahkan," jawabnya sambil merebahkan diri di atas sofa. Ini adalah hal biasa bagi Sisy karena dia sudah sering bolak-balik ke ruangan profesor Dumbledore jadi dia sudah menganggap kalau ruangan profesor Dumbledore sepertinya kamarnya sendiri.
"Nona Garcia, bersikaplah yang sopan!" tegur Newt. Ya Newt yang selalu menegur Sisy atas perbuatan tidak sopannya tapi gadis itu tak pernah mendengarkan ucapannya.
"Hahaha itu wajar tapi anda mendapatkan ilmu baru, kan?" tanya profesor Dumbledore tanpa mempermasalahkan sikap Sisy.
"Ya begitulah," jawab Sisy seadanya.
"Ceritakan padaku," pinta profesor Dumbledore.
Sisy dan Newt menceritakan semuanya pada profesor Dumbledore.
"Begitu. Syukurlah kalau keadaan nyonya Garcia sudah baik-baik saja," kata profesor Dumbledore.
"Iya. Untunglah Shopia bisa diobati tepat waktu," sambung Sisy.
"Oke kita sudahi percakapan hari ini. Kembalilah ke asrama anda, nona Garcia. Anda boleh istirahat satu hari lagi," ucap profesor Dumbledore.
"Tidak perlu. Saya akan langsung mengikuti kelas besok," tolak Sisy.
"Anda yakin?" tanya profesor Dumbledore.
"Iya. Saya harus mengejar pelajaran yang tertinggal dan mulai mengisi nilai-nilai yang kosong. Saya sudah berjanji akan pulang ke rumah saat liburan selanjutnya," tegas Sisy.
Profesor Dumbledore mengangguk. "Saya mengerti."
Sisy dan Newt pamit untuk pergi.
"Saya akan mengantarkan anda ke asrama," ucap Newt.
Sisy menggeleng. "Tidak perlu. Anda kembalilah dan istirahat. Terima kasih atas semuanya, tuan Scamander. Saya tidak akan bisa melakukan itu semua sendirian."
"Sama-sama. Kalau begitu saya kembali duluan." Newt pun pergi ke arah yang berlawanan. Sisy juga melanjutkan perjalanannya ke asrama.
Di perjalanan menuju asrama, Sisy melihat seseorang yang sedang berjalan sendirian. Karena penasaran, Sisy mengikuti orang tersebut. Orang itu mengarah ke danau hitam.
"Untuk apa dia ke danau itu malam-malam begini?" tanyanya.
Di sana, orang itu duduk di pinggir danau bersama putih. Ya putih milik Sisy ada di sana bersama orang itu. Ternyata putih menyadari keberadaannya yang tak jauh darinya dan dia menghampiri pemiliknya itu. Putih mengeong ke arah Sisy sampai membuat orang itu menoleh. "Sisy?"
"Hai Draco," sapa Sisy.
Draco bangkit dari duduknya. Sisy mendekati Draco dan memeluknya. "Long time no see."
Draco membalas pelukan Sisy dan bertanya, "Kemana kamu selama 1 bulan ini?"
"Aku pulang ke rumah. Shopia sakit," jawab Sisy.
Draco mengernyitkan dahinya. "Kata profesor Dumbledore, kamu melakukan perjalanan bersama tuan Scamander?"
"Ah itu...aku memang bilang seperti itu pada profesor agar beliau tidak khawatir," balasnya.
"Aku sangat merindukanmu. Aku kira setelah kembali ke Hogwarts akan bisa bertemu denganmu tapi...."
"Maaf. Kabar itu datang secara tiba-tiba. Jadi aku langsung pulang tanpa mengirimkan surat untuk kalian," jelas Sisy.
"She is fine?" tanya Draco.
Sisy mengangguk. "Iya, Shopia sudah sembuh sekarang. Maka dari itu aku baru bisa kembali ke sekolah sekarang."
"Kapan kamu kembali?" tanyanya lagi.
"Tadi sore. Aku ke ruangan profesor Dumbledore dulu untuk melaporkannya dan baru selesai malam hari. Saat aku ingin kembali ke asrama, aku melihatmu berjalan sendirian dan mengikutimu," jelas Sisy.
"Jadi yang dari tadi mengikuti aku adalah kamu," ujar Draco.
"Kamu tau ada seseorang yang mengikutimu?" tanya Sisy sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya tapi aku menghiraukannya karena aku tidak peduli," jawab Draco.
Sisy mengelus pipi Draco. "Aku merindukan wajah tampan ini hehe."
Draco menggenggam tangan Sisy yang berada di pipinya dan mencium tangan itu. "Aku ingin mengobrol lebih lama lagi bersamamu tapi aku tau kalau kamu pasti lelah. Jadi ayo kita kembali ke asrama."
Sisy menggeleng. "Lelahku hilang setelah melihatmu."
Wajah Draco seketika merah setelah mendengar perkataan Sisy. "Darimana kamu belajar berbicara seperti itu?!"
Sisy hanya terkekeh melihat reaksi kekasihnya itu. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengobrol lebih lama lagi di pinggir danau itu.
Tak terasa hari sudah semakin larut, Draco memutuskan untuk menghentikan pembicaraan mereka. Awalnya Sisy menolak tapi Draco memaksanya untuk kembali ke asrama dan segera istirahat. Akhirnya Sisy menurut dan mereka kembali ke asrama masing-masing.