
Keesokan harinya. Sisy terkejut karena dirinya bangun kesiangan. Padahal hari ini pelajaran pertamanya adalah pertahanan terhadap sihir hitam yang artinya dia akan telat di kelasnya profesor Snape. Dengan cepat Sisy langsung mandi dan memakai seragamnya. Dia berlari ke kelas dan menerobos masuk.
"Untunglah aku tidak terlambat," ujarnya lega karena tak melihat keberadaan profesor Snape.
Dengan santai gadis itu berjalan ke kursinya dan duduk.
Melihat ekspresi Hermione, Sisy pun bertanya, "Ada apa?"
Belum mendapatkan jawaban dari Hermione, sebuah suara menginterupsi Sisy.
"Bagus sekali nona Garcia."
Sisy menoleh ke arah sumber suara itu. Dia meneguk ludah saat melihat profesor Snape yang ternyata ada di belakangnya.
"Datang ke ruangan saya setelah ini!" perintahnya.
Sisy merutuki dirinya yang bisa-bisanya tidak melihat keberadaan profesor menyebalkan itu.
"Saya tidak mendengar jawaban dari anda, nona Garcia," tukas profesor Snape.
"Baik, profesor Snape," jawab Sisy.
"Sekarang kita lanjutkan pelajaran tadi," sambungnya.
Kelas pun berjalan seperti biasa.
2 jam kemudian, kelas pun selesai.
"Jangan lupa kerjakan tugas kalian. Saya tidak mentolerir murid yang tidak mengerjakan tugasnya!" peringat profesor Snape.
"Baik, profesor Snape," jawab mereka serempak.
Profesor Snape memandang tajam ke arah Sisy. "Nona Garcia, jangan lupa perkataan saya!"
"Iya profesor," jawabnya.
Profesor Snape pun keluar dari ruang kelas.
"Menyebalkan!" teriak Sisy.
"Sisy, kemana saja kamu selama sebulan ini?" tanya Ron yang sudah berdiri di sampingnya.
"Shopia sakit. Jadi aku harus pulang dan merawatnya," jawab Sisy.
"Tapi ka—"
"Kata profesor Dumbledore, aku melakukan perjalanan jauh bersama tuan Scamander, kan?" potong Sisy.
"Iya," jawab Ron.
"Itu tidak salah karena aku memang pergi jauh untuk mencari obatnya," sambungnya.
"Shopia sakit apa?" tanya Hermione.
"Dia digigit oleh murtlap," jawab Sisy sambil merapikan buku-bukunya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu kami?" tanya Harry.
Sisy menatap teman-temannya. "Aku mendapat kabarnya secara tiba-tiba jadi aku tidak sempat mengabari kalian."
"Kami mengkhawatirkanmu selama sebulan ini," sambung Harry.
"Maaf teman-teman," sesal Sisy.
"Sudahlah yang penting kamu baik-baik saja," ucap Harry sambil mengelus rambut Sisy.
"Oh iya selama kamu pergi, ada satu orang lagi yang mencarimu," adu Hermione.
"Siapa?" tanya Sisy penasaran.
"Bocah Slytherin," jawab Ron dengan ketus.
"Draco? Aku sudah bertemu dengannya," balas Sisy.
"Kamu bertemu dengannya duluan dibandingkan kami?!" tanya Ron kesal.
Sisy menggeleng dengan cepat. "Bukan seperti itu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat baru sampai di Hogwarts."
"Bohong! Kamu pasti menemui bocah Slytherin itu duluan," geram Ron.
"Aku tidak bohong, Ron. Sudahlah kalau kamu tidak percaya, aku pergi ke ruangan profesor Snape dulu." Sisy melenggang pergi dan menghiraukan teriakan Ron.
Hermione mencoba menenangkan Ron. "Sudah Ron. Sisy tidak mungkin berbohong."
Ron memijat pelipisnya. "Anak itu benar-benar."
Sesampainya di depan ruangan profesor Snape, Sisy mengetuk pintunya. Setelah mendapatkan izin, dia pun masuk. "Permisi."
"Silakan duduk," perintahnya.
Gadis itu pun duduk.
Sudah 20 menit Sisy duduk diam di sana tapi sepatah kata pun belum keluar dari mulut profesor Snape.
"Apa yang ingin anda bicarakan, profesor?" tanya Sisy memberanikan diri.
"Diam dulu. Saya sedang mengerjakan sesuatu," tegur profesor Snape.
Untuk apa memanggilku kalau sibuk?! Menyebalkan! Batin Sisy.
Dia menunggu lebih lama lagi.
"Jadi, apakah anda tau kesalahan yang anda lakukan hari ini?" tanya profesor Snape yang sepertinya sudah selesai dengan pekerjaannya.
Sisy mengangguk.
"Gunakan mulut anda!" perintah profesor Snape.
"Saya tau," jawab Sisy.
"Sebutkan!" perintahnya.
Sisy menatap ke arah profesor Snape tidak percaya.
"Kenapa? Apakah ada masalah?" tanya profesor Snape.
Sisy menghela nafasnya. "Saya terlambat masuk ke kelas anda hari ini."
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Anda tidak mengingat kesalahan sebelumnya?" tanyanya.
Kesalahan sebelumnya? Ayolah hal yang kulakukan padamu itu sangat banyak. Mana mungkin aku bisa ingat. Ucap Sisy dalam hati.
"Sepertinya anda tidak mengingatnya. Baiklah saya akan bantu ingatkan." Profesor Snape mengambil sebuah buku dan menunjukkannya pada Sisy. "Lihat? Nilai anda kosong semua karena tidak pernah masuk setelah liburan selesai."
Ah ternyata kesalahan yang ini. Batin Sisy mengerti.
"Maaf profesor Snape. Untuk yang satu ini saya memiliki alasan kenapa tidak masuk. Kakak perempuan saya sakit dan saya harus merawatnya," jelas Sisy.
"Saya tidak peduli. Yang pasti kamu tidak masuk ke kelas saya yang artinya anda harus mengisi semua nilai ini," balas profesor Snape.
"Apa yang harus saya lakukan untuk mengisi kekosongan nilai ini?" tanya Sisy.
"Ambil semua buku yang ada di rak buku sebelah kanan itu!" perintah profesor Snape.
Sisy mengambil buku-buku itu. "Apa yang harus saya lakukan dengan buku-buku ini, profesor?"
"Baca semua buku itu sebanyak 10 kali dan tulis rangkumannya!" perintahnya.
Sisy sangat terkejut mendengar perintah profesor Snape. "Semuanya?!"
"Saya yakin telinga anda tidak bermasalah," balasnya.
" Tapi profe—"
"Tidak boleh protes karena ini adalah kesalahan anda. Sekarang silakan keluar dari ruangan saya," potong profesor Snape.
"Baik profesor," jawab Sisy pasrah.
"Satu lagi. Kumpulkan rangkumannya sebelum ujian dimulai," sambungnya.
"Berarti saya hanya punya waktu 3 minggu untuk membaca dan merangkum semua buku ini?" tanya Sisy.
"Iya," jawab profesor Snape singkat.
Sungguh, saat ini Sisy benar-benar ingin memukul kepala profesornya itu dan membuatnya lupa ingatan tapi dia tidak mungkin berani melakukannya karena kalau dirinya gagal membuat profesor Snape lupa ingatan maka dia akan dikeluarkan dari sekolah karena menyakiti guru Hogwarts.
Sisy pun keluar dari ruangan profesor Snape dengan setumpuk buku di tangannya.
"Menyebalkan! Padahal aku berniat untuk mengisi nilainya yang paling akhir tapi pelajaran dia yang malah harus aku penuhi nilainya duluan," gerutu Sisy.
Tiba-tiba seseorang mengambil buku-buku itu dari tangannya. "Biar aku bawakan buku-bukunya."
"Tidak perlu. Buku-buku itu berat, Draco," ucap Sisy sambil mencoba merebut buku-buku itu.
Draco mengangkat tangannya tinggi. "Karena berat maka aku akan membawakannya."
Akhirnya Sisy mengalah. "Terima kasih."
"My pleasure, darling," jawabnya.
Mereka berjalan bersama menuju asrama.
"Kenapa kamu membawa semua buku ini dari ruangan profesor Snape?" tanya Draco.
"Profesor Snape menyuruhku untuk membaca semua buku ini sebanyak 10 kali dan membuat rangkumannya," jawab Sisy.
"Ah ini karena nilai-nilaimu kosong ya?" tebaknya.
"Iya. Profesor Snape masih saja menyebalkan," jawab Sisy kesal.
"Jangan berkata sembarangan seperti itu!" tegur Draco pada kekasihnya.
"Itu adalah kenyataan, Draco. Bagaimana bisa dia hanya memberiku waktu 3 minggu untuk menyelesaikannya padahal aku juga harus mengisi nilai-nilai yang lain," gerutu Sisy.
Draco tertawa melihat kekasihnya yang sedang marah-marah itu. Menurutnya saat ini Sisy sangatlah menggemaskan.
"Bagaimana kalau aku bantu?," tawar Draco.
Sisy menyipitkan matanya. "Caranya?"
"Aku hanya perlu membacanya dan membuat rangkumannya untukmu," jawab Draco.
"Memang bisa seperti itu?" tanya Sisy merasa aneh.
Draco menatap wajah kekasihnya itu. "Bisa sayang. Asal tidak ketahuan."
Sisy tersenyum senang. "Boleh. Bagaimana kalau kita mengerjakannya di danau?"
Draco mengangguk. Sisy dan Draco pergi ke danau dan mulai mengerjakan tugas dari profesor Snape di sana.
2 jam kemudian.
"Bisakah kita lanjutkan besok? Aku sudah lelah," keluh Sisy.
Draco tersenyum dan mengelus pipi kekasihnya. "Baiklah. Besok kita lanjutkan lagi di sini setelah selesai kelas."
Sisy mengangguk. Dengan cepat Sisy merapikan semua buku-buku dan kertas-kertasnya. Mereka berdua pun mengganti kegiatannya dengan mengobrol.
"Apa yang kamu lakukan selama liburan?" tanya Sisy.
"Hanya berdiam diri di rumah sambil membaca buku," jawab Draco.
"Serius?! Membosankan sekali," tutur Sisy.
"Mau bagaimana lagi. Aku berniat mengajak kekasihku untuk bermain tapi dia tak bisa," sindir Draco.
Sisy mengernyitkan dahinya. "Kamu menyindirku?"
"Tidak," jawab Draco singkat.
"Omong-omong aku belum pernah melihat rumahmu. Sejujurnya aku sangat penasaran dengan Manor Malfoy yang selalu orang-orang bicarakan," ujar Sisy.
"Kamu penasaran?" tanya Draco.
Sisy mengangguk.
"Liburan selanjutnya mainlah ke rumahku," ucap Draco.
"Boleh?" tanya Sisy.
Draco mengangguk. "Tentu saja."
Sisy tersenyum senang. "Baiklah."