
Sialnya mereka lari ke arah yang salah. Mereka malah berakhir di jalan buntu. Sisy melepaskan genggaman Draco dan mencoba membuat lingkaran sihir lagi tapi masih tak bisa.
"Sebenarnya kenapa aku tidak bisa membuatnya lagi?!" kesal Sisy.
"Itu karena wilayah ini telah diberikan pelindung agar tak ada siapapun yang bisa membuat lingkaran sihir," jawab seseorang yang tiba-tiba saja muncul.
"Ternyata yang dikatakan oleh pangeran kegelapan itu benar. Ada gadis kecil yang bisa membuat lingkaran sihir," ucap yang lainnya.
Orang yang datang bertambah dan lagi Peter Pettigrew telah berhasil mengejar mereka.
"Tuan memerintahkan kami membawa anda, gadis manis," timpalnya.
Dengan cepat Draco menyembunyikan Sisy di belakang tubuhnya. "Jangan ada yang mendekat!"
"Tunggu. Bukankah dia putranya Lucius?" tanya salah satu dari mereka.
"Ah iya aku ingat. Dia adalah Draco Malfoy," jawab temannya.
"Draco Malfoy? Jadi dia anggota termuda death eater itu," ujar Peter Pettigrew.
Mereka semua kembali terkejut. Jadi selama ini anggota death eater berada dekat mereka.
"Jadi selama ini bocah Slytherin itu adalah death eater yang berada di sekitar kami?!" ucap Ron terkejut.
Harry langsung menarik lengan Sisy agar berdiri di sebelahnya dan menjauh dari Draco.
"Oh? Kalian belum mengetahuinya? Draco sengaja di sekolahkan oleh Lucius di Hogwarts untuk memata-matai kalian semua," sambung orang itu.
"Jadi informasi apa yang telah kamu dapatkan, Draco?" tanya Peter Pettigrew.
Sisy sangat takut dengan jawaban yang akan diberikan Draco. Dia takut kalau kekasihnya itu akan memberitahukan tentang kekuatannya tadi. Namun ternyata Draco tidak menjawabnya dan hanya diam saja.
"Sepertinya kamu benar-benar bermain sekolah-sekolahan dengan mereka. Bawa tuan Malfoy. Dia harus dilaporkan pada pangeran kegelapan karena tidak melakukan tugasnya dengan baik," ucap Peter Pettigrew.
Saat salah satu dari mereka mendekat ke arah Draco dan hendak membawanya tapi Sisy langsung berdiri di depan Draco. "Tidak ada yang boleh membawanya pergi!"
"Dia adalah anggota death eater," ujar Peter Pettigrew.
"Aku tidak peduli. Draco tetaplah murid Hogwarts," balas Sisy.
"Sisy, jangan menentang mereka!" tegur Harry.
"Iya. Biarkan bocah Slytherin itu dibawa oleh mereka," timpal Ron.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan Draco dibawa oleh mereka!" tegas Sisy.
Astoria pun ikut berdiri di depan Draco. "Aku juga tidak akan membiarkan Draco dibawa oleh mereka."
"Oho apa yang akan dilakukan gadis kecil seperti kalian? Kalian bahkan tidak memiliki tongkat sihir untuk menyerang kami," remehnya.
"Hati-hati. Mereka mempelajari sihir baru!" peringat Peter Pettigrew.
"Sihir baru?" tanyanya bingung.
"Iya. Sihir tanpa menggunakan perantara," jawab Peter Pettigrew.
"Maksudnya mereka bisa menggunakan sihir tanpa tongkat sihir?" tanya orang itu lagi.
Peter Pettigrew mengangguk.
"Tidak mungkin! Kamu pasti bermimpi," katanya tak percaya.
"Aku tidak bermimpi! Aku diserang oleh gadis itu tadi!" tegas Peter Pettigrew.
"Benarkah? Kalau begitu mari kita lihat." Orang itu melayangkan sihir pada mereka dan Sisy langsung menahannya. Hal itu pun membuatnya takjub. "Wow ternyata yang kamu ucapkan itu benar."
"Sudah kubilang!" kesal Peter Pettigrew.
"Ini menarik," gumamnya.
Aku malah membuat mereka semakin bersemangat. Batin Sisy.
Sisy harus melakukan sesuatu tapi gerakannya terbatas karena dia harus melindungi teman-temannya. Saat anggota death eater itu ingin melayangkan sihir lagi, tiba-tiba seseorang muncul.
"Profesor Dumbledore?!" kata Astoria terkejut.
"Untunglah kali ini saya tidak terlambat," ucap profesor Dumbledore.
"Nona Garcia," panggil seseorang.
Sisy menoleh ke arah sumber suara. "Tuan Scamander?"
"Newt, bawa anak-anak pergi dari sini!" perintah profesor Dumbledore.
"Bagaimana dengan anda?" tanya Sisy.
"Saya harus memberikan pelajaran pada tikus-tikus ini karena telah menyakiti murid Hogwarts," jawab profesor Dumbledore.
Sebelum profesor Dumbledore melayangkan sihir, para anggota death eater itu pergi duluan.
"Yah takut," ledek Neville.
Profesor Dumbledore berbalik dan bertanya pada mereka. "Kalian baik-baik saja?"
"Iya. Sisy melindungi kami," jawab Harry.
"Kerja bagus nona Garcia," puji profesor Dumbledore.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini," tutur Newt.
Profesor Dumbledore membuat lingkaran sihir dan mereka semua keluar dari tempat itu.
Mereka semua pun berhasil kembali ke Hogwarts dengan selamat.
"Semuanya silakan kembali ke asrama masing-masing dan nona Garcia tolong ke ruangan saya sekarang!" perintah profesor Dumbledore.
"Baik profesor," jawab mereka serempak.
Sebelum semuanya pergi, Sisy memanggil mereka. "Teman-teman, bisakah kalian mendekat sebentar?"
Mereka semua pun mendekat ke arahnya tanpa banyak bertanya.
"Obliviate," ucap Sisy pelan.
"Ada apa, Sisy?" tanya Hermione bingung.
"Tidak ada apa-apa. Kalian kembalilah duluan ke asrama," jawab Sisy.
Sisy mengikuti tuan Scamander ke ruangan profesor Dumbledore.
"Bagaimana keadaan yang lain?" tanya Sisy sambil duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan profesor Dumbledore.
"Mereka semua baik-baik saja tapi..."
"Tapi apa?" tanya Sisy.
"Mereka langsung ribut mempertanyakan hal yang mereka lihat," jawab Newt.
"Saya sudah menduganya kalau hal ini akan ketahuan cepat atau lambat," gumam Sisy.
"Anda tenang saja. Profesor Dumbledore sudah menghapus ingatan mereka semua tentang kemampuan anda," sambung Newt.
"Mereka pasti sudah membicarakan hal itu pada banyak orang, kan?"
Newt menggeleng. "Tidak. Sebelum mereka masuk, saya sudah menghapus ingatan mereka semua."
Sisy mengernyitkan dahinya. "Dengan air hujan?"
"Iya. Seperti yang saya lakukan dulu," jawab Newt.
Sisy menghela nafasnya lega. "Syukurlah. Saya tidak mau ada yang tau tentang kemampuan ini."
Newt mengangguk. "Kami juga mengantisipasinya karena belum waktunya mereka tau kalau ada penyihir berbakat di Hogwarts."
Mendengar itu Sisy pun terkekeh. "Anda berlebihan, tuan Scamander."
Tak lama profesor Dumbledore masuk ke ruangannya. Dia duduk di hadapan Sisy.
"Saya meminta maaf atas kelalaian kami lagi hingga hampir membahayakan kalian," ucap profesor Dumbledore menyesal.
"Saya tau kalau ini di luar perkiraan para profesor. Lagi pula siapa yang akan menyangka kalau mereka akan mengejar kita sampai situ," balas Sisy.
"Terima kasih telah melindungi murid Hogwarts yang lain, nona Garcia," kata profesor Dumbledore.
"Selagi saya bisa maka saya akan melindungi siapapun," jawab Sisy.
Profesor Dumbledore memijat pelipisnya. "Jujur saja saya sangat terkejut ketika menerima pesan dari profesor McGonagall kalau para murid menghilang secara tiba-tiba."
"Saya juga tak mendapatkan penglihatan tentang kejadian ini. Itu terjadi secara tiba-tiba, profesor. Bahkan kedatangan para anggota death eater juga di luar pengetahuan saya," jelas Sisy.
"Lalu bagaimana cara anda bisa bertindak dengan benar?" tanya Newt.
"Beberapa menit sebelum Peter Pettigrew muncul, saya baru mendapatkan penglihatan. Di situlah saya tau kalau kejadiannya persis seperti saat pertandingan sihir Triwizard. Beruntung kali ini tak ada pangeran kegelapan," jawab Sisy.
"Apakah mereka tak mengatakan sesuatu?" tanya profesor Dumbledore.
"Mengatakan sesuatu?" tanya Sisy tak mengerti.
"Iya, seperti informasi tentang anggota mereka atau semacamnya," jawab profesor Dumbledore.
Sudah kuduga kalau profesor Dumbledore akan bertanya mengenai hal itu. Batin Sisy.
Karena tak mendapatkan jawaban dari Sisy, profesor Dumbledore pun memanggilnya lagi. "Nona Garcia?"
Sisy menggeleng. "Tidak ada."
Profesor Dumbledore mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Omong-omong saya harus mengumpulkan sisanya untuk menghapus ingatannya."
"Tidak perlu. Saya sudah menghapus ingatan mereka," ujar Sisy.
"Kapan?" tanya profesor Dumbledore.
"Tadi. Saat saya meminta mereka semua untuk mendekat," jawab Sisy.
"Bagaimana cara anda menghapus ingatan mereka hanya dengan itu?" tanya Newt penasaran.
"Caranya hampir mirip dengan air hujan yang anda gunakan itu tapi bedanya kalau saya menggunakan angin untuk menghapus ingatan mereka," jelas Sisy.
Newt mengangguk paham.
"Profesor Dumbledore, kita harus menemukan cara agar saya bisa mengendalikan kemampuan penglihatan saya itu. Saya takut hal semacam ini akan terjadi lagi," celetuk Sisy.
Profesor Dumbledore menyetujui ucapannya. "Ya, anda benar."
Profesor Dumbledore bangkit dari kursinya dan mencari buku di perpustakaan pribadinya. Sisy dan Newt mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kita tidak bertanya saja pada guru ramalan?" tanya Sisy.
"Profesor Trelawney meramal secara tak sadar. Dia akan mengucapkan ramalannya secara tiba-tiba dan kemudian tidak mengingatnya," jawab profesor Dumbledore yang masih mencari buku. Profesor Dumbledore terus mencari buku-buku yang berhubungan dengan ramalan.
"Ketemu." Profesor Dumbledore mengambil buku yang bersampul merah. Dia pun membaca buku itu dengan cepat.
Melihat hal itu Sisy merasa aneh dengan cara membaca profesor Dumbledore dan menanyakannya kepada Newt. "Apakah akan terbaca jika seperti itu?"
"Tentu saja. Profesor Dumbledore memiliki kemampuan untuk membaca cepat," jawab Newt.
Sisy mengangguk paham.
Dalam hitungan detik, profesor Dumbledore menyelesaikan bacanya.
"Bagaimana profesor?" tanya Sisy.
"Tidak ada cara untuk mengendalikan kemampuan penglihatan itu. Kemampuan itu hanya bisa dikendalikan oleh suasana. Jika suasananya mendesak maka penglihatan itu akan muncul," jawab profesor Dumbledore menghela nafas.
"Suasana apa?" tanya Newt.
"Suasana sekitar ataupun suasana hati nona Garcia sendiri," jawab profesor Dumbledore.
"Berarti benar-benar tidak ada cara untuk mengendalikannya?" tanya Sisy.
Profesor Dumbledore mengangguk.
Sisy mengerti kalau tidak semuanya bisa dia kendalikan. "Yah tidak mungkin juga saya tak memiliki kelemahan apapun, kan?"
"Benar. Anda hanya harus fokus dengan peningkatan kemampuan lainnya," ucap profesor Dumbledore.
"Iya," balas Sisy.
"Kalau begitu kembalilah ke asrama, nona Garcia. Silakan beristirahat," kata profesor Dumbledore sambil meletakkan bukunya kembali.
"Baik profesor." Sisy pun keluar dari ruangan profesor Dumbledore dan kembali ke asramanya.