Different

Different
Ada apa dengan Draco?



Akhirnya sudah waktunya bagi para murid kembali lagi ke Hogwarts.


Saat ini Sisy sudah berada di depan sekolah tercintanya. Dia bergegas masuk dan mencari kedua temannya yang tidak bisa pulang saat liburan itu. Sepanjang jalan gadis itu terus tertawa sendiri karena membayangkan wajah Harry dan Ron.


Tak lama, dia menemukan dua temannya itu. Sisy mengendap-endap dan mengagetkan mereka dari belakang. "DORRR!"


Harry dan Ron teriak karena terkejut. Melihat reaksi temannya itu, Sisy pun tertawa.


"Sisy!" kesal Harry dan Ron.


"Maaf hehe," ucap Sisy.


Kemudian Sisy ikut duduk di samping teman-temannya. "Hermione belum datang?"


"Belum. Sepertinya dia akan datang besok," jawab Ron.


"Kenapa?" tanya Sisy bingung.


"Dia bilang ada urusan yang harus diselesaikan dulu," jawab Harry.


Sisy mengangguk paham. "Begitu."


"Omong-omong ada yang merindukanmu saat liburan," adu Harry.


"Siapa?" tanya Sisy pura-pura tak tau.


Harry menunjuk ke arah Ron.


"Enak saja! Aku tidak merindukannya ya!" sanggah Ron.


"Wah Ron. Kamu sangat tidak berpegang teguh pada perkataan sendiri," ucap Sisy.


"Apa?! Aku benar-benar tidak merindukanmu. Sama sekali tidak," bantah Ron.


"Sedikitpun?" tanya Sisy.


Ron mengangguk. "Iya. Tidak ada sedikitpun aku merindukanmu dan Hermione."


Sisy mengetuk dagunya dan berpura-pura berpikir. "Harry tidak mungkin berbohong. Kalau begitu haruskah kita buktikan dengan melihat masa lalu?"


Ron terkejut mendengarnya. "Jangan!"


"Kenapa? Bukankah kamu bilang kalau tidak merindukan aku dan Hermione?" tanya Sisy.


Ron diam dan mencoba mencari alasan.


"Jawab aku, Ron," desak Sisy.


"Uh iya iya. Aku sedikit merindukanmu dan Hermione," akunya.


Sisy memicingkan matanya ke arah Ron. "Yakin hanya sedikit?"


"Banyak! Aku sangat merindukan kalian. Puas?!" tanya Ron kesal.


Sisy mengangguk puas. "Lebih jujurlah lain kali, Ron."


"Oh iya, terima kasih untuk catatanmu dan Hermione. Berkat itu nilaiku lulus," celetuk Harry.


"Senang mendengarnya," balas Sisy tersenyum.


"Yah aku juga mengucapkan terima kasih untuk itu," timpal Ron.


Sisy mengernyitkan dahinya. "Huh? Aku tidak memberikan catatan kepadamu. Untuk apa kamu berterima kasih?"


"Harry meminjamkan catatannya padaku jadi aku rasa harus mengucapkan terima kasih juga," jawab Ron.


"Ya, sama-sama," balas Sisy.


Mereka bertiga mengobrolkan banyak hal. Saat sedang asik mengobrol, Sisy melihat Draco yang sedang berjalan bersama Astoria.


"Mereka berdua semakin dekat saja," celetuk Ron.


"Siapa?" tanya Harry.


"Bocah Slytherin dan gadis menyebalkan itu," jawab Ron.


"Semakin dekat? Apa maksudmu, Ron?" tanya Sisy terkejut.


"Kamu tidak tau? Semenjak dari camping itu, aku sering melihat bocah Slytherin itu bersama nona Greengrass," jawab Ron.


"Hanya itu, kan?" tanya Sisy lagi.


"George dan Fred juga memberitahuku kalau mereka berdua sering terlihat sedang berjalan-jalan di pusat kota," jawab Ron.


"George dan Fred pasti salah mendapatkan informasi," sanggah Sisy.


"Kenapa kamu tampak sangat menyangkal tentang itu, Sisy?" tanya Harry heran.


"Iya. Kenapa kelihatannya kamu sangat tidak suka kalau bocah Slytherin itu dekat dengan nona Greengrass?" tanya Ron juga.


"Tidak apa-apa," jawab Sisy singkat.


Benarkah Draco dan nona Greengrass sering jalan bersama? Tanya Sisy dalam hatinya.


Dia mencoba untuk tidak memikirkannya dan lanjut berbicara dengan Harry dan Ron.


Keesokan harinya. Para murid Hogwarts sudah mulai masuk kelas lagi. Kelas pertama Sisy pada semester ini adalah pemeliharaan hewan magis bersama Newt.


"Selamat datang kembali di kelas pemeliharaan hewan magis. Padahal saya pernah bilang kalau saya hanyalah guru sementara tapi ternyata saya harus mengajari kalian sampai semester akhir ini. Yah tidak masalah karena saya menyukai kalian," ujar Newt.


"Saya juga menyukai anda, tuan Scamander," celetuk salah satu gadis dari Gryffindor.


"Maksud saya menyukai sebagai guru dan murid ya bukan menyukai dalam arti lain. Baiklah kita mulai saja kelasnya," sambung Newt.


Saat kelas sedang berlangsung, tiba-tiba saja terdengar seseorang merintih kesakitan.


Newt langsung menghampiri orang tersebut. " Astaga anda terluka."


"Saya akan membawa Draco ke madam Pomfrey," ucap Astoria.


"Tidak perlu. Biar nona Garcia saja yang membawanya. Dia tau obatnya," tolak Newt.


Newt memanggil Sisy dan gadis itu pun mendekat.


"Tolong obati Draco. Obatnya ada di ruangan saya," perintah Newt.


"Baik, tuan Scamander." Sisy membawa Draco ke ruangan Newt.


Sesampainya di ruangan Newt, Sisy langsung mengambil obatnya dan mulai mengobati Draco.


"Lagi lagi kamu terluka di kelas pemeliharaan hewan magis," ucap Sisy.


Draco hanya diam mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Aku dengar akhir-akhir ini kamu semakin dekat dengan nona Greengrass dan kalian sering terlihat sedang jalan bersama di pusat kota," ucap Sisy lagi.


"Iya," jawab Draco singkat.


"Kenapa?" tanya Sisy.


Draco memandang Sisy bingung. "Kenapa apa?"


"Kenapa kamu jalan-jalan bersama nona Greengrass di saat kamu punya kekasih?" tanya Sisy mengulanginya.


"Aku hanya ingin jalan-jalan dan juga dia yang mengajakku," jawab Draco.


"Kamu bisa menolaknya, Draco," balas Sisy.


Draco terdiam.


Sisy menatap mata Draco dan bertanya, "Sebenarnya ada apa denganmu? Sejak hari itu kamu tak ada kabar. Kamu juga tak pernah membalas suratku."


Draco memalingkan wajahnya. "Tidak ada apa-apa denganku. Apakah salah kalau aku jalan-jalan dengan yang lain? Lalu untuk masalah suratmu itu aku tidak membacanya karena sibuk."


Sisy terdiam.


"Aku be—"


"Kamu salah jalan-jalan dengan perempuan lain saat kamu sendiri sudah memiliki kekasih. Lalu untuk surat itu, tidak bisakah kamu memberitahuku dalam surat sekali saja? Jadi aku tak perlu menunggu balasan darimu," potong Sisy.


"Jangan berlebihan," tutur Draco.


"Berlebihan?! Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?" tanya Sisy dengan nada tinggi.


"Seperti ini apa?" tanya Draco.


Laki-laki itu terus saja pura-pura tak mengerti dan itu membuat Sisy menjadi semakin kesal.


"Sudahlah. Aku rasa memang ada yang salah dengan otakmu itu!" Sisy pun pergi meninggalkan Draco sendirian di sana.


Dia terus berlari mencari tempat sepi untuk meluapkan emosinya.


"Padahal baru kemarin kamu terus memintaku untuk menikah denganmu," gumam Sisy.


Gadis itu terus berteriak dan menangis di situ. Hatinya benar-benar sakit melihat sikap Draco yang seperti itu. Dia tak tau ada apa dengan kekasihnya hingga bersikap seperti tadi.


Setelah puas menangis dan meluapkan emosinya, Sisy berkata pada dirinya sendiri. "Sebelum Draco minta maaf dan menjelaskannya, aku tidak akan berbicara padanya!"


Sisy pun kembali ke asrama dan tidur. Untungnya hari ini dia hanya ada satu kelas yaitu kelas pemeliharaan hewan magis dan kelas itu sudah selesai.