Different

Different
Bab 4



Syila POV


Aku menutup pintu kamar dengan kasar. Segera membalikkan tubuh dan meluruhkan tubuhku begitu saja di balik pintu. Mataku memanas,lalu memburam,dan cairan bening yang sudah mengumpul di pelupuk mata ku meluncur begitu saja di pipi putih mulus ku. Aku menenggelamkan kepalaku di lipatan kedua tangan yang berada di atas kedua lutut ku yang ku tekuk. Aku menangis dalam diam. Walaupun kamar ini kedap suara,aku tetap tidak mau kalau sampai ada orang yang melihat ku atau mendengarku menangis seperti ini.


Kata kata Syifa tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku. Apakah benar aku orang yang telah merenggut kebahagiaan dia? Apakah aku yang membuat dia menjadi diperalat oleh papa? Apakah...aku yang mencoba mendekati Devan?


Heh...


Tidak salah? Bukankah dia yang merebut kebahagiaan ku? Yang dengan sengaja pemprovikasi diriku agar terlihat buruk dimata papa?


Lalu...aku yang menyebabkan dia menjadi diperalat oleh papa? Helooowww....bukannya dia yang selalu membuatku terlihat buruk dimata papa,dan sekarang dimata papa hanya dia lah yang terbaik,hanya dia lah yang beliau bangga-banggakan,jadi...bukan salahku,bukan? jika dia menjadi diperalat oleh papa.


Dan apa tadi?! Aku? Mendekati Devan? Bisakah aku tertawa di depan mukanya agar aku terlihat semakin bodoh dimatanya? Ada-ada saja. Dimatanya apapun yang aku lakukan pasti salah,bahkan mungkin aku bernafas pun salah dimatanya.


Aku mengusap air mataku kasar. Lalu segera beranjak dari sana, memilih berganti pakaian dan tidur.


***


Sudah lewat beberapa hari setelah kejadian tersebut. Tapi aku dan dia masih saja diam-diaman. Tidak. Kalau dia mungkin sudah terbiasa diam,tapi...aku yang aneh disini. Mau dirumah,maupun di sekolah aku akhir-akhir ini menjadi pendiam. Bahkan Devan pun ku acuhkan. Bukan. Bukan karena pertanyaan Syifa berhari-hari lalu yang membuatku menghindari Devan. Tapi memang aku nya saja yang sengaja menghindari Devan,karena apa? Karena aku takut,aku semakin jatuh hati kepadanya dan itu akan semakin menimbulkan masalah padaku.


Disekolah,aku hanya berkumpul dengan kedua sahabatku saja. Jika Devan menghampiriku,secepat mungkin aku harus menjauh darinya. Jika dia memanggilku,aku selalu pura-pura tidak dengar.


Banyak yang mencemooh ku karena dikira aku cewek yang sok jual mahal. Tapi apa peduliku pada ucapan orang lain? Kayak gak punya masalah aja,aku mau ngeladenin orang-orang bermulut nyinyir seperti itu.


Hei,kalian jangan tanya mengapa aku memanggil mereka orang-orang bermulut nyinyir. Bagaimana tidak ku panggil orang-orang bermulut nyinyir,kalau saat aku sedang dekat dengan Devan,dikira aku yang kegenitan,dikira aku yang kecentilan,dikira aku yang murahan. Giliran aku sengaja menjauh,sekarang dikira cewek sok jual mahal,sok ngartis,sok kecantikan. Ingin rasanya ku menggaruk wajah mereka yang dirawat mahal-mahal,dijejali dengan semua merk skin care,dempul,dan blush on yang merahnya semerah pipi badut. Belum lagi bulu mata palsu mereka yang lebat dan panjang,saking lebat dan panjangnya,bahkan bisa untuk menyapu dedaunan di halaman sekolah. Meringis aku melihat teman-teman seangkatanku yang berdandan seperti itu.


Sudah lah...


Mengapa aku jadi mengkritik mengenai penampilan mereka juga. Pokoknya,saat ini aku sedang berusaha berlari menghindari kejaran Devan yang langkah kakinya 2 kali lipat dari langkah kaki ku. Aku melewati koridor kelas 10,11,bahkan 12,lalu mengitari lapangan basket sebanyak 2 kali,dan sekarang aku sedang main petak umpet dengannya. Tentu saja aku yang bersembunyi sedangkan dia yang mencari. Ku kasih tau sekarang aku sedang bersmbunyi dimana.


Di ruang guru.


Ya!


Lebih tepatnya di bawah meja bu Gina yang tidak ada pemiliknya. Sekilas info nih ya, bu Gina itu guru yang badannya paling besar ketimbang bu guru lainnya,dan juga ketidak pekaan beliau membuat para siswi ingin sekali menabok bokongnya yang juga selebar badannya,alias ZONK!


Jadi...jangan pernah sekali-kali kalian bicara setengah-setengah dengan beliau, apalagi main kode kodean. Karena saya yakin,kalian pasti akan mengacak-acak rambut frustasi,atau menjambaki rambut kalian sendiri sampai jebol. Tapi,beliau adalah guru yang sangat friendly dengan semua murid-muridnya. Jadi...walaupun kepekaannya bikin murid-murid geregetan ingin menjebol rambut kepala mereka sendiri,tapi beliau tetap disenangi oleh para siswa siswi.


Dan sekarang,hal itu sedang terjadi dengan ku. Aku sungguh-sungguh lupa dengan sekilas info tersebut,mengakibat kan aku seperti orang gila yang sedang menggerak-gerakkan tangan kanan ku yang menunjukkan gestur untuk menjauh terlebih dahulu.



Bu Gina mengangkat sebelah alisnya,lalu malah mendekat. Padahal intrupsi tanganku memintanya menjauh dan jangan mendekat,karena kalau sampai dia disini dan mengajakku berbicara,bisa ketahuan Devan aku.


Bu Gina menghampiri ku lalu ikut berjongkok. Jika kalian berfikir kalau bu Gina ini tidak bisa berjongkok, adalah benar. Ia sangat kesusahan sekali hanya untuk ingin jongkok,sampai-sampai terjengkang dan kebablasan menjadi terduduk.


"Hehehe...ibu gak bisa ikut jongkok Syil,duduk aja ya?"ucapnya sambil cengengesan. Syila hanya bisa menyengir terpaksa.


"Loh,ibu ki-"


"Sssttttt,jangan keras keras bu"bu Gina mengangguk. Bu Gina juga mencondongkan tubuhnya ke arahku,lalu menjawab dengan berbisik.


"Maaf,ibu kira tadi kamu malah meminta ibu kesini" ucapnya sambil menyengir tanpa dosa.Aku menghembuskan nafas kasar.


"Lagian kamu isyaratnya kayak begitu sih,saya kira diminta kesini"lanjut bu Gina.


"Terus saya harus gimana bu? Kalau saya pakai telunjuk itu baru...meminta ibu buat kesini"



"Hush,gak boleh pakai telunjuk kalo ada di Filipina,jika meminta seseorang untuk mendekat,itu dianggap tidak sopan,karena gestur seperti itu biasanya untuk memanggil anjing" jelasnya.


"Tapi kan ini di Indonesia bu,bukan Filipina"


"Oh iya ya..."bu Gina mengangguk-angguk paham.


Lah...kok kita malah bahas masalah gestur tubuh sih.


"Yaudah bu,ibu bisa pergi dulu gak? Saya lagi main petak umpet nih bu. Takut ketahuan kalau ada ibu disini. Maaf banget ya bu,saya pinjem dulu kolong mejanya"


"Oh...oke. Iya,gak papa. Ibu paham gimana keselnya kalau pas lagi ngumpet terus ketahuan" ucapnya lalu berusaha untuk bangkit. Aku bernafas lega,karena atas pengertian dan kebaikan bu Gina,aku bisa ngumpet dari Deva. Tapi...


10 detik


15 detik


20 detik


30 detik


"Bu,kok gak bangun-bangun?"tanya ku kebingungan. Pasalnya beliau tadi sudah mengizinkan aku buat ngumpet disini bukan? Mengapa masih belum beranjak?


"Hehehe...gak bisa bangun" Rahang bawahku jatuh seketika,aku menganga.


"Syil,bantuin ibu ya? Nanti ibu gak jadi pergi-pergi loh"pinta Bu Gina dengan muka memelasnya. Aku menghela nafas kasar. Kalo aku bangun...nanti ada Devan lewat dan melihatku. Tapi kalo gak dibantuin...kasihan,dosa juga udah mbantah omongan guru.


Saat sedang berfikir,tiba-tiba tubuh bu Gina sudah terangkat berdiri. Kelihatannya ada yang sedang membantunya. Tapi siapa?


Entah apa yang mereka bicarakan,karena terdengar berbisik. Lalu bu Gina melangkah pergi,karena aku melihat sepatunya melangkah. Dan...ada sepatu hitam khas siswa laki-laki di sekolahnya. Ia membungkuk,menoleh ke arahku yang berada di kolong meja bu Gina,sekujur tubuh ku sudah keringat dingin. Senyuman tersungging di sudut bibirnya. Jangan harap kalau ia tersenyum manis. Bukan. Dia bukan tersenyum manis,melainkan...tersenyum smirk.


"Ke-te-mu"


~XXX~