
Sejak hari itu, Sisy masih terus sendirian. Belum ada percakapan apapun lagi antara dia dengan teman-temannya. Harry sudah mencoba membujuk Hermione dan Ron tapi mereka tidak ingin mendengarkannya. Sisy juga tak bisa berbuat apa-apa kalau mereka sudah seperti itu. Walaupun Hermione dan Ron sedang marah padanya, Sisy tetap melindungi mereka diam-diam. Menggunakan kemampuan melihat masa depannya, Sisy selalu menolong mereka tepat waktu. Sebenarnya Harry merasa sangat tidak enak padanya karena tak bisa membujuk Hermione dan Ron tapi Sisy selalu berkata kalau dia baik-baik saja dan akan menunggu sampai mereka merasa lebih baik.
Selama Sisy bertengkar dengan Hermione dan Ron, dia menjadi lebih dekat dengan Draco. Entah mengapa Draco selalu berada di dekatnya saat dia merasa sedih dan lelah.
Sampai datanglah hari dimana pengumuman peserta turnamen sihir Triwizard tiba. Semua murid berkumpul di aula.
"Baiklah anak-anak, sekarang adalah waktunya untuk mengumumkan pesertanya. Siapapun yang namanya dipanggil, silakan maju ke depan," ucap profesor Dumbledore.
Semoga aku terpilih. Aku harus ikut turnamen itu untuk menyelamatkan teman-temanku. Batin Sisy.
"Kenapa kamu tegang seperti itu Sisy?" tanya Luna memecah lamunan Sisy.
"Ah tidak. Aku tidak tegang," elak Sisy.
"Kamu sangat berharap bisa berpartisipasi dalam turnamen kali ini ya?" tanyanya lagi.
Sisy mengangguk.
"Yah aku akan mendoakannya agar namamu terpanggil," ucapnya.
"Terima kasih, Luna," tutur Sisy.
3 kertas keluar dari piala besar itu. Profesor Dumbledore mulai membuka kertas-kertasnya dan membacanya, "Victor Krum, Fleur Delacour, dan Cedric Diggory. Berikut adalah nama-nama peserta turnamen sihir Triwizard yang mewakili tiap sekolah."
Mereka bertiga maju dan mengikuti salah satu profesor.
" Sekian da—"
Tiba-tiba keluar satu kertas lagi dari piala besar itu. Profesor Dumbledore membuka dan membacanya lagi. "Harry Potter."
Semua murid mulai berbisik-bisik.
"Sudah kubilang kalau Potter akan memasukkan namanya ke dalam piala besar itu," ucap Draco.
"Aku tidak memasukkannya!" sanggah Harry.
"Kau benar-benar licik, Harry!" hina Ron. Dia pun pergi dari sana.
"Aku benar-benar tidak memasukkan namaku ke piala itu, Hermione," ucap Harry ke Hermione.
"Aku percaya padamu, Harry," jawab Hermione yang kemudian segera mengejar Ron.
Para murid pun bubar dari aula. Peserta turnamen sihir Triwizard mulai dikumpulkan dalam satu ruangan untuk diberikan arahan.
"Akan ada 3 macam pertandingan. Saya harap kalian tidak melakukan kecurangan apapun," ucap profesor Hooch selaku pengawas turnamen sihir Triwizard tahun ini.
"Baik, profesor," jawab mereka.
"Kalian boleh pergi. Jangan lupa untuk banyak istirahat dan persiapkan diri kalian."
Profesor Hooch pun pergi dan para peserta juga keluar dari ruangan itu.
Sisy yang dari tadi telah menunggu Harry keluar, langsung menariknya. "Harry, aku tau kamu akan ikut dalam turnamen ini."
Mata Harry mendelik. "Kamu tidak percaya padaku?!"
Sisy menggeleng cepat. "No. I trust you, Harry."
"Lalu kenapa kamu berkata seperti itu?" tanyanya.
Sisy menatap Harry. "Kamu lupa?"
Harry mencoba mengingat sesuatu. "Ah iya, aku ingat sekarang."
"Aku selalu mempercayaimu," tutur Sisy.
"Terima kasih, Sisy. Jadi apa yang kamu lihat?" tanya Harry.
Sisy nampak ragu untuk menjawabnya.
Harry menggenggam tangannya dan memohon. "Sisy? Kumohon, beritahu aku. Pasti akan ada sesuatu yang terjadi, kan?"
"Diggory akan mati di tugas terakhir," jawab Sisy dengan suara pelan.
Harry terkejut mendengarnya dan mencekram bahu Sisy. "Kamu serius?!"
Sisy mengangguk. "Kamu tenang saja. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Kenapa Diggory bisa mati?" tanya Harry.
"Bisakah aku tidak menjawab ini?" tawarnya.
Harry menatap tajam ke arahnya. "Sisy!"
"Pangeran kegelapan," jawab Sisy singkat.
Harry langsung mengerti maksud perkataan Sisy. Saking terkejutnya, Harry sampai terdiam.
"Kamu tenang saja, Harry. Aku pasti akan menyelamatkannya!" tegas Sisy.
"Tidak, Sisy. Pangeran kegelapan adalah lawan yang sangat kuat. Aku yang akan menyelamatkan Diggory. Kamu jangan coba-coba untuk ikut melawannya!" peringat Harry. Untuk sekarang Sisy memilih mengiyakan perintah Harry. Lagi pula mau Harry melarangnya seperti apapun, Sisy tetap akan melawannya untuk menyelamatkan teman-temannya.
Turnamen sihir Triwizard pun dimulai. Para peserta akan melakukan tugas pertamanya.
Profesor Hooch sebagai pengawas turnamen sihir Triwizard mulai berbicara, "Tugas pertama untuk para peserta turnamen sihir Triwizard adalah mengambil telur emas yang dijaga oleh naga. Kalian harus bertahan dari serangan naga dan mengambil telur emas itu. Kalian siap?"
"Siap," jawab keempat peserta turnamen.
Peluit dibunyikan dan para peserta mulai mencari cara untuk mengambil telur emas itu. Singkat cerita, yang berhasil mengambil telur emas itu adalah Harry. Penonton bersorak senang.
Hari kedua pun tiba.
"Kira-kira apa tugas keduanya? Kenapa kita diarahkan di pinggir laut?" tanya salah satu penonton.
"Sisy, kenapa kamu tegang? Aku jadi merasa dejavu," ucap Luna.
"Aku harus mencari tuan Scamander." Sisy pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Luna. Sisy meninggalkan Luna yang menatapnya dengan bingung.
"Baiklah. Para peserta, kalian harus menyelamatkan para sandera yang ada di bawah laut ini. Kalian harus menyelamatkan mereka dengan cepat supaya mendapat poin tinggi. Sekarang bersiaplah di posisi masing-masing. Ketika peluit berbunyi, melompatlah ke air dan segera selamatkan para sandera," ucap profesor Hooch.
Peluit pun dibunyikan dan para peserta langsung melompat ke dalam air. Mereka mulai mencari para sandera. Harry sangat terkejut karena Hermione dan Ron dijadikan sandera dalam tugas kali ini, bahkan Cho juga. Harry segera berenang ke arah mereka dan berniat menyelamatkannya tapi Grindylow menyerangnya. Para peserta turnamen lainnya juga kesulitan untuk menyelamatkan para sandera karena mereka juga diserang. Harry berusaha sekuat tenaga untuk melawan Grindylow itu tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Sudah 30 menit para peserta turnamen berada di dalam air dan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Para penonton mulai bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam air.
"Kenapa mereka belum keluar juga?" tanya Merlin.
"Entahlah," jawab Pansy acuh.
"Apakah sesuatu terjadi pada mereka?" tanya Astoria yang terlihat sangat khawatir.
"Tidak perlu khawatir, Astoria. Mereka akan baik-baik saja," jawab Pansy.
"Aku tidak bisa hanya duduk diam. Mereka teman-teman kita, Pansy. Aku harus menyelamatkannya," ucap Astoria yang sudah berdiri dari kursinya.
Pansy menahan lengan Astoria. "Bagaimana kamu akan menyelamatkan mereka, Astoria?"
"Aku akan pikirkan nanti. Yang penting mereka harus diselamatkan dulu," jawabnya.
"Kau hanya akan mati konyol kalau masuk ke dalam air, Astoria. Para peserta turnamen telah dilatih menahan nafas sedangkan kau akan langsung sesak nafas saat masuk ke air," ucap Draco.
"Ta—"
Saat Astoria ingin mengatakan sesuatu lagi, tiba-tiba muncul sesuatu yang terlihat seperti kuda tapi terbentuk dari kumpulan rumput laut. Terlihat kalau para peserta dan sanderanya turun dari atas tubuh hewan itu. Dan Sisy terlihat di antara mereka.
"Sisy?!" ucap Draco terkejut melihat Sisy yang basah kuyup.
Draco hendak turun ke bawah untuk menghampiri Sisy tapi Astoria mencoba menahannya. "Kamu mau kemana, Draco?"
"Aku harus ke bawah. Sisy ada di sana," jawabnya cepat.
"Nona Garcia, baik-baik saja. Kamu tidak perlu ke bawah sana," larang Astoria.
"Tidak. Aku harus melihat keadaannya." Draco langsung berlari ke bawah dan menghampiri Sisy.
Awas saja, aku akan membuat perhitungan pada gadis sialan itu. Batin seseorang.
"Nona Garcia? Kenapa anda bisa keluar bersama para peserta dan sandera?" tanya profesor Dumbledore.
"Ada yang tidak beres dengan Grindylow itu. Mereka menyerang para peserta secara berlebihan yang mengakibatkan para peserta tidak bisa menyelamatkan sanderanya," jelas Sisy.
Para profesor terkejut mendengar ucapan Sisy. Tak lama para peserta dan sanderanya pun sadar. Mereka batuk dan memuntahkan air.
"Syukurlah kalian semua baik-baik saja," ucap Sisy lega saat melihat semua teman-temannya yang telah sadar.
Harry, Hermione, dan Ron bingung dengan keadaan sekarang tapi mereka lebih bingung saat melihat Sisy yang basah kuyup juga.
"Sisy," panggil Draco.
Draco langsung menyelimuti Sisy dengan handuk.
"Terima kasih, Draco," ucap Sisy.
"Kenapa kamu bisa keluar dari air bersama yang lain?" tanya Draco.
"Aku—"
Sebelum Sisy menjawabnya, dia pun pingsan. Harry, Hermione, dan Ron segera mendekatinya tapi dilarang oleh Draco.
"Kenapa kalian khawatir dengannya?!" tanya Draco kesal.
"Tentu saja karena kami adalah temannya," jawab Hermione.
"Teman? Teman macam apa yang tidak pernah ada di saat dia sedang sedih?! Kalian tidak pantas menyebut diri kalian sebagai temannya!" bentak Draco.
Profesor Dumbledore langsung menghampiri Sisy dan memeriksa keadaannya.
"Detak jantung nona Garcia melemah. Cepat bawa nona Garcia ke rumah sakit!" perintah profesor Dumbledore.
Newt tiba-tiba saja datang dan bertanya, "Apa yang terjadi dengan nona Garcia?"
"Sepertinya nona Garcia berada di dalam air terlalu lama sehingga dia menjadi seperti ini," jawab profesor Hooch.
"Ini semua salahku," ucap Newt.
"Apa maksudmu?" tanya profesor Dumbledore.
"Beberapa menit yang lalu nona Garcia datang padaku dan memaksaku untuk meminjamkan kelpie. Aku tidak sempat bertanya karena nona Garcia langsung mengambil koper milikku. Aku tidak tau kalau ini adalah tujuan nona Garcia meminjam kelpie," jawab Newt.
"Datanglah ke ruanganku, Newt. Ada yang harus aku bicarakan," perintah profesor Dumbledore.
"Baik," jawab Newt.
Newt ingin menggendong Sisy tapi Draco lebih dulu menggendongnya. Draco membawa Sisy ke rumah sakit Hogwarts. Dengan cepat madam Pomfrey menangani Sisy. Madam Pomfrey menyuruh semua orang untuk keluar dari ruangan. Draco pun menunggu di luar ruangan dengan perasaan gelisah.
"Kembalilah ke asrama, tuan Malfoy. Anda harus ganti pakaian anda karena basah," perintah profesor Dumbledore.
"Saya akan kembali setelah memastikan Sisy baik-baik saja," balas Draco.
"Nona Garcia akan baik-baik saja. Madam Pomfrey adalah dokter yang hebat," sambungnya.
Dia masih tetap diam di situ. Akhirnya profesor Dumbledore menggunakan sihirnya untuk mengeringkan pakaian Draco.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Profesor Dumbledore pergi meninggalkan Draco yang masih setia berdiri di depan pintu itu.