Different

Different
Horcrux terakhir



Mereka terus berlari sampai akhirnya melihat orang yang dicari.


"Harry," panggil Sisy.


Harry menoleh ke arahnya. "Apa yang kamu lakukan di sini, Sisy?! Di sini berbahaya."


Tanpa menjawab pertanyaannya, Sisy bertanya balik. "Apa yang terjadi denganmu?"


"Ada seseorang menyerang tapi aku berhasil lari darinya," jawab Harry.


Sisy langsung mengobati temannya itu dan lukanya pun perlahan membaik. Namun seperti yang sebelumnya, lagi lagi darah mengucur dari hidungnya.


"Sisy, kamu tidak bisa melakukan ini terus," tutur Harry.


"Tidak apa-apa. Sedikit lagi semuanya akan selesai," balasnya santai.


"Bagaimana anda bisa menyembuhkan lukanya dengan mudah?" tanya profesor Snape yang dari tadi sudah penasaran.


"I have a different magic from the others. Maka dari itu saya menjanjikan anda untuk membantu melindungi Draco," jelas Sisy.


"Tapi kenapa an—"


"Ini efek kelelahan, profesor Snape. Sebelumnya saya tidak pernah seperti ini." Sisy menoleh ke arah Harry dan menatapnya. "Seseorang sedang mengejarmu sekarang."


Harry mengernyitkan dahinya. "Siapa?"


"Aku tidak tau tapi kamu harus bersembunyi bersama profesor Snape," jawabnya.


"Bagaimana dengan anda?" tanya profesor Snape.


"Saya harus mencari tuan Scamander. Profesor, saya titipkan Harry pada anda," ucap Sisy yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Sisy melanjutkan perjalanannya mencari Newt tapi seseorang menarik tangannya dan membukam mulutnya. "Ini aku."


Sisy melihat orang yang baru saja menariknya. Dia mulai tenang setelah melihat orang yang menariknya.


"Kenapa kamu ada di sini?!" tanyanya dengan berbisik.


"Aku di sini untuk mengalahkannya," jawab Sisy.


Matanya membulat sempurna. "Mengalahkannya?! Jangan gila, Daisy! Dia bukanlah orang yang mudah untuk dikalahkan!"


"Kamu melupakannya atau memang tidak pernah mengingatnya?" tanya Sisy ketus.


Dia mengernyitkan dahinya.


"My magic is different from others," sambung Sisy.


"Apa maksudnya berbeda dari yang lain?" tanyanya tak mengerti.


Saat Sisy ingin menjawabnya, tiba-tiba zouwu lari ke arahnya.


"Kenapa kamu ada di sini? Dimana tuan Scamander?" tanya Sisy pada hewan itu.


Hewan itu seperti menggerakkan tubuhnya seakan meminta gadis itu untuk naik ke atasnya. Sisy yang mengerti gerak-geriknya pun menurutinya.


"Ikutlah dengan kami, Draco," ajak Sisy.


"Kamu yakin hewan ini aman?" tanya Draco.


"Tentu saja," jawabnya.


Draco pun ikut naik ke tubuh hewan itu.


Zouwu segera lari ke suatu tempat yang ternyata hewan itu mengantarkan mereka ke tempat Newt berada.


Betapa terkejutnya Sisy saat melihat Newt yang terkulai lemas di lantai. Dia segera turun dari tubuh zouwu dan menghampiri Newt. "Apa yang terjadi dengan anda?!"


Pria itu menatapnya. "Nona Garcia? Syukurlah anda baik-baik saja."


"Jawab pertanyaan saya, tuan Scamander," desak Sisy.


"Anggota death eater mengepung saya dan menyerang saya," jawab Newt.


"Kenapa anda tidak mengeluarkan hewan magis anda?" tanya Sisy.


"Entah mengapa mereka semua sulit untuk dikendalikan," jawabnya.


Sisy terkejut mendengar jawaban yang diberikan olehnya. "Tidak mungkin. Anda adalah pemiliknya."


"Saya juga tidak tau, nona Garcia." Terlalu banyak bicara membuat Newt memuntahkan darah.


"Astaga saya lupa kalau anda sedang terluka." Sisy mulai menyembuhkan profesornya itu. Perlahan lukanya mulai membaik.


Draco yang menyaksikannya sangat terkejut. Dia berpikir bagaimana bisa Sisy menyembuhkan luka yang begitu parah.


"Selesai."


"Terima kasih, nona Garcia."


Lagi lagi darah segar keluar dari tubuh Sisy.


"Sisy?!"


"Nona Garcia?!"


Sisy mengangkat tangannya memberi isyarat. "Aku baik-baik saja."


"Ta—"


"Aku baik-baik saja, Draco," selanya.


"Jadi maksudmu sihir yang berbeda dengan yang lain itu adalah ini?" tanya Draco.


Sisy menganggukkan kepalanya. "Sekarang kamu percaya, kan?"


Draco terdiam. Dia masih bingung sihir apa yang sebenarnya dimiliki gadis di hadapannya itu.


"Aku yakin kamu masih bingung sekarang," ujar Sisy.


"Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Newt tak mengerti.


Dengan senyuman yang menampilkan deretan gigi, Sisy menjawab, "Rahasia."


Mereka bertiga pergi dari sana dengan bantuan zouwu.


Akhirnya mereka sampai di aula besar. Di sana telah berkumpul para profesor Hogwarts dan Voldemort bersama para pengikutnya.


Draco hendak pergi ke sisi Voldemort tapi Sisy menahannya. "Aku akan melindungimu."


"Dengarkan aku semuanya, Harry Potter telah mati," ucap Voldemort pada semuanya.


Secepat ini?! Omong-omong dimana profesor Snape? Batin Sisy.


"Potter telah mati?!" ucap Draco terkejut.


"Nona Garcia, ini bohong, kan?" tanya Newt.


Sisy terpaksa menggelengkan kepalanya untuk menipu mereka berdua. Walaupun Newt ada di pihaknya tapi dia tak bisa memberitahunya.


Mata Voldemort tertuju pada mereka bertiga. "Draco Malfoy, anggota termuda death eater. Kemarilah, nak."


Draco nampak ragu. Dia bingung harus memilih siapa. Draco ingin berada di pihak Hogwarts tapi dia takut dengan Voldemort.


"Aku akan melindungimu, Draco," ucap Sisy untuk kesekian kalinya.


Tetapi laki-laki itu masih menunjukkan keraguan sampai akhirnya sang ibu memanggil namanya. "Draco, kemarilah sayang."


Akhirnya Draco memilih untuk berada di pihak Voldemort.


"Maaf," bisiknya sebelum dia berjalan ke arah Voldemort.


Voldemort memeluk Draco dan mengelus rambut pirangnya. "Bagus nak. Berdirilah di pihakku karena Potter telah mati."


Tiba-tiba Harry yang berada digendongan Hagrid pun bangkit.


Nagini, salah satu horcrux Voldemort menyadarinya dan hendak menyerang Harry tapi Neville segera memenggal kepala Nagini saat wujudnya berbentuk ular menggunakan pedang Gryffindor. Akhirnya Nagini, salah satu horcrux milik Voldemort pun musnah.


Draco yang juga melihat itu langsung berlari ke arah Harry dan memberikan tongkat sihirnya.


Dengan cepat, Harry menerima tongkat sihir milik Draco dan memantulkan kutukan kematian kepada Voldemort dengan mantra pelucutan senjata. "Expelliarmus."


Setelah tongkat sihir Voldemort terlempar darinya, barulah Harry menggunakan mantra kutukan. "Avada kedavra."


Seketika tubuh Voldemort terbaring kaku.


Semuamya bersorak senang.


"Pangeran kegelapan telah kalah!"


"Hidup Harry Potter!"


Sisy dan Newt mendekati mereka.


Sisy memeluk temannya itu. "Kamu berhasil, Harry."


Hermione dan Ron juga memeluk mereka berdua. Keempat sahabat itu saling berpelukan dan menangis. Mereka benar-benar bahagia karena perjuangannya berhasil.


"Kalian sangat hebat, anak-anak," puji profesor Dumbledore.


"Kami tidak akan bisa berhasil tanpa bantuan dari semuanya," jawab mereka berempat.


Profesor Dumbledore menatap ke arah semuanya. "Pangeran kegelapan telah kalah. Sekarang tidak ada lagi ketakutan dan hiduplah dengan bebas."


Para anggota death eater merasa sangat lega. Rasanya beban yang ada di tubuh mereka hilang seketika.


"Terima kasih, Draco," ucap Harry pada Draco.


Saat semua orang sedang tersenyum bahagia. Tiba-tiba saja pangeran kegelapan bangkit lagi. Semuanya terkejut sekaligus takut.


Pangeran kegelapan itu tertawa. "Kalian kira aku akan mati semudah itu?"


"Bagaimana dia bisa hidup kembali?!" tanya Hermione terkejut.


Pangeran kegelapan tersenyum licik. "Kalian memang telah menghancurkan semua horcrux milikku tapi ada satu horcrux yang menyimpan jiwaku paling banyak dan belum musnah."


"Jadi dia bisa hidup kembali karena ada satu horcrux yang belum musnah itu?" tanya Ron.


"Benar. Cukup dengan satu horcrux itu saja aku tak bisa mati kecuali horcrux itu musnah," jelasnya.


"Apa horcrux terakhir itu?" tanya Sisy.


"Sebenarnya aku tidak mau memberitahukannya tapi sepertinya akan seru kalau kalian mengetahui apa horcrux itu. Jadi horcrux terakhir itu adalah Harry Potter," jawabnya sambil menunjuk ke arah Harry.