Different

Different
10 years later



10 tahun telah berlalu. Sejak kejadian itu, dunia menjadi damai. Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi kegelapan, dan tak ada lagi seseorang yang tak boleh disebut namanya.


Itu semua berkat seorang gadis yang bernama Daisy Garcia. Semua orang sangat berhutang budi padanya tapi sayangnya tak ada satupun dari mereka yang bisa menyampaikan rasa terima kasihnya karena orang yang berjasa itu telah pergi dari dunia ini.


Hal itu bukanlah rahasia umum lagi. Siapapun telah mengetahui bahwa seseorang bernama Daisy Garcia mengorbankan dirinya untuk menyelematkan semuanya dari kegelapan.


Cukup banyak perubahan yang terjadi setelah kejadian itu. Harry yang sudah bekerja menjadi Auror di Kementerian Sihir, Hermione yang telah menjadi menteri perlindungan muggle, Ron yang juga bekerja di Kementerian Sihir, dan seseorang yang telah sukses dengan perusahaannya.


Mereka semua sudah sukses di jalannya masing-masing sekarang dan seharusnya mereka merasa senang untuk itu tapi bagian dari hatinya masih berada di 10 tahun yang lalu.


"Aku merindukannya..." lirih Hermione.


"Kenapa saat itu bukan aku saja yang mati?" gumam Harry.


"Sudahlah kalian berdua. Sisy tak akan senang melihat kalian seperti ini," ucap Ron pada dua temannya itu. Dia juga merasa kehilangan dan merindukan temannya itu, tapi dirinya sadar tak ada yang bisa diperbuat olehnya. Gadis itu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan semuanya.


"Hei, daripada bersedih seperti itu lebih baik kita mencari hadiah untuk Ellena," ucap seseorang.


Mereka bertiga menoleh ke orang itu.


"Lihatlah wajah kalian itu. Kalau Sisy masih hidup dan melihat kalian, aku yakin dia akan sangat terkejut," timpal orang itu.


Harry menatap orang itu dan tersenyum lembut. "Kamu tumbuh menjadi gadis kuat dan cantik."


Semburat merah muncul di pipi gadis itu membuat Ron yang melihatnya merasa jengah. "Jangan memujinya seperti itu, Harry. Ginny tidak akan bisa tidur malam ini kalau kamu memujinya."


Ginny yang mendengar perkataan kakak laki-lakinya itu menatapnya tajam.


"Sisy pasti bangga melihatmu sekarang," tutur Hermione.


"Aku pernah bilang kalau aku akan tumbuh seperti Sisy," jawabnya sambil tersenyum menampilkan deretan gigi.


"Sudahlah, ayo kita pergi mencari hadiah untuk gadis kecil itu. Dia akan merengek kalau kita semua melupakan hadiahnya seperti tahun lalu," kata Ron.


Mereka masih sangat ingat dengan rengekan Ellena tahun lalu karena mereka bertiga melupakan hadiah untuk gadis kecil itu.


Mereka berempat pun pergi dan mulai mencari hadiah untuk gadis kecil itu.


Di sisi lain ada seseorang yang dengan ragu mengetuk pintu ruangan atasannya.


"Masuk."


Orang itu membuka pintu ruangannya dan masuk.


"Ada apa?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen yang dipegangnya.


"Ini sudah waktunya makan siang, tuan." Orang itu memainkan jemarinya. "Apakah anda mau makan siang bersama saya?"


"Tidak," jawabnya singkat.


Gadis yang baru saja ditolak mentah-mentah oleh atasannya itu langsung keluar dari ruangan dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa anda selalu menolak ajakan para gadis?" tanya seseorang yang selalu berada di sampingnya.


"Aku tak berminat menjalin hubungan dengan gadis manapun," jawabnya.


Orang itu mengangguk pasrah. Atasannya selalu saja seperti ini. Dia juga bukannya tak mengerti alasan atasannya selalu menolak para gadis tapi tetap saja itu sudah 10 tahun yang lalu dan atasannya sudah berada di umur yang matang untuk menikah.


"Apakah anda benar-benar tidak akan mencari gadis lain? Pasti banyak yang mau dengan anda secara anda kaya dan tampan," ucapnya.


"Kalau kau masih mau mengatakan omong kosong itu lebih baik keluar dari sini," usirnya.


"Kalau begitu saya pergi makan siang dulu. Anda juga jangan lupa makan siang," ujarnya yang kemudian pergi meninggalkan atasannya sendirian.


Dia meletakkan dokumen yang dari tadi menjadi pengalihannya ke meja. Memejamkan matanya dan memijat pelipisnya adalah aktivitas sehari-harinya jika merasa lelah dan pusing. Entah sudah ke-berapa kalinya seorang gadis mengajaknya untuk makan siang bersama dan dia sudah lelah dengan itu semua.


Saat dirinya mulai bersantai sebentar, seseorang mengetuk pintu ruangannya lagi.


"Siapa?" tanyanya tanpa bangkit dari kursinya.


"Ini ibu," jawabnya.


"Masuk."


Orang yang menyebut dirinya ibu pun masuk. Dia adalah Narcissa Malfoy, wanita cantik yang berasal dari kalangan penyihir hebat. Narcissa merupakan mantan anggota death eater.


Berkat Sisy, dia dan keluarganya bisa terbebas dari pangeran kegelapan. Tentu saja Narcissa juga merasa sangat sedih atas kepergiannya, tapi dia lebih sedih lagi ketika melihat putranya yang masih terpaku pada saat itu.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini terus, Draco?" tanyanya pada anak semata wayangnya.


"Kalau ibu ke sini hanya untuk memberikan ceramah lebih baik pergi saja. Draco sedang tak ingin mendengarkan ceramah apapun," jawabnya.


Sejak kepergian Sisy, hidup seseorang penuh dengan kesepian. Dia adalah Draco Malfoy, laki-laki yang sangat mencintai seorang gadis yang bernama Daisy Garcia.


"Ibu hanya khawatir padamu. Sejak kepergian no—"


Narcissa mendekat ke putranya dan mengelus rambut pirang putranya itu. "Ibu juga sangat sedih atas kepergiannya tapi kamu tidak bisa seperti ini terus. Carilah gadis lain, Draco. Ibu yakin nona Garcia juga sedih melihatmu yang terus berada di masa lalu."


"Tidak ada yang bisa menggantikannya , jawab Draco singkat.


Narcissa menghela nafasnya. Dia memutuskan mengganti topik pembicaraan. "Kamu sudah makan siang?"


Draco menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalau begitu ayo kita pergi makan sekalian mencari hadiah untuk Ellena," ajaknya.


Draco menepuk dahinya. "Ah iya, gadis kecil itu akan berulang tahun sebentar lagi."


Narcissa mengangguk. "Iya. Kamu tidak mau kalau gadis itu menangis lagi karena kecewa, kan?"


Draco menggeleng. "Aku tak suka melihatnya menangis."


"Kalau begitu ayo kita pergi," ujar Narcissa.


Draco segera merapikan meja kerjanya dan pergi bersama ibunya.


Mereka ke restoran terlebih dahulu untuk makan siang bersama. Kegiatan makan siang mereka berjalan dengan tenang dan damai sampai seseorang menyapanya. "Hai Draco."


"Pergilah. Kamu mengganggu makan siangku bersama ibuku," usir Draco.


"Jangan berkata seperti itu pada Astoria, Draco!" tegur ibunya.


Draco mengacuhkan teguran ibunya dan lanjut makan.


"Maafkan sikap Draco ya," ucap Narcissa pada Astoria.


"Tidak apa-apa. Astoria yang harusnya meminta maaf karena mengganggu kalian," jawabnya.


"Astoria tidak mengganggu sama sekali," balas Narcissa.


"Omong-omong, Draco sudah mencari hadiah untuk Ellena belum?" tanya Astoria.


"Belum. Kebetulan setelah makan siang, kami berniat mencari hadiah untuknya," jawab Narcissa.


"Kalau begitu bareng aku saja. Kebetulan aku juga ingin mencari hadiah untuk gadis kecil itu," tawar Astoria.


Narcissa mengangguk cepat. "Boleh. Draco, kamu pergi bersama Astoria saja ya? Kebetulan ibu ada urusan mendadak."


"Ibu pasti sengaja," kesal Draco.


"Jangan seperti itu, Draco. Ibu benar-benar ada urusan mendadak," kata Narcissa.


Laki-laki itu memutar bola matanya malas. Dia tidak akan menyetujuinya kalau saja Astoria tidak pintar mencari barang lucu yang selalu disukai anak-anak.


Setelah makan siang, Draco dan Astoria pergi bersama untuk mencari hadiah.


"Aku dengar kamu menolak seseorang lagi," ucapnya membuka pembicaraan.


Draco menjawabnya dengan sebuah deheman.


"Kenapa tidak mencoba untuk membuka hati untuk yang lainnya?" tanya Astoria.


"Aku hanya menyimpan hati untuk satu orang," jawabnya singkat.


Mereka terus berjalan.


"Sebenarnya ada satu hal yang membuatku penasaran." Astoria menjeda ucapannya sejenak. "Apa kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya?"


Draco menggeleng. "Tidak. Pertama kali aku bertemu dengannya, tidak ada rasa cinta sedikitpun."


"Lalu bagaimana kamu bisa mencintainya?" tanyanya lagi.


"Saat aku merasa kosong dan hampa, dia datang dan selalu menghiburku. Tanpa sadar hati yang kosong itu telah diisi tanpa izin pemiliknya dan yang memenuhi ruang kosong di hatiku adalah dirinya," jelas Draco.


Astoria pun diam. Tak ada pertanyaan lagi yang dia lontarkan.


Tak lama mereka berdua sampai di toko mainan anak-anak. Astoria dan Draco mulai mencari hadiah untuk Ellena.


Saat sedang mencari, ada benda yang mengingatkannya pada gadis kesayangannya itu. Draco terdiam sejenak dan memandangi benda itu.


"Kau masih mengingatnya?" tanya seseorang tiba-tiba.


"Tentu saja. Aku masih mengingat semua tentangnya. Potongan rambut yang terakhir aku lihat, suaranya yang membuatku candu, cara berjalannya, dan yang paling aku ingat adalah senyuman manisnya saat melihatku," jawab Draco sampai tak terasa senyuman manis sudah tercetak di wajah tampannya.


Bagi Astoria, senyuman Draco sangat indah tapi senyuman itu bukan untuknya dan bukan dia penyebab laki-laki itu tersenyum.


"Aku akan membeli ini." Draco pergi ke kasir untuk membayarnya.