Blanket Kick

Blanket Kick
70



"sampai kapan bang kau akan begini terus? kau tak kasihan dengan mama dan papa yg stress memikirkan kau yg semakin hari semakin dingin dan arogan " ucap aldo sang adik yg masuk kedalam ruangan revan tanpa izin melihat sang kakak menangis sendirian sambil memandangi foto yg sama selama bertahun-tahun


revan menghapus air mata nya menatap sang adik yg telah berada di depannya "kau tidak tahu bagaimana kehilangan seseorang yg sangat berarti dalam hidup mu " sinis revan pada aldo


"kau salah bang aku pun juga merasakan itu saat kak Vierra pergi bahkan aku sangat kehilangan Karena sangat tulus pada ku " balas aldo duduk di sofa ruangan itu diikuti revan yg ikut duduk di Samping nya


"aku marah pada mu karena kau yg telah membuat kak Vierra pergi tapi aku sadar ini hanya permainan takdir seperti yg dikatakan kak Vierra dulu " sambung aldo mengingat kata-kata yg diucapkan Vierra saat ia akan pergi


"aku mengakui nya aku yg salah seharusnya aku tidak terjebak oleh permainan wanita ular itu " ucap revan menundukkan Kepala nya putus asa


"bang cobalah untuk berdamai dengan hati mu bangkit lah menjadi seorang revan yg kmi kenal dulu yg hangat dengan keluarga " ucap aldo tersenyum menepuk-nepuk bahu sang kakak


"aku sangat mencintai Vierra dex apa tidak kesempatan untuk ku lagi " ucap revan sangat putus asa menatap sang adik kesayangan nya


"masih bang berusaha lah perjuangkan cinta mu aku akan selalu mendukung mu " ucap aldo bijak menyemangati revan agar tak menyerah.


aldo kini telah kuliah semester 4 di salah satu universitas ternama milik keluarga nya sendiri walaupun begitu ia tetap menjadi sosok yg sederhana menyembunyikan status nya itu dari semua orang hanya ada beberapa yg tahu tentang siapa dia itupun hanya sahabat dekat nya selain itu pejabat tinggi kampus nya yg tau hanya orang-orang tertentu yg tau itu...


ia tumbuh menjadi pemuda yg tampan dan mudah bergaul tak memilih status sosial sehingga ia menjadi idola di kampusnya selain itu ia sangat murah hati berbagi dengan sesama dan menolong orang itu yg menjadi ciri khas seorang aldo velix, itu semua ia dapatkan dari ajaran Vierra sewaktu dulu membuat aldo selalu ingat dengan sosok Vierra yg menjadi seorang kakak perempuan yg baik untuk nya..


revan melanjutkan pekerjaan nya yg tertunda hingga pulang hampir pagi terkadang revan juga lupa makan dan istirahat saking ia larut dalam pekerjaan nya sendiri membuat Nyonya velix selalu khawatir dengan putra sulung nya itu..


.


.


.


.


.


.


pagi hari nya revan telah siap dengan setelah kerja nya duduk dimeja makan untuk sarapan pagi bersama keluarga


"sampai kapan kmu akan seperti ini terus revan, apa tidak ingin mencari jodoh untuk mu sendiri jgn terlalu fokus dengan perkerjaan mu terus " ucap papa anto melihat revan yg sedang makan roti dengan tatapan kosong seperti mayat hidup


"sampai Vierra kembali pada ku " balas revan tanpa menoleh kepada papa anto setiap kali di tanya hal yg sama jawaban selalu sama membuat papa anto menarik nafas sesak didada nya


" jika dulu aku tak membawa Vierra dengan terburu-buru semua tak kan terjadi aku pasti mencari cara agar semua nya tak terjadi .seharusnya aku dari awal telah menyingkirkan wanita ular itu dari kehidupan revan " batin papa anto menyalahkan diri sendiri atas kepergian Vierra


.


.


.


.


.


.


.


.


Vierra tengah berada di sebuah taman tengah kota duduk sendiri menatap langit malam yg indah di hiasi oleh bintang-bintang yg bertaburan....


"sudah lama aku tak kesini setelah bertahun-tahun akhirnya aku kembali ke tempat ini lagi " ucap Vierra tersenyum mengingat tempat ini adalah tempat yg banyak kenangan bersama revan saat mereka masih bersama


"apa kabar kamu revan? hmm pasti sekarang kmu telah bahagia bersama nona priscillia " lirih Vierra mengingat penghianatan revan dulu..