Blanket Kick

Blanket Kick
58



"hidup itu seperti perjalanan terkadang ada pertemuan terkadang ad perpisahan terkadang juga kita harus memilih jalan mana yg baik dan mana yg buruk jadi kmu harus berusaha sendiri untuk tujuan hidup mu sekarang jgn sedih aku akan bersama mu " ucap ku menepuk-nepuk bahu revan tersenyum hangat


" apa kmu mau terus berjalan bersama ku selamanya sampai kita menua bersama " ucap revan menggenggam tangan ku hangat


aku menoleh kearah revan melihat tangan ku yg di genggam nya terasa sangat hangat penuh kasih sayang tapi aku tak tau kasih sayang seperti apa itu


"aku akan berjalan bersama mu sampai waktu nya aku yg akan pergi di saat kmu telah menemukan teman untuk berjalan bersama mu kelak " ucap ku tersenyum hangat


"apakah kmu mencintai ku? " tanya revan, aku langsung menoleh kearah kaget dgn pertanyaan yg seharusnya dia sendiri tau Jawabannya


"hey tuan sempurna sang pangeran sekolah semua orang juga tau jika aku mencintaimu dari pertama kali kita bertemu, masih saja kmu mempertanyakan itu huuu dasar laki-laki" ucap ku cemberut dgn gurauan


"jadi seandainya aku meminta mu untuk menemani ku berjalan bersama ku sampai menua apa kmu mau " mata ku membulat mendengar ucapan revan yg tak lazim di dengar oleh seorang Vierra


"revan kmu sakit " tanya ku meletakkan tangan ku di atas kening memeriksa auhu tubuh nya


"Vierra Larasati aku serius " revan menyingkirkan tangan ku dari kening nya menatap dalam ku


"apa artinya kmu mencintai ku juga " tanya ku tak percaya


"Ohh Tuhan demi park jimin yg tangan nya yg nggak pernah gede demi suga yg nggak pernah bisa jauh dari kasur nya demi panci mak jin yg nggak pernah bisa jadi biru... ahhh ini beneran akhirnya cinta ku terbalaskan"kaget ku nyerocos nggak berhenti


" ya Vierra aku nggak kmu jatuh sama yg lain kmu itu milik ku "tegas revan menatap ku hangat


" tapi bagaimana yg lain tak mungkin kita menjalani hubungan seperti ini " tanya ku ragu


sejujurnya hati sangat senang sekali tapi disisi lain aku juga khawatir dgn hubungan ini bagaimana pun aku dan revan beda jauh


"kita liat nanti ya kita jalani seperti biasa aja " ucap ku berlalu pergi meninggalkan revan


keesokan harinya kmi berangkat sekolah bersama revan lebih perhatian pada ku bahkan ia terang-terangan mengantar ku kelas


"revan mending kmu balik ke kelas kmu aku bisa sendiri" tolak ku risih karena semua melihat kearah kmi berdua


"aku hanya ingin mengantar kmu vie " ucap nya santai jalan di samping ku


"tapi revan " ucap ku terpotong


"tapi apa kmu malu kan di antar sama aku " potong revan cepat, aku mendengus kesal dgn tingkah nya


aku hanya diam bodo amat lh orang mau bicara apa toh semua juga tau jika aku dan revan satu atap...


revan mengantar ku sampai di dlm kelas seperti biasa banyak yg melihat kmi berdua ada yg tidak suka ada juga yg suka


setelah itu ia pergi menuju kelas nya tanpa bicara satu kata pun, dia seperti jin yg kadang muncul dan menghilang seenaknya tanpa permisi


aku duduk di bangku ku sambil meletakkan tas ku.joni, Fey dan mey mendekati ku langsung duduk di dekat ku


" vie tumben revan ngantar kmu terang-terangan biasa nya juga dari jauh kesambet ap tuh anak" ucap mey ceplas-ceplos heran


"kesambet jin ifrit mungkin" ucap ku santai


"mungkin" ucap mey mengangguk