Blanket Kick

Blanket Kick
25



...banyak yg ingin di ungkapkan dan di bicarakan ...


...tapi hati ini selalu bilang ya udah nggak pa pa nggak ada bakan mengerti juga lebih baik diam saja...


tapi aku terdiam karena kata-kata revan yg mengatakan jika aku milik orang yg ku cintai tapi orang itu ada kau revan orang yg ku cintai


"aku akan berusaha membuat nya jatuh cinta pada ku " ucap nya penuh percaya diri


"aku tidak yakin kau bisa melakukan nya karena hati nya hanya milik satu orang " ucap revan sinis lalu membawa ku pergi dari nya selama perjalanan revan menggenggam tangan ku aku hanya terdiam sambil mengimbangi langkah revan


sampai dirumah kmi duduk di ruang tengah tubuh ku masih sedikit gemetar karena takut aku hanya diam tak ingin bicara sama sekali pandangan ku kosong


"tuan muda dan nona muda ini minum hangat nya " ucap salah satu pelayan membawa dua cangkir coklat panas entah sejak kapan ia dtg


"minum lh untuk merilekskan mu " perintah revan memberikan secangkir coklat panas untuk ku aku menerima tanpa bicara sama sekali


"jgn pikirkan lagi ia tak kan mengganggu mu lagi " ucap revan menenangkan ku


"dari mana saja kau tadi? " tanya revan menatap ku tajam


"a_aku dari pasar malam " jawab ku sedikit menunduk


"sama joni dan yg lain " ucap ku menunduk


"kemarin kau bekerja tanpa seizin ku sekarang kau pulang malam tanpa se izin ku , kau tanggung jawab ku sekarang setidak nya hubungi aku sebelum pergi " kesal nya menatap tajam ku, aku hanya diam tanpa menjawab atau membalas perkataan nya


"coba tadi kalau aku tidak ada mungkin sekarang kau sudah di paksa untuk ikut dgn nya, mulai sekarang setiap kemana pun kau harus izin pada ku jika tidak kau tidak boleh keluar kemana-mana " tegas nya


"bagaimana aku minta izin pada mu sedangkan kau sendiri tidak ingin ada yg tau jika kita tinggal bersama aku juga tidak mempunyai headphone bagaimana bisa aku menghubungi untuk minta izin " ucap ku berkaca-kaca


"knp kau tidak bilang pada mama jika kau tidak mempunyai headphone dan mana unlimited cart yg di berikan papa pada mu knp itu kurang untuk mu sehingga kau harus bekerja" ucap nya pada ku


"tidak itu semua lebih untuk ku aku tidak memakai sepersen pun uang yg ada di dalam kartu itu, aku lebih baik bekerja sendiri dari pada harus membebani orang lain , aku tak ingin jadi beban untuk mama mirna atau pun papa anto " tegas ku pada revan, revan langsung menarik tangan ku masuk kamar sampai di kamar ia memberikan sebuah kotak berisi sebuah headphone keluaran terbaru


"tak ada alasan lagi untuk kau tidak menghubungi ku dan satu lagi mulai besok kita akan berangkat dan pulang sekolah bersama jgn ada bantahan aku paling tidak suka " tegas nya berlalu pergi meninggalkan ku terduduk diam sambil menatap punggung nya yg menghilang di balik pintu


apa maksud nya tadi apa ia tidak malu jika ada yg tau kami tinggal serumah, sikap nya membuat ku bingung dia bersikap sesuka hati nya saja


terkadang ia sangat perhatian pada ku terkadang ia juga bersikap seperti tak melihat ku sama sekali apa mau nya aku dianggap apa sih di mata nya ....