Blanket Kick

Blanket Kick
40



"udah bawaan lahir kk " ucap ku cengengesan


"kmu ini kebiasaan ya " ucap kk vino tertawa mengacak-acak lembut rambut ku


"hahaha Vierra memang adek ku yg paling polos plus imut " ucap kk Rio tertawa


"kakak aku udah besar kk umur ku aja udah mau 17 tahun " Protes ku


"tapi kamu masih anak kecil bagi kmi " ucap kk Fika tertawa


"astaga emang aku sebegitu kecilnya sampai di bilang anak kecil terus ya " ucap ku prustasi


"kepolosan membuat kmi masih menganggap mu anak kecil " ucap kk Vino lembut pada ku


aku melihat revan yg dtg membawa tiga paperback di tangan nya menuju arah kmi yg sedang duduk bersama , revan duduk di samping tanpa permisi lagi membuat yg ada disana menatap nya


"maaf aku lupa " ucap ku melihat revan menatap ku dingin aku tahu jika ia merasa kesal dengan ku karena aku membuat nya menunggu hingga ia menyusul ku


"hmm " ucap ny mengambil memakan es krim ku


"revan itu punya ku " protes ku melihat revan terus makan es krim


"aku ingin " ucap nya santai sambil makan es krim


"hallo tuan muda velix " sapa kk Vino pada revan dengan nada dingin


"selamat sore tuan muda Abimanyu " sapa revan tak kalah dingin


aku tak tau apa yg terjadi antara revan dan kk Vino tapi sekarang yg kurasakan hawa nya menjadi sangat dingin


"revan aku minta es krim ku " ucap ku berusaha mencair kan suasana kk Fika dan kk Rio sekarang hanya diam tak ada yg membuka suara mereka menatap revan yg tak bisa di arti kan


"iss revan ini kn bekas mulut mu " protes ku karena revan langsung menyuapi ku dengan sendok es krim yg sama yg artinya kmi berciuman secara tidak langsung.


"knp kmu tidak mau harus satu sendok ku, tenang saja aku sudah pernah merasakan bibir secara langsung itu lebih nikmat " ucap revan membuat ku malu di depan yg lain karena revan bicara tanpa ada sensor sama sekali


"ti_tidak kmu jgn membual yg tidak benar " ucap ku menutup malu karena ulah revan


"aku tidak membual semua nya benar " ucap revan melirik kk Vino yg menatap kmi dengan tatapan yg sama sekali tak bisa ku arti kan


"Vierra kmi pulang dulu ya nanti kita bertemu lagi " ucap kk Fika pamit pada ku


"ya aku masih kangen sama kalian kenapa cepat sekali " protes ku karena aku blm puas bertemu ketiga malaikat yg pernah menolong ku sewaktu di pengungsian


"kmi ada urusan sekarang juga ada kekasih mu disini nanti dia marah lgi " ucap kk Rio sedikit melirik revan yg acuh


"kk Rio revan bukan kekasih ia teman ku saja " ucap ku menundukkan kepala


"ya sudah kmi pulang dulu nanti kita bisa saling telpon saja ok" bujuk kk Vino pada ku yg mau tak mau aku hanya mengangguk lemas


mereka bertiga kini telah pergi aku hanya bisa menatap punggung mereka yg semakin menjauh


"mau pulang atau jalan lgi? " tanya revan


" boleh kah kita ke taman kota ? " tanya ku ragu menatap nya sendu berharap ia menuruti ku


"ayo " ucap nya menggenggam tangan ku...


kmi berjalan menuju taman kota yg tak jauh dari tempat kmi nonton tadi, terlihat disana banyak sekali pasangan yg sedang Berjalan-jalan berdua


kmi memilih duduk di salah satu bangku taman sambil memandangi lagi berwarna jingga