Blanket Kick

Blanket Kick
57



selama masa ujian akhir berlangsung revan menepati janji nya untuk mengajari kami setiap materi yg ada, terkadang ia juga sering mengantar ku ke kelas tapi dari jarak yg jauh tak ada seorang pun tau jika revan mengantar ku...


hari demi hari kmi selalu bersama membuat ku merasa nyaman jika di dekat nya dia bagai kakak laki-laki yg selalu ada untuk adik perempuan nya, ya itu yg kurasakan sekarang aku juga sadar jika kmi tak kn pernah bisa bersatu karena kmi berbeda


sekarang aku dan semua anggota rumah tengah berada di ruang keluarga seperti biasa kmi semua selalu menyempatkan untuk berkumpul seminggu sekali...


"revan bagaimana rencana sekarang?apakah kmu sudah menemukan universitas mana yg akan kmu tempati? " tanya papa sambil menyeruput kopi nya


"entah lh pa revan blm tau " jawab revan mengangkat kedua bahu nya


"apa kmu mau kuliah di luar negeri seperti yg kita pernah bicarakan dulu " ucap papa meletakkan cangkir kopi nya


"sudah berapa kali revan bilang pa revan mau kuliah di negeri kita revan nggak mau kuliah di luar negeri " tegas revan sedikit kesal


"tapi revan kmu itu pewaris keluarga kita penerus perusahaan kita jadi kmu harus mendapatkan pendidikan yg terbaik " ucap papa meninggikan suara nya


"bagus tidak nya pendidikan tergantung kita nya niat atau tidak ny kita belajar" ucap revan santay


"sudah pa jgn terlalu keras sama revan dia berhak menentukan pilihan nya sendiri" lerai mama mengusap lembut punggung papa


"nggak ma revan harus kuliah di luar negeri biar dia bisa kuliah dgn baik " ucap papa


"terserah kalian saja lh tapi aku cuma mau tegasi aj kalau aku berhak dgn pilihan ku sendiri" tegas revan pergi menuju kamar dengan keadaan kesal


"anak itu benar-benar kerasa kepala die ttp dgn pilihan nya sendiri " keluh papa menggeleng kepala


aku hanya bisa diam sebenarnya aku bingung dgn keadaan ini di satu sisi aku setuju dgn pendapat papa jika revan harus mendapatkan pendidikan yg terbaik di satu sisi aku juga setuju dgn pendapat revan jika ia berhak menentukan pilihan nya sendiri...


"ma pa vie permisi untuk ke kamar dulu ya " pamit ku yg di angguki oleh mana dan papa tanda setuju


saat aku masuk ternyata benar tebakan ku sekarang revan duduk di pinggir tempat tidur nya sambil menunduk


ceklek


aku perlahan masuk kedalam kamar nya dan mendekati nya sebisa mungkin aku menenangkan nya


"apa aku boleh disini? " tanya ku pelan berdiri di depan nya


"hmm duduk " perintah nya menepuk-nepuk tempat di samping nya, perlahan aku duduk di samping nya


"sekarang apa keputusan mu? " tanya ku lembut


"entahlah, jujur aku tak mempunyai tujuan sama sekali hidup ku tanpa tujuan sedikit pun " Jawab nya lesu sedikit menghelah nafas nya..


"setiap orang punya tujuan kok cuma kmu blm menemukan nya saja " ucap ku tersenyum


"sekarang apa tujuan hidup mu? " tanya revan menatap ku


"hanya ada satu tujuan hidup ku, suatu saat aku ingin menjadi istri yg baik untuk suami ku selalu mendampingi nya terus, bersama nya dlm semua keadaan. jika ia seorang petani aku akan menjadi ibu rumah tangga yg setiap hari membawakan nya makan siang di sawah lalu kmi makan bersama dan jika ia ceo aku akan bekerja keras menjadi sekretaris atau asisten pribadi nya biar kmi bersama terus dan saling mendukung satu sama lain " jelas ku berhenti sejenak menarik nafas


"itu lh tujuan hidup ku aku akan menikah dengan seseorang orang yg mencintai ku secara tulus" ucap ku tersenyum membayangkan itu semua


"apa kmu tidak ingin menggapai cita-cita mu sendiri" tanya revan heran dgn penjelasan ku aku hanya menggeleng kepala


"aku selalu ingat satu kata-kata motivasi disaat aku tak punya pilihan " ucap ku


"hidup itu seperti perjalanan terkadang ada pertemuan terkadang ad perpisahan terkadang juga kita harus memilih jalan mana yg baik dan mana yg buruk jadi kmu harus berusaha sendiri untuk tujuan hidup mu sekarang jgn sedih aku akan bersama mu " ucap ku menepuk-nepuk bahu revan tersenyum hangat