
tak lama aku mengikuti cahaya tersebut semakin lama cahaya itu semakin terang. perlahan tangan ku mulai bergerak, mata ku mulai membuka
"re_revan " kata pertama ku ucapkan saat membuka mata ku
"Vierra kmu sudah sadar " ucap revan antusias binar bahagia terlihat di wajah tampan nya itu, aku mengangguk kan Kepala ku
"aku panggil dokter dulu ya " ucap revan ia berdiri dari tempat dulu nya lalu keluar ruangan tubuh nya menghilang di balik pintu
tak lama kemudian ia datang bersama dokter dan dua perawat, dokter meriksa tubuh ku mulai dari detak jantung, mata, dan denyut nadi ku
"semua nya sudah normal tapi cedera di bahu nona blm sembuh seratus persen ada beberapa tahapan terapi yg harus nona lalui nona harus beristirahat full tidak boleh banyak gerak untuk beberapa waktu" jelas dokter setelah memeriksa seluruh nya
aku hanya diam entah harus bicara apa sekarang yg kurasakan bahu sangat sakit dan nyeri aku hanya bisa diam saja, revan terlihat memperhatikan setiap yg pengarahan dokter tanpa ada yg terlewat kan, dokter dan kedua perawat pun keluar menghilang dibaling pintu
"sekarang apa yg kmu rasakan? apa ada yg sakit? dasar ceroboh bisa-bisa nya kmu diam saja waktu mereka menyiksa kalian,kamu tau bagaimana jika aku nggak dtg tepat waktu entah yg terjadi.kau selalu saja membuat khawatir dgn kebodohan mu tau tidak " omel revan dengan nada kesal padaku membuat ku pusing sendiri, baru kali ini aku mendengar seorang revan velix berbicara sepanjang ini
"revan kmu sakit ya? " tanya ku pusing mendengar nya ngomel seperti ibu-ibu komplek saja
"Vierra Larasati aku lagi bicara sama kmu, kmu malah bilang aku sakit , kmu ini ya nggak ada bedanya sakit sama sehat nya otak kmu nggak ada bener nya " revan kesal dengan pertanyaan ku membuat terkekeh sendiri melihat nya
"revan aku baik-baik aja kok kmu jgn berlebihan seperti ini " ucap ku tersenyum lembut menatap hangat nya
" maaf kakak ku yg ganteng jgn marah lagi ya sama adex mu yg cantik ini " canda ku pada nya revan
"aku nggak suka kmu terluka nggak ad yg pagi yg Masakin aku nanti nya bikin selera ku nggak ada klo bukan kmu yg masak " ucap revan seperti anak kecil yg sedang mengadu
aku terkekeh melihat revan yg sangat menggemaskan seperti ini ingin sekali aku mencubit pipi nya itu
"klo mau ketawa, ketawa aja vie " desis revan menatap tajam ku, tawa ku langsung pecah tak bisa pagi ditahan melihat ekspresi revan seperti ini
ada rasa bahagia bisa dekat dengan nya walaupun aku tau kalau posisi ku hanya sebagai adik nya bukan kekasih nya tapi itu lebih cukup untuk sekarang setidak aku bisa melihat sisi lain dari seorang revan
"sekarang kmu tidur jgn begadang ini sudah malam nggak baik buat kesehatan mu " perintah nya menarik selimut menutupi tubuh ku setelah itu dia berbaring di sofa yg tak jauh dari ranjang ku
keesokan harinya aku bangun terlebih dahulu dari revan, aku menatap revan yg sedang tertidur pulas dari ranjang ku wajah nya sangat teduh
"siapa pun yg menjadi wanita pilihan mu pasti ia sangat beruntung nanti nya " lirih ku menatap wajah sang pangeran yg menjadi impian setiap orang
"aku tau wajah ku sangat tampan " ucap nya tiba-tiba membuka mata nya menatap ku tersenyum tipis hampir tak terlihat oleh orang lain
"ya kmu memang sangat tampan nggak yg bisa tahan dgn pesona mu " ucap ku tersenyum, termasuk diri ku sendiri yg terpesona pada mu bahkan saat pandangan pertama ku....