Blanket Kick

Blanket Kick
26



...pasangan terbaik ...


...bukan yg datang dengan segala kelebihan nya tetapi yg tidak meninggalkan kita dengan segala kekurangannya...


...jangan cari pasangan yg sempurna tapi terimalah pasangan mu dengan cara sempurna...


💫💫💫


terkadang ia sangat perhatian pada ku terkadang ia juga bersikap seperti tak melihat ku sama sekali apa mau nya aku dianggap apa sih di mata nya ....


aku beranjak dari ranjang ku meletakkan headphone yg berikan revan tadi di atas nakas terus aku membersihkan tubuh ku lalu tertidur


***


seperti biasa setiap pagi aku bangun pagi hari sebelum matahari menunjukkan cahaya setelah beres-beres dlm kmar ku aku beralih kedapur untuk membuat sarapan....


setelah semuanya selesai aku naik ke lantai atas menuju kamar revan memanggilnya untuk sarapan pagi


tok tok


aku mengetuk pintu pintu kamar revan yg masih tertutup rapat tak berselang lama pintu pun terbuka aku melihat tubuh gagah revan yg lengkap dengan seragam sekolah nya


"ada apa? " tanya revan berdiri di hadapan ku


"aku hanya ingin memanggil mu untuk sarapan " jawab ku menundukkan kepala ku


"aku bisa sendiri" ucap revan meninggalkan ku


kmi pun sarapan bersama tak ada yg membuka suara hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yg beradu


sebenarnya aku sedih sekali karena mereka tak ada rumah sangat hening tanpa kehadiran mereka revan juga sibuk dengan kegiatan nya tak mungkin aku mengganggu nya aku ingin keluar tapi revan pasti tak mengizinkan nya


selesai sarapan benar saja revan menunggu ku untuk berangkat bersama , aku hanya mengikuti nya dari belakang hati ku masih sedih karena mama, ibu, ayah, dan papa lana di luar negeri nya apalagi sekarang aldo juga ikut


"knp murung dari tadi ? " tanya revan menghentikan langkah nya membuat terbentur di dada bidang nya karena ia berhenti nya mendadak


"aduhh " ringis ku memegangi jidat ku


"tidak apa kok" jawab ku berusaha tersenyum


"jgn bohongi ku jawab ada apa? " tanya revan tegas aku sedikit takut jika ia seperti ini


"aku hanya sedih karena semua nya pergi lama aku merasa kesepian apa lagi kmu nggak boleh aku keluar atau pun bekerja " jawab ku menundukkan kepala ku tak terasa air mata ku jatuh aku langsung menghapus nya


"lihat aku sekarang" ucap revan tapi aku masih saja menundukkan kepala ku


"lihat aku " ucap revan mengangkat dagu ku dgn tangan nya tatapan mata kmi bertemu aku merasakan sebuah kehangatan di setiap perbuatan nya sekarang entah apa yg membuat ku melayang seketika


"kmu tak sendiri masih ada aku disini kita akan mulai berteman jadi jgn merasa kesepian lagi dan untuk kmu ingin keluar aku bolehin kmu keluar asal ingat batas waktu yg paling penting kmu harus menghubungi ku terus tapi jgn coba-coba untuk bekerja seperti waktu itu mengerti" ucap revan sungguh lembut membuat hati ku hangat mendengar nya senyum ku mengembang mendengar setiap apa yg ia ucap kan


"berarti kmi mau berteman dengan ku? " tanya ku tak percaya


"ya Vierra Larasati " ucap nya meninggalkan ku


"ihhh revan selalu saja meninggalkan ku seperti ini kata nya kita berteman" gerutu ku mengejar revan berusaha menyamai langkah nya