
setelah 7 jam di dalam pesawat kmi pun sampai di bandara raut wajah revan masih saja cemas , sebisa mungkin aku menenangkan nya
"revan jgn terbaru khawatir papa pasti sembuh, papa orang yg sangat kuat kmu jgn khawatir" ucapku menenangkan revan supaya ia tak terlalu khawatir padahal dalam hati juga sangat khawatir dengan keadaan papa
hari telah menunjukkan jan 7 pagi kmi tak lgi mampir di rumah , kmi langsung ke rumah sakit tempat papa di rawat terlihat mama yg sedang menemani papa yg masih terbaring lemah
aku dan revan masuk kedalam ruang rawat papa dengan perasaan yg bercampur aduk, jujur hati ku sangat sedih melihat papa anto terbaring seperti ini
"assalamu'alaikum ma " salam ku dan revan mencium tangan mama Mirna secara bergantian
"waalaikumsalam kalian kpn dtg nya dari Korea? " tanya mama Mirna pada kmi berdua
"baru aja ma kmi langsung kesini mau liat keadaan papa " jawab ku tersenyum diangguki oleh mana Mirna
"bagaimana keadaan papa? " tanya revan terus menatap papa sendu, aku tau sekarang pasti sedang sangat terpukul melihat orang tua nya seperti ini
"papa udah mulai lebih baik dari kemarin " jawab mama ikut menatap Papa yg sedang terbaring
"sebaiknya kalian istirahat dulu pasti kalian sangat lelah karena perjalanan jauh " usul mama menatap kmi berdua
"aku disini aja ma lebih baik mama aja yg istirahat pasti mama blm tidur dari semalam " ucap ku menyuruh mama untuk istirahat karena aku tau mama pasti sangat kelelahan
"tapi kalian juga butuh istirahat bukan hanya mama aja lebih kalian aja yg istirahat " tolak halus mama tersenyum
"aku dan Vierra nggak lelah lagian kmi cuma duduk di pesawat kmi juga udah tidur lebih baik mama yg istirahat sekarang " bujuk revan pada mama, mama hanya bisa menganggukkan kepala menuruti permintaan kmi berdua
mama pun pulang kerumah sedangkan aku dan revan menjaga papa yg masih blm sadar dari pingsan nya
aku duduk di sofa panjang yg ada di ruang rawat papa di samping revan yg terlihat prustasi aku sebisa mungkin menenangkan nya
"tapi ini terlalu berat untuk ku" lirih nya yg hampir tak terdengar oleh ku dengan segurat kecemasan di rait wajah nya
"semua pasti akan berlalu aku akan selalu ada untuk mu " aku tersenyum hangat untuk nya agar ia tenang
"apa kah aku bisa menghadapi semua ini " revan menatap ku dalam membuat jantung berdebar
"ka_kamu pasti bisa aku akan membantu mu kmu itu sangat kuat " aku memberi nya semangat
sejenak terjadi keheningan di antara kmi untuk beberapa saat sampai ada perawat yg masuk kedalam ruangan
"permisi tuan dan nona saya izin ingin membersihkan badan tuan Antonio " ucap salah satu perawat sambil mendorong alat untuk membersihkan tubuh papa
"silahkan " ucap revan mempersilahkan perawat itu membersihkan tubuh papa
aku melihat perawat yg ingin membersihkan badan papa aku pun mendekati mereka aku berniat untuk membersihkan badan papa sendiri
"apakah boleh saya yg membersihkan badan papa " ucap ku hati-hati pada kedua perawat itu
"biar kmi saja nona ini sudah menjadi tugas kmi disini " tolak halus perawat itu dengan sopan pada ku tapi aku tidak menyerah
" tapi saya ingin sekali membersihkan badan papa saya sendiri "aku memelas pada keduanya
" biar kan saja jika dia ingin. "ucap revan sambil menatap layar laptop nya membuat senyum ku mengembang
akhirnya kedua perawat itu mengalah mereka keluar dari ruang rawat papa aku dengan semangat membersihkan badan papa dgn sedikit hati-hati