Blanket Kick

Blanket Kick
47



setelah 30 menit kmi sampai di apartemen aku dan revan masuk lift revan menekankan tombol 19 karena apartemen kmi terletak di lantai tsb ...


sesampainya didalam apartemen aku bergegas membersihkan diri mengganti pakaian ku lalu kedapur untuk makan malam kmi pasalnya kmi berdua blm mkn mlm sama sekali karena sibuk dgn kerjaan


aku memasak ayam goreng dan sayur bening untuk kmi berdua setelah semua telah siap aku memanggil revan di ruang tengah


saat aku ingin memanggil nya ternyata ia tengah terlelap di sofa dengan TV masih menyalah


kasihan dia pasti sangat lelah harus mengurus semua masalah kantor dan belajar secara online tugas nya menjadi double


aku menunduk menatap revan yg tengah tidur wajah seperti malaikat yg sedang tersenyum pada ku, andai aku bisa melihat selamanya tapi apakah itu mungkin dunia ku dan dia sangat berbeda...


"revan ayo bangun kita makan malam dulu " ucap ku lembut , tak lama kemudian revan membuka mata nya perlahan lalu menatap ku


"ayo bangun kita makan malam dulu nanti kmu sakit "ucap ku tersenyum


" ehhmm" revan mengangguk lalu ia beranjak dari sofa nya


kmi berdua makan dengan tenang tanpa ada suara sedikit pun setelah makan malam aku membersihkan semua nya sendiri sedangkan revan masih berkutat dengan laptop nya dan berkas-berkas yg menumpuk


aku menghampiri revan sambil membawakan nya secangkir coklat panas kesukaan nya


"apakah permasalahan begitu sampai kmu harus lebur? " tanya ku cemas melihat revan sudah sangat kelelahan tapi ia masih terus bekerja


"jgn terlalu di paksakan kmu juga harus istirahat kmu bukan Robot yg bisa bisa bekerja terus menerus " nasehatku pada nya


hari terus berganti revan selalu pulang larut malam terkadang ia juga pulang pagi itu pun hanya untuk mandi dan berganti pakaian nya setelah itu ia pergi lagi, senantiasa aku selalu menunggu nya pulang menyiapkan semua keperluan nya walaupun terkadang aku seperti tak dianggap oleh nya tapi aku terus melakukan hal yg sama untuk nya setiap hari


hari ini hujan turun sangat deras petir terus bergemuruh tapi revan blm juga pulang membuat sangat khawatir pada nya


aku berdiri di dekat jendela terus memandang kearah luar berharap revan cepat pulang "revan kmn kmu knp blm pulang " lirih ku cemas


tak lama kemudian ada suara pintu yg terbuka reflek secepat mungkin aku mendekat berharap itu revan yg pulang , benar saja akhirnya revan pulang dgn wajah lesu nya


"revan apa yg terjadi ?knp kmu sangat lesu seperti? ayo kmu duduk dulu aku buatkan teh hangat untuk mu kmu cepat lh berganti baju nanti kmu sakit " ucap ku melihat revan sangat lusuh dan kelelahan baju nya basah kuyup terkena hujan membuat sangat khawatir pada nya


"kita pulang malam ini " ucap nya singkat aku langsung menatap nya bingung


"papa sakit dan sekarang masuk rumah sakit" sambung nya aku mendengar hal ku langsung kaget dan cemas bagaimana keadaan papa sekarang itu yg ada di pikiran ku sekarang


"cepat beres kan pakaian ku dan kmu kita pulang sekarang " ucap nya prustasi aku langsung saja melaksanakan nya setelah semua selesai kmi kebandara naik pesawat pribadi milik keluarga velix


setelah 7 jam di dalam pesawat kmi pun sampai di bandara raut wajah revan masih saja cemas , sebisa mungkin aku menenangkan nya


"revan jgn terbaru khawatir papa pasti sembuh, papa orang yg sangat kuat kmu jgn khawatir" ucapku menenangkan revan supaya ia tak terlalu khawatir padahal dalam hati juga sangat khawatir dengan keadaan papa