
sudah seminggu aku pulang dari rumah sakit , aku telah memulai kembali kegiatan ku seperti biasa tapi ada yg sedikit berbeda sekarang semua orang yg ad di sekolah mendadak baik pada ku.
ternyata saat aku tanya pada mey dan Fey mama mirna dtg ke sekolah dia sampai marah besar di sana para pembully itu juga di keluarin dari sekolah dan masuk blacklist...
sekarang semua tau jika aku satu rumah sana revan tapi itu tidak mengubah apa pun aku tetap menjalani keseharian ku seperti biasa saat di sekolah...
mulai dari ekskul kesenian, puisi dll kedua sahabat ku juga telah mengerti kenapa aku menyembunyikan semua ini dari mereka, awalnya mereka sedikit kecewa kepada ku tapi lama kelamaan mereka mengerti juga bahkan mereka sering menginap dirumah revan karena ku...
tak terasa sekarang sudah mau ujian kelulusan aku mulai belajar walaupun aku kesulitan memahami materi
di kamar aku, mey, dan Fey tengah belajar bersama untuk ujian besok tapi kmi sama sekali tak mengerti apa pun
"ahhh knp kok ini susah banget udah berapa kali kita baca masih nggak paham juga " gerutu Fey prustasi mengacak rambut nya
"iya aku juga nggak bisa bisa dari tadi " ucap mey lesu meletakkan kepalanya diatas meja
"apa lagi aku rasa mau pecah kepala nggak ada yg masuk di otak ku " keluh ku sambil megang kepala ku terasa berdenyut
mey dan Fey menatap ku sambil tersenyum yg membuat ku ngerih sendiri pasti ujung-ujungnya aku yg dpt bagian yg nggak enak nih
"kenapa? " tanya ku bergidik ngerih sendiri
"kn dirumah ini ada cowok ganteng plus IQ nya tinggi nya minta ampun " ucap ney cengengesan
"terus " ucap ku menaikan satu alis ku
"kita minta tolong aja sama dia buat bantu kita " ucap Fey tersenyum 😅😅😅
"aku nggak mau dia lgi sibuk sekarang " tolak ku langsung aku tak ingin mengganggu revan sama sekali
"please vie kmu nggak mau kita nggak lulus SMA " ucap mey memohon
"ya vie sekali ini aj kok"bujuk Fey menangkup kan tangan nya di depan dada
" uhhh ya udah aku coba dulu " aku menghela nafas menyetujui permintaan kedua nya
"yee nah gitu dong Vierra ku yg cantik " ucap mey semangat
"kmu memang sahabat yg baik deh " puji Fey tersenyum kegirangan, aku memutar bola mata malas
tok
tok
aku mengetuk pintu kamar revan dengan ragu, aku menunduk takut saat ia sudah berada di depan ku
"ada apa? " tanya revan yg sudah berada di depan
deg deg
astaga jantung terasa ingin lepas sekarang bagaimana ini rasa aku ingin mengubur diri ku sendiri dari pada harus berhadapan dengan manusia es ini
"hmm boleh minta tolong nggak? " ucap ku ragu dengan sedikit gemetar
"tolong apa? " tanya revan semakin dingin
aduh bagaimana ini semoga saja dia mau Tuhan
"tolong aku untuk belajar buat ujian besok" ucap ku ragu
"nggak " tolak revan cepat
"please revan tolong aku ya, aku nggak bisa sama sekali sama semua materi yg ada otak ku nggak nyampe kesana " mohon ku pada nya memelas
"nggak vie " tekan revan terus menolak , ia masuk ke dalam kamar nya aku mengikuti nya masuk kedalam kamar nya
"revan aku mohon ajarin aku ya, aku janji masakin makanan kesukaan kmu ya " bujuk ku merengek
"itu udah sering vie hampir tiap kmu masakin aku juga kn " ucap revan mengambil buku di rak buku lalu duduk di kasur nya
"hmm iya juga ya " ucap ku mengangguk
"ya udah klo kmu nggak mau itu gimana aku nurutin semua keinginan kmu selama satu hari apa pun yg kmu mau aku turutin semua nya " ucap ku semangat memberi penawaran pada nya
"satu minggu atau nggak sama sekali " tegas revan menatap ku
"ya udah aku setuju tapi kmu harus ajarin aku dan yg lainnya sampai selesai ujian nanti " ucap ku semangat walaupun ada keraguan sedikit