
Pukul 7:00 pagi, Kyra berangkat sekolah. Saat sampai sekolah, ia dipanggil ke Ruang Kepala Sekolah. Perasaannya sedikit takut karena ia merasa tidak punya salah tapi kenapa ia dipanggil ke Ruang Kepala Sekolah. Ia lalu masuk kedalam Ruang Kepala Sekolah, didalam Pak Kepala sekolah sudah duduk dikursinya menunggu kedatangannya.
“Ada apa Pak, Saya dipanggil kesini?” Tanya Kyra.
“Kemarin Ibu Maya menelfon saya, katanya kamu mengganggu ketenangannya. Apa yang terjadi” Tanya Pak Kepala Sekolah.
“Maaf pak, itu adalah kesalahan saya” Sambil menunduk.
“Apa gara – gara kamu pacaran sama anaknya?” Tanya Pak Kepala Sekolah.
Kyra tidak menjawab pertanyaan Kepala Sekolah, ia hanya diam menunduk. Pak Kepala Sekolah yang melihat Kyra diam, sudah tahu letak kesalahan yang sebenarnya.
“Haaaaa......sebenarnya bapak sangat menyukaimu Kyra. Kamu salah satu murid teladan di Sekolah ini, kalau hanya gara – gara cinta kamu putus sekolah, itu sayang sekali. Jadi bapak harap kamu menjauhi anak Ibu Maya untuk menghindari masalah dimasa depan karena dia merupakan salah satu pemegang yayasan di sekolah ini. Kalau dia meminta kamu berhenti sekolah bagaimana? Apalagi ujian sekolah sebentar lagi.” Jelas Pak Kepala Sekolah.
“Baik pak”
“Ibu Maya melapor pada bapak untuk memberimu hukuman skors selama satu minggu tapi bapak memohon padanya untuk memberimu satu kesempatan asalkan kamu menjauhi anaknya. Jadi pikirkanlah baik – baik saran bapak ya. Karena jika terus berlanjut, mungkin kamu langsung dikeluarkan. Ini semua demi kebaikan kamu” Pinta Pak Kepala Sekolah.
“Baik pak....saya akan mendengarkan ucapan bapak” Balas Kyra.
“Baiklah.....itu saja. Bapak tidak akan menghukummu kali ini tapi kamu harus pikirkan baik – baik masalah ini”
“Baik pak”
“Kembalilah ke kelasmu”
“Baik.....dan terima kasih karena sudah mengingatkan saya”
“Eem....keluarlah”
Kyra keluar dari Ruangan Kepala Sekolah dengan perasaan sedih tapi ia juga tidak berdaya karena baginya tidak ada yang lebih penting dari sekolahnya sendiri.
Dikelas, ia melihat Ivan tengah berdiri menunggunya sambil tersenyum lebar padanya. Ia masuk dan mengajak Ivan untuk bicara berdua dengannya.
“Van.....bisakah kita bicara berdua sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan padamu”
“Ada apa Kyra?” Wajah Ivan terlihat khawatir melihat Kyra tiba - tiba ingin bicara padanya.
Kyra langsung menarik Ivan ke atap sekolah. Tak perlu bertele – tele, ia langsung mengatakan yang ia ingin katakan pada Ivan.
“Aku ingin putus”
Ivan sangat syok mendengar ucapan Kyra yang tiba – tiba minta putus dengannya.
“Kyra ada apa denganmu. Apa karena ibuku kemarin hingga kamu bicara putus denganku?” Tanya Ivan dengan wajah kecewa.
“Ia.....”
“Kyra.....kenapa kamu bisa begini hanya karena ucapan ibuku. Kamu tahu sendiri kan kalau aku sangat mencintaimu?”
“Aku tahu Van. Tapi aku hanya ingin menyelesaikan sekolahku dengan aman. Aku tidak ingin gara – gara ini, aku putus sekolah. Kamu tahu sendiri kan kalau sekolah sangat penting bagiku.”
“Apa aku tidak penting bagimu?” Tanya Ivan.
Kyra meneteskan air matanya didepan Ivan sambil menatap Ivan dengan penuh rasa bersalah.
“Maafkan aku Van. Aku tidak bisa menghancurkan masa depanku, aku hanyalah anak yatim piatu tidak pantas bersanding denganmu lagipula kita masih SMA kan. Perjalanan masih panjang.”
“Kyra kumohon jangan putus denganku. Kita bisa menyembunyikan hubungan kita dari ibuku sampai kita selesai sekolah. Hem.”
“Apa kamu tidak tahu sifat ibumu sendiri. Kemarinm dia bisa memukulku, aku bisa terima tapi aku tidak bisa terima jika ibumu menghancurkan masa depanku jadi kumohon mengertilah dengan situasiku sekarang?”
Ivan melihat wajah Kyra yang sedih seperti tidak berdaya. Ia sangat kasihan melihat ekspresi Kyra itu. Ia tidak bisa egois yang hanya memikirkan perasaannya semata dan tidak memikirkan perasaan Kyra saat ini. Dalam keadaan terpaksa ia harus menerima keputusan Kyra itu.
“Baiklah....aku akan mencoba memahami keputusanmu tapi dengarkan aku Kyra. Walaupun aku putus denganmu tapi aku tidak akan berhenti mencintaimu sampai kapanpun.”
“Terima kasih banyak Van. Kamu bisa memahami perasaanku saat ini. Aku sungguh tidak berdaya.”
“Bisakah aku memelukmu Kyra.” Sambil mengulurkan kedua tangannya didepan Kyra. Kyra mengangguk dan langsung memeluk Ivan.
Hiks....hiks.....hiks...... Kyra menangis dipelukan Ivan. Ivan yang mendengar tangisan Ivan melepaskan pelukannya dan menghapus air mata dipipi mungil Kyra.
“Hei cantik jangan menangis ya. Aku tidak tahan melihatmu menangis hem.” Sambil tersenyum didepan Kyra.
"Maaf Van"
"Tidak apa - apa Kyra aku mengerti."
“Tapi kita masih tetap teman kan seperti dulu.”
“Tentu saja.” Balas Ivan.
Setelah mengobrol diatap sekolah mereka meninggalkan tempat itu. Tapi perasaan Ivan masih sangat kecewa dengan keputusan Kyra tapi ia tidak ingin menunjukkan didepan gadis yang sudah menjadi mantan pacarnya itu. Baginya kebahagiaan Kyra yang paling penting untuknya. Selama dua tahun pertemanan mereka, ia bisa menahan perasaannya pada Kyra, lalu kenapa sekarang ia tidak bisa. Begitu pikirnya.
Ivan pergi menuju Ruang Osis untuk melanjutkan pekerjaan yang belum ia selesaikan karena ia merupakan
Ketua Osis disekolah itu sedangkan Kyra sudah berada didalam kelas, semua para gadis menatap tajam Kyra. Kyra hanya menganggap biasa tatapan mereka karena ia sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu bahkan ia tidak memiliki teman wanita, teman yang selama ini selalu disampingnya adalah Ivan.
Lalu Rena datang menghampirinya dan ingin mengajaknya bicara ditempat lain. Ia langsung menarik tangan Kyra ke belakang sekolah.
“Hei...kenapa kamu menarik tanganku?” Pekiknya saat Rena Menariknya.
Rena tidak menjawab pertanyaan Kyra dan hanya menariknya sampai belakang sekolah. Saat sampai dibelakang sekolah, ia menatap tajam Kyra dan langsung menampar wajah Kyra.
Plak.....plak.....plak.....suara tamparan tiga kali dari Rena membuat Kyra terjatuh. Ia lalu berdiri dengan memegang pipinya yang merah.
“Apa yang kamu lakukan Rena?” Tanya Kyra.
“Ya tentu saja memukul gadis murahan sepertimu.”
“Gadis murahan.” dengan wajah marah didepan Rena.
“Kamu bilang aku gadis murahan. Apa maksud ucapanmu itu Rena?”
“Ya tentu saja karena kamu sudah menggoda tunangan orang.”
“Hahahahaha...” Kyra tertawa didepan Rena seperti mengejek. “Siapa tunanganmu yang aku goda itu. katakan?” Dengan wajah marahnya.
“Bukankah kamu sudah tahu. Buat apa aku jelaskan lagi, kamu sudah melihat semuanya kemarin kan”
“Oh....jadi yang kamu maksud tunangan itu...Ivan”
“Ia....kalau kamu sudah tahu. Cepat jauhi dia atau aku akan membuatmu keluar dari sekolah ini”
“Tenang saja....aku sudah tidak berhubungan dengan orang yang kamu sebut tunangan itu jadi kamu tidak perlu bicara kasar padaku”
“Baiklah.......aku akan percaya ucapanmu tapi aku tetap akan mengawasimu”
“Itu saja kan yang kamu ingin bicarakan padaku”
“Ia....pergilah” Sambil menyilangkan kedua tangannya didepan Kyra.
Kyra lalu berbalik untuk meninggalkan Rena tapi ia berhenti dan berbalik menampar Rena.
Plak....plak...plak. ia menampar Rena tiga kali.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Rena.
“Itu balasan tamparan yang kamu lakukan tadi padaku” Ucap Kyra.
Ia kemudian meninggalkan Rena didepannya.
“Brengsek kamu Kyra.” Teriaknya saat Kyra meninggalkan Rena disitu.
“Awas kamu Kyra....beraninya menamparku.” Gumamnya sambil memegang pipinya.
Kyra masuk ke kelas setelah berdebat dengan Rena. Ia mendengar para gadis – gadis yang sedang menjelek – jelekkan dirinya tapi ia tidak menghiraukan mereka. Ia hanya ingin belajar dengan damai disekolah itu.
Tring....Tring.....Tring....bunyi bel sekolah pun berbunyi, tanda pelajaran akan dilakukan. Guru sudah masuk kelas dan mulai pelajarannya. Setelah satu jam berlalu, jam sekolah pun berakhir. Para murid sudah mulai meninggalkan kelas satu persatu. Kyra juga sudah pulang sekolah dan seperti biasa pergi ke Rumah Sakit menjenguk Zahila adiknya.
Bersambung.
Jangan lupa Like yah karena Like itu gratis