
Keesokan paginya....Aditya dan Kyra sudah siap – siap ke kampus. Saat membuka pintu Apartemennya, mereka melihat Nyonya Sintya sudah berdiri didepannya.
“Mami....kenapa pagi – pagi mami ada disini?” Tanya Kyra dengan ekspresinya yang bingung.
“Kamu ke kampus bersama mami saja. Biar Aditya naik mobil sendiri.”
Kyra berbalik melihat Aditya yang ada disampingnya.
“Ikut saja dengan mami. Biar aku naik motor ke kampus.” Ucap Aditya.
“Baiklah..”
Kyra pun pergi ke kampus bersama dengan ibu mertuanya sedangkan Aditya mengendarai motornya menuju kampusnya.
Setelah sampai dikampus....Nyonya Sintya menarik tangan Kyra mencari keberadaan Melia.
“Kyra...apa kamu tahu dimana kelas Melia?” Tanya Nyonya Sintya dengan serius.
“Tidak mi...”
Tiba – tiba dari depan ia melihat Melia sedang berjalan dikoridor kampus bersama dengan kedua temannya. Ia datang menghampiri Melia dan kedua temannya itu. Melia tersenyum saat melihat Nyonya Sintya datang menghampirinya.
“Tante Sintya.” Panggilnya sambil tersenyum.
“Kenapa tante disi....
Plak....plak...Nyonya Sintya langsung menampar Melia dua kali sebelum Melia menyelesaikan ucapannya.
Melia memegang pipinya yang habis ditampar Nyonya Sintya. Ia sangat kaget melihat Nyonya Sintya yang secara tiba – tiba menamparnya sampai dua kali.
“Beraninya kamu.” Ucap Nyonya Sintya dengan ekspresi marahnya.
“Tante....ada apa, kenapa tante tiba – tiba datang menampar saya?” Tanya Melia dengan ekspresinya yang bingung sambil memegang pipinya.
“Berani sekali kamu menghina Kyra didepan banyak orang. Memangnya kamu siapa?” Teriaknya.
“Apa.....Kyra” Sahut Melia dengan kaget.
“Tante tidak menyangka kalau kamu ternyata gadis yang sangat jahat.” Ucapnya dengan marah.
“Tante....Melia tidak bermaksud jahat. Melia hanya ingin menyadarkan Kak Adit kalau Kyra itu gadis yang tidak benar.”
Plak....Nyonya Sintya kembali menampar Melia dengan keras.
“Siapa kamu...berani mengatakan itu pada menantuku?” Teriaknya sampai terdengar oleh beberapa mahasiswa yang sedang lalu lalang disitu.
“Apa...menantu tante?” ucapnya dengan sangat kaget sampai matanya melotot saking terkejutnya.
“Aku sudah memanggil orang tuamu ke kampus tadi pagi. Sebaiknya kamu siap – siap membayar perbuatan yang kamu lakukan pada Kyra.” Ucap Nyonya Sintya dengan tegas.
Nyonya Sintya pergi sambil menarik tangan Kyra menuju kantor direktur sedangkan Melia terdiam kaku mendengar ucapan Nyonya Sintya. Ia mulai ketakutan sampai tubuhnya gemetar.
“Bagaimana ini....mama sampai dipanggil ke kampus?” Gumamnya dengan wajahnya yang ketakutan.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia tak menyangka kalau Kyra benar – benar istri Aditya apalagi Tante Sintya menamparnya tadi. Ia sangat ketakutan, jika ia sampai dikeluarkan dari kampus dengan tidak terhormat.
“Melia....apa kami akan dikeluarkan dari kampus?” Tanya Alini yang juga sangat takut karena perbuatannya yang membantu Melia.
“Diamlah...” Teriak Melia membuat kedua temannya kaget.
“Ya tuhan....sampai mamaku pun sudah dipanggil ke kampus. Aku sampai tidak tahu. Bagaimana ini....?” Dalam hati Melia.
Melia tidak tahu kalau ibunya dipanggil ke kampus karena sejak pagi ia tidak bertemu ibunya itu. Ia tahunya ketika Nyonya Sintya memberitahunya tadi.
***
Tadi malam memang Nyonya Sintya ke Rumah Sakit bertemu dengan Pak Kurniawan karena ia marah atas perbuatan Sandi pada Kyra.
Saat itu....Sandi menceritakan dirinya yang dihubungi Kyra duluan. Untuk membuktikan ucapannya, ia memberikan nomor yang selalu menghubunginya itu pada Nyonya Sintya.
Pak Mustang menyelidiki nomor yang dipakai Melia itu. Hanya sebentar saja ia sudah tahu siapa pemilik nomor itu meskipun nomor yang digunakan Melia tidak aktif lagi.
Nyonya Sintya bisa menebak kalau itu mungkin perbuatan Melia apalagi Andi menceritakan perbuatan Melia ketika mereka berada di pantai.
***
Pak Kurniawan memanggil semua orang yang terlibat dengan kejadian Kyra kemarin untuk berkumpul di Kantornya atas perintah Nyonya Sintya. Tak lama kemudian, mereka sudah berkumpul di Kantor Direktur.
Terlihat Aditya dan Kyra yang duduk disofa bersama dengan Nyonya Sintya, ia memeluk bahu istrinya itu.
Sandi duduk dikursi roda dengan kondisi tangannya di gips karena patah akibat perbuatan Aditya, ia hanya menunduk karena merasa bersalah. Pak Kurniawan duduk dikursi kantornya sedangkan Melia berdiri bersama dengan gadis yang menyuruh Kyra ke Gedung Theater sambil menunduk didepan mereka karena sangat ketakutan. Kecuali ibu Melia...ia masih belum datang saat itu.
Pak Kurniawan menyuruh gadis yang bersama Melia untuk menceritakan kejadian kemarin. Ia mengatakan kalau ia disuruh Melia memanggil Kyra tanpa tahu rencana Melia yang ingin menjebak Kyra dan Sandi.
Nyonya Sintya sangat marah mendengar ucapan gadis itu. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berbicara pada Pak Kurniawan.
“Aku ingin gadis itu masuk penjara.” Teriaknya sambil menunjuk kearah Melia.
“Tenang...nyonya. Kita bisa bicarakan ini baik – baik.” Balas Pak Kurniawan.
“Setelah perbuatan yang dilakukan gadis itu pada menantuku. Kamu malah menyuruhku bicara baik – baik. Kamu pikir kamu siapa. Aku tidak mau tahu, pokoknya gadis itu akan aku tuntut karena perbuatan kejamnya.” Teriaknya dengan wajahnya yang sangat marah.
Melia yang mendengar itu langsung menangis sambil menundukkan kepalanya.
“Nyonya...Anda tenang dulu. Biarkan anak – anak bicara terlebih dahulu” Balas Pak Kurniawan.
Tiba – tiba ibu Melia datang, ia langsung masuk ke dalam kantor direktur. Ia berlari menghampiri anaknya yang tengah berdiri didepan mereka.
“Melia sayang.....ada apa denganmu?” Tanya ibunya yang khawatir melihat keadaan Melia yang gemetar.
Melia mengangkat kepalanya didepan ibunya dengan wajahnya yang menangis.
“Ma.....aku bakal masuk penjara. Bagaimana ini...hiks....hiks....tolong Melia ma.” Ucapnya yang terus menangis didepan ibunya.
Ibunya Melia melihat kearah Nyonya Sintya setelah melihat anaknya menangis sedih.
“Jeng....apa sebenarnya yang terjadi, asisten Anda menghubungi saya tadi pagi menyuruh datang ke kampus tapi saya tidak tahu masalahnya apa dan sekarang saya melihat anak saya menangis seperti ini?”
“Tidak mungkin....Melia adalah gadis yang lemah lembut. Dia tidak mungkin berbuat seperti itu, jeng.”
“Semua bukti mengarah kepadanya kalau dia yang sudah berbuat seperti itu, dia tidak bisa mengelak dari perbuatannya itu.”
Ibunya Melia kemudian melihat kearah Melia setelah mendengar semua ucapan Nyonya Sintya.
“Melia....apa benar itu semua perbuatanmu?” Tanya ibunya dengan serius.
Melia diam menunduk tanpa membalas ucapan ibunya.
“Melia....apa benar itu perbuatanmu?” Teriaknya.
Melia langsung mengangkat kepalanya didepan ibunya sambil mengangguk pelan dengan air mata bercucuran.
Ibunya langsung menamparnya dengan keras didepan banyak orang.
“Dasar anak kurang ajar.....aku mendidikmu menjadi wanita yang anggun tapi kamu malah mempermalukanku didepan banyak orang.” Ucapnya dengan marah.
Melia hanya menangis sambil memegang pipinya tanpa membalas ucapan ibunya.
“Cepat minta maaf pada mereka.” Teriaknya dengan keras.
“Tante Sintya....tolong maafkan saya. Saya menyesal atas perbuatan saya.” Ucapnya sambil membungkuk.
“Apa aku orang yang sudah kamu jahati?”
Melia kemudian berjalan kearah Kyra sambil membungkuk.
“Kyra....tolong maafkan aku. Aku sangat menyesal atas perbuatan yang aku lakukan padamu. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku mohon maafkan aku, tolong jangan penjarakan aku.” Ucapnya sambil menangis.
Kyra hanya diam saja melihat Melia memohon maaf padanya.
“Biarpun kamu sudah memohon maaf pada Kyra tapi aku akan tetap memenjarakanmu karena kamu sudah berani mengusik keluargaku.” Sahut Nyonya Sintya.
“Jeng....kita bisa bicarakan ini baik – baik. Melia masih muda, pemikirannya masih labil. Tolong maafkanlah dia, saya akan membawa dia keluar negri jauh dari sini tapi tolong jangan penjarakan dia. Kita sudah kenal cukup lama, pertimbangkanlah kali ini jeng. Anak – anak masih muda.” Sahut ibunya Melia.
“Mi....maafkanlah Melia, jangan penjarakan dia. Aku sudah memaafkan atas semua perbuatannya. Tolong biarkan saja masalah ini lagipula dia sudah tulus meminta maaf padaku.” Sambung Kyra yang saat itu duduk bersama dengan Aditya.
“Haaaa....” Nyonya Sintya menghela nafasnya dengan kasar.
“Baiklah. Mami tidak akan menuntutnya tapi dia harus pergi dari sini.” Tegasnya.
“Baik jeng.....saya akan membawanya kembali ke luar negri. Kalian tidak akan pernah melihatnya lagi.” Sahut ibunya Melia.
“Pergilah....jangan perlihatkan wajah kalian didepanku lagi.” Perintah Nyonya Sintya dengan wajahnya yang masih marah.
Melia dan ibunya pergi meninggalkan Ruang Direktur. Ketika Melia dan ibunya pergi, Nyonya Sintya kembali marah – marah pada Pak Kurniawan atas perbuatan anaknya. Untuk menjaga posisinya sebagai Direktur Kampus Treeya, mau tidak mau ia harus mengeluarkan anaknya sendiri agar membuat Nyonya Sintya tenang. Ia mengirim anaknya itu ke luar negri.
***
Dua hari kemudian, Melia datang ke kampus untuk bertemu secara diam – diam dengan Kyra. Ia ingin pamit pada Kyra saat itu. Melia mengajak Kyra bertemu di Cafe depan kampusnya. Ia menunggu Kyra cukup lama di Cafe itu.
Setelah menunggu lama.....Kyra datang, ia masuk ke dalam Cafe dan sudah melihat Melia sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi. Kyra langsung duduk didepan Melia.
“Kenapa kamu ingin bertemu denganku?” Tanya Kyra dengan serius.
“Aku tidak ada maksud apa – apa....aku hanya ingin berpamitan padamu. Aku benar – benar menyesal atas perbuatanku itu. Aku dibutakan dengan perasaan yang tak pernah ada untukku. Selama aku hidup, aku selalu mengira diriku adalah pemeran utama tapi ternyata aku hanya pemeran pembantu yang jahat.”
“Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?”
“Itu karena aku selalu bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan. Bahkan Kak Aditya, aku pikir aku bisa mendapatkannya dengan menyingkirkanmu tapi aku tidak pernah berpikir, meskipun kamu tidak ada Kak Adit tetap tidak melirikku. Sekarang semua orang malah membenciku.” Ucapnya sambil menunduk.
“Kamu tetaplah pemeran utama untuk dirimu sendiri. Mungkin disuatu tempat ada seseorang yang akan menunggu kedatanganmu. Tuhan sudah menentukan pasangan kita masing – masing, itu tergantung dari kita apakah kita bisa menerimanya atau tidak. Kalau suatu hari kamu bertemu dengan pasanganmu, kamu akan menjadi pemeran utama dalam hidupnya.”
“Terima kasih Kyra....kamu sungguh baik mengatakan kata – kata seperti itu padaku. Aku mengerti sekarang, kenapa Kak Aditya sangat mencintaimu.”
“Sama – sama dan terima kasih atas pujiannya.”
“Ia....aku juga ingin minta maaf sekali lagi atas semua yang aku lakukan.”
“Aku sudah memaafkanmu, tapi meskipun aku sudah memaafkanmu, aku tidak akan pernah melupakan perbuatanmu itu.”
“Ia.....aku tahu. Hari ini aku akan berangkat ke Prancis. Semoga kamu bahagia terus dengan Kak Aditya.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Terima kasih...”
“Aku juga ingin berterima kasih padamu karena tidak membiarkanku dipenjara.”
Kyra hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau begitu...aku pergi. Ini sudah waktunya aku ke bandara.” Ucapnya sambil berdiri.
“Oke....selamat jalan.”
“Eem...” balasnya sambil mengangguk.
Ia berlalu meninggalkan Kyra, tiba – tiba ia berhenti dan menengok kearah Kyra.
“Kyra....jangan percaya dengan orang yang ingin dekat denganmu. Mereka tidak seperti yang kamu bayangkan. Mereka hanya pura – pura berteman denganmu.”
“Apa maksudmu...?”
“Ini hanya pendapatku saja.....aku hanya mencoba memperingatkanmu untuk hati – hati karena tidak semua orang yang jahat itu seperti aku. Orang yang berkedok teman itu bahkan lebih berbahaya.”
“Melia....apa sih yang kamu bicarakan?”
“Aku bilang ini hanya pendapatku saja. Sudah yah....aku pergi.” Ucapnya sambil tersenyum.
Ia kemudian pergi meninggalkan Kyra yang masih kebingungan dengan maksud ucapan Melia itu.
Bersambung.
Jangan lupa Like karena Like itu gratis.