
Melia melangkahkan kakinya menuju kamar Nanda bersama kedua temannya. Wajahnya terlihat kesal karena rencananya tidak berjalan sesuai keinginannya.
“Gadis bodoh itu, aku menyuruhnya mendekati gadis ******* itu tapi dia malah santai di kamarnya.”gumamnya sambil berjalan kearah kamar Nanda.
“Tenanglah Mel, itu pasti bukan salahnya.”sahut Alini.
“Aku tidak bisa tenang kalau begini terus. Aku tidak tahan melihat gadis murahan itu berkeliaran di dekat Kak Adit.”ucapnya dengan kesal.
Melia mengetuk pintu kamar Nanda dengan keras sambil berteriak memanggil namanya.
“Nanda.....buka pintunya.”teriaknya.
Nanda membuka pintu kamarnya dan melihat Melia yang sudah berdiri di depannya dengan tatapan penuh kekesalan.
“Kak Mel....kenapa kamu bisa disini?”tanya Nanda dengan wajah ketakutan.
Melia dan kedua temannya langsung masuk ke dalam kamar Nanda.
“Aku sudah menempatkanmu dikamar yang sama dengan gadis murahan itu tapi kamu tidak mendekatinya seperti yang kuperintahkan. Malah bersantai disini.”ucap Melia sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Ia sangat kesal dengan sepupunya yang tidak menuruti perintahnya itu.
“Maaf kak.....aku tidak berani mendekatinya karena dia terlihat susah didekati. Kalau sampai ketahuan, bagaimana?”
“Memang kenapa kalau sampai ketahuan, dasar gadis culun penakut. Kamu lebih takut dia, daripada aku. Hah”balasnya.
“Bukan takut sama dia kak. Tapi kalau ketahuan sama Ketua, bagaimana. Kita bisa di keluarkan dari kampus. Kakak kan tahu kalau keluarganya Kak Adit berpengaruh di kampus.”jelasnya.
“Cih....memangnya Kak Adit mau menolong gadis yang hanya dia tiduri setiap dia butuh.”
“Sudah Mel....jangan memarahi adikmu.”sahut Alini sambil memegang pundak Melia mencoba menenangkan amarahnya.
Ia kemudian melihat kearah Nanda yang berdiri di depannya.
“Nanda....tadi waktu gadis itu disini. Kamu tidak mendengar sesuatu yang dia katakan, misalnya tentang keluarganya gitu.”
“Tadi sih aku mendengar pembicaraan mereka, kalau gadis yang Kak Mel benci itu anak yatim piatu dan dia juga bukan anak orang kaya seperti kita.”
“Benarkan seperti dugaanku, dia itu hanya menginginkan uangnya Kak Adit saja. Dia salah satu gadis yang sering ditiduri Kak Adit.”ucap Alini.
“Mel.....aku punya ide untuk mempermalukan gadis itu.”sahut Sarla.
“Apa idemu?”tanya Melia penasaran.
Sarla mendekatkan kepalanya di dekat telinga Melia dan membisikkan sesuatu kepadanya membuat Melia mengerutkan keningnya.
“Kamu yakin...idemu itu bisa membuat dia malu dan keluar dari kampus ini.”
“Aku yakin sekali, setelah semua orang tahu tentang dia. Pasti dia akan berhenti kuliah karena tidak tahan dengan rasa malunya.”ucap Sarla.
“Kalau ingin menjalankan ide murahanmu itu, pasti kita harus punya bukti supaya anak – anak percaya.”ucap Melia.
“Kamu suruh saja Nanda yang menyebar luaskannya, dia kan sekamar dengan gadis itu. Terus kita juga bisa geledah barang – barangnya, pasti ada barang mahal di dalam kopernya itu.”ucap Sarla.
“Tadi saat dia membuka kopernya, aku lihat pakaiannya semua pakaian bermerek kak.”sahut Nanda.
Alini dan Sarla menggeledah barang – barang milik Kyra. Mereka menemukan dompet dan beberapa pakaian bermerek milik Kyra.
“Gila....pakaiannya semua edisi terbatas Mel.”ucap Alini memegang salah satu pakaian Kyra.
Melia langsung meraih pakaian Kyra yang dipegang Alini. Ia melihat merek yang tercantum di bajunya Kyra itu.
“Gadis ini bisa memiliki baju seharga 50 juta. Ini benar – benar tidak masuk akal.”ucap Melia.
Ia kemudian mengeluarkan semua pakaian Kyra.
“Semua harga bajunya di atas 50 juta. Gadis ini benar – benar matre.”ucap Melia.
Ia semakin kesal melihat semua barang – barang mahal Kyra. Itu semua pakaian yang pernah diberikan Nyonya Sintya padanya.
Nanda yang melihat mereka mengobrak – abrik pakaian Kyra merasa tidak enak.
“Kak....bukankah menggeledah barang orang adalah hal yang melanggar hukum.”sahut Nanda.
“Diamlah....kamu tidak usah ikut campur.”balas Melia dengan ekspresi marah.
Nanda hanya menunduk takut mendengar ucapan Melia yang memarahinya.
“Mel.....lihat ini.”sahut Alini yang sedang memegang dompet milik Kyra.
Ia membuka dompet Kyra dan melihat Black Card milik Kyra yang pernah diberikan Aditya padanya, betapa terkejutnya Melia saat melihat Black Card yang jumlahnya terbatas itu.
“Dia punya Kartu Kredit ini.”
“Gila Mel.....gadis itu benar – benar sesuatu. Hanya orang – orang super kaya yang bisa memiliki kartu kredit seperti ini. Pasti Kak Adit yang memberikan dia.”sahut Alini.
Melia semakin geram, wajahnya terlihat sangat marah. Ia mengepal tangannya dengan keras.
“Kenapa Kak Adit sampai memberikan dia kartu kredit begitu. Apa yang diberikan gadis murahan itu yang tidak bisa kuberikan padanya?”dalam hati Melia.
“Nanda...”panggil Melia.
“Ia kak”
“Bereskan barang – barangnya seperti semula.”pinta Melia.
“Baik kak.”
“Mel....kita bawa saja dompetnya supaya anak – anak diluar bisa percaya.”sahut Sarla.
“Hei....apa kamu ingin menjadikanku seorang pencuri?”ucap Melia.
“Kita bilang saja kalau gadis itu menjatuhkan dompetnya.”sambung Alini.
“Terserah kalian saja, yang penting si ******* itu bisa dipermalukan.”balas Melia.
Mereka keluar dari kamar Kyra menuju ruang tamu tempat perkumpulan para mahasiswa baru. Melia menyuruh Nanda menyebarkan gosip tentang Kyra. Ia mengatakan pada teman – temannya kalau Kyra adalah gadis panggilan yang telah meniduri banyak pria hanya untuk mendapatkan uang. Gosip itu menyebar dengan cepat di antara mahasiswa bahkan di antara seniornya.
Melia memang berencana mempermalukan Kyra di depan mahasiswa lainnya dengan memanfaatkan Nanda sepupunya. Ia ingin mengeluarkan Kyra dari Universitas Treeya agar tidak bisa lagi mendekati Aditya yang selama ini ia sukai semenjak masuk kuliah.
***
Andi menghampiri kedua temannya yang duduk di meja makan dan Lea masih berdiri di belakang Kyra.
Sedangkan Aditya berdiri dari tempat duduknya saat melihat Kyra sudah berada di ruangannya itu. Ia berjalan menghampiri Kyra.
“Kenapa kamu lama sekali sayang?”tanya Aditya sambil mengecup kening istrinya.
Andi dan Rey melihatnya dengan tatapan kaget dan tak percaya jika temannya yang selalu bersikap dingin itu benar – benar sudah jatuh cinta dengan Kyra.
Sementara Bagas hanya tersenyum melihat kemesraan mereka berdua karena ia sudah tahu kalau Aditya sejak awal sudah tertarik dengan Kyra hanya saja Aditya lama menyadari perasaannya itu.
Aditya melingkarkan tangan kirinya dileher Kyra. Ia terus memegang pipi Kyra sambil mengelusnya dengan lembut tanpa rasa malu di depan temannya. Kyra sudah sangat malu dibuatnya.
“Dit....bisa tidak kamu jangan bersikap begini, aku malu dilihat mereka.”bisik Kyra.
Aditya langsung berbalik ke belakang melihat mereka dengan tatapan tajam. Mereka bertiga langsung pura - pura sibuk dengan HP-nya masing - masing saat Aditya berbalik melihatnya.
“Mana....mereka tidak lihat kok.”ucapnya.
“Terus....kita Cuma berdiri saja, tidak makan.”
“Oh....aku sampai lupa sayang. Ayo...kita makan.”ucap Aditya sambil menarik Kyra.
Aditya tiba – tiba tersadar dengan kehadiran orang asing di belakang Kyra.
“Siapa dia?”tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya.
Kyra berbalik ke belakang melihat Lea yang sejak tadi hanya menunduk takut.
“Oh....dia.”balasnya sambil menunjuk Lea. “Lea.....ayo sini.”panggilnya.
Lea mengangkat kepalanya saat mendengar panggilan Kyra.
“Ia....”balasnya sambil berjalan ke samping Kyra.
“Ini Lea...teman sekamarku.”sambil memegang tangan Lea dan memperkenalkan kepada mereka berempat.
“Halo senior....”sapa Lea sambil menunduk.
“Santai saja Lea.....kami tidak akan memakanmu kok. Kamu temannya Kyra berarti teman kami juga.”sahut Bagas.
“Aku pikir tadi, dia pacarnya adik keempat ternyata dia temanmu yah Kyra.”sahut Rey.
Lea menunduk malu saat mendengar ucapan Rey.
“Hai....sepertinya gadis itu menyukaimu.”bisik Bagas pada Andi yang sadar dengan ekspresi Lea yang malu - malu.
“Cih....apa sih. Gadis seperti itu bukan tipeku?”
“Sudah perkenalannya kan. Sekarang waktunya kita makan siang. Ayo sayang.”sahut Aditya sambil menarik tangan Kyra.
“Ayo Lea....”ajak Kyra.
“Oh....ia”
Mereka semua duduk di meja makan dan mulai menikmati makanannya. Aditya dan Kyra kembali bermesraan di depan mereka. Aditya menyendokkan makanan dan menyuapi istrinya.
“Aku bisa sendiri Dit.”
“Eem...ayo makan.”pinta Aditya dengan mata melotot di depan Kyra.
Kyra langsung menerima suapan Aditya itu dengan rasa malu diwajahnya.
Lea merasa iri melihat kemesraan Aditya dan Kyra sampai membayangkan dirinya bisa mendapatkan pasangan yang mencintainya.
“Kapan....aku bisa mendapatkan pacar yang perhatian seperti Kak Adit yah. Aku iri melihat mereka berdua. Kyra beruntung sekali bisa punya Kak Adit yang selalu memperhatikannya”dalam hati Lea.
Sedangkan Bagas, Rey dan Andi menggeleng – gelengkan kepalanya melihat Aditya dan Kyra bermesraan.
“Kak...Orang yang suka pamer cinta itu katanya tidak akan bertahan lama.”sahut Andi sambil melihat kearah Aditya.
Aditya langsung menatapnya dengan tajam.
“Apa maksudmu....kamu tidak suka melihatku dengan istriku berbagi cinta atau kamu merasa iri. Kalau iri, sana nikah?”ucapnya dengan kesal.
“Siapa yang iri?”gumamnya.
Lea kaget mendengar ucapan Aditya yang mengatakan kalau Kyra adalah istrinya.
“Mereka berdua suami istri.....masa sih, diusia semuda ini mereka menikah. Tidak mungkin.”dalam hati Lea.
***
Setelah makan, Kyra dan Lea kembali ke Villa sebelah untuk istirahat karena mereka akan melakukan kegiatan nanti malam di pantai. Mereka diantar oleh Andi atas perintah Aditya.
***
Sementara Aditya, Bagas dan Rey duduk di sofa sambil merebahkan tubuh mereka sejenak.
“Dit....jangan terlalu memanjakan istrimu, nanti dia akan kabur meninggalkanmu.”sahut Rey yang duduk di samping Aditya.
Aditya langsung menatapnya dengan tatapan tajam. Sedangkan Bagas menggeleng – gelengkan kepalanya mendengar ucapan Rey yang selalu buat orang itu tersinggung.
“Huh....Justru wanita itu perlu dimanja supaya dia tidak pergi. Kamu itu harus serius pacaran supaya mengerti apa itu cinta, jangan cuma bicara tidak jelas yang bikin orang jengkel.”ucap Aditya dengan kesal.
“Anak ini, bercandanya sungguh keterlaluan. Dia tidak bisa menjaga perasaan orang. Kapan dia akan merubah cara bicaranya yang pedas itu.”dalam hati Bagas.
“Eh....aku hanya bercanda tadi. Apa ucapanku sungguh keterlaluan?”balasnya dengan santai.
“Cih....sekali lagi, kamu bicara. Akan kulempar kamu keluar.”ucap Aditya sambil menatapnya dengan kesal.
Sontak saja membuat Rey menelan ludahnya mendengar ancaman temannya itu.
Ia kemudian memainkan HP-nya untuk menghindari tatapan Aditya.
Bersambung.
Jangan lupa Like, Vote, Comment and Rate 5 yah.