Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 35 Beautiful Romance



Saat ini Aditya dan Kyra tengah berada di taksi menuju Hotelnya, setelah meninggalkan Rumah Sakit, wajah Aditya terlihat berbeda. Ia tidak lagi memasang wajah kesalnya tapi tetap saja, ia masih tidak bisa tersenyum.


Di mobil, Kyra menerima pesan dari ibu mertuanya, jika ia dan Aditya harus berfoto berdua untuk ia tunjukkan pada neneknya. Ia lalu memberitahu Aditya tentang isi pesan ibu mertuanya itu.


“Dit....” panggil Kyra sambil melihat Aditya yang menghadap ke luar jendela.


“Eem” balasnya.


“Mami kirim pesan kalau kita harus foto berdua untuk ditunjukkan pada nenek” ucap Kyra.


“Ya sudah....foto saja”


“Maksudnya bukan foto yang biasa. Tapi kita harus foto setiap berwisata di sini”


“Jadi maksudmu pergi jalan – jalan gitu terus di foto setiap momentnya”


“Ia...” balasnya sambil tersenyum.


“Huh.....pasti keinginan mami sendiri tuh” ketusnya.


“Terus bagaimana kalau ternyata nenek benar – benar ingin melihat foto kita?” tanya Kyra serius.


“Ya sudah....kita foto saja nanti saat sampai di Hotel, di Hotel banyak tuh wisata hiburannya” jawab Aditya yang masih melihat luar jendela kaca mobil.


“Kita boleh ke Pantai tidak”


“Di Hotel juga ada pantainya”


“Loh....terus kenapa aku tidak tahu?” tanya Kyra dengan ekspresi kaget karena ia tak tahu kalau ada pantai di dekat Hotel mereka.


“Pantainya ada di belakang Hotel...” jawabnya sambil melihat kearah Kyra.


“Haa....yang benar” dengan wajah melotot.


“Cih....dasar bodoh” gumamnya.


“Berarti kita bisa main di pantai sepuasnya” ucapnya.


Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai di Hotel. Aditya dan Kyra berjalan menuju pantai yang letaknya tak jauh dari Hotel tempatnya menginap.


Kyra terlihat senang saat melihat pemandangan pantai yang sangat indah, ia tidak menyangka jika di dekat Hotelnya ada pantai. Bagaimana ia tidak tahu karena Hotel yang ia tempati letaknya di depan sedangkan pantainya ada di belakang yang letaknya tidak terlalu dekat. Dari Hotel ke Pantai mereka harus berjalan kaki apalagi ia tidak pernah membuka Hordeng kamarnya yang bisa ia nikmati pemandangannya dari kamar Hotelnya itu.


“Wah...indah sekali pantainya” ucapnya dengan takjub melihat pemandangan indah di depannya. “Dit, ayo kita foto – foto disini” sambil menengok ke belakang melihat Aditya.


“Nanti saja” ucapnya dengan wajah datarnya. Kyra terlihat kesal melihat Aditya yang masih berwajah tidak senang.


“Kenapa sih terus berwajah datar begitu, biarpun kamu tidak senang kamu liburan denganku tapi setidaknya kamu harus menikmati liburan kita saat ini. Apa kamu mau terus begitu sampai kita pulang, aku sih tidak masalah tapi bagaimana dengan nenek. Kita harus foto – foto bahagia dan mengirimkannya pada nenek” sambil melihat kearah Aditya. Aditya hanya diam saja mendengar ucapan Kyra.


“Setelah liburan, terserah kalau kamu terus memasang wajah kesalmu itu padaku, aku tidak peduli tapi ini semua keinginan nenek yang ingin kita bahagia biarpun hanya sebentar”


“Baiklah...aku akan melakukannya seperti yang kamu katakan”


“Benar....” sambil tersenyum senang. “Janji ya” sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


“Tidak usah melakukan itu. Aku melakukan ini untuk nenek bukan untukmu”


“Terserah tapi kamu tetap harus janji”


“Seperti anak kecil saja” ucapnya dengan kesal sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Kyra.


“Mana senyumnya” pinta Kyra. Aditya langsung menatap tajam Kyra.


“Kenapa menatapku seperti itu, tadi katanya mau melakukannya ?”


Aditya langsung tersenyum paksa didepan Kyra, Kyra hanya tertawa kecil melihat tingkah Aditya.


“Kenapa kamu tertawa, bukannya tadi kamu menyuruhku tersenyum?” tanya Aditya serius.


“Tersenyum ya tersenyum, kenapa harus dipaksakan”


“Bagaimana aku bisa tersenyum, disini tidak ada yang bisa membuatku tersenyum?”


Kyra yang melihat Aditya seperti itu langsung memegang tangannya dan berlari menulusuri pantai, ia menarik tangan Aditya sambil sesekali berbalik tertawa melihat Aditya yang ada dibelakangnya. Jantung Aditya langsung berdetak cepat saat melihat senyuman lebar diwajah Kyra didepannya dengan rambut panjang yang tertiup angin apalagi ia berlari dipinggir pantai sambil ditarik oleh Kyra.


Aditya pun mulai tersenyum melihat Kyra saat itu. Semakin lama, senyuman dibibirnya itu terlihat bahagia. Ia seperti menikmati liburannya bersama Kyra, ia dan Kyra berlari kejar – kejaran di pinggir pantai sambil tertawa lepas. Kyra ingin menangkap moment kebersamaan mereka saat itu. Ia berlari kearah seorang pengunjung dan menyodorkan kameranya untuk memfotonya bersama Aditya.


“Tuan....bisakah Anda foto kami berdua?” tanya Kyra pada salah satu pengunjung pantai.


“Baik nona” sambil mengambil kamera yang diberikan Kyra.


Kyra pun mendekatkan dirinya disamping Aditya sambil tersenyum sedangkan Aditya hanya memasang wajah datarnya saja, orang yang memfotonya merasa kalau mereka terlihat kaku seperti bukan pasangan.


“Nona.....lebih dekat lagi supaya hasil fotonya lebih bagus kalau Anda hanya berdiri seperti itu malah terlihat kaku”


“Sepert ini....” sambil mendekatkan dirinya lagi pada Aditya tetapi mereka hanya berdiri sendiri tanpa berpegangan tangan ataupun yang lainnya.


“Maaf...Tuan, nona. Apa kalian pasangan?”


“Kalian seperti bukan pasangan, terlihat seperti orang asing. Kalau saya foto malah hasilnya seperti foto buku nikah, nona” ucapnya.


Aditya sudah mulai terlihat kesal dengan orang yang memfoto dirinya. Ia kemudian menarik tubuh Kyra sampai membuatnya saling berhadapan, ia memegang pinggang istrinya itu sambil mendekatkan wajahnya didepan Kyra. Kyra terlihat sangat kaget dengan tingkah Aditya itu.


“Tersenyumlah.....” bisiknya.


“Ah.....” balas Kyra dengan kaget.


“Aku bilang tersenyum”


“Oh....ia” sambil tersenyum paksa karena ia masih kaget dengan posisinya sekarang.


“Kenapa senyummu seperti dipaksakan?”


“Ti....dak.” ucapnya dengan gugup. “Aku tersenyum alami kok” balasnya dengan wajah malu.


“Perlihatkan padaku senyum alami yang kamu maksud itu” ucap Aditya serius.


Kyra yang mendengar ucapan Aditya mulai tersenyum lagi tapi senyumnya kali ini bukan paksaan lagi. Aditya yang melihat Kyra tersenyum juga ikut tersenyum, ia lalu berbalik melihat orang yang memfotonya.


“Apa seperti ini sudah cukup tuan?” tanya Aditya.


“Ia....sangat bagus tuan” ucapnya sambil memfoto mereka berdua.


Kyra dan Aditya pun berfoto bersama sambil tersenyum bahagia, Aditya sudah tidak memasang wajah dinginnya itu. Entah itu benar – benar untuk neneknya atau karena hal lain tapi apapun alasannya, ia terlihat sangat bahagia.


***


Saat petang, mereka kembali ke Hotel....Aditya langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya yang dipenuhi dengan bau keringat. Di dalam kamar mandi, ia mandi dengan Power Shower sambil membayangkan wajah Kyra saat mereka berfoto bersama di pantai.


“Sial....kenapa aku terus mengingat wajahnya itu?” sambil menepuk – nepuk pipinya dengan keras.


Aditya lalu mematikan Power Showernya. Ia lalu menarik baju mandi dan memakainya.  Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandinya. Sedangkan Kyra langsung berlari ke kamar mandi setelah melihat Aditya keluar dari kamar mandinya karena ia sudah tidak tahan dengan tubuhnya yang lengket gara – gara keringatnya.


Tak menunggu lama, Kyra keluar dari kamar mandinya, ia melihat Aditya duduk di sofa menunggunya.


“Ayo kita turun kebawah” pinta Aditya sambil berdiri dari tempat duduknya.


“Mau kemana?” tanya Kyra penasaran.


“Ke Restoran” jawabnya.


“Kenapa kita tidak pesan layanan kamar saja?”


“Apa kamu tidak bosan terus berada di kamar ini?” tanya Aditya.


“Baiklah”


Mereka turun ke lantai bawah dimana Restorannya berada. Saat masuk ke Restoran, mereka di sambut oleh pelayan Restoran. Kyra sangat takjub melihat Restorannya yang dipenuhi oleh beberapa pasangan yang sedang makan apalagi Restorannya terlihat mewah.


Didepan mereka, ada sebuah panggung musikal, mereka bisa makan sambil menikmati pertunjukkan musikal yang sederhana.


“Ramai sekali.....” ucap Kyra sambil melihat sekeliling Restoran.


“Ayo duduk”


Kyra pun duduk bersama Aditya.....Kyra tersadar dengan panggung musikal yang letaknya tak jauh didepannya.


“Wah....itu panggung musikal ya” sambil melihat ke panggung dengan ekspresi takjub.


“Eem”


“Baru kali ini aku melihat Restoran ada pertunjukkan musikalnya di dalam”


“Tanya saja pada mertua kesayanganmu itu.....itu semua ide konyolnya”


“Tapi para pengunjung malah sangat menikmati, mereka seperti tidak ingin meninggalkan Restorannya”


“Asal tahu saja ya. Setelah selesai makan, kita harus cepat pergi. Kalau masih mau tinggal disini, harus pesan makanan lagi”


“Kalau tidak mau pergi bagaimana?”


“Tetap harus pesan, biarpun itu hanya minuman saja. Itu sudah peraturannya disini”


Tiba – tiba pelayan Restoran datang menghampiri mereka, Aditya dan Kyra pun memesang beberapa makanan. Mereka berdua makan sambil menikmati pertunjukkan musikal di atas panggung.


Setelah selesai menikmati makan malam mereka, mereka pun kembali ke kamar untuk istirahat. Seperti biasa, mereka berdua hanya tidur tanpa melakukan apapun apalagi mereka sangat lelah seharian main di pantai tapi yang berubah adalah Aditya, ia terus tersenyum sambil membelakangi Kyra karena ia merasa malu jika senyumannya dilihat oleh istrinya itu.


Alasan ia tersenyum hanya satu karena ia merasa senang saat di pantai tadi. Ia tak bisa tidur karena terus mengingat kebersamaannya saat di pantai tapi ia harus memaksakan dirinya agar bisa tidur karena besok mereka akan memulai wisatanya lagi dengan berjalan – jalan menyelusuri Kota New York.


Bersambung.


Biasakan LIKE setelah membaca ya karena LIKE itu gratis guys.