
Pukul 8:00 pagi, Aditya bangun dan melihat Kyra yang masih tidur lelap disampingnya dengan keadaan telanjang, hanya ada selimut yang menutupi tubuhnya itu.
Ia ingin sekali memeluk tubuh mungil istrinya itu bahkan ingin melakukan hal yang kemarin ia lakukan tapi ia merasa kasihan pada Kyra yang meringis kesakitan tadi malam. Ia juga merasa canggung jika ia meminta hal itu lagi pada Kyra, bisa – bisa ia dianggap laki – laki mesum seperti dulu.
Aditya sekarang lebih mementingkan Kyra yang akan salah paham padanya daripada harus mengikuti nafsunya itu. Ia terus menatap istrinya itu yang masih tertidur lelap.
“Lebih baik aku mandi daripada terus menatapnya. Aku bisa gila nanti” dalam hati Aditya.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Saat di dalam, ia mandi dengan Electric Shower sambil mengingat kejadian yang ia lakukan tadi malam pada Kyra.
Aditya menahan tubuhnya dengan kedua tangannya menempel di dinding dengan air shower yang masih mengalir ke tubuhnya.
Ia menunduk sambil menarik nafasnya dengan panjang. “Haaaa.......Bukannya aku puas tapi aku malah ingin menyentuh tubuhnya lagi dan lagi. Bagaimana kamu bisa bernafsu begini sih, Aditya. Berapa kali aku tidur dengan wanita tapi baru kali ini ada wanita yang membuatku terus ingin menyentuhnya” gumam Aditya.
Ia kemudian mengangkat kepalanya, membiarkan air shower mengenai wajah tampannya itu.
Setelah puas mandi, ia mematikan Electric Showernya dan menarik baju mandi yang menggantung di dekatnya. Ia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian, ia melihat Kyra yang masih tidur di kasur. Aditya menekan alat komunikasi yang menempel di dekat pintu kamarnya.
“Bawa sarapannya ke kamar” perintah Aditya
“Baik Tuan Muda” balas seorang pelayan dari balik telfon.
Tak menunggu lama, seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya.
Aditya membuka pintu kamarnya dan melihat pelayannya itu tengah berdiri didepannya.
“Tuan Muda....saya bawa sarapan Anda” sambil menunduk.
Aditya mengambil nampang yang berisi makanan itu.
“Pergilah” perinta Aditya.
“Baik Tuan Muda”
Aditya menutup pintu kamarnya setelah pelayannya itu pergi. Ia berjalan menuju meja yang ada didepan tempat tidurnya. Ia letakkan makanannya di meja itu dan duduk di sofa sambil menatap Kyra yang masih tidur dikasurnya.
“Apa yang akan kulakukan, saat dia bangun nanti.?” dalam hati Aditya.
Tiba – tiba ia melihat Kyra bergerak sambil mengucek – ucek matanya. Aditya dengan sigap mengubah posisinya menjadi santai dengan bersandar di sofa dan kedua kakinya ia silangkan ke depan, seakan – akan dirinya tidak canggung. Padahal ia merasa canggung tapi ia melakukan itu untuk menutupi kecanggungannya saat Kyra melihatnya.
“Santai Aditya.....santai. Di depanmu itu si gadis tomboi yang selama ini selalu membuat kamu kesal” dalam hati Aditya yang melirik Kyra.
Kyra yang masih berbaring mencoba membuka matanya secara perlahan. Ia melihat di sampingnya tidak ada Aditya, ia memaksa tubuhnya untuk bangun sambil memegang selimut untuk menutupi tubuhnya.
Saat ia bangun dan duduk di kasur, ia melihat Aditya yang duduk dengan posisinya tadi sambil menikmati secangkir kopi panas di depannya.
“Kamu sudah bangun” ucap Aditya dengan santai sambil memegang gelas kopi ditangannya.
“Jam berapa sekarang?” tanya Kyra.
“Jam 8 lewat” balas Aditya.
“Sudah jam segini, kenapa tidak membangunkan aku”
“Kulihat kamu sangat lelah jadi aku tidak membangunkanmu” jawab Aditya sambil melihat Kyra dengan santai.
“Kenapa ekspresinya seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Huh...dasar laki - laki” dalam hati Kyra.
“Bangunlah dan mandi.....sebentar lagi kita akan terbang ke Indonesia” pinta Aditya.
“Sekarang.....” balas Kyra dengan kaget.
“Ia sekarang.....memang kapan lagi. Apa kamu mau tinggal disini terus?” tanya Aditya serius.
“Tidak bisakah kita tinggal sehari saja. Aku ingin bertemu dengan adikku dulu”
“Tidak bisa.....kita sudah terlalu lama disini. Semester baru akan dimulai, aku harus memimpin anak – anak di kampus untuk penerimaan mahasiswa baru. Kamu juga bukannya ada acara perpisahan di sekolahmu kan”
“Tapi bagaimana dengan Zahila.....?” tanya Kyra.
“Tapi bagaimana kalau dia sedih aku pulang tidak bilang – bilang padanya?”
“Saat kita sampai di Indonesia, kamu video call saja sama dia. Itu lebih baik daripada harus bertemu langsung yang akan membuatnya semakin sedih” jelasnya.
“Baiklah.....terserah padamu. Aku juga tidak ingin membuat Zahila menangis sampai ia sedih berkepanjangan”
“Mandilah cepat.....sebentar lagi kita berangkat”
“Ia...” balas Kyra.
Ia melilitkan selimut ditubuhnya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Saat didalam ia mengisi air panas di Bathup dan memberikannya sedikit aroma terapi. Ia berendam di Bathup sambil memikirkan Aditya.
“Gayanya tadi biasa – biasa saja. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Laki – laki itu memang sulit ditebak apalagi laki – laki mesum seperti dia. Setelah memuaskan hasratnya, dia lupakan begitu saja. Huh” gumamnya dengan kesal.
Setelah berendam selama 30 menit, ia keluar dari kamar mandi dengan baju mandi yang sudah ia pakai. Saat itu, ia tidak melihat keberadaan Aditya.
“Kemana lagi dia?” gumamnya.
Kyra membuka kopernya dan mengambil salah satu bajunya dan langsung memakainya. Setelah selesai berpakaian, ia duduk di sofa sambil makan makanan yang ada di meja.
Dari luar, Aditya datang menghampiri Kyra.
“Kamu sudah siap”
“Eem....” sambil menguyah makanannya. Ia minum jusnya dan berdiri didepan Aditya.
“Kamu habiskan dulu sarapanmu baru kita pergi. Kita naik pesawat pribadi jadi tidak ada yang akan membuat kita mengejar waktu”
“Aku memang sudah selesai kok”
“Aku bilang habiskan dulu makanan yang kamu makan itu. Aku akan duduk menunggumu disini” ucap Aditya sedikit tegas.
“Ia....ia. akan kuhabiskan”
Kyra meraih makanannya lagi di meja dan langsung memakannya. Setelah Kyra selesai makan, ia keluar kamar bersama Aditya. Saat diluar kamar, tiba – tiba Kyra berhenti seperti melupakan sesuatu.
“Ada apa?” tanya Aditya.
“Kamu bilang....ada barang yang ingin kamu ambil disini. Kamu tidak lupa kan?” tanya Kyra sambil melihat Aditya.
“Sudah.....”
“Barang apa itu?” tanya Kyra penasaran.
“Draft mobil. Tapi kenapa kamu perhatian sekali dengan hal – hal yang menyangkut diriku”
“Apa aku terlihat perhatian...aku hanya mencoba mengingatkanmu saja. Kalau kamu lupa dengan barangnya, kamu pasti akan melampiaskannya padaku”
“Dasar pikiran sempit.....Ayo cepat kita turun ke bawah” jawab Aditya sambil berjalan menuruni tangga.
“Cih....aku kira apaan. Ternyata begituan. Dasar pencinta mobil” gumamnya yang masih berdiri diatas.
Ia berlari menuruni tangga saat sadar jika Aditya sudah ada di bawah. Mereka berjalan keluar rumah dan naik mobil ke Bandara milik Keluarga Sinatria yang jaraknya tak jauh dari rumahnya. Hanya lima menit mereka sudah sampai di Bandara yang terlihat sederhana itu. Tak begitu mewah seperti Bandara pada umumnya karena itu hanya diperuntukan untuk Keluarga mereka saja.
Aditya dan Kyra pun naik ke pesawat yang terlihat sangat mewah itu. Didalamnya tersedia fasilitas yang membuat kita rakyat biasa geleng – geleng kepala.
Saat di pesawat, Aditya bisa bernafas lega karena ia tidak menderita lagi seperti saat mereka datang ke Amerika. Ia bisa tidur nyenyak dikasur empuk yang ada di pesawatnya itu.
Sementara Kyra terus berkeliling di dalam pesawat melihat semua fasilitas yang ada di pesawat itu. Seperti Kursi Pijat, kamar tidur yang luas, Ruang Makan, Home Theater dan Ruang Rapat karena itu biasa di pakai oleh Tuan Agung, ayah mertuanya. Apalagi Tuan Agung itu bolak balik Amerika dan Indonesia yang mengharuskan ia untuk memiliki fasilitas seperti layaknya Hotel berbintang.
Bersambung.
Biasakan like setelah membaca karena like itu gratis guys.