Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 54 Beautiful Romance



Aditya berlari masuk ke dalam Villa dan melihat mereka semua masih berkelahi. Ia dan Rey langsung datang menghampiri mereka. Aditya memeluk tubuh istrinya dari belakang berusaha menahannya untuk tidak berkelahi sedangkan Rey memegang Melia.


“Lepaskan aku.....aku belum selesai dengannya.”teriak Kyra yang sudah dipegang oleh Aditya.


“Kurang ajar kamu, beraninya memukulku. Dasar murahan.”balas Melia yang di pegang oleh Rey.


Ia masih tidak sadar dengan kehadiran Aditya dan Rey karena fokus dengan Kyra.


Sementara Andi melerai kedua teman Melia dan Lea yang masih berkelahi.


“Lepaskan.....aku masih belum puas memukulnya.”teriaknya sambil meronta – ronta karena tubuhnya dipegang oleh Aditya.


“Kenapa.....memangnya aku takut padamu. Kamu itu hanya *******, beraninya memukulku. Dasar anak yatim piatu?”teriak Melia yang di pegang oleh Rey.


“Diamlah.....”teriak Aditya dengan keras karena melihat Melia berteriak menghina Kyra.


Melia langsung diam setelah mendengar Aditya berteriak di depannya. Ia baru sadar dengan kehadiran Aditya dan yang lainnya.


Aditya ingin sekali memberi pelajaran pada Melia yang sudah berani menghina istrinya. Tapi hal pertama yang harus ia lakukan dulu adalah menenangkan Kyra yang tidak berhenti marah - marah.


“Rey....tahan mereka sampai aku kembali. Aku akan membawa Kyra ke sebelah dulu.”pinta Aditya.


“Oke...”


“Ayo....kita ke sebelah.”ucap Aditya sambil menarik tubuh Kyra.


“Aku belum puas memukulnya.....lepaskan aku.”teriaknya yang berusaha maju untuk memukul Melia.


Aditya langsung menggendong Kyra dibahunya karena Kyra tidak bisa diam dan terus maju ingin memukul Melia. Kyra saat itu sangat murka dengan Melia yang menghina ibunya sampai tidak mempedulikan suaminya yang berusaha menghentikannya.


“Dit.....turunkan aku.”teriak Kyra saat digendong Aditya.


Aditya tidak mempedulikan teriakan istrinya itu, ia berusaha membawa Kyra dari tempat itu menuju ke Villa sebelah karena Kyra tidak berhenti untuk menghantam melia.


Saat di Villa, ia langsung naik ke lantai dua dan masuk ke dalam.


Setelah di dalam, ia langsung menurunkan tubuh Kyra di sofa. Ia berdiri dengan meletakkan kedua tangannya dipinggangnya sambil menghela nafasnya menatap wajah Kyra yang berantakan apalagi dengan luka merah dipipinya karena habis di tampar di tambah lagi dengan bekas cakaran di pipinya.


Ia kemudian berjalan mengambil P3K yang ada di lemari dan duduk di dekat Kyra sambil mengoleskan obat di lukanya. Kyra sama sekali tidak mengeluh kesakitan saat Aditya mengobatinya. Ia hanya memasang wajah cemberut di depan suaminya itu.


“Apa lukamu ini tidak sakit. Bilang saja kalau sakit, kamu jangan menahannya di depanku?”tanya Aditya sambil memberikan salep di luka Kyra.


“Ini tidak sakit sama sekali dibanding dengan sakit hatiku pada mereka.”balas Kyra dengan wajahnya yang masih kesal.


“Apa yang mereka perbuat padamu sampai membuatmu semarah ini?”tanya Aditya penasaran.


“Kenapa kamu baru menanyakannya sekarang, kenapa tidak menanyakannya saat di sebelah tadi?”tanya Kyra dengan serius.


“Apa tadi aku bisa menanyakan letak masalahnya saat kamu masih marah – marah seperti tadi. Saat aku menahanmu, kamu hampir mencelakai suamimu sendiri?”tanya Aditya yang masih mengobati Kyra.


“Apa aku memukulmu?”tanya Kyra dengan khawatir.


“Tidak sayang.....cuma hampir saja.”


“Maaf yah Dit.....habis aku tidak bisa menahan amarahku mendengar ucapan mereka.”ucap Kyra dengan ekspresi merasa bersalah pada Aditya.


“Tidak apa – apa sayang. Aku hanya bercanda saja tadi, jadi kamu tidak usah minta maaf begitu.”balas Aditya sambil tersenyum.


Kyra mengangguk. "Ia..."


Aditya selesai mengobati luka Kyra. Ia mengelus pipi Kyra dengan lembut yang habis ditampar oleh Melia.


“Aku ingin menanyakannya sekali lagi, kenapa kamu sampai bertengkar dengan mereka?”tanya Aditya yang masih memegang pipi Kyra yang sakit.


Haaaa....Kyra menarik nafasnya mencoba menenangkan dirinya lalu menatap suaminya itu dan menceritakan semua yang terjadi.


“Saat aku masuk ke Villa, mereka semua menatapku dengan tatapan aneh sambil berbisik tentangku. Aku masih mendiami mereka karena aku tidak tahu apa yang mereka bisikkan tentangku. Saat kak Melia datang menghampiriku dan langsung mengatakan kalau aku gadis panggilan yang tidur dengan beberapa pria hanya untuk uang. Aku masih diam dan berusaha menahan emosiku tapi saat kak Melia menghina ibu, aku langsung menamparnya dua kali tapi dia malah menarik rambutku bersama dengan kedua tangannya. Akhirnya kami semua bertengkar seperti tadi.”jelasnya.


“Kamu melawan mereka bertiga seorang diri. Kamu sungguh luar biasa sayang.”ucap Aditya sambil tersenyum lebar.


“Apa sekarang kamu mengejekku. Aku sudah menceritakannya dengan serius tapi kamu malah tersenyum lebar begitu?”ucapnya dengan wajah cemberut.


“Aku tidak mengejekmu. Aku cuma tidak menyangka kalau kamu bisa melawan mereka bertiga dengan seorang diri. Pantas saja dulu pukulanmu di hidungku sampai berdarah ternyata kamu memang mahir berkelahi yah.”ucap Aditya yang masih tersenyum.


“Cih.....aku tidak sendiri kok. Lea membantuku tadi.”


Kyra mengangguk. “Ia...”


Tiba – tiba Bagas datang dan langsung masuk ke dalam. Ia terlihat khawatir setelah mendengar perkelahian Kyra dengan Melia.


“Apa yang terjadi?”tanya Bagas yang sudah berdiri di depan mereka berdua.


“Kamu darimana saja?”tanya Aditya serius.


“Aku sedang menyiapkan pelatihan untuk anak – anak di pantai. Saat aku ke Villa sebelah, aku melihat Rey marah – marah pada mahasiswa yang lainnya, aku langsung datang menghampirinya. Andi bilang karena Kyra bertengkar dengan seniornya.”jawabnya sambil menatap Aditya.


Bagas langsung melihat kearah Kyra.


“Tapi Kyra, kamu baik – baik saja kan.”


“Aku baik kak.”balas Kyra.


“Kamu tunggu sebentar. Kita ke sebelah bersama.”pinta Aditya sambil melihat kearah Bagas.


“Oke....”


Ia kembali melihat kearah istrinya sambil memegang pundaknya dengan tangan Kanannya dan tangan satunya memegang kepala Kyra.


“Sayang....kamu disini saja yah. Tidak usah ikut pelatihan dengan mereka sampai kita pulang.”pinta Aditya.


“Loh.....kenapa aku tidak bisa ikut pelatihan dengan mereka sedangkan mereka masih bisa ikut. Apa aku sudah sangat bersalah karena bertengkar dengan mereka sampai aku tidak dibolehkan ikut pelatihan.”balas Kyra dengan wajah kesal.


Haaaa.....Aditya menghela nafasnya mendengar ocehan istrinya itu yang tiada henti.


“Sayang....bukan seperti itu.”


“Terus apa....apa aku memang tidak pantas bergabung dengan mereka. Begitu?”tanya Kyra dengan wajah kesalnya.


“Kyra....pokoknya aku melarangmu ikut kegiatan bersama mereka. Kamu disini saja sampai pelatihannya selesai.”


“Kamu tega sekali, Dit. Masa cuma aku yang dihukum tidak ikut pelatihan Ospek.”teriaknya.


“Ini bukam hukuman sayang.... tapi ini larangan. Aku mengatakan ini sebagai suamimu bukan Ketua BEM. Oke.”jelasnya.


“Huh....Kamu memang tidak mengerti perasaanku. Kamu bahkan tidak membiarkanku merasakan pelatihan Ospek itu seperti apa cuma karena aku bertengkar dengan mereka, aku itu bertengkar karena penghinaan mereka yang sudah sangat keterlaluan. Apa aku sudah sangat membuatmu malu sampai kamu mau menahanku terus disini. Kamu malu kalau aku bertengkar lagi. Begitu.”balasnya dengan kesal.


“Bukan begitu.....Kyra. Aku hanya....


Kyra tidak membiarkan suaminya itu menyelesaikan ucapannya dan langsung berlari keluar dengan kesal karena Aditya yang melarangnya melakukan apapun.


“Kyra.....tunggu dulu. Kamu mau kemana?”panggilnya.


Aditya ingin menyusul istrinya tapi ditahan oleh Bagas.


“Biarkan dia tenang dulu. Dia masih emosi dengan kejadian tadi, kalau kamu memaksanya nanti dia akan semakin marah.”ucap Bagas.


“Apa aku salah bicara lagi padanya. Aku hanya mencoba melindunginya. Aku tidak tahan kalau melihat dia bertengkar lagi dengan anak – anak apalagi dia sampai di hina seperti itu. Kamu tidak lihat wajahnya yang penuh luka itu, aku tidak tahan melihatnya.”ucapnya dengan ekspresinya yang marah.


“Ia....aku tahu. Tenanglah Dit.”


“Dia sama sekali tidak mengerti perasaanku yang selalu menghawatirkannya.”


“Ia....Aku yang akan menjelaskan pada Kyra. Kamu sebaiknya urus mereka.”


“Cih....memikirkan anak – anak itu. Aku ingin sekali memukul mereka satu persatu, beraninya mereka membuat kekacauan saat aku masih ada. Mereka sudah tidak menghormatiku sebagai Ketua.”ucapnya dengan kesal.


“Kamu uruslah mahasiswamu itu, aku akan menyusul Kyra dulu. Mungkin dia bisa mendengarkan penjelasanku. Setelah dia mengerti, aku akan memanggilmu.”


“Baiklah.....buat dia mengerti. Panggil aku kalau dia sudah tenang. Pokoknya dia tidak boleh ikut bergabung dengan mereka sedangkan anak – anak itu akan kuberi hukuman karena sudah membuat kekacauan. Mereka akan mendapat pelatihan ospek sendiri dariku.”ucapnya dengan marah.


“Baiklah.”


Bagas bergegas mencari keberadaan Kyra sementara Aditya datang menghampiri mereka semua di sebelah dengan ekspresi yang penuh amarah.


Sebenarnya sejak tadi Aditya sudah sangat marah melihat Kyra dipukul oleh Melia tapi ia berusaha menahan amarahnya di depan istrinya itu.


Bersambung.


Jangan Lupa Like yah karena Like itu gratis apalagi membuat author semangat kalau kalian Like.