
Melia yang habis ditampar semakin geram karena merasa diperlakukan tidak adil oleh Aditya hanya karena seorang gadis murahan seperti Kyra yang menurutnya tidak sebanding dengannya. Ia sampai mengepal tangannya dengan erat karena sangat marah.
“Senior.....kenapa Anda memperlakukan saya seperti ini di depan mereka hanya karena seorang gadis murahan seperti dia. Dia hanya gadis yang tidur dengan beberapa pria tapi senior malah membelanya seperti dia sangat berarti.”ucap Melia sambil menangis.
Aditya tersenyum menyeringai sambil memasang wajah dinginnya di depan Melia.
“Apa kamu tahu dia siapa hah......kamu mau tahu dia siapa?”teriaknya dengan mata melotot karena amarahnya. “Dia wanita yang selalu berada ditempat tidurku....bahkan kau tidak sebanding dengan seujung kukunya itu.”ucapnya sambil melihat Melia dengan mata melotot.
“Senior.....wanita pelacur itu tidak sebanding dengan Anda.”balasnya dengan mata yang menangis.
Aditya langsung mencengkram leher Melia karena sudah semakin marah. Ia sampai tidak sadar jika Melia seorang perempuan yang tak bisa ia pukul. Aditya memang punya prinsip jika ia tidak akan pernah memukul seorang perempuan tapi karena amarahnya yang sangat besar sampai membuat dia tidak sadar.
Andi dan Rey yang melihat Aditya mencengkram leher Melia langsung memegang tangan Aditya. Tapi tenaga Aditya sangat kuat sampai Rey tidak bisa melepaskannya dengan mudah.
“Beraninya kau mengatakan istriku pelacur.”teriaknya dengan mata melotot.
“Dit....lepaskan. Dia seorang wanita, Dit.”sahut Rey yang berusaha memegang tangan Aditya.
Aditya yang mendengar Rey langsung tersadar dan melepaskan tangannya dari leher Melia.
Uhuk....uhuk....uhuk. Melia batuk - batuk sambil memegang lehernya yang habis dicengkram Aditya.
Ia kemudian tersadar dengan ucapan Aditya yang menyebut Kyra sebagai istrinya. Ia sampai menjatuhkan dirinya di lantai sambil memegang lehernya yang dicengkram oleh Aditya.
Semua yang mendengarnya juga sangat kaget tak percaya dengan sebutan istri dari mulut Aditya. Mereka saling melihat satu sama lain dengan wajah yang semakin takut.
“Mulai hari ini....aku tidak ingin melihat kalian bertiga berada disini. Kalian bukan lagi Anggota BEM, kalian sudah dikeluarkan. Malam ini juga kalian bertiga tinggalkan tempat ini, kalau besok aku masih melihat kalian semua berada di tempat ini maka aku akan berbuat nekad yang tidak akan pernah kalian bayangkan."ucapnya dengan tegas. "Cepat pergi....”teriak Aditya dengan keras di depan Melia dan kedua temannya.
Alini dan Sarla langsung membantu Melia berdiri dari tempatnya. Mereka bertiga melangkahkan kakinya menuju kamar mereka untuk siap – siap pulang.
Saat mereka pergi, Aditya kembali berteriak kepada orang – orang yang ada di depannya.
“Dan kalian semua.....kalian sudah berani menghina istriku. Kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Mulai malam ini kalian bermalam diluar tanpa pengalas apapun, sampai kalian bisa meminta maaf pada Kyra maka kalian akan berada diluar sampai pulang.”ucapnya dengan tegas.
Santi tiba – tiba berdiri di depan Aditya dengan wajah yang serius.
“Dit....bukankah ini sedikit keterlaluan. Kenapa kami semua harus tinggal diluar, kamu tahu sendiri kan kalau angin pantai itu dingin sekali. Ini sudah melanggar aturan kita.”sahut Santi.
“Kamu bilang aku keterlaluan. Terus apa yang kalian perbuat pada Kyra. Kalian semua menatapnya dengan hina hanya karena gosip yang tidak benar. Kalian semua membicarakan dirinya sebagai wanita pelacur. Dia itu istriku, bukan gadis yang bisa seenaknya kalian hina dan pandang dengan rendah. Dia bahkan tidak sebanding dengan kalian semua.”teriaknya dengan sangat marah sambil menunjuk kearah mereka.
“Tapi Dit....kamu tidak kasihan pada mereka semua.”sahut Santi.
“Cih....kasihan. Kalian semua tidak pantas dikasihani. Sebelum kalian minta maaf pada Kyra, kalian tidak akan pernah diijinkan masuk ke dalam Villa. Kalau kalian tidak terima, kembalilah ke rumah kalian masing – masing dan jangan tunjukkan wajah kalian di kampus.”tegasnya. “Dasar orang – orang manja tidak berguna.”
Mereka semua hanya menunduk ketakutan tanpa berani untuk bergerak. Santi pun tidak berani lagi berbicara di depan Aditya. Ia takut kalau sampai ancaman Aditya ber-imbas padanya.
“Kenapa kalian diam.....cepat pergi?”teriaknya.
Semua orang keluar Villa saat mendengar teriakan Aditya yang memuncak. Mereka sangat ketakutan dengan amarah Aditya apalagi saat mendengar ancamannya.
Rey datang mendekatinya dan mencoba berbicara padanya.
“Dit.....bagaimana dengan pelatihan yang kita berikan pada mereka. Bagas tadi sudah melakukan persiapannya di pinggir pantai. Api unggun juga sudah disiapkan?”tanya Rey.
“Lakukan saja seperti rencana awal. Tapi jangan biarkan mereka bermalam di Villa sampai mereka minta maaf pada Kyra.”ucapnya dengan serius.
“Satu lagi.....berikan mereka hukuman yang membuat mereka jera.”
“Hukuman apa?”tanya Rey.
“Berikan saja hukuman merayap pada mereka. Jangan berhenti kalau mereka belum kelelahan.”ucapnya dengan serius.
“Baiklah.....aku akan pergi. Tapi....kamu akan tetap disini atau akan kembali ke Villa sebelah.”
“Tidak.....aku akan bergabung denganmu nanti. Tapi aku ingin duduk dulu sebentar disini. Aku ingin menenangkan diriku sejenak.”ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
“Baiklah.....kalau begitu aku pergi keluar. Biar Andi yang menemanimu disini.”
“Eem...”balasnya sambil memejamkan matanya.
Rey pun keluar meninggalkan Aditya dan Andi yang sedang duduk di sofa.
Sedangkan Melia dan kedua temannya berada di kamar untuk siap – siap pulang. Melia terlihat marah, bukannya kapok ia malah semakin benci dan iri dengan Kyra. Ia tidak percaya dengan ucapan yang didengar dari mulut Aditya. Ia melempar semua barang yang ada di kamarnya itu sampai membuat kedua temannya kaget.
“Aaahhh.....brengsek.”teriaknya. “Apa sih bagusnya gadis itu, sampai Kak Adit membelanya?”
Alini mencoba mendekatinya dan memegang bahunya.
“Mel....bukankah tadi Kak Adit bilang kalau Kyra itu istrinya. Sebaiknya kita sudahi saja.”sahut Alini.
“Apa kalian berdua percaya dengan ucapannya. Kalau memang mereka sudah menikah kenapa kita semua tidak ada yang tahu. Apalagi ibuku dan Tante Sintya adalah rekan bisnis, kalau mereka sudah menikah berarti ibuku juga pasti sudah diundang.”ucapnya dengan tegas.
“Benarkah.....”sahut Alini dengan kaget. “Jadi kamu kenal dengan ibunya Kak Adit.”
“Jangan – jangan itu hanya nama panggilan Kak Adit saja karena ingin membela gadis itu.”sambung Sarla.
“Cuma aku yang pantas bersanding dengan Kak Adit apalagi aku pernah bertemu dengan Tante Sintya, dia bahkan berencana mengenalkanku dengan kak Adit tapi entah kenapa dia tidak pernah menghubungiku padahal dia sudah janji untuk mempertemukan kami. Jika aku bertemu dengannya lagi pasti dia akan setuju kalau aku berjodoh dengan Kak Adit. Meskipun aku Cuma bertemu satu kali dengan Tante Sintya tapi aku bisa tahu kalau dia mengharapkanku menjadi menantunya.”
“Kalau begitu kamu bisa katakan padanya kalau ada gadis yang tidak benar mencoba mendekati Kak Adit untuk mendapatkan uangnya.”sahut Alini.
“Huh....aku pasti akan memberitahunya tapi sebelum itu, aku punya rencana untuk membuat gadis itu menjauh dari Kak Adit tanpa menggunakan tanganku sendiri.”
“Kami berdua akan membantumu. Tapi Mel.....kamu tidak marah pada kami karena sudah memukulmu tadi.”sahut Sarla.
“Aku hanya marah pada si Kyra itu.....tidak ada waktuku untuk mengurusi kalian. Aku tahu kalau kalian diancam karena gadis itu.”
“Terima kasih Mel...kamu baik sekali.”sahut Alini.
“Maaf yah Mel.”sambung Sarla.
Mereka berdua memeluk Melia dengan erat sambil tersenyum.
“Cih....kalau saja aku tidak ingin memanfaatkan kalian. Aku tidak mungkin mau berteman dengan orang yang sudah memukulku.”dalam hati Melia.
Bersambung.
Jangan lupa Like yah karena Like kalian sangat berarti untuk author apalagi gratis.