
Aditya sekarang sudah berada di Apartemennya, ia memanggil dokter kandungan untuk datang ke Apartemennya. Dokter kandungan itu memang khusus disewa Nyonya Sintya ketika ia tahu Kyra tengah hamil.
Tak lama kemudian, dokter datang ke Apartemennya. Ia masuk ke dalam setelah Aditya membuka pintu Apartemennya.
“Kamu tidak memberitahu ibuku kan.”
“Ia....Tuan Muda. Nyonya Sintya tidak tahu saya datang kesini. Memang apa yang terjadi dengan Nyonya Muda.”
“Dia pingsan....cepat kamu periksa dia.” Pintanya.
“Baik...”
Dokter kandungan itu masuk ke dalam kamar bersama Aditya. Ketika berada didalam, ia langsung memeriksa keadaan Kyra. Aditya terlihat sangat khawatir menunggu keadaan istrinya.
“Bagaimana....apa dia baik – baik saja?” Tanya Aditya dengan ekspresi khawatirnya.
“Kondisi janinnya lemah, Tuan Muda.”
“Apa...?” sahutnya dengan kaget. “Bagaimana bisa janinnya sampai lemah?”
“Apa akhir – akhir ini dia melakukan sesuatu yang berat, Tuan Muda?” Tanya dokternya.
“Tidak.....dia hanya marah - marah tadi. Setelah marah dan berteriak, dia langsung pingsan.”
“Tuan Muda....meskipun dia tidak melakukan apapun. Tapi dia tidak boleh stress dan meluapkan emosinya. Apalagi dia hamil muda, Anda harus mengalah padanya. Jangan membuatnya marah, emosi yang memuncak bisa berakibat fatal pada janinnya.” Jelasnya membuat Aditya semakin merasa bersalah karena sudah membentak istrinya.
“Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk membuatnya sembuh?” Tanyanya dengan wajahnya yang marah.
“Tenang Tuan Muda, saya akan memberikan infus dan memberikan obat penguat kandungan, semoga itu bisa membantunya. Tapi Anda harus menjaga emosinya selama beberapa bulan kedepan sampai kandungannya sudah masuk 7 bulan.”
“Baiklah....aku akan melakukan itu semua sesuai yang kamu katakan.”
“Baik...”
Dokter itu langsung memasang infus pada Kyra. Setelah selesai, ia kembali bicara pada Aditya.
“Setelah infusnya habis.....dia pasti akan merasa baikan. Saya akan mengirim perawat saya untuk menjaganya disini.”
“Baiklah....itu terserah padamu, yang penting dia cepat sadar kembali.”
“Tentu Tuan Muda...”
Dokter kandungan Kyra pergi meninggalkan Apartemen Aditya sedangkan Aditya duduk disamping istrinya sambil memegang tangan istrinya.
“Sayang.....maafkan aku karena sudah bicara kasar padamu tadi. Aku terlalu emosi, tolong maafkan aku.” Gumamnya dengan sedih.
Tak lama kemudian, perawat yang disuruh merawat Kyra datang. Aditya keluar kamarnya ketika mendengar suara bel Apartemennya.
“Masuklah.”
“Baik...Tuan Muda.”
Perawat itu berjalan masuk mengikuti Aditya menuju kamarnya. Ketika berada didalam, Aditya tiba – tiba menerima telfon dari ibunya. Ia sangat kaget mendengar ucapan ibunya yang mengatakan kalau neneknya masuk Rumah Sakit dan sedang kritis.
Ia langsung menutup telfonnya dan berbicara pada perawat yang ada didepannya.
“Tolong jaga istriku sebentar.....aku akan ke Rumah Sakit Sejahtera. Kalau dia bangun, kamu bilang padanya kalau nenek sedang kritis.”
“Baik Tuan Muda.”
Aditya kemudian mencium kening istrinya dan berlari dengan terburu – buru meninggalkan Apartemennya menuju Rumah Sakit Sejahtera.
Ketika sampai di Rumah Sakit....Aditya langsung berlari masuk ke Rumah Sakit dengan wajahnya yang sangat khawatir. Ia berlari menuju kamar IGD, ia melihat ibunya sedang berada di depan IGD dengan wajahnya yang gelisah dan khawatir.
Nyonya Sintya menangis ketika melihat anaknya datang. Ia langsung memeluk anak semata wayangnya itu.
“Dit...bagaimana ini. Nenekmu sedang kritis didalam.....hiks....hiks...hiks....mami tidak sanggup melihatnya seperti itu.” Ucapnya sambil memeluk anaknya.
“Jangan menangis....aku disini. Semuanya pasti baik – baik saja, oke.”
“Eem....papimu sekarang sedang dalam perjalanan kesini. Dia baru berangkat tadi tapi dia harus kembali lagi, mungkin besok baru kembali. Mami sangat takut sayang.”
“Ia....tenanglah, aku ada disini.” Ucapnya sambil memeluk erat ibunya.
Tiba – tiba dokter keluar......wajahnya terlihat serius.
“Mohon maaf....apa Tuan Aditya dan Nona Kyra ada disini?”
“Saya Aditya....ada apa dok?”
“Nyonya Ambar terus memanggil Anda dan Nona Kyra....dia bersikeras untuk bertemu dengan cucunya.”
“Apa saya boleh masuk?”
“Silahkan tuan....”
Aditya masuk ke dalam kamar IGD, ia melihat neneknya terbaring lemah dengan masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya. Ia berdiri disamping neneknya sambil memegang erat tangan neneknya.
Nyonya Ambar secara perlahan menengok kearah cucunya dalam keadaan lemah.
“Nenek...” panggil Aditya pelan.
Nyonya Ambar menarik pelan masker oksigennya dan berbicara pada cucunya.
“Dimana istrimu?” Tanya Nyonya Besar dengan suaranya yang terdengar lemah.
“Dia sedang perjalanan kesini nek.....nenek tenang saja dia pasti akan datang.” Ucapnya sambil meneteskan air matanya.
“Kenapa kamu menangis nak.....apa kamu sudah lupa dengan yang nenek ajarkan sewaktu kecil?”
“Aku ingat dengan yang nenek ajarkan. Tapi......laki – laki yang sekuat baja sekalipun akan menangis ketika melihat orang yang dicintainya menderita.”
“Nenek tidak menderita nak.....nenek sangat bahagia sekarang. Melihat kalian berdua hidup rukun dan saling mencintai, nenek sangat bahagia. Akhirnya cucu kesayangan nenek mendapatkan pasangan yang tepat.” Ucapnya dengan nada pelan.
“Aditya.......ingat pesan nenek, jangan pernah berpisah dengan istrimu yah. Kamu harus menjaga dia, dia tidak punya siapa – siapa selain dirimu. Kamu harus janji pada nenek?”
“Aditya janji pada nenek......kami akan selalu bersama. Tapi tolong jangan banyak bicara lagi nek, nenek sudah sangat lelah.”
“Ia.....nenek sudah lelah, mata nenek sangat mengantuk. Nenek sudah mengatakan apa yan ingin nenek katakan padamu. Apa nenek boleh tidur sekarang sayang?”
Aditya mengangguk.
“Ia....”
Nyonya Ambar kemudian memejamkan matanya secara perlahan, tiba – tiba mesin Defibrillator berbunyi lurus menandakan detak jantung Nyonya Ambar sudah tidak ada.....Aditya syok sambil melihat kearah layar mesin Defibrillator.
Dokter yang sejak tadi berdiri didekat mereka dengan sigap mengambil alat pengejut jantung untuk membantu mengembalikan jantung Nyonya Ambar dalam keadaan normal.
Tak lama kemudian dokter menghentikan aksinya itu sambil menggelang – gelengkan kepalanya didepan Aditya.
Dokter yang menangani Nyonya Ambar mengumumkan didepan rekan – rekannya tentang kematian Nyonya Ambar.
Sontak saja membuat Aditya semakin syok.....ia menatap tubuh neneknya dengan tatapan kosong. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai karena tak bisa menerima kematian neneknya yang secara tiba – tiba.
Nyonya Ambar memang sudah tua apalagi dengan semua penyakit yang dideritanya dan salah satunya adalah jantung. Kondisi tubuhnya yang sudah tua tentu saja berbagai penyakit menghampirinya seperti tekanan darah tinggi, radang sendi dan jantung. Tapi....ia meninggal dunia dengan penyakit jantung yang dideritanya.
***
Sementara di Apartemen Aditya......Kyra membuka matanya secara perlahan – lahan.
“Anda sudah bangun nona?” Tanya perawat yang sedang duduk disampingnya.
Kyra menengok pelan kearahnya.
“Kamu siapa?” Tanya Kyra penasaran.
“Saya perawat yang disewa Tuan Muda.”
“Apa tuanmu ada diluar?”
“Tuan Muda barusan pergi ke Rumah Sakit.”
“Siapa yang sakit?
“Tuan Muda bilang.....dia ke rumah sakit karena neneknya tiba – tiba kritis.”
“Apa....nenek masuk rumah sakit?” Sahutnya dengan kaget.
“Ia nona..”
Kyra melepaskan selang infus ditangannya dan bangun dari tempat tidurnya.
“Nona....apa yang Anda lakukan. Infusnya belum habis nona?”
“Aku sudah tidak apa – apa. Aku ingin ke rumah sakit sekarang.”
“Tapi nona...
Kyra dengan sigap mengangkat tangannya didepan perawat itu menyuruhnya untuk berhenti bicara.
“Aku bilang....aku tidak apa – apa.”
Kyra turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamarnya.
“Nona....” panggilnya dengan pelan.
“Tolong...jangan menahanku. Aku benar – benar tidak apa – apa.” Ucapnya sambil melihat kearah perawatnya.
Ia meninggalkan Apartemennya dengan keadaan yang masih lemah. Sedangkan perawatnya itu hanya diam melihat kepergian Kyra.
Kyra naik taksi menuju Rumah Sakit Sejahtera. Tak lama kemudian, ia sampai di Rumah Sakit Sejahtera. Ia berlari masuk ke dalam Rumah Sakit dan langsung bertanya kepada suster yang sedang berjaga didepan.
“Sus....dimana ruangan nenek saya?”
“Apa...”
“Eh...maksudnya Nyonya Ambar.”
“Oh....Nyonya Ambar...dia sekarang di IGD, mba.”
“Terima kasih...”
Kyra bergegas menuju IGD tempat neneknya berada. Ketika sampai di sana, ia sudah melihat neneknya didorong keluar oleh beberapa dokter dengan tubuh yang tertutupi kain putih. Terlihat Nyonya Sintya terus menangis dipelukan anaknya.
Dengan sigap, Kyra berlari kearah neneknya.
“Nenek....hiks.....hiks.....nenek....hiks..” teriaknya sambil membuka kain putih diwajah Nyonya Ambar.
Ia kemudian melihat kearah ibu mertuanya.
“Mi...apa yang terjadi pada nenek?”
“Kyra....nenek sudah meninggal sayang.”
Kyra semakin histeris mendengar ucapan ibu mertuanya. Ia memeluk erat tubuh neneknya.
“Nenek....hiks....hiks.....kenapa nenek pergi begitu saja, aku tidak punya siapa – siapa lagi kalau nenek pergi...hiks....hiks....nenek. Jangan tinggalkan aku, hiks.....hiks...hiks...”
Meskipun Kyra hanya kenal Nyonya Ambar Cuma sebentar tapi kasih sayang yang diberikan Nyonya Ambar padanya membuatnya sangat menyayangi Nyonya Ambar melebihi dirinya sendiri. Hal itulah yang membuatnya menangis histeris, ia merasa sangat kehilangan apalagi ia datang ketika neneknya sudah meninggal
Bersambung.
Jangan Lupa Like yah karena Like kalian itu sangat berarti untuk Author.