Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 12 Beautiful Romance



Nyonya Sintya sudah berada di kamarnya. Ia menyuruh salah satu pelayannya untuk memanggil Pak Mustang. Tak menunggu lama, Pak Mustang datang dan langsung masuk karena pintu kamar Nyonya Sintya saat itu terbuka lebar. Ia berdiri dibelakang Nyonya Sintya sambil membungkuk.


“Nyonya memanggil saya” sahut Pak Mustang.


“Eem...kamu sudah datang” balas Nyonya Sintya dengan wajah murungnya sambil berbalik kearah Pak Mustang.


“Ada apa nyonya.... wajah Anda terlihat murung?” tanya Pak Mustang.


“Nyonya besar mendesakku untuk mencarikan jodoh yang terbaik untuk Aditya. Kalau aku tidak menurutinya, takutnya dia pingsan lagi seperti tadi. Sementara aku belum menemukan gadis yang sesuai dengan Aditya. Mas Agung juga masih di Amerika mengurus bisnisnya”


“Anda kan sudah punya Nona Kyra. Anda bujuk saja dia untuk menikah dengan Aditya.”


“Kamu ini bodoh ya. Apa dia mau menikah dengan orang yang baru dia kenal. Coba kamu pikirkan, Suatu hari ada seorang wanita yang entah darimana datangnya, tiba – tiba menyuruhmu menikah dengan anaknya. Apa yang akan kamu pikirkan pada wanita itu hah.”


“Ia juga ya Nyonya. Saya pasti akan berpikir kalau wanita itu sudah gila.”


“Huh....dasar bodoh. Kamu mengejekku.” ucapnya dengan wajah kesal sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.


“Maaf nyonya, saya tidak bermaksud mengejek. Tapi... menurut saya, Anda bilang saja sejujurnya nyonya. Kalau Anda melakukannya demi Nyonya Besar.”


“Kamu itu benar – benar bodoh ya. Biarpun dia baik tapi tidak mungkin dia menikah dengan orang yang tidak dia kenal tanpa alasan. Pernikahan itu sangat diidam – idamkan setiap wanita, apalagi kalau kita para wanita menikah dengan orang yang kita cintai kan. Itu adalah moment paling mengharukan dalam setiap wanita.” Jelas Nyonya Sintya.


Ia lalu memalingkan wajahnya ke kiri karena tidak ingin melihat wajah bodoh asistennya itu.


“Hem...alasan ya.” sambil membolak balikkan kepalanya mencoba memikirkan sesuatu. “Ah....saya punya ide nyonya, supaya Nona Kyra mau menerima tawaran Anda.”


“Apa...cepat katakan?” tanya Nyonya Sintya dengan antusias.


Pak Mustang memajukan wajahnya ke dekat Nyonya Sintya dan membisikkan idenya.


“Apa kamu sudah gila. Penyakit itu bukan untuk main – main?” dengan wajah kaget dan mata melotot didepan Pak Mustang.


Ia lalu membelakangi Pak Mustang karena kesal dengan ide yang diberikan Pak Mustang.


“Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak sanggup melihat orang sedih apalagi seorang gadis remaja seperti Kyra.” ucapnya dengan wajah kesal dan marah.


“Kita kan juga menolong Nona Kyra, Nyonya. Apa dia akan selamanya bisa membiayai adiknya itu. Suatu saat nanti, hal itu akan terjadi padanya. Kita hanya mempercepatnya saja untuk mencegah hal yang tidak diinginkan dikemudian hari.”


Haaaaaaaa......Nyonya Sintya menghela nafasnya. Ia lalu berbalik ke arah Pak Mustang.


“Baiklah....aku pikirkan dulu ide konyolmu itu.”


“Baik nyonya”


“Keluarlah...nanti aku akan memanggilmu kalau aku sudah setuju. Jangan lupa tutup pintu sebelum keluar.”


Ia kembali membelakangi Pak Mustang.


“Baik nyonya”


Pak Mustang keluar meninggalkan Nyonya Sintya yang masih berdiri membelakanginya saat itu. Sementara Nyonya Sintya terus memikirkan ide yang diberikan Pak Mustang. Apakah ia akan melakukannya atau tidak. Begitu pikirnya.


“Apa aku menerima saja ide yang diberikan si Mustang bodoh itu ya. Kalau aku mencari gadis lain tidak mungkin, hanya Kyra gadis yang aku suka saat ini. Sebaiknya aku telfon Adit dulu supaya dia datang ke rumah menjenguk ibu. Setelah melihat keadaan ibu, dia pasti akan setuju untuk menikah. Dia kan sayang sekali pada ibu?” gumamnya.


Ia lalu mengambil handphonenya yang ia letakkan di meja riasnya.


(Suara Telfon)


“Halo sayang”


“Ia mi....ada apa?”


“Nenek jatuh pingsan sayang. Kamu pulang ya”


“Apa....nenek pingsan?” Aditya langsung mematikan Handphonenya setelah mendengar neneknya pingsan.


“Halo....Aditya...halo” ia melihat handphonennya dan baru sadar jika Aditya sudah mematikan handphonnya dari tadi.


“Dasar anak sialan. Langsung dimatikan begitu saja tanpa memberitahu ibunya dulu” gumamnya dengan kesal.


Tak lama kemudian, Aditya datang dengan motor besarnya. Ia masuk kedalam pekarangan rumahnya yang luas dan memarkirkan motornya didepan pintu rumahnya itu. Ia melemparkan kunci motornya pada salah satu pelayan yang berdiri dipintu masuk saat itu dan langsung berlari masuk menuju kamar neneknya.


“Nenek....” panggil Aditya.


Neneknya langsung terkejut melihat Aditya yang datang tiba – tiba tanpa sepengetahuannya.


“Aditya.....kenapa kamu bisa disini. Apa kamu tidak kuliah?” tanya Nyonya besar.


“Tadi aku terima telfon dari mami, katanya nenek pingsan” balas Aditya yang sudah duduk didepan neneknya sambil memegang tangan neneknya itu.


Tiba – tiba Nyonya Sintya datang dan langsung berdiri dibelakang Aditya. Ia melihat ibu mertuanya itu dengan memutar –mutar bola matanya memberikan isyarat jika ia harus pura – pura tidak berdaya dan ibu mertuanya itu mengerti dengan maksud menantunya itu.


“Nenek” panggil Aditya.


Neneknya terperanjat kaget mendengar Aditya memanggilnya. Ia yang melihat Nyonya Sintya dengan sigap melihat kearah Aditya.


“Mi...apa nenek sudah diperiksa sama dokter?” sambil berbalik kearah maminya.


“Sudah sayang....ya kan bu.” sambil memberikan kode dengan matanya pada ibu mertuanya itu.


“Ia...ibu sudah diperiksa nak”


“Terus dokter bilang apa nek?” tanya Aditya dengan wajah khawatir.


Nyonya Sintya dan ibu mertuanya kembali saling melihat memberikan kode.


“Dokter bilang nenek baik – baik saja asalkan dia bisa terus bahagia dan merasa senang sayang” ucap Nyonya Sintya.


“Ia nak.....nenek sekarang ingin sekali melihatmu menikah. Hanya membayangkannya saja nenek sudah merasa sedikit senang apalagi kalau benar terjadi pasti nenek cepat sembuh.”


“Tapi nek, Aditya masih 22 tahun. Menikah itu bukan hal gampang, Aditya harus bertanggung jawab terhadap anak orang, menafkahi dia, bertanggung jawab padanya. Itu semua belum sanggup Aditya lakukan. Nenek tahu sendiri kan kalau Aditya masih kuliah belum punya pekerjaan.” jelas Aditya.


“Apa kamu sengaja mencari alasan didepan nenek. Semua yang kamu bilang tadi itu kan sudah bisa terpenuhi. Setiap hari kamu menghabiskan uang sampai puluhan juta sekarang kamu bilang tidak mampu bertanggung jawab pada anak orang?”


“Maaf nek. Aditya benar – benar tidak bisa menikah.”


“Apa kamu tidak sayang sama nenek. Apa kamu ingin nenek cepat mati hah?”


“Nenek kenapa bicara seperti itu sih?”


“Memang kenyataannya kan. Kamu lihat sendiri kan sekarang, nenek lemah dan hanya bisa tiduran dikasur begini. Mungkin saja besok nenek akan meninggal, tidak ada yang tahu kan.”


Tiba – tiba Nyonya Sintya berteriak dan pura – pura menangis sambil memeluk ibu mertuanya.


“Ibuuuuuu.......kenapa ibu bilang begitu...hiks....hiks...hiks” sambil memeluk erat ibu mertuanya. Ia lalu berbisik pada ibu mertuanya itu. “Ibu...kenapa ibu mesti bicara kematian sih.”


Ibu mertuanya tidak membalas ucapan menantunya dan hanya melanjutkan aktingnya didepan Aditya.


“Aditya sudah tidak sayang lagi pada ibu, Sintya. Dia lebih tega melihat neneknya terbaring terus ditempat tidur”


Aditya sudah mulai kasihan melihat neneknya itu.


“Haaaaaaa...” Aditya menunduk sambil menghembuskan nafasnya. Ia lalu melihat neneknya. “Baiklah....aku akan menikah dengan wanita pilihan kalian”


Nyonya Sintya dan ibu mertuanya terkejut. Nyonya Sintya yang tadinya menangis terus, tiba – tiba bangun dan melepaskan pelukannya dari ibu mertuanya itu. Ia kemudian menatap wajah Aditya dengan tersenyum lebar. Sedangkan ibu mertuanya terlihat sangat senang.


“Benarkah yang kamu katakan itu nak” ucap neneknya dengan antusias.


“Ia nek. Apa sekarang nenek sudah senang?” jawab Aditya.


“Tentu saja sangat senang nak”


“Kalau begitu nenek tidak usah banyak pikiran lagi karena Aditya sudah setuju menikah.”


“Ia nak.....kalau begitu, kamu kembali ke kampus saja sekarang ya karena kamu pasti sibuk dengan kuliah kamu kan.”


“Biar Aditya temani nenek disini sampai baikan”


“Tidak usah nak. Disini ada perawat dan juga ibumu. Lagian nenek sudah merasa sehat setelah mendengar kamu setuju untuk menikah.”


“Ya sudah....Aditya pergi kalau begitu. Nanti Aditya datang lagi nek”


“Ia nak”


Aditya lalu pergi meninggalkan neneknya yang masih terbaring dikasur. Setelah Aditya pergi, Nyonya Sintya langsung berpelukan dengan ibu mertuanya sambil tertawa senang.


“Akhirnya Aditya setuju bu”


“Kenapa dari kemarin kamu tidak memakai ide seperti ini biar Aditya bisa cepat setuju?” tanya Ibu mertuanya.


“Aku tidak mau gara – gara ini harus memanfaatkan penyakit ibu.”


“Tapi...apa sekarang, itu sama saja dengan memanfaatkan kan?”


“Itu karena ibu benar – benar sakit. Sudahlah....ibu istirahat saja, aku juga mau selesaiin urusan Kyra biar ibu bisa secepatnya melihat Aditya menikah.” sambil berdiri.


“Ya...pergilah. setelah selesai kirim kabar baiknya pada ibu.”


“Ia bu”


Nyonya Sintya pun pergi meninggalkan ibu mertuanya itu. Saat diluar ia memikirkan keputusan Aditya itu.


“Akhirnya Aditya setuju juga. Dia itu memang lebih sayang neneknya daripada ibunya sendiri.” gumamnya.


Aditya memang sangat sayang pada neneknya ketimbang ibunya karena dari kecil ia dijaga oleh neneknya sedangkan Nyonya Sintya sibuk dengan karirnya. Dalam ingatan masa kecilnya itu hanya neneknya yang selalu hadir disetiap dia butuh. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya karena setiap ibunya pulang ia sudah tertidur dan hanya bisa melihat ibunya yang tertidur disampingnya saat ia bangun pagi, setelah itu pergi lagi.


Bersambung.


Jangan lupa like and koment karena like itu gratis.