
Di Kediaman Keluarga Sinatria....terlihat seorang perempuan paru baya berumur sekitar 45 tahun tengah berdiri di Ruang Keluarga. Wanita itu bernama Sintya Sinatria merupakan ibu dari Aditya Sinatria. Dari belakang seorang pria datang menghampirinya, pria itu adalah asisten Nyonya Sintya yang bernama Pak Mustang.
“Nyonya.....” Panggil Pak Mustang sambil menunduk.
Nyonya Sintya berbalik melihat kearah Pak Mustang sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
“Bagaimana....kamu sudah tahu siapa pacar Aditya?” Tanya Nyonya Sintya.
“Ia nyonya....”
“Cepat katakan...siapa gadis itu” Pinta Nyonya Sintya dengan wajah antusias seperti tidak sabar mendengar penjelasan Pak Mustang.
“Dia seorang gadis yatim piatu nyonya. Dia memiliki seorang adik yang sakit – sakitan. Dia juga bekerja diberbagai tempat untuk membiayai adiknya yang sakit dan membiayai sekolahnya. Sepertinya dia gadis yang mandiri dan bertanggungjawab” Jelas Pak Mustang.
“Kasihan sekali sepertinya dia gadis yang baik hati ya. Dia bisa merawat adiknya sendiri. Seharusnya diusia yang seperti itu waktunya untuk menikmati usia remajanya tapi dia malah bekerja untuk menghidupi adiknya dan dirinya sendiri”
“Apa anda ingin mengetes gadis itu nyonya?” Tanya Pak Mustang.
“Ia....aku tidak ingin dia seperti gadis yang lain yang mendekati Aditya hanya karena uang jika dia memang gadis yang baik hati dan bertanggung jawab seperti yang kau bilang berarti dia adalah gadis yang cocok untuk menjadi pendamping Aditya” Jelas Nyonya Sintya.
“Jadi apa rencana Anda selanjutnya nyonya?” Tanya Pak Mustang.
“Tentu saja menjadi ibu mertua yang jahat” Jawab Nyonya Sintya.
“Maksud Anda.......”
“Kamu ini.......apa aku harus menjelaskan secara detail supaya kamu mengerti?” Dengan wajah kesal pada asistennya itu.
“Maaf nyonya” Sambil menunduk didepan Nyonya Sintya.
“Antar aku ke Restoran tempat gadis itu bekerja. Aku ingin bertemu langsung dengannya tapi jangan sampai Aditya tahu kalau aku menemui gadis itu” Pinta Nyonya Sintya.
“Baik nyonya”
Nyonya Sintya pergi menuju Restoran untuk bertemu Kyra. Ia didampingi oleh Asistennya yang bernama Pak Mustang. Sepanjang perjalanan, Nyonya Sintya terus memikirkan cara bagaimana menjadi seorang ibu yang jahat pada pacar anaknya apalagi ia adalah orang yang tidak tegaan melihat gadis seperti Kyra yang tidak mempunyai orang tua. Ia tidak tahan melihat gadis seperti Kyra jika harus menangis didepannya nanti karena tindakan kasarnya.
Setelah sampai di Restoran tempat Kyra bekerja. Ia dan pak Mustang langsung masuk kedalam. Didepan pintu Restoran ia mencoba berbisik pada Pak Mustang tentang dirinya.
“Hei....bagaimana dengan wajahku. Apa sudah terlihat seperti wanita yang jahat hah?” Tanya Nyonya Sintya berbisik sambil memperlihatkan wajah serius didepan Pak Mustang.
“Nyonya tidak perlu seperti itu”
“Lalu aku harus seperti apa?” Tanya Nyonya Sintya.
“Anda hanya perlu memasang wajah yang alami tidak perlu terlalu tegang nyonya”
“Huuuff....” Nyonya Sintya menarik nafasnya lalu membuangnya kembali. “Baiklah....ayo beraksi” Ucapnya.
Nyonya Sintya berjalan menuju salah satu meja yang ada di Restoran itu. Ia duduk dan asistennya berdiri disampingnya.
“Hei.....kenapa kamu cuma berdiri saja. Cepat panggilkan gadis itu kemari” Pinta Nyonya Sintya.
“Baik Nyonya”
Pak Mustang pergi menuju kasir dan meminta dipanggilkan gadis yang bernama Kyra. Kyra pun keluar setelah mendengar ada yang memanggilnya. Ia berjalan bersama Pak Mustang menuju meja tempat Nyonya Sintya berada tapi ia merasa bingung dengan Nyonya Sintya yang memanggilnya karena ia merasa tidak mengenal Nyonya Sintya. Ia lalu duduk didepan Nyonya Sintya sedangkan Nyonya Sintya sudah memasang wajah seriusnya didepan Kyra.
“Maaf Nyonya....apa Anda mengenal saya?”
“Oh tidak...saya hanya ingin bicara hal penting dengan kamu”
“Hal apa Nyonya?” Tanya Kyra dengan wajah bingung.
“Kamu kenal pria tampan yang bernama Aditya Sinatria?” Tanya Nyonya Sintya.
“Aditya.....” Sambil mengingat – ngingat nama Aditya. "Maaf tante saya tidak tahu Aditya yang tante maksud" Jawabnya yang tak tahu karena ia memang tidak tahu nama Aditya.
"Loh....kamu Kyra kan....pacar Aditya yang kemarin kamu temui bersama seorang gadis di Restoran ini"
"Jadi namanya Aditya" Dalam hati Kyra.
“Oh Aditya ya. Ia saya tahu tapi tidak terlalu kenal nyonya. Memang ada hubungan apa Anda menanyakan Aditya pada saya?”
“Saya ibunya Aditya”
“Hah....ibunya”
“Kenapa ibunya si mesum itu ingin bertemu denganku” Dalam hati Kyra.
“Sejak kapan kamu pacaran dengan anak saya?” Tanya Nyonya Sintya.
“Ia...kamu pacarnya Aditya kan”
“Oh maaf nyonya....saya bukan pacarnya Aditya. Saya hanya kenalan biasa saja”
“Loh....gimana sih. Bukankah kalian pacaran. Manda bilang pada saya kalau kalian pacaran”
“Maaf nyonya...kemarin itu kami hanya pura – pura pacaran karena Tuan Aditya tidak suka dengan wanita yang dikencanginya itu”
“Apa....jadi kalian hanya pura – pura saja?”
“Ia nyonya....saya mohon maaf atas kejadian kemarin. Kemarin itu saya hanya menolong Tuan Aditya. Saya harap nyonya bisa memaklumi”
Nyonya Sintya tidak mengatakan apa – apa pada Kyra setelah mendengar ucapan Kyra padanya.
“Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi nyonya karena saya masih banyak pekerjaan”
“Oh ia...silahkan. Maaf karena tante sudah mengganggumu”
“Oh tidak masalah nyonya. Kalau begitu saya permisi” Sambil berdiri didepan Nyonya Sintya.
Nyonya Sintya hanya mengangguk didepan Kyra.
Setelah Kyra sudah jauh dari mereka berdua. Nyonya Sintya menghela nafasnya dengan panjang sambil memasang wajah lesu didepan asistennya.
“Ternyata anak sialan itu mengbohongiku. Tega sekali dia sama ibunya sendiri, aku bahkan sudah menyiapkan uang untuk mengetes gadis itu tapi ternyata mereka tidak pacaran sama sekali”
“Nyonya....biarpun Anda tidak mengetes gadis itu tapi kita sudah tahu kalau dia gadis baik – baik sangat cocok dengan Tuan Muda”
“Dari mana kamu bisa tahu?”
“Dari cara dia bicara tadi. Kalau dia wanita matre mungkin saja dia tidak bicara jujur pada Anda tadi dan mencoba mengancam Tuan Muda misalnya meminta uang tutup mulut pada Tuan Muda”
“Benar juga....ternyata kamu pintar ya sampai bisa memikirkan ini semua” Sambil tersenyum melihat Pak Mustang.
"Terima kasih nyonya"
“Kalau begitu kamu pesan makanan saja, hari ini aku akan mentraktirmu makan karena sudah berjasa dan aku juga ingin melihat gadis itu bekerja disini”
“Baik nyonya. Saya akan panggilkan pelayan”
Pak Mustang memanggil pelayan dan memesan kan makanan yang biasa dimakan oleh nyonyanya itu.
“Kalau saja ibu tidak sakit dan tidak mendesakku untuk mencarikan jodoh buat Aditya. Aku mungkin tidak sampai mengetes gadis itu tapi dia gadis yang berani juga karena bisa menarik perhatian Aditya. Aku ingin sekali mengenal gadis itu lebih dekat supaya aku bisa tahu sifatnya seperti apa mungkin saja dia adalah gadis yang cocok untuk Aditya” dalam hati Nyonya Sintya.
Pelayan datang membawa makanan untuk mereka berdua.
“Silahkan dinikmati makanannya” Sahut si pelayan.
“Nyonya....nyonya” Panggil Pak Mustang membuyarkan lamunan Nyonya Sintya.
“Hah...ada apa?”
“Makanannya sudah datang Nyonya”
“Oh....”
Nyonya Sintya menikmati makanannya sambil memperhatikan Kyra dari jauh. Setelah makan, Nyonya Sintya dan Pak Mustang meninggalkan Restoran itu. Saat dimobil Nyonya Sintya memberitahukan pada Pak Mustang jika ia harus lebih tahu sifat Kyra apakah dia benar – benar wanita baik – baik.
“Bagaimana caranya Anda ingin tahu tentang Nona Kyra nyonya?”
“Ya tentu saja membuntutinya”
“Nyonya sendiri yang akan membuntutinya”
“Tentu saja. Memangnya ada masalah”
“Bukankah itu terlalu berlebihan kalau nyonya sendiir yang turun tangan”
“Demi mencari menantu yang baik tentu saja aku harus turun tangan sendiri. Kalau masalah ini ditunda – tunda terus, bisa – bisa ibuku mati karena tidak sabaran. Demi menyenangkannya aku harus memenuhi keinginan terakhirnya itu apalagi dia masih dirumah sakit. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari” Jelas Nyonya Sintya.
Pak Mustang hanya menyetujui kemauan nyonyanya itu tanpa membantahnya lagi apalagi jika Nyonya Sintya sudah mengungkit ibu mertuanya itu karena baginya ibu mertuanya itu adalah segalanya baginya.
Bersambung.
Jangan Lupa Like yah karena Like itu gratis.